
Tiba tiba terdengar suara ponsel Nadhira berbunyi didekat Nadhira, Nadhira segera membuka ponselnya dan ada pesan masuk dari Rifki, Nadhira segera membuka pesan tersebut, dan membacanya.
"Dhira berhati hatilah, aku mendapatkan firasat buruk tentang dirimu, jaga dirimu baik baik, Nimas dan Raka akan berusaha untuk melindungimu, dan jangan lupa berdoa dan membaca Al-qur'an agar pagar yang ada dikamarmu semakin kuat dan tidak ada yang mampu untuk menerobosnya dengan cara paksa". Isi pesan itu.
"Bagaimana Rifki tau tentang keadaanku, Rifki benar seharusnya aku tidak terlalu panik seperti ini, sebaiknya aku mengaji agar hatiku juga ikut tenang".
Nadhira segera bergegas menuju kekamar mandi yang ada didalam kamarnya, Nadhira segera berwudhu untuk mensucikan dirinya, setelah selesai berwudhu Nadhira segera memakai mukenanya dan melakukan sholat sunnah witir.
Sholat Witir adalah sholat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari antara setelah waktu isya dan sebelum waktu salat subuh, dengan rakaat ganjil.
Jam dinding menunjukkan tepat pukul 11 malam, suasana mencengkeram mulai terasa begitu eratnya, bayangan banyangan orang dapat terlihat dengan jelas berlalu lalang didepan kamar Nadhira, Nadhira memfokuskan diri untuk menghadap kepada Allah, dirinya tidak mempedulikan lingkungan disekitarnya.
Setelah selesai sholat, Nadhira melanjutkan dengan mengaji, suara Nadhira begitu lirih akan tetapi membuat mahluk mahluk disekitarnya tertegun dengan suara itu, seakan akan suara Nadhira membuat mereka terasa lelah dan panas.
Sebagian dari mereka merasakan kepanasan dengan bacaan bacaan yang dilontarkan Nadhira saat ini, meskipun dalam keadaan membaca Al-qur'an, air mata Nadhira tidak henti hentinya untuk menetes, Nadhira terus meminta perlindungan kepada Allah dari segala mahluk ciptaan-Nya yang sedang mengincar dirinya saat ini.
Ketika bacaan bacaan Al-qur'an mulai didibacakan, orang yang tengah berdiri didepan jendela Nadhira perlahan lahan mulai memudar dan menghilang, orang itu adalah sosok mahluk astral yang menyamar menjadi manusia sehingga ketika bacaan Al-qur'an mulai terdengar, sosok itu mulai perlahan lahan menghilang.
Disuatu ruangan tempat dimana Sena berada, tiba tiba lilin yang ada didepannya tertiup oleh angin yang begitu kencangnya, angin itu berhasil membuat ruangan itu berporak porandakan dan barang barang yang ada didalamnya terbang begitu ringannya seakan akan barang barang itu tidak memiliki beban sama sekali.
"Mbah, apa yang terjadi?". Tanya Sena dengan paniknya melihat benda benda itu bertabrakan.
"Hentikan apa yang dilakukan oleh gadis itu! Atau semuanya akan sia sia malam ini". Ucap dukun itu dengan tegasnya kepada Sena.
"Baik". Ucap Sena dan langsung bergegas keluar dari ruangan itu menuju kekamar Nadhira.
Disatu sisi tempat para dukun itu berdiri saat ini, mereka juga terlihat begitu paniknya dengan apa yang terjadi kepada mahluk mahluk yang telah mereka panggil untuk memberi mereka tugas menculik Nadhira dan merebut permata itu, para mahluk itu terlihat begitu kesakitan dan terlihat begitu lemah, akan tetapi suara mengaji Nadhira sama sekali tidak berpengaruh kepada Nimas dan Raka.
"Apa yang dilakukan oleh gadis itu! Hentikan dia!". Ucap Mbah Tejo.
"Baik Tuan". Jawab anak buahnya dengan serempak dan bergegas menuju kekamar Nadhira.
"Sial!! Gadis itu ingin bermain main denganku rupanya, lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan kepadamu karena telah menantangku seperti ini!".
