Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Komplotan begal


__ADS_3

Nadhira dan yang lainnya segera berpamitan untuk bergegas menuju ketempat dimana Dwija tinggal, setelah itu Nadhira masuk kedalam mobilnya dan mobil tersebut segera bergegas melaju dari desa tersebut untuk mencari tau tentang keberadaan dari Dwija yang dikabarkan telah lama menghilang.


Nadhira terlalu lelah sehingga dirinya memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan itu didalam mobil tersebut, dirinya menyandarkan kepalanya dipundak Bi Ira yang ada disebelahnya saat ini, Nadhira merasa sangat nyaman ketika bersandar dipundak Bi Ira.


Tanpa bicara sekalipun Bi Ira dapat mengetahui bahwa Nadhira saat ini sedang kelelahan, dengan cara melihat melalui ekspresi wajahnya ketika dirinya kelelahan seperti itu, sehingga hal itu membuat Nadhira mudah sekali tertidur dengan nyenyak.


Nadhira tertidur seakan akan tidak ada beban didalam pikirannya karena dirinya terlihat begitu nyenyak dan santainya dengan wajah cantiknya itu, akan tetapi siapa sangka bahwa pikirannya begitu banyak beban akan tetapi bersandar dipundak Bi Ira membuatnya sangat damai.


Baru kali ini dirinya bisa tertidur dengan nyenyak seperti itu, sudah sangat lama dia tidak pernah tidur sedemikian rupanya hingga suara Nimas saja tidak terdengar olehnya.


"Dhira sudah tidur Bi?" Tanya Theo.


"Sudah".


"Mudah sekali tidurnya, mungkin dia sangat kelelahan ya Bi"


"Kau benar, terlalu banyak beban yang ia tanggung sendiri selama ini, biarkan dia istirahat dulu, hanya dengan begini dirinya bisa merasa bahagia".


"Kalau boleh saya tau, apakah Mama Nadhira meninggal tidak wajar begitu Bi? Sehingga kita harus mencari tau tentang kecelakaan yang ia alami".


"Sepertinya begitu, Nadhira pernah menceritakan hal ini kepadaku, bahkan Nandhita menyembunyikan semuanya dari Nadhira sampai sekarang, Nadhira sudah melupakan kejadian itu tapi entah siapa yang telah menaruh foto itu didalam kamarnya sehingga dirinya teringat kembali tentang kasus itu".


"Mungkin ada seseorang yang berniat menaruh foto itu Bi, apa mungkin itu Pak Dwija yang melakukannya? Mungkin saja dia dalam kesulitan dan menyuruh Nadhira untuk menyelamatkannya".


"Tapi kita tidak tau dimana keberadaan dari Dwija, wajahnya saja tidak ada yang mengetahuinya"


Mobil itu melaju dengan kecepatan normal dan tanpa ada percakapan didalamnya karena Theo merasa canggung diantara Bi Ira dan Pak Mun, karena Nadhira yang masih tertidur membuat Theo tidak bisa bercanda gurau dengannya.


1 jam kemudian mereka telah sampai didesa yang dituju, Nadhira mulai terbangun dari tidurnya ketika dirinya mendengar suara Nimas yang mengatakan bahwa mereka telah sampai disebuah desa yang ingin mereka tuju.


"Dhira bangunlah, kita sudah sampai, halo... Kau ini terlalu malas untuk bangun rupanya" Ucap Nimas.


"Cepat banget sampainya, belum juga ada sejam sudah sampai saja, perasaan masih beberapa menit yang lalu aku tidurnya" Batin Nadhira.


"Belum ada sejam katamu ha? Ini bahkan lebih dari satu jam perjalanan, kau kan tidur mana tau kalau belum sejam, emang sih kalau dipake tidur waktu itu ngak bakal terasa, jangan pakai perasaan, kalau terluka nanti nangis, cepat bangun! Jangan jadi anak pemalas"


"Iya iya aku bangun, berisik sekali dirimu ini".


Nadhira mulai membuka matanya dan bangkit dari sandarannya, ia melihat kondisi sekeliling mobilnya dimana jalanan itu begitu ramai penduduk dan suasana disana sedikit menyenangkan jika dirasakan.


"Kamu sudah bangun Nak, baru saja Ibu ingin membangunkanmu" Ucap Bi Ira.


"Kepalaku sedikit pusing Bu, tadi Nimas yang sudah membangunkan aku, pake acara teriak teriak lagi".


"Siapa itu Nimas? Teriak teriak gimana? Kami sama sekali tidak mendengarnya Dhira" Tanya Theo.


"Dia adalah penjagaku namanya Nimas, kenapa?"


"Ngak apa apa kok Dhira".


