
Tak beberapa lama kemudian Panji mulai menggerakkan tangannya untuk memegangi kepalanya yang terasa begitu pusing dan sakit sekali, Panji memegangi kepalanya dengan eratnya karena rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
"Arghhh.....". Teriak Panji sambil memegangi kepalanya dan tidak memperhatikan lingkungan disekitarnya.
Panji terus berteriak sambil memegangi kepalanya dan sesekali berguling kesana kemari karena rasa sakit yang ia rasakan saat ini, dapat dilihat sesekali dirinya memukul kepalanya sendiri karena rasa sakit tersebut yang tiba tiba menyerangnya.
"Panji! Apa yang terjadi kepadamu?". Tanya Indah sambil memegangi tangan Panji dengan cemasnya.
"Nak sadarlah". Ucap Ayah Indah sambil berusaha untuk memeluk tubuh Panji yang tengah menggeram kesakitan itu.
"Arghhh... Lepaskan aku!". Panji berusaha melepaskan pegangan Indah beserta Ayahnya dari tubuhnya, Panji terus memberontak untuk dapat melepaskan diri.
Rasa sakit yang ia rasakan saat ini begitu mencengkeram erat tubuhnya, seakan akan dirinya begitu tersisa dengan hal itu, akan lebih baik dirinya yang langsung mati daripada harus menanggung rasa sakit sedemikian rupanya.
"Panji tenanglah! Kau pasti akan baik baik saja". Ucap Indah yang berusaha untuk memegang erat tangan Panji agar tangan tersebut tidak menyakiti dirinya sendiri.
Kepalanya begitu pusing dan seakan akan seperti sedang ditusuk oleh begitu banyak duri sehingga membuatnya menggeram kesakitan dengan apa yang ia rasakan saat ini.
Panji berusaha untuk membentur benturkan kepala kepada dinding yang ada disebelahnya karena rasa sakit yang ia rasakan begitu dahsyatnya, akan tetapi Ayah Indah tidak membiarkan hal itu terjadi begitu saja, dirinya mencoba untuk memegangi dengan erat tubuh Panji agar tidak terus berusaha memberontak.
Keringat mulai bercucuran ditubuh Panji, Panji sudah tidak sanggup untuk menahan rasa nyeri dikepalanya itu sehingga dirinya berusaha untuk melukai kepalanya sendiri agar dirinya tidak sadarkan diri dan dapat mengurangi rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
"Lepaskan aku!! Arghhhh.....". Teriak Panji sambil memegangi kepalanya yang sakit itu.
Didalam bayangan dibawah alam sadarnya, Panji dapat melihat seseorang sedang menyentuh kepalanya dengan erat sehingga menimbulkan rasa nyeri dikepalanya saat itu juga, sehingga didunia nyata Panji terus memberontak tanpa ia sadari.
"Apa yang kau lakukan kepadaku! Lepaskan aku! Arghhhh... Sakit!".
"Panji, apa yang terjadi denganmu Nak?". Tanya Ayah Indah ditelinga Panji.
"Ayah, apa yang terjadi dengan dirinya, kenapa dia terus berteriak kesakitan seperti itu?". Indah begitu panik ketika melihat Panji yang terus menerus memberontak.
Tabib tersebut mengambil sesuatu yang ada didalamnya tas kain yang ia bawa sebelumnya, ia memasukkan sebuah serbuk kedalam gelas yang telah diisi oleh air panas olehnya sebelumnya.
Tabib tersebut mengangkat gelas tersebut dan mencoba mengarahkan kepada Panji agar Panji dapat mencium uap dari air tersebut, setelah berusaha keras untuk melakukannya akhirnya Panji mulai merasa tenang ketika uap tersebut tercium oleh Panji cukup lama.
Tubuh Panji mulai melemah seperti sebelumnya setelah dirinya memberontak untuk dilepaskan oleh Indah dan Ayahnya, tapi rasa sakit itu masih mampu untuk dirasakan oleh Panji saat ini, akan tetapi karena tubuhnya mulai melemah kembali sehingga membuatnya tidak mampu untuk memberontak lagi.