Sosok lelaki yang ada dikejauhan yang sedang melihat hal itu segera berdiri dari tempat sembunyinya ketika melihat anak buah dari para dukun itu mulai mendekat kearah jendela kamar Nadhira, ia begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh para dukun itu.
"Gawat, gadis itu berada dalam bahaya saat ini, aku harus melakukan sesuatu untuk melindunginya, aku tidak bisa membiarkan gadis itu dalam bahaya saat ini". Ucap lelaki itu sambil mengepalkan kedua tangannya.
Lelaki itu segera pergi dari tempat itu entah kemana dalam diam diam agar para dukun itu tidak mengetahui keberadaannya, dirinya tidak ingin berada dalam bahaya ketika para dukun itu telah mengetahui keberadaan apalagi sampai mengenal dirinya saat ini.
Nadhira yang berada didalam kamar, dirinya begitu terkejut ketika mendengar pintu kamarnya dibuka dengan lebar lebar oleh seseorang, Nadhira menoleh kepada orang itu, dan orang itu tidak lain adalah Sena yang telah menggunakan kunci cadangan untuk membuka pintu kamar Nadhira.
"Mama". Ucap Nadhira pelan.
"Hentikan apa yang kau lakukan itu!".
"Mama, kenapa kau masuk kekamarku tanpa permisi! Aku hanya sedang mengaji tidak lebih dari itu, tapi kenapa dirimu terlihat begitu marahnya?".
"Aku bilang hentikan itu!".
Plak...
Sena segera mendekat kearah Nadhira dan menampar pipi Nadhira dengan kerasnya setelah itu dia menarik tangannya dengan erat tanpa mempedulikan Nadhira yang sedang kesakitan karena pegangan tangan itu yang begitu eratnya, Nadhira terus berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan tangan itu, Nadhira meletakkan Al-qur'an nya diatas ranjang kamarnya agar Al-qur'an itu tidak jatuh ketika dirinya berusaha untuk melepaskan pegangan tangan itu.
__ADS_1
"Lepaskan aku Ma! Jangan salahkan aku jika aku sampai bersikap kasar kepada Mama, lepaskan tanganku sekarang Ma!". Ucap Nadhira sambil berusaha untuk melepaskan pegangan tangan itu.
"Diam!! Kau berani melawanku ha?". Tanya Sena dengan geramnya kepada Nadhira.
"Aku sama sekali tidak takut dengan dirimu!".
Nadhira berusaha untuk melepaskan pegangan tangan itu dan berusaha untuk melepaskan rok dari mukena itu agar tidak menghalanginya untuk bertarung jika hal itu diperlukan sekarang, Sena segera berusaha untuk bisa menarik tangan Nadhira, dan membawa Nadhira keluar dari kamar tersebut.
Brakkk....
Nadhira tidak tinggal diam begitu saja, Nadhira menggerakkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri dari pegangan tangan itu, usaha itu tidak lah sia sia, alhasil tubuh Sena terdorong kebelakang hingga tubuhnya menatap kemeja yang berada dekat dengannya dengan kerasnya.
"Akh... Kau berani melawan ku ha? Lihat saja nanti!". Ucap Sena menggeram kesakitan.
Nadhira mengepalkan kedua tangannya kepada Sena, tidak biasanya Nadhira melakukan itu kepadanya sehingga membuat Sena begitu terkejut ketika Nadhira dengan beraninya melawan dirinya itu, selama ini Nadhira hanya diam ketika Sena melakukan sesuatu dengannya, tapi tidak untuk kali ini, Nadhira dengan beraninya melawan Sena.
"Sudah cukup aku takut kepadamu! Tidak lagi sekarang, kau tidak akan pernah bisa berbuat sesukamu kepadaku lagi! Kau bukanlah Mama kandungku sehingga kau tidak pantas untuk ku hormati". Ucap Nadhira dengan tegasnya.
Sena segera menggerakkan tangannya untuk melemparkan sesuatu kepada Nadhira, Sena mencipratkan sebuah air yang ada dalam wadah kecil yang ia bawa kepada Nadhira, Nadhira pun merasakan sakit ketika air itu mengenai tubuhnya.
"Akh...". Ucap Nadhira yang seketika menjatuhkan tubuhnya diatas lantai karena cipratan air itu.
