
Theo tengah bersiap siap untuk keluar dari dalam bangunan itu, ia ingin segera melihat apa yang tengah terjadi diluar sana, karena teriakan itu membuatnya semakin tidak tenang jika terus terusan berada didalam ruangan itu bersama dengan Pak Mun tanpa bisa berbuat apa apa.
Akan tetapi sebelum keduanya keluar, Pak Mun seketika teringat tentang pesan yang disampaikan oleh Ningsih sebelumnya bahwa mereka dilarang untuk keluar dari tempat itu, hal itu membuat dirinya segera menghentikan langkah dari Theo.
"Ada apa Pak? Ayo kita tolong orang itu, kasihan dia diluar sana, teriakannya saja sudah seperti itu memilukannya" Tanya Theo dengan reflek karena Pak Mun tiba tiba menghentikannya.
"Apa kau ingat tentang ucapan dari Mbak Ningsih sebelumnya? Kita tidak boleh keluar dari bangunan ini sampai matahari terbit esok".
"Tidak ada waktu lagi Pak, bagaimana kalau orang itu sedang dalam bahaya saat ini, Bu Ningsih hanya bilang kalau kita dilarang keluar kalau ada orang yang mengetuk pintu bukan berarti ia melarang kita keluar untuk membantu orang yang minta bantuan itu".
"Tolong!" Teriakan itu terdengar semakin sangat memilukan dihati.
"Bapak dengar kan? Sepertinya orang itu dalam bahaya deh Pak, aku akan keluar untuk memeriksa keadaannya Pak".
"Lalu bagaimana dengan ucapan Mbak Ningsih? Apa kau juga akan tetap memaksa keluar, bisa jadi kan itu hanya perangkap saja, bagaimana kalau mahluk itu tengah mengincar dirimu".
"Tidak ada perangkap yang teriakannya seperti itu Pak, selama ini aku selalu berhadapan dengan bahaya jadi aku tau betul bahwa teriakan ini bukanlah dibuat main main belaka".
"Tolong! Tolong! Tolong!" Nampak sekali teriakan itu terasa begitu dekat dengan tempat mereka berada sekarang ini.
"Tuh kan Pak, sepertinya telah terjadi sesuatu dengan orang itu, bagaimana kalau teriakan ini didengar oleh Nadhira? Dia pasti akan nekat untuk keluar dari rumah Bu Ning untuk melihatnya".
"Kau benar, Non Dhira pasti akan mencoba untuk keluar dengan paksa karena Non Dhira tidak tegaan melihat orang lain menderita".
"Nah maka dari itu, aku harus keluar untuk memeriksanya dan memastikan bahwa Nadhira masih tetap ada dirumah Bu Ning".
Keduanya dapat mengetahui bahwa teriakan itu adalah teriakan seorang wanita melalui suaranya, sepertinya telah terjadi sesuatu dengan wanita itu dan entah apa yang terjadi kepada dirinya hingga berteriak seperti itu.
Warga sekitar yang mendengarnya tidak ada yang berani untuk keluar melihatnya, sehingga mereka hanya diam saja ketika melihat seorang wanita berteriak meminta tolong, Theo mengeluarkan sebuah benda berukuran gengaman tangannya yang dipinjami oleh Nadhira sebelum keduanya berpisah sebelumnya, benda itu adalah tongkat yang dapat memanjang milik Nadhira.
"Aku akan keluar untuk melihatnya dan membantu dirinya, Pak Mun tetap disini saja dan jangan keluar sebelum aku kembali".
"Tapi bagaimana dengan dirimu".
"Pak Mun jangan khawatir, tutup saja pintunya dengan rapat rapat sampai aku kembali".
"Kembalilah segera dengan selamat, aku tidak ingin kau mati begitu saja, karena kau belum merasakan indahnya menikah"
"Hehehe iya Pak, maksud Pak Mun mungkin belum menikah dengan istri Bapak".
"Ngawur saja kau ini, jangan lupa berdoa untuk keselamatanmu sendiri".
"Iya Pak, jangan lupa jaga istri Bapak sendiri ya kalau aku yang menjaganya nanti Pak Mun nangis deh, aku sedang mencintai dirinya loh Pak, eh maksudku mengintainya saat ini".
"Enak saja kau bilang, langkahi dulu diriku sebelum kau berani membawa istriku kabur dariku".
"Dengan berbekalan Bismillah, aku tidak akan mundur ditengah tengah Pak, jagain dengan baik atau aku yang akan jagain Pak".
"Eh dasar bocah semprul"
"Pak, ngak boleh ngomong kasar seperti itu, nanti Allah marah lo".
"Astaghfirullah.."
