
Memang benar apa yang dikatakan oleh Rifki bahwa malaikat maut tidak akan meminta izin terlebih dahulu untuk mencabut nyawa seseorang, ataupun bahkan orang itu tidak akan pernah mampu untuk bernegosiasi dengan malaikat maut.
Jodoh, mati, dan rezeki sudah ditentukan oleh Allah SWT, kita tidak akan pernah tau siapa yang akan menjemput kita terlebih dahulu, entah itu jodoh kita mampu malaikat maut kita, antara baju pengantin dengan kain kafan, kedua benda itu selalu mengitari kita, kita tidak akan tau kematian seperti apa yang akan terjadi kepada kita, kapan dan dimana hal itu akan terjadi kita hanya mampu menyerahkan segalanya kepada Sang pencipta alam semesta.
Soal rezeki, setiap manusia telah ditentukan rezekinya masing masing sesuai takaran yang telah ditentukan kepada kita, kita tidak akan pernah tau rezeki apa yang akan diberikan kepada kita, entah itu adalah harta, umur yang panjang, atau bahkan sahabat yang baik, semua itu adalah rezeki jua.
"Jika malaikat maut bisa diajak bernegosiasi mungkin aku akan meminta nyawa Mamaku kembali dengan cara mengganti dengan nyawaku sendiri, sejak dulu Rif". Ucap Nadhira dengan cemberutnya.
"Jangan katakan hal yang mustahil Dhira, aku tidak pernah melarangmu untuk berkelahi dengan siapapun sebelumnya Dhira, untuk apa aku mengajarkan dirimu ilmu beladiri kepadamu jika bukan untuk melindungi dirimu sendiri dari orang orang yang ingin berniat jahat kepadamu, aku hanya meminta satu hal sebagai gurumu, jangan pernah bertindak gegabah dalam setiap hal yang akan kau lakukan nantinya, nyawamu begitu berarti dan tidak akan pernah tergantikan, nyawa yang sudah pergi tidak akan pernah kembali".
"Lalu untuk apa aku masih memiliki nyawa Rif, jika pada akhirnya aku sama sekali tidak pernah merasa bahagia dengan nyawa ini, aku lelah Rif, mencoba baik baik saja tidak semudah yang dibayangkan selama ini". Ucap Nadhira dengan linangan air mata.
"U still have Allah, dan setiap nyawa itu berharga, setiap hidup pasti memiliki makna, jadilah berguna dan bermanfaat untuk orang yang membutuhkanmu Dhira, tidak ada penciptaan Allah yang sia sia didunia ini, bahkan kuman yg tak terlihat sekalipun memiliki misi di kehidupannya, mintalah kesabaran kepada Allah, biar dikuatin oleh-Nya, Allah adalah pemilikmu tak ada kuasa kita mendahulukan takdir dari-Nya, segala kesakitan dan kesusahan di dunia apabila kita ikhlas menjalaninya sebagai suatu ujian. Maka janji Allah adalah nikmat tiada tara dan kesejahteraan nanti di akhirat Insya Allah... Aamiin. Tertusuk duri yang kecil saja bisa menghapus dosa dosa kita".
"Semua itu percumah Rif, aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan selanjutnya, aku juga tidak tau kapan aku akan pergi untuk selama lamanya".
"Semua orang yang ada didunia ini pasti akan kembali kepada penciptanya Dhira, tidak akan ada yang abadi didunia ini, aku tau, ujian yang kau hadapi saat ini begitu luar biasa sakitnya, tapi percayalah kau adalah wanita yang sangat kuat, kau mampu menghadapi semuanya, katakan kepada ujian itu bahwa kau masih memiliki Allah yang jauh lebih besar daripada ujian yang kau hadapi saat ini".
"Begitu dengan permata yang ada didalam tubuhku bukan Rif? Itu artinya nyawaku juga tidak akan bertahan lebih lama lagi, aku lelah Rif, aku ingin istirahat dan bertemu dengan Mamaku lagi".
"Jangan katakan seperti itu Dhira, aku akan berusaha untuk mencari cara agar dapat mengeluarkan permata itu dari tubuhmu dengan segera, kau akan baik baik saja dan kau pasti akan selamat".