"Haha... Nampaknya air ini masih berpengaruh kepadamu Dhira". Ucap Sena dengan senangnya.
"Kau tidak akan bisa melakukan hal itu kepadaku". Ucap Nadhira yang menahan rasa sakitnya sambil memegangi dadanya dengan salah satu tangannya, dan tangan satunya menyangga tubuhnya.
Sena kembali menarik tangan Nadhira untuk keluar dari kamar tersebut, Sena tidak mengetahui bahwa jika Nadhira sampai keluar dari kamar tersebut maka akan banyak orang yang mengincar Nadhira untuk mendapatkan permata yang ada didalam tubuhnya, Nadhira terus berusaha untuk memberontak agar Sena tidak mampu membawanya keluar dari kamarnya akan tetapi usahanya itu sia sia karena rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
Ketika Nadhira mulai melangkah keluar dari kamarnya, seketika itu juga beberapa orang berhasil masuk kedalam rumahnya dan merebut Nadhira dari tangan Sena, tidak hanya itu saja akan tetapi para mahluk gaib juga ikut berkumpul dihadapan Nadhira.
"Tuan! Kami berhasil mendapatkan gadis ini". Ucap orang yang memegangi tangan Nadhira dengan gembiranya.
Mereka segera membawa Nadhira untuk keluar dari rumah tersebut tanpa halangan, sementara Sena sedang berhadapan dengan sosok pemuda yang menjadi salah satu anak buah dukun yang menyuruhnya untuk menangkap Nadhira.
"Berhenti! Jangan bawa gadis itu pergi dari sini!". Teriak Sena mencoba menghentikan mereka yang sedang membawa Nadhira pergi dari tempat itu.
Mereka sama sekali tidak mempedulikan ucapan Sena dan tetap melanjutkan perjalanannya untuk membawa Nadhira keluar dari rumah itu, sementara Nadhira terus berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan orang orang jahat itu.
"Lepaskan aku!". Teriak Nadhira.
"Diam! Atau ku bunuh kau sekarang juga".
"Aku tidak takut! Lepaskan aku sekarang! Lepaskan aku! Lepaskan!".
Orang orang itu tidak mempedulikan ucapan Nadhira, mereka membawa Nadhira pergi menuju ketempat dimana atasannya berada saat ini, sebelum sampai ditempat tujuan mereka, Nadhira mencoba untuk melawan mereka dengan sisa sisa tenaganya.
"Ya Allah bantulah hamba-Mu untuk dapat melawan mereka, hamba mohon perlindungan-Mu Ya Allah". Ucap Nadhira sambil mencoba menahan rasa sakit didadanya saat ini.
Dengan keringat yang bercucuran dengan derasnya, Nadhira mulai mencoba menyerang mereka, mereka sontak kewalahan untuk menghadapi Nadhira, kekuatan dari permata itu pun mulai keluar dari tubuh Nadhira dan menyelimuti tubuhnya dengan cahaya kemerahan hingga membuat Nadhira mampu berdiri dengan benar diatas kedua kakinya.
"Allahu Akbar!". Ucap Nadhira dengan lantangnya.
"Sial! Kenapa gadis ini bisa bertambah kuatnya seperti ini!". Umpat seseorang yang tengah menjadi lawan Nadhira.
__ADS_1
Nadhira mulai memasang kuda kudanya dengan kuatnya agar mampu untuk melawan orang orang yang ingin berniat jahat kepadanya itu, dengan lincahnya Nadhira mampu membuat orang orang itu begitu sangat kewalahan untuk menjadi lawannya.
Meskipun begitu Nadhira adalah seorang wanita sehingga dirinya tidak akan bisa melawan banyaknya orang laki laki dengan begitu mudahnya, meskipun adanya permata didalam tubuhnya akan tetapi dirinya tidak mampu dan tidak bisa untuk dapat memanfaatkan energi dari permata itu.
Nadhira sudah tidak mampu lagi untuk melawan mereka sehingga dengan mudah dirinya kalah dari mereka, Nadhira terjatuh dengan kerasnya diatas tanah yang ada dihalaman rumahnya itu, orang orang itu tidak tinggal diam begitu saja, mereka segera menarik tangan Nadhira dan membawanya menuju ketempat atasannya berada.
sesampainya ditempat tujuan mereka, salah satu dari mereka segera menendang kaki kanan Nadhira dengan sangat kerasnya sehingga membuat Nadhira jatuh berlutut didepan sosok pria paruh baya yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya.