Untuk menggerakkan tangannya saja, Panji tidak mampu untuk melakukannya karena tubuhnya yang begitu lemah setelah mencium aroma dari obat obatan yang diberikan oleh tabib itu kepasanya.
"Ayah, aku sudah tidak kuat lagi, bawalah aku bersama dengan kalian berdua, Panji mohon kepada Ayah". Ucap Panji pelan memanggil Ayahnya dengan keadaan kedua matanya tengah tertutup rapat.
"Panji apa yang kau katakan itu, tidak jangan katakan seperti itu, kau kuat Panji, kau pasti bisa melewatinya dengan mudah". Ucap Indah dengan berlinangan air mata ketika melihat Panji kesakitan.
"Panji dengarkan suara Paman, kau pasti bisa melaluinya Nak, istighfar Nak, sebut nama Allah, yakinlah bahwa dirimu mampu untuk melewatinya, kau begitu kuat Nak, Paman yakin bahwa dirimu mampu untuk melalui semuanya saat ini". Ucap Ayah Indah kembali ditelinga Panji.
"Paman, ini begitu sakit Paman, aku sudah tidak mampu untuk menahannya lagi Paman". Ucap Panji dengan lemahnya dan masih tetap memejamkan kedua matanya karena ia tidak mampu untuk membuka kedua matanya.
"Bertahanlah Nak, kau pasti mampu untuk melewatinya, ingat apa yang dikatakan oleh Ayahmu kepadamu sebelumnya bahwa kau adalah anak yang kuat, maka kau pasti bisa melewatinya".
__ADS_1
Panji dapat merasakan bahwa rasa sakitnya perlahan lahan mulai berkurang setelah mencium aroma obat obatan tersebut, entah itu memang berkurang ataukah karena efek obat bius tersebut sehingga membuat rasa sakit yang ia rasakan mulai tidak terasa sakitnya.
Tubuh Panji tiba tiba kembali mengigil lagi, seakan akan begitu banyak udara dingin yang menyerangnya sehingga tubuhnya mulai terasa begitu dingin sementara dikeningnya jika dirasakan bahwa suhu tubuh Panji telah meningkat dtastis daripada sebelumnya.
Melihat Panji yang tengah mengigil seperti itu membuat Indah dan Ayahnya segera mencarikan beberapa kain selimut untuk menutupi tubuh Panji yang sedang mengigil tersebut agar Panji merasa hangat lagi.
Indah juga telah menyiapkan sebuah kompresan untuk mengompres Panji agar suhu badannya mulai turun sehingga Panji tidak merasakan kedinginan lagi, meskipun sudah banyak selimut yang menutupi tubuhnya akan tetapi Panji masih mampu merasakan rasa dingin yang cukup dingin masuk kedalam tubuhnya dan menembus tulang tulangnya sekaligus.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepadanya Bu?". Tanya Indah kepada tabib tersebut.
"Untuk beberapa hari kedepan jangan biarkan dirinya bangkit dari tempat tidurnya dulu, agar racun itu tidak kembali menyerangnya seperti ini, bisa bisa hal itu justru akan membahayakan nyawanya jika dirinya nekat melakukan itu". Jawab tabib tersebut.
Tabib itu menjelaskan kepada Indah tentang apa yang tengah dialami oleh Panji saat ini, hal itu terjadi karena Panji yang telah berdiri cukup lama tanpa mempedulikan kondisinya, hal itu membuatnya kembali melemah karena efek racun yang ada didalam tubuhnya mulai meningkat.
"Lantas apa yang harus kami lakukan kepadanya? Ketika dirinya kembali memberontak seperti ini nantinya?". Tanya Ayah Indah dengan kebingungan.
"Aku punya ide Ayah, kali saja ide ini sangat berguna baginya". Jawab Indah.
"Ide apakah itu Nak?".
Beberapa jam berlalu, Indah dan Ayahnya masih tetap berada dikamar dimana Panji sedang terbaring tidak sadarkan diri itu, beberapa menit sekali, Indah akan mengganti kompresan yang ia taruh dikening Panji karena suhu tubuh Panji yang meningkat.