Nadhira hanya bisa tersenyum kecewa mendengar ucapan Rifki, bagi Nadhira tidak akan pernah ada cara untuk dapat mengeluarkan permata itu didalam tubuhnya karena Nimas sendiri tidak mengetahui bagaimana caranya untuk melakukan itu.
"Berusaha? Terus saja berusaha Rif, tapi kenyataanya lain, tidak ada yang bisa mengeluarkan permata ini, jika dikeluarkan secara paksa juga percuma karena nyawaku juga akan ikut keluar dari tubuhku, terima kasih karena telah menenangkan hatiku saat ini dengan ucapan ucapanmu itu, aku tau kau hanyalah menghiburku saat ini".
"Dengarkan aku Dhira, selama kita dapat berusaha semampu dan sebisa kita, tidak akan ada kata mustahil bagi kita, kau pasti selamat Dhira, aku yakin akan hal itu, aku tidak akan pernah membiarkan dirimu kenapa kenapa, Allah tidak akan menguji suatu kaum melebihi kesanggupannya, percayalah Allah tidak akan menciptakan sebuah racun tanpa ada penawarnya".
"Aku begitu rapuh Rif, aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan, ingin rasanya aku menghilang dari bumi ini, aku sudah tidak sanggup lagi".
"Istighfar Dhira, ada Bi Ira yang selalu menemanimu dan menjagamu, ada teman teman yang selalu ada untukmu, dan ada aku, apa kau masih menganggapku adalah sahabatmu Dhira?".
"Kau tetap akan menjadi sahabat terbaikku Rif".
"Jika seperti itu, ayo bangkit Dhira, kau pasti bisa melewati semuanya aku yakin itu, kau juga harus yakin bahwa kau adalah wanita yang hebat, yang tidak semua wanita bisa seperti dirimu, kuatkan hatimu sampai setegar karang, jangan biarkan siapapun membuatmu lemah, kau kuat Dhira, kau wanita hebat, tanamkan dihatimu bahwa kau mampu untuk melewati semuanya".
Rifki mencoba menenangkan hati Nadhira yang tengah bergemuruh saat ini, seluruh perasaan yang ia pendam selama ini akhirnya keluar juga dari mulut Nadhira itu, terlalu banyak beban yang ia rasakan saat ini, sehingga ia mengutarakan semuanya kepada Rifki yang menurutnya adalah orang yang selalu ada untuknya disaat suka maupun duka.
Ketika Nadhira mengutarakan semuanya kepada Rifki, disaat itulah hati dan pikirannya mulai merasa tenang daripada sebelumnya karena selama ini tidak ada yang mau mendengarkan ceritanya, dirinya tidak tau lagi harus bercerita kepada siapa selain Rifki.
Bercerita kepada Papanya pun percumah, karena Nadhira sekarang merasa bahwa Papanya begitu jauh darinya, meskipun raganya ada didepan mata akan tetapi jiwanya tidak bersama dengannya.
Ketika kasih sayang seorang Ayah menjadi begitu jauh dengan putrinya disaat itulah kehadiran orang lain akan sangat berarti bagi anak perempuannya, begitupun dengan apa yang dirasakan oleh Nadhira saat ini, Nadhira menganggap bahwa Rifki adalah teman berceritanya untuk mengutarakan keluh kesahnya setiap harinya.
"Maafkan aku sebelumnya Rif, aku telah salah kepadamu, tidak seharusnya aku mengatakan hal itu kepadamu, maafkan aku, lain kali aku akan berusaha untuk lebih berhati hati lagi ketika akan mengambil tindakan apapun kedepannya nanti".
__ADS_1
"Tidak ada yang menyalahkan dirimu saat ini Dhira, aku tau apa yang kamu rasakan saat ini, tidak ada teman untuk bercerita tentang keluh kesahmu, orang tuamu bahkan tidak pernah menanyakan apakah dirimu sedang baik baik saja atau tidak, aku hanya menghawatirkan dirimu saja Dhira, cukup sekali aku kehilanganmu saat itu, dan aku tidak ingin jika harus kehilanganmu lagi untuk kedua kalinya, kau tau disaat dokter mengatakan bahwa kau tidak selamat, hatiku begitu hancur saat itu". Ucap Rifki dengan nada yang begitu mendalam.