Pak Mun terasa begitu gemas kepada Theo, disaat seperti ini dirinya masih saja bisa bercanda seperti itu, Theo segera keluar dari bangunan itu dan segera menyuruh Pak Mun untuk menutup dengan rapat rapat bangunan tersebut.
Theo segera berlari mendekat kearah sumber suara dimana wanita itu berteriak meminta tolong saat ini, ia merasa ada yang aneh dengan desa tersebut ketika dirinya sudah keluar dari warung tempat dimana dirinya berada sebelumnya karena suasana desa itu yang terlihat begitu sepinya.
"Tolong! Tolong!"
"Kenapa suaranya bergerak dari tempat ketempat yang lain, apa wanita itu dalam sebuah pelarian saat ini, aku harus segera mencarinya sebelum semuanya terlambat untuk disesali nantinya"
Theo merasa bahwa suara tersebut seakan akan sedang berusaha untuk berlari menjauh dari tempat sebelumnya, ia segera bergegas berlari untuk mendekat kearah suara itu berasal.
Dikejauhan nampak seorang wanita yang tengah berlarian dengan luka sebuah cakaran yang sangat dalam dilengannya hal itu dapat diketahui dari bagaimana darahnya merembes keluar dari tubuh wanita itu, sebuah sosok yang begitu menyeramkan tengah mengejarnya saat ini.
Mahluk tersebut terlihat seperti seorang monster yang memiliki kuku kuku tajam disetiap tangannya, dan juga berbulu hitam yang sangat legam, siapapun yang melihatnya pasti akan merasa ketakutan dan akan mengalami ketraumaan.
__ADS_1
"Tolong! Tolong! Jangan bunuh aku, aku mohon kepadamu jangan bunuh aku, tolong aku! tolong" Teriak wanita itu meminta agar sosok yang mengejarnya segera melepaskan dirinya itu.
Tiba tiba wanita itu terjatuh ketanah karena kakinya sendiri, hal itu membuat mahluk yang mengejarnya segera berhenti dan menatap kearah wanita itu dengan lapar, wanita itu hanya bisa berharap bahwa dirinya dapat selamat dari mahluk itu.
Wanita tersebut mencoba untuk bangkit dari jatuhnya akan tetapi karena luka yang ia miliki dirinya tidak mampu untuk melakukan itu, wanita itu lebih memilih untuk merangkak dengan perlahan untuk menjauhi mahluk yang ada didepannya.
Ia melihat bahwa mahluk itu akan mengayunkan tangannya sehingga membuat dirinya segera memejamkam mata, akan tetapi siapa sangka bahwa sosok seorang pemuda segera menendang mahluk itu degan sangat keras hingga membuat mahluk itu terpental beberapa meter darinya.
"Anda tidak apa apa?" Tanya pemuda itu yang tidak lain adalah Theo.
"Aku tidak apa apa, awas!".
Wanita itu segera berteriak ketika melihat mahluk yang tadi mengejarnya itu mulai bangkit dan berusaha untuk menyerang kearah Theo, Theo tidak tinggal diam saja melainkan segera melawannya dengan kemampuan yang ia bisa.
Terjadilah perkelahian antar keduanya, mahluk itu tidak mudah untuk dikalahkan, meskipun begitu mahluk tersebut terlihat mampu untuk mengimbangi gerakan Theo sehingga membuat serangan Theo mudah sekali untuk ditebak.
"Sepertinya kau bukan mahluk sembarangan, aku merasa kau adalah seorang manusia biasa" Ucap Theo yang semakin membuat mahluk tersebut marah.
Theo tidak lupa untuk memakai tongkat demi melawan mahluk tersebut sehingga mahluk itu tidak mampu untuk melukai Theo dengan cakarannya, hal itu membuat mahluk itu nampak begitu murka dan berambisi untuk menghabisi Theo.
Nyatanya Theo hanya bermain main dengan mahluk tersebut, melihat sosok pemuda yang tengah bertarung dengan mahluk mengerikan itu membuat wanita itu nampak begitu ketakutan sehingga wanita itu lebih memilih untuk berlari dan bersembunyi dibalik sebuah pohon.
Meskipun saat ini Theo tengah bertarung diarea penduduk, akan tetapi tidak ada yang keluar untuk membantunya ataupun hanya sekedar melihat tentang adanya pertarungan diluar rumah mereka.
Pertarungan itu terdengar begitu nyaring sampai ditempat dimana Pak Mun berada dan juga dimana Nadhira saat ini, mendengar pertarungan itu membuat Pak Mun semakin khawatir dengan Theo yang tengah berada diluar ruangan.