Melihat Panji yang sedang tidak sadarkan diri seperti ini membuat Indah terus menerus mengeluarkan air matanya karena tidak tega melihat Panji yang terbaring tidak berdaya itu.
"Sampai kapan kau tidak sadarkan diri seperti ini Panji, bangunlah Panji, aku mohon kepadamu hiks.. hiks.. hiks.. bangunlah Panji". Rintihan tangis Indah.
"Ayah, sampai kapan dirinya akan tertidur seperti ini? Apakah dirinya tidak bosan karena tidur terus terusan seperti ini, Ayah aku mohon buatlah dirinya tersadarkan aku tidak bisa melihatnya seperti ini". Tanya Indah dengan perasaan yang campur aduk.
"Aku tidak bisa berbuat apa apa Nak, kita hanya bisa berharap semoga rasa sakit yang ia rasakan berkurang sehingga dirinya tidak akan memberontak lagi seperti ini".
"semoga saja Ayah, aku tidak ingin melihat Panji seperti ini, melihatnya kesakitan membuatku merasakan sakit yang sama seperti yang dialami oleh Panji". Ucap Indah dengan berlinangan air mata.
"Maafkan aku karena telah membuatmu menghawatirkan diriku untuk saat ini, aku tidak menyangka bahwa rasa sakit ini begitu parah, biarkan aku yang menanggung semuanya, aku tidak akan sanggup jika itu terjadi kepadamu Indah". Batin Panji berkata ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Indah, akan tetapi dirinya tidak sanggup untuk membuka matanya karena rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
Indah mengganti kompresan itu beberapa kali sampai dirinya merasa begitu yakin bahwa suhu tubuh Panji mulai kembali normal seperti sebelumnya, ia tidak mau melihat Panji kembali merasakan sakit ataupun mengigil lagi seperti sebelumnya.
Obat obatan yang diberikan oleh tabib itu sama sekali tidak berpengaruh kepadanya, meskipun dirinya sudah berada didalam pengaruh obat bius akan tetapi dirinya masih tetap tersadarkan dengan apa yang terjadi disekitarnya hanya saja dirinya tidak mampu membuka kedua matanya karena obat bius tersebut.
"Sampai kapan kau akan tertidur seperti ini Panji? Apa kau tidak lelah jika terus terusan tertidur". Guman Indah pelan disampingnya.
"Aku tidak tau Indah, aku tidak sanggup untuk membuka kedua mataku ini, diriku begitu lemah untuk saat ini sehingga aku tidak berdaya". Batin Panji berkata.
"Asal kau tau Panji, aku sangat menyayangimu, rasa sayangku tidak akan berkurang meskipun kita jarang bertemu beberapa tahun terakhir ini, akan tetapi rasa itu tidak akan mampu terpendam oleh waktu".
"Seandainya kau juga tau apa yang aku rasakan saat ini, aku bahkan tidak akan sanggup jika harus berpisah dengan dirimu dalam waktu yang lama, perasaan yang dulu aku rasakan sekarang mulai kembali lagi, dengan adanya dirimu disampingku, kau berhasil membuatku bersikap layaknya seperti seorang manusia".
"Jangan tinggalkan aku Panji, aku tidak ingin berpisah lagi dengan dirimu, cukup saat itu saja, jangan lagi untuk saat ini, aku sama sekali tidak menginginkan perpisahan itu".
"Aku juga tidak menginginkan hal itu Indah, tapi racun yang ada didalam tubuhku ini tidak dapat ditawarkan, aku tidak tau, sampai kapan diriku akan bertahan dan sampai kapan diriku akan mampu untuk bernafas".
__ADS_1
"Kau harus tetap bernafas demi diriku Panji, aku mohon jangan tinggalkan diriku sendiri seperti ini, aku tidak ingin berpisah dengan dirimu walaupun hanya sesaat saja".
"Indah ku harap kau bisa mengerti tentang keadaanku, dan aku tidak ingin membuatmu sedih setelah mengetahui bahwa umurku sudah tidak lama lagi, dan sebelumnya itu terjadi ku harap kau sudah melupakan diriku untuk selama lamanya".
"Panji aku sangat menyayangimu".