"Apa kau begitu mengawatirkan diriku saat itu? Mengapa Rif?".
"Bukan hanya khawatir saja Dhira, bahkan waktu itu jika bisa aku ingin menggantikan posisimu saat itu, aku tidak akan bisa melihatmu sudah tidak bernafas lagi seperti itu, aku begitu menyalahkan diriku sendiri saat itu, seharusnya aku yang berada diposisimu bukan dirimu Dhira".
"Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu Rif". Ucap Nadhira dengan kedua kata yang berbinar binar.
"Aku juga beruntung bisa bertemu dengan wanita setegar dan sekuat dirimu Dhira".
Rifki tersenyum lembut kepada Nadhira, setelah itu pandangan Rifki terarah kepada pakaian yang ada ditangannya itu, begitupun dengan Nadhira yang ikut serta melihat pakaian itu dengan seksama, pakaian itu adalah sebuah gaun yang sangat indah dan berwarna pink, motifnya sangat rumit dan terdapat manik manik dibagian lehernya.
"Bagus juga model gaun panjang ini, manik maniknya juga nampak indah". Puji Rifki ketika melihat pakaian yang telah dipilihkan untuk Nadhira.
Nadhira menatap kearah pakaian itu begitu lama, dirinya seakan akan pernah melihat pakaian itu sebelumnya, Nadhira teringat bahwa pakaian itu begitu mirip dengan gaun miliknya ketika dirinya masih kecil, Nadhira memakai pakaian itu disaat ada teman sekantor Papanya yang berkunjung kerumah mereka waktu itu.
Nadhira menatap pakaian itu cukup lama, sampai akhirnya setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya dan membasahi pipinya, Rifki yang melihat itu segera menghapus air mata yang ada dipipi Nadhira.
"Kenapa kamu tiba tiba menangis Dhira?". Tanya Rifki yang keheranan karena melihat Nadhira yang tiba tiba menangis seperti itu.
"Aku tidak apa apa, hanya saja aku teringat dengan sosok Mama Rif, pakaian ini mengingatkan ku pada kehadiran Mama disisiku, aku tidak menyangka bahwa pakaian ini lah yang aku gunakan untuk menyambut seseorang yang akan menghancurkan hidupku". Ucap Nadhira lirih.
"Apakah Tante Sena sebelumnya pernah datang kerumahmu Dhira?". Tanya Rifki.
Nadhira tidak menyangka bahwa mereka akan memilihkan pakaian untuk Nadhira seperti ini, wanita yang datang kerumahnya saat itu adalah Sena, dan Sena sekarang telah menjadi Mama tiri yang begitu kejam kepada Nadhira.
Nadhira teringat kembali tentang bagaimana perlakuan Sena kepada dirinya sehingga menyebabkan Nadhira sering merasakan sakit yang luar biasa, dan bahkan nyawa Nadhira hampir melayang karenanya.
Semua bayangannya terekam kembali didalam ingatan Nadhira, mulai dari bagaimana dirinya kehilangan sosok mamanya, kedatangan Sena dalam keluarganya, bahkan sampai Sena yang telah membakar habis foto foto dirinya yang sedang bersama dengan Mamanya.
Perlakuan yang diberikan oleh Sena kepadanya tidak akan pernah bisa dirinya lupakan walaupun kejadian itu sudah berlangsung lama, bahkan sampai sekarang Nadhira masih mengingat dengan jelasnya tentang semua perkataan yang telah dilontarkan oleh Sena Mama tirinya dan juga Rendi Papanya.
"Nadhira aku minta maaf sebelumnya, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?". Ucap Rifki dengan hati hati agar tidak menyinggung perasaan Nadhira.
"Tanya apa? Tanyakan saja". Jawab Nadhira.
"Sebelum kematian Tante Lia, apakah perempuan itu pernah datang kerumahmu dengan maksud yang tertentu?".
"Apa maksudmu?".
"Aku hanya merasa curiga dengan perempuan itu, mungkinkah perempuan itu ada hubungannya dengan kematian dari Tante Lia, bisa jadi kan kalau perempuan itu sudah memiliki niat tersendiri sebelum masuk kedalam rumahmu".