Sementara hal itu membuat Nadhira terbangun dari tidurnya yang nyenyak, Nadhira segera membuka mata dan mendengarkan suara itu dengan teliti, ia dapat menduga bahwa itu adalah sebuah pertarungan yang berada tidak jauh darinya.
"Bu Ning, seperti diluar ada orang yang tengah bertarung" Ucap Nadhira mencoba untuk membangunkan wanita yang ada disebelahnya.
"Tidurlah Mbak ini sudah malam, apa yang Mbak dengar itu hanyalah suara mahluk mahluk itu" Ucap Ningsih dengan malasnya.
"Tidak Bu, sepertinya ada yang bertarung diluar, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan temanku Bu?"
"Tidak mungkin Mbak, aku tidak mendengar apa apa, apalagi suara bertarung seperti yang Mbak bilang itu".
"Apakah ini hanya halusinasiku, tapi aku mendengarnya dengan jelas Bu, aku akan melihatnya untuk memastikannya".
Ketika Nadhira ingin segera bangkit dari tempat tidurnya, Ningsih segera mencegahnya dan mengatakan bahwa tidak terjadi apa apa diluar sana dan itu hanyalah halusinasi Nadhira saja agar dia keluar dari dalam rumah sehingga mahluk mahluk itu bisa menyerangnya secara bersama sama.
Theo tengah berhadap dengan mahluk itu dan keduanya sama sekali tidak bisa melukai satu sama lain, seketika itu juga Theo teringat bahwa dirinya masih memiliki sebuah senjata rahasia yang ia bawa, senjata itu adalah milik Nadhira yang berupa seperti sebuah pena.
Theo segera mengeluarkannya dari dalam saku bajunya, senjata itu tidak mampu dilihat oleh mahluk mengerikan yang ada didepannya, sehingga dengan leluasa untuk Theo memainkan benda tersebut.
Srett....
Theo merasa terkejut ketika tanpa sengaja dirinya mengoyakkan tubuh mahluk itu, akan tetapi ia makin merasa aneh dengan mahluk yang ada didepannya, Theo menebak bahwa mahluk itu adalah manusia yang sedang memakai sebuah kostum untuk menakut nakuti penduduk desa.
"Eh... Pakaianmu sobek? Sepertinya bahannya kurang kuat deh, apa perlu aku belikan yang baru?" Tanya Theo dengan nada mengejek kearah mahluk itu.
"Groaaarrr....."
"Akhirnya kau bersuara juga, lelah aku menunggu suara jelekmu itu, ku pikir kau mahluk yang bisu tadi, ternyata apa yang aku pikirkan itu salah"
Mahluk tersebut segera menyerang kearah Theo dengan membabi buta, dirinya merasa begitu kesalnya kepada Theo karena dirinya sama sekali tidak bisa melukai Theo sedikitpun itu.
Tak beberapa lama kemudian datanglah 4 mahluk yang sama ketempat itu, ternyata teriakannya itu adalah memanggil temam temannya yang lain, melihat begitu banyaknya mahluk hal itu membuat wanita tersebut segera tidak sadarkan diri karena ketakutannya sendiri.
"Tidak bisa menghadapiku sendiri malah justru memanggil yang lain, dasar mahluk lemah, kau tau aku adalah anak jalanan, kalau soal beginian mah mudah sekali untuk menghadapi kalian".
Kelima mahluk yang menyeramkan itu segera menyerang kearah Theo dengan bersamaan, hal itu membuat Theo seakan akan tengah masuk kedalam perangkapnya, akan tetapi dengan tongkat milik Nadhira hal itu membuat Theo sangat yakin bahwa dirinya mampu untuk menghadapi mereka.
Bhuk... Bhuk... Bhuk...
Dengan satu persatu gerakan Theo menghujani mereka dengan beberapa pukulan dan juga tendangan, dan kadang kala dirinya juga melakukan teknik banting dan juga sapuan untuk menjatuhkan mahluk mahluk itu dengan mudah.
"Kau yang terlalu lemah ataukah diriku yang terlalu hebat untuk melawan kalian semua? Apa kau masih punya teman lagi? Panggillah semuanya, saatnya untuk pemanasan" Tanya Theo.
__ADS_1
Mahluk itu sama sekali tidak bisa menghadapi Theo sehingga mereka harus mencari cara lain untuk dapat membuat Theo merasa kalah dan mereka bisa segera kabur dari tempat itu.
Tak jauh dari mereka nampaklah seorang Pak Mun yang tengah berdiri dikejauhan menyaksikan pertarungan mereka, suara bergemuruh itu membuatnya keluar dari warung karena dia begitu khawatir dengan Theo yang ada diluar.