"Indah aku jauh lebih menyayangimu, aku tidak ingin melihatmu menangis ketika kau mengetahui bahwa nyawaku tidak akan bertahan begitu lama karena adanya racun didalam darahku ini".
Indah tidak mampu mendengar suara batin Panji, sementara Panji mampu dengan mudah mendengar ucapan Indah yang sedang berada disampingnya saat ini.
Seandainya Indah dapat mendengarnya, mungkin Indah akan memahami apa yang sedang dialami oleh Panji saat ini, dan mungkin Indah akan mengetahui tentang alasan Panji untuk menjauhinya saat itu.
****
Beberapa hari kemudian, Panji terbangun dari tidurnya panjangnya, ia menatap kesekelilingnya dan mendapati bawa dirinya masih berada dirumah Indah saat ini, akan tetapi perasaannya mendadak berubah menjadi tidak enak.
Panji segera membuka selimutnya dan bangkit dari tidurnya, ia hanya bisa menghela nafasnya ketika mendapati bahwa salah satu kakinya tengah diikat oleh tali yang cukup kuat dengan ujung tali tersebut terikat kuat dengan kayu tepi rajang tempat dirinya terbaring saat ini.
"Apa apaan ini". Kesal Panji ketika melihat bahwa dirinya diikat didalam kamar tersebut.
Tak beberapa lama kemudian Indah masuk kedalam kamar tersebut untuk memeriksa keadaan Panji, ia begitu senang ketika mengetahui bahwa Panji sudah sadarkan diri saat itu.
Beberapa hari belakangan ini Indah terus memperhatikan bagaimana kondisi Panji, karena Panji yang tidak sadarkan diri cukup lama membuatnya tidak mampu tidur dengan nyenyaknya.
"Kamu sudah bangun Ji?". Tanya Indah sambil membawakan makanan dan minuman hangat untuk Panji kedalam kamar tersebut.
"Kenapa kamu mengikatku seperti ini hm?". Tanya Panji yang tidak mengetahui bagaimana jalan pikir Indah sehingga dirinya mengikatnya seperti ini.
"Tabib itu bilang bahwa dirimu harus istirahat dan tidak melakukan aktivitas apapun selama beberapa hari, kalau tidak racun yang ada ditubuhmu akan kambuh lagi". Jelas Indah sambil menaruh nampan tersebut diatas meja dekat dengan tempat tidur itu.
Panji tersenyum tidak menyangka setelah mendengar alasan Indah mengapa dirinya diikat seperti ini, Indah segera menyuapi Panji dengan makanan yang ia bawa sebelumnya, sementara Panji hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Indah kepadanya saat ini.
Indah menyuapi Panji dengan tersenyum sampai nasi yang ada didalam mangkuk tersebut tandas tak tersisa dihabiskan oleh Panji seorang.
Setelah menyuapi Panji dengan makanan tersebut, Indah segera berjalan menuju ke arah meja yang jauh dari tempat dimana Panji terbaring saat ini, Indah tengah menyiapkan obat obatan yang telah diberikan oleh tabib itu kepadanya untuk diberikan kepada Panji ketika Panji sudah sadarkan diri.
"Indah, aku ingin bertanya kepadamu". Ucap Panji yang tengah melihat Indah sibuk dengan apa yang ia lakukan saat ini.
Indah menaruh sendok yang ada ditangannya dan segera berbaik menghadap kearah dimana Panji berada saat ini, Indah berjalan kearah Panji dengan membawa segelas obat yang telah ia larutkan kedalam air yang ada digelas tersebut.
"Apa ini?". Tanya Panji ketika Indah menyodorkan gelas tersebut kepadanya.
"Minumlah! Itu adalah obat yang diberikan oleh tabib kepadaku untuk dirimu". Perintah Indah kepada Panji.
Indah segera duduk disebelah Panji, sementara Panji hanya memandangi gelas tersebut tanpa meminumnya sama sekali, fokusnya kini terarah kepada air yang ada didalam gelas tersebut.
"Kenapa? Apa kau takut aku meracunimu dengan minuman itu?". Tanya Indah ketika melihat Panji yang tak kunjung meminumnya.
......Jangan lupa like dan dukungannya......
__ADS_1