"Aku tidak tau soal itu Rif, tapi aku pernah melihat ada seseorang yang datang kerumahku dengan diam diam waktu itu, aku pikir orang itu adalah tetanggaku yang lewat didepan rumahku tapi anehnya orang itu .....". Ucap Nadhira yang menggantung.
"Aneh kenapa Dhira?".
__ADS_1
Rifki mencoba menerobos masuk kedalam masa itu memalui ilmu kebatinannya, akan tetapi sebuah labirin yang telah melindungi pengelihatannya itu sehingga dirinya tidak dapat menerobos masuk.
"Orang itu tiba tiba menghilang entah kemana".
"Jika dugaanku benar, aku menduga bahwa Tante Sena lah yang menjadi penyebab dari kematian Tante Lia, Tante Sena sengaja membuatku tidak mampu untuk menerobos penghalang itu dengan bantuan para dukun, agar tidak ada yang mengetahui dengan pasti kejadian itu". Batin Rifki.
"Kenapa kau hanya diam Rif?". Tegur Nadhira.
Nadhira yang melihat Rifki hanya diam saja, membuat Nadhira segera menegur Rifki dari lamunannya itu, dirinya berpikir bahwa Rifki sedang melamun sehingga membuat Nadhira menegurnya, Rifki menatap kearah Nadhira dengan lekat tiba tiba.
"Berhati hatilah dengan Ibu tirimu itu Dhira, dia memiliki maksud yang tidak baik untuk kalian". Ucap Rifki memperingatkan Nadhira mengenai Ibu tirinya.
"Apa maksud dari ucapanmu itu Rif? Aku sama sekali tidak mengerti".
"Kau tidak perlu mengerti tentang apa yang aku ucapkan itu, yang perlu kau lakukan hanyalah berhati hati dengan dirinya, aku dapat merasakan bahwa ada niat buruk didalam hatinya untukmu dan Papamu, jika perasaan itu salah aku akan merasa lega, tapi jika perasaan yang aku rasakan itu benar maka kau harus lebih berhati hati dengannya".
Rifki tidak mampu menceritakan kejadian sebenarnya yang ia lihat melalui mata batinnya itu kepada Nadhira, dirinya hanya mampu memperingatkan kepada Nadhira untuk lebih berhati hati dengan Sena, dan berharap bahwa Nadhira akan baik baik saja selama dirinya tidak berada didekat Nadhira.
"Apa kau juga menduga hal yang sama seperti yang aku duga?". Tanya Nadhira.
"Apa yang kau duga Dhira?".
"Aku menduga bahwa Mama Sena adalah penyebab kematian dari Mamaku".
"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu Dhira? Kita tidak tau buktinya, bisa jadi kau telah memfitnahnya".
"Tidak Rif, aku yakin itu, lalu alasan apa yang membuat Kak Dhita pergi meninggalkanku sendirian dan tidak pernah kembali sampai sekarang".
"Kita tidak boleh menuduh orang Dhira, sebelum ada bukti bukti yang kuat".
"Kau benar Rif, kebenaran butuh bukti untuk menunjukkannya kepada dunia, akan tetapi kebohongan tidak membutuhkan itu".
Rifki tersenyum kepada Nadhira memang itulah yang ingin ia sampaikan kepada Nadhira, bahwa kebenaran dan kejujuran membutuhkan bukti bukti yang kuat untuk membenarkannya berbeda dengan kebohongan dan kedustaan.
"Untuk sementara ini, carilah bukti bukti yang kuat terlebih dahulu, tapi kau harus berhati hati dengannya, dia pandai bermain dengan ilmu hitam, aku tidak ingin kau kenapa kenapa Dhira".
"Lalu apa yang harus aku lakukan Rif?".
"Nimas dan Raka akan selalu melindungimu Dhira, kau tidak perlu cemas untuk hal itu, mulai sekarang bertindaklah dengan hati hati".
"Iya Rif, aku akan lebih berhati hati lagi".
Rifki mengangguk mendengar jawaban dari Nadhira, meskipun begitu Rifki masih merasakan begitu cemas ketika dirinya akan pergi meninggalkan Nadhira, seakan akan dirinya tidak rela untuk pergi, ia tidak ingin Nadhira dalam bahaya apalagi Nadhira sekarang berhadapan dengan Sena.
...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...
__ADS_1