"Idih... Kau hanya menganggap aku penjagamu begitu? Sebenarnya Ratu iblis tidak suka diperintah oleh manusia, kalau bukan karena perintah Pangeran Kian aku tidak akan mau menjagamu" Gerutu Nimas.


"Sudahlah, kan memang benar kau sekarang menjadi penjagaku, kau kan selalu menjagaku selama ini, lalu apa salahku kalau aku mengatakan hal seperti itu?" Tanya Nadhira.


"Kau! Sabar Nimas, wanita didepanmu memang begitu pandai bermain kata kata" Ucapnya sambil mengelus dadanya.


"Tau pun, apakah hantu juga punya rasa sabar? Kau tidak akan menang melawanku untuk bermain dengan kata kata".


"*Kau menang ahlinya dalam bermain kata kata Dhira, siapapun pasti akan kalah denganmu".


"Baguslah jika kau mengakuinya seperti itu*".


Pak Mun pun turun dari mobil tersebut untuk menanyakan dimana tempat tinggal Dwija, eskpresi dari orang orang tak kalah terkejutnya daripada yang sebelumnya, Pak Mun terlihat sedikit mengerutkan dahinya ketika sedang mengobrol dengan mereka.


"Apa Bapak saudara jauhnya? Kok bisa tidak tau ya, soalnya kan kejadian itu sudah bertahun tahun lamanya Pak" Ucap orang itu kepada Pak Mun.


"Maaf Pak, saya saudara jauhnya jadi mungkin dia lupa untuk memberitahu saya, jadi hanya saya yang belum mengetahui soal ini" Jawab Pak Mun.


"Oh seperti itu Pak, pantas saja Bapak ini baru mengetahuinya sekarang, kejadian itu sudah bertahun tahun yang lalu Pak, selebihnya saya tidak tau tentang keluarga itu, mungkin Bapak bisa mendatangi tempat Bu Dewi".

__ADS_1


"Kalau boleh saya tau, alamatnya dimana ya Pak?".


"Bapak juga tidak tau soal Bu Dewi?"


Setelah bercakap cakap cukup lama akhirnya Pak Mun segera kembali kedalam mobil, ketika dia membuka mobilnya nampaklah seluruh penumpang mobil itu memandanginya.


"Ada apa Pak?" Tanya Nadhira.


"Didepan itu ada rumah warna putih dan memiliki pagar besi yang dichat hitam mengkilap adalah rumah yang ditinggali oleh Pak Dwija dan Ibunya yang bernama Bu Dewi, tapi ...." Pak Mun terlihat ragu untuk mengatakannya.


"Tapi kenapa Pak?"


"Menurut warga sekitar Pak Dwija menghilang entah kemana beberapa tahun ini, lalu Ibunya Pak Dwija yakni Bu Dewi mengalami gangguan jiwa karena mendengar kabar bahwa anaknya menghilang, rumah itu sekarang kosong Non, Bu Dewi sedang menjalani pengobatan dirumah sakit jiwa, menurut mereka sampai saat ini dia belum sembuh juga, apa mungkin dia yang menjadi saksi mata menghilangnya Pak Dwija?".


"Ya Allah, kasihan sekali Pak, bawa aku kesana, aku ingin melihat kondisinya secara langsung Pak, kita akan tau segera kejadian itu ketika kita sudah bertemu dengan dirinya nanti, mungkin saja Bu Dewi itu mengetahui semuanya".


"Baik Non, kita akan menuju kerumah sakit jiwa, mungkin akan membutuhkan waktu beberapa jam lagi untuk sampai kesana".


"Kalau begitu aku ingin melanjutkan tidurku Pak".


Pak Mun melajukan mobilnya menuju kejalan raya, mobil itu melesat jauh menuju kearah rumah sakit jiwa berada, diperjalanan itu Nadhira kembali melanjutkan tidurnya yang sangat nyaman itu.


"Aneh sekali, Pak Dwija tiba tiba menghilang dan Bu Dewi mendadak sakit jiwa" Ucap Theo diperjalanan.


"Menurutmu apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa kejadian ini sangat aneh seperti itu" Tanya Bi Ira kepada Theo.


"Mungkin Pak Dwija adalah satu satunya saksi mata atas kejadian yang meninpa Tante Lia, sehingga orang itu sengaja menyembunyikannya agar pihak berwajib tidak mengetahuinya dan bisa jadi karena mengetahui anaknya yang hilang sehingga membuat Bu Dewi mengalami gangguan jiwa karena dirinya tidak terima bahwa anaknya telah hilang".


"Lalu bagaimana bisa Bu Dewi mengetahuinya? Selama ini Pak Dwija jarang ada dirumah karena dia merantau untuk mencari nafkah, aku rasa telah terjadi sesuatu dengan Pak Dwija didepan mata kepala Bu Dewi sendiri sehingga Bu Dewi terlihat begitu trauma dan akhinya dia sakit jiwa" Sela Nadhira yang tiba tiba terbangun ketika mendengar penjelasan dari Theo ketika dirinya tertidur.