"Akh...".
Bhukkk...
"akh...".
Bhukkk...
"Arghhhh....".
Tidak hanya itu saja, mereka tidak hanya berhenti begitu saja, mereka beberapa kali memukuli persendian kaki kanan Nadhira dengan kerasnya tanpa rasa ampun sedikipun itu, hingga membuat Nadhira menggeram kesakitan dan merintih kesakitan karena hal itu.
"Rasakan itu, beraninya kau melawan kami". Ucap seseorang yang telah memukuli kaki Nadhira.
"Apakah aku akan mati sekarang juga, aku sudah tidak sanggup lagi, Ya Allah selamatkanlah hamba-Mu ini dari orang orang yang berniat jahat kepadaku sekarang, hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan, dan hanya kepada-Mu aku meminta perlindungan". Batin Nadhira.
Nadhira merasakan bahwa kakinya begitu nyerinya saat ini seakan akan seperti tengah dipatahkan oleh orang orang itu tanpa ampun sedikipun, meskipun lukanya tidak terlihat akan tetapi rasa sakitnya begitu teramat parah, karena sangking sakitnya hal itu membuat Nadhira sampai meneteskan air mata begitu derasnya untuk menahan rasa sakit itu.
Nadhira mengepalkan kedua tangannya dengan begitu eratnya, Nadhira berusaha untuk tetap tegar meskipun kaki dan dadanya terasa begitu sakitnya, beberapa kali Nadhira merintih kesakitan dan tetap berusaha untuk bersikap tegar meskipun persendiannya terasa begitu sakitnya.
Linangan air mata dipipi Nadhira ketika merasakan salah satu kakinya yang berhasil dipatahkan oleh orang orang itu, rasa sakit yang ia rasakan melebihi rasa sakit ketika kita terkilir atau keseleo, seiring berjalannya waktu persendian Nadhira berubah warna menjadi ungu kebiru biruan.
"Tuan kami berhasil mendapatkan gadis ini". Ucap orang yang telah menendang kaki Nadhira.
"Lepaskan aku! Lepaskan!". Teriak Nadhira.
"Bagus, tidak sia sia aku mengaji kalian, bawa dia kembali kemarkas sekarang".
"Baik Tuan".
"Lepaskan aku!". Ucap Nadhira sambil berusaha untuk melepaskan diri dari orang orang itu.
"Gadis kecil yang sangat hebat, walau dalam keadaan kaki kananmu hampir putus seperti ini saja kau masih berani melawanku! Sungguh menarik, sayang sekali jika kau harus mati dengan mudahnya disini, sebaiknya kau ikuti apa kemauanku, maka kau akan selamat". Ucap lelaki paruh baya itu.
"Aku sama sekali tidak pernah takut dengan yang namanya kematian! Aku juga tidak takut dengan kalian semuanya! Aku hanya takut kepada Tuhanku, yakni Allah subhanallah wa ta'ala".
"Haha.. Baru kali ini aku menemukan gadis sepertimu, jika kau terus melawanku seperti ini, maka aku tidak punya pilihan lain selain mematahkan kedua kakimu itu agar kau tidak lagi dapat bertarung dan berdiri dengan kedua kakimu sendiri".
"Jika kau berani maka lakukanlah! Aku sama sekali tidak mempedulikan itu".
"Tidak Tuan, jika kau mematahkan kedua kakinya maka gadis ini tidak akan memiliki semangat untuk hidup lagi, dan dia akan berusaha untuk bunuh diri, jika gadis ini sampai bunuh diri maka kita tidak akan pernah mendapatkan permata itu". Ucap seseorang yang berada disebelah Nadhira.
"Kau benar, jika gadis ini sampai bunuh diri sebelum kita mendapatkan permata itu maka permata itu juga akan ikut hancur bersama dengan dirinya, cepat bawa dia kemarkas sekarang juga dan jangan biarkan dia bertindak sembrono lagi".
"Baik Tuan".
__ADS_1
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...