Mahluk itu segera berpindah haluan kearah dimana Pak Mun berada, hal itu membuat Theo kebingungan karena mahluk itu ingin pergi dari tempat itu, akan tetapi setelah dia menoleh dan menemukan Pak Mun, Theo baru menyadari bahwa mahluk itu tengah bergegas menuju kearah Pak Mun.
"Gawat!".
Pak Mun yang melihat kelima mahluk itu menuju kearahnya hanya bisa berdiam diri tanpa bisa berbuat apapun, karena kaki dan tangannya seakan akan terasa begitu lemasnya dan ditidak bisa diajak kerjasama untuk lari dari tempat itu.
"Pak Mun cepat lari!"
Akan tetapi teriakan Theo tidak didengar olehnya, dengan sangat cepat mahluk itu mengangkat tubuh Pak Mun dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Tolong! Tolong!" Teriak Pak Mun.
"Pak Mun!"
Theo segera mengejar mahluk mahluk yang tengah mrmbawa Pak Mun itu, akan tetapi dirinya sama sekali tidak mampu mengimbangi kecepatan mereka yang tengah berlari itu, akhirnya Theo kehilangan jejak dari mereka karena mereka membawa Pak Mun masuk kedalam kegelapan malam.
Hal itu membuat Theo kebingungan untuk mencari Pak Mun, ia tidak menyangka bahwa Pak Mun akan keluar dari warung itu dan melanggar larangannya, Theo terus berlarian memutari desa tersebut untuk mencari Pak Mun akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Pak Mun.
"Kemana aku harus mencarinya, Pak Mun anda dimana! Pak Mun!"
Akhirnya Theo memutuskan untuk kembali melihat wanita yang tengah tidak sadarkan itu, wanita itu nampak begitu kelelahan setelah berlarian cukup lama, hal itu membuat Theo segera memapahnya dan menuju kerumah Ningsih.
Tok tok tok
"Bu Ning! Dhira! Tolong buka pintunya, aku Theo".
Tok tok tok
Theo terus berusaha untuk mengetuk pintu tersebut sampai seseorang membukakan pintu tersebut, nampaklah sosok Nadhira yang membukakan pintu tersebut dan disusul oleh Ningsih dibelakangnya.
"Astaghfirullah, apa yang terjadi Theo".
"Tolong bantu aku membawa wanita ini masuk, dia butuh pertolongan sekarang, dia mengalami pendarahan kalau tidak segera ditolong dia bisa meninggal karena kehilangan banyak darah".
"Baiklah".
Nadhira segera membantu Theo untuk mengangkat wanita itu masuk kedalam rumah Ningsih, Ningsih sangat mengenali wanita itu sebagai tetangga jauhnya, Theo segera merobek lengan baju wanita tersebut untuk melihat lukanya.
"Virna, apa yang terjadi dengan dirinya?" Tanya Ningsih ketika mengetahui bahwa wanita itu adalah Virna tetangga jauhnya.
"Bu Ning kenal dengan wanita ini?" Tanya Theo.
"Iya, dia adalah temanku sejak kecil".
"Aku menemukan wanita ini tengah dikejar kejar oleh mahluk yang aneh, aku tidak sengaja mendengarnya berteriak meminta tolong dan aku segera bergegas keluar dari warung untuk menolongnya".
"Lalu dimana Pak Mun? Kenapa dia tidak bersama dengan dirimu Theo?" Tanya Nadhira sambil menoleh kesana kemari mencari Pak Mun.
"Dia...."
"Apa yang terjadi dengan dirinya Theo, katakan! Apa yang terjadi kepada Pak Mun?"
"Aku menyuruhnya untuk tetap diwarung itu selama aku keluar untuk menolong wanita ini, tapi..." Ucap Theo menggantung.
"Tapi apa? Katakan Theo! Apa yang terjadi dengan Pak Mun saat ini? Katakan"
"Pak Mun nekat untuk keluar dari warung itu dan mahluk mahluk itu berhasil membawanya pergi, aku sudah mencarinya Dhira, tapi aku sama sekali tidak menemukan keberadaannya, aku kehilangan jejak mereka Dhira, maafkan aku".
"Apa! Dia menghilang, kita harus segera mencarinya sampai ketemu Theo, aku tidak mau jika terjadi sesuatu dengan dirinya nanti".
"Kita akan mencarinya Dhira, kau tenang saja, mahluk itu tidak akan bisa menyakiti Pak Mun".
"Bagaimana bisa dirimu seyakin itu Theo?"
__ADS_1
"Mereka telah masuk dalam jebakanku Dhira, kau tenang saja semuanya akan baik baik saja".
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih readers 💕...