"Itu bisa saja terjadi Dhira, tapi hilangnya Pak Dwija begitu misterius dan tidak ada yang mengetahuinya sama sekali, apa mungkin Pak Dwija juga ada dibalik kejadian yang menimpa Tante Lia? Soalnya kan dia mantan suami dari Mama tirimu, lalu Pak Dwija tidak terima jika ditinggalkan oleh Tante Sena sehingga dia ingin melaporkan semuanya kepada pihak berwajib akan tetapi rencananya itu segera terbongkar, lalu Mama tirimu tidak terima dan akhinya melakukan sesuatu kepada Pak Dwija".


"Menurutku tidak semudah itu untuk menyingkirkan Pak Dwija apalagi aku dengar Pak Dwija bukan orang sembarangan yang bisa disingkirkan dengan mudah seperti yang dibayangkan, kalau Pak Dwija sudah meninggal maka kita harus segera mencari jasadnya, coba bayangkan saja, bagaimana bisa orang yang telah melenyapkan orang lain tanpa ketahuan selama ini, aku menduga bahwa Pak Dwija masih hidup sampai detik ini, tapi kita tidak tau keberadaannya"


"Kau benar Dhira, aku juga merasa bahwa Pak Dwija masih hidup, mungkin setelah kita bertemu dengan Bu Dewi kita akan mengetahui jawabannya".


Nadhira hanya mengangguk mendengar ucapan Theo, dan dirinya kembali melanjutkan tidurnya disandaran Bi Ira, karena memang jalan untuk menuju kerumah sakit jiwa itu lumayan jauh dan jalan tersebut lumayan dekat dengan rumah Nadhira yang baru sehingga Nadhira memutuskan untuk kembali tidur sebelum sampai dilokasi tujuan.


"Apa sih Nimas? Aku kan mengantuk, lagian perjalanan juga masih sangat jauh, biarkan aku tidur sebentar" Batin Nadhira.


"Apa kau ingin melewatkan kesempatan yang bagus jika kau terus saja tertidur seperti ini?"


"Kesempatan bagus apa maksudmu? Kau ini menganggu orang tidur saja".


"Kau tidak akan tau sebelum kau membuka kedua matamu itu".


Nadhira mengikuti saran dari Nimas karena rasa penasarannya, Nadhira mulai bangkit dari sandarannya dan menatap kedepan, melihat itu membuat Nimas tertawa dengan kerasnya.


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Nadhira dengan kesalnya terhadap Nimas.


"Aku ngak tertawa Dhira" Jawab Theo dengan reflek karena ia pikir Nadhira berbicara kepadanya.


"Bukan kamu yang aku maksud, tapi teman gaibku, noh yang sedang tertawa ngak jelas" Nadhira menunjuk kearah kosong yang sedang duduk dibelakangnya saat ini.


Mendengar itu membuat Bi Ira dan Pak Mun merasa berkeringat dingin karena sangking merindingnya, hal itu membuat mobil yang dikendarainya mendadak oleng dan hampir menabrak seorang pengendara sepeda motor yang ada didepan mobil tersebut.


Citttt....


"Pak Mun apa yang terjadi? Pelan pelan kenapa sih Pak" Gerutu Nadhira.


"Maaf Non, pengendara motor itu yang tiba tiba memotong jalan kita".


"Sepertinya dia bukan orang yang baik baik, aku dengar di daerah ini sering terjadi pembegalan" Ucap Theo yang memperhatikan orang yang ada didepan mobil tersebut saat ini.


Orang yang hampir ditabrak itu tiba tiba turun dari sepeda motornya dan berjalan menuju kemobil Nadhira sambil terlihat begitu marah, tak beberapa lama kemudian keluarlah beberapa orang dari semak semak yang ada dijalan yang sepi itu.


"Keluar kalian! Keluar!" Ucap orang tersebut.


"Jangan ada yang keluar dari mobil, mereka membawa senjata" Ucap Nadhira yang tak sengaja melihat benda yang dibawa oleh orang tersebut.

__ADS_1


Nadhira begitu ahli dalam dunia beladiri sehingga dirinya dengan mudah dapat mengetahui sebuah senjata rahasia yang telah disembunyikan karena dirinya sering melakukan itu sebelumnya sehingga dirinya mampu untuk mengetahuinya.


"Bagaimana Dhira? Bukannya ini kesempatan yang sangat bagus? Kau kan suka yang berhubungan dengan dunia beladiri".


"*Nimas! Bukan begini juga kali, kau anggap ini bagus ha!"


"Kan memang bagus Dhira, hahaha*...."


Nadhira terlihat mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Nimas, apanya kesempatan bagus, bisa bisanya ini disebut kesempatan bagus, dan Nadhira terus saja menggerutu dan mengutuki Nimas didalam batinnya.


"Non bagaimana ini? Bapak takut Non" Ucap Pak Mun yang terlihat gemetaran.


"Jangan takut Pak, biar saya saja yang keluar untuk menghadapi mereka" Ucap Theo sambil menawarkan dirinya untuk menghadapi mereka.


"Kau yakin Theo?" Tanya Nadhira.


"Iya Dhira, aku bisa menghadapi mereka".


"Tidak, kita hadapi bersama sama"


"Tapi Nak...." Ucap Bi Ira ragu dengan luka operasi Nadhira yang belum sembuh.


"Tidak ada pilihan lain Bu, Dhira masih bisa jaga diri".


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu turun" Ucap Bi Ira sambil memegangi tangan Nadhira dengan erat.


"Bi Ira benar Dhira, kau baru saja keluar dari rumah sakit, sebaiknya kau tetap didalam".


Nadhira terlihat berdiam diri, memang benar lukanya belum kering sehingga dirinya tidak akan mampu untuk menghadapi mereka dengan mudah apalagi lukanya masih terasa nyeri walaupun hanya samar samar saja.


Nadhira akhirnya pasrah dengan keadaannya, sebelum Theo keluar dari mobil tersebut Nadhira menyerahkan dua buah benda yang sama sekali tidak Theo kenali, yang satu berbentuk seperti tabung kecil dan yang satu mirip dengan pena.


"Apa ini?" Tanya Theo.


"Senjata rahasia untuk beladiri, pena itu adalah sebuah pisau kecil yang telah aku beri racun diujung pisau sedangkan tabung itu adalah sebuah tongkat yang dapat memanjang dengan mudah, jaga dirimu baik baik mereka adalah kompotan begal, dan mereka tidak akan segan segan untuk menghabisi nyawa korbannya demi kepentingannya".


"Kau tenang saja Dhira, aku akan kembali dengan kondisi baik baik, kau tidak perlu cemas".


"Baiklah, aku percaya kepadamu, berhati hatilah".


Theo segera turun dari mobil tersebut dan hal itu membuat Pak Mun segera mengunci kembali pintu mobil tersebut sesuai perintah dari Theo, melihat ada seseorang yang turun dari mobil yang ia hadang hal itu membuat orang tersebut segera bergegas mendatangi tempat dimana Theo berdiri.


"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Theo kepada orang itu.


"Mobil kalian telah menabrakku, kau harus bertanggung jawab karena telah membuatku terjatuh dan motorku rusak".


"Bertanggung jawab? Aku melihat sendiri bahwa kau memang sengaja menabrakkan diri kepada mobil yang kami naiki sekarang" Ucap Theo dengan tegas.


"Aku tidak peduli, serahkan harta kalian atau kami tidak akan membiarkan kalian pergi dari sini" Ucapnya sambil mengeluarkan sebuah golok.


"Emang kau pikir aku takut hanya dengan senjata jelek seperti itu? Jangan harap kalian bisa mengambil hak yang kami miliki itu".


Theo memandangi kearah benda berbentuk tabung yang ada ditangannya, dan menekan benda tersebut hingga menjadi panjang dengan sangat mudah, Theo tersenyum melihat benda tersebut.


"Oh jadi seperti ini fungsinya, baiklah kita akan mulai pemanasan terlebih dulu" Gumannya.


Theo dan para orang orang itu langsung saling menyerang, sementara Nadhira yang ada didalam mobil hanya bisa melihat pertarungan mereka dalam diamnya dan terus memperhatikan posisi Theo.


"Tumben banget tanganmu tidak gatal melihat mereka bertarung Dhira?" Tanya Nimas.


"Kau ingin lihat aku bertarung lagi seperti dulu?"


"Bukan seperti itu, seandainya dia adalah Rifki mungkin kau akan ikut bertarung bersama dengan dia tanpa mempedulikan kondisimu, sayang sekali dia bukan Rifki"


"Meskipun dia Rifki atau bukan aku tidak bisa membantunya karena luka ini, aku tidak ingin ada orang yang mengetahui tentang hal ini".


"Yayaya....".


Bi Ira terus berdoa semoga Theo baik baik saja dalam melawan orang orang itu, jika dilihat lihat hanya Nadhira saja yang merasa tenang didalam mobil tersebut karena dia tau bahwa Theo pasti bisa melawan mereka karena Theo adalah ketua dari sebuah geng yang suka membuat ulah.

__ADS_1


...Jangan lupa like, coment, dan dukungannya 🥰 Terima kasih, jangan lupa jaga kesehatan ...


__ADS_2