
Rahma mengangguk mengiyakan ucapan Nadhira, ia juga tidak mau kalau Rifki sampai memarahinya karena ia datang kemarkas itu tanpa izin kepada Rifki telebih dahulu, lebih tepatnya ia tidak ingin membuat masalah diantara Nadhira dan Rifki yang dapat menyebabkan dirinya dihantui oleh anak buah Rifki.
Rahma merasa kedua orang yang berada dikelasnya tersebut memiliki sikap yang keras dan sangat menyukai perkelahian.
Apalagi ketika ia mengetahui bahwa Rifki memiliki sebuah geng dan markas sendiri, membuatnya merasa merinding apabila berhadapan dengannya, bukan hanya hal itu saja, tetapi setelah mengetahui bahwa Nadhira ikut terluka dalam kejadian tersebut itu artinya Nadhira juga bagian dari penyerangan itu sehingga ia terluka dibagian lehernya seperti sekarang ini.
Tiba tiba Dinda dan yang lainnya mendatangi Nadhira dengan bersama sama, tetapi Nadhira mengabaikannya dan membalikkan badannya untuk membuka tasnya dan mengambil bukunya untuk dibaca.
"Heh!!! Jangan sok cantik ya dikelas ini". Teriak Dinda.
Teriakkan itu hanya diabaikan oleh Nadhira, Nadhira masih tetap membaca bukunya dengan santainya seakan akan tidak ada orang yang mendatanginya seperti saat ini.
Karena merasa diabaikan oleh Nadhira membuat Dinda menggerakkan tangannya untuk mengambil buku tersebut, Nadhira yang mengetahui gerakan tersebut segera memindahkan bukunya dari tempat sebelumnya, tetapi perhatiannya masih terarah kepada tulisan yang ada dibuku sebenarnya dalam diamnya Nadhira terus memperhatikan gerakan orang yang ada didepannya.
Dinda berusaha untuk merebut buku tersebut dari tangan Nadhira, tetapi gerakannya mampu dibaca oleh Nadhira karena Rifki mengajarkan kepadanya mengenai titik fokus dalam ilmu beladiri sehinggs fokusnya kini terarah kepada Dinda meskipun Nadhira berpura pura membaca buku.
"Jangan sok hebat kau ya dikelas ini, mentang mentang Rifki selalu melindungimu".
"Maaf aku tidak ingin melukai seseorang saat ini, sebaiknya jangan ganggu diriku".
"Kau!!".
"Sebaiknya kalian pergi sebelum kejadian waktu itu terulang kembali dikelas ini? Apa kau mau dipukuli lagi?". Usir Rahma.
Nadhira hanya melirik sesaat kearah Dinda yang terlihat begitu kesal kepadanya, entah kesalahan apa yang dilakukan Nadhira kepadanya sehingga ia begitu sangat membencinya dan ingin selalu membuat masalah dengannya.
Dengan terpaksa akhirnya mereka pergi dari hadapan Nadhira, Nadhira menghela nafas lega karena mengetahui bahwa tidak akan terjadi apa apa dikelas itu, ia tidak ingin iblis itu dapat membuat orang lain terluka karenanya, apalagi seperti waktu itu dan untungnya Rifki datang tepat waktu untuk menghentikan memukuli Dinda.
Tetapi kejadian itu tidak pernah membuat Dinda merasa jerah untuk mencari masalah dengan Nadhira, ia juga mengajak orang lain untuk membenci Nadhira, meskipun hal itu sama sekali tidak penting bagi Nadhira.
Apapun yang Nadhira lakukan akan tetap terlihat salah didepan orang yang sangat membencinya, seberapa pun kebaikan yang ia berikan, ia akan tetap dibenci oleh mereka.
"Apa kalian pernah berselisih sebelumnya, hingga membuat dia begitu membencimu Dhir?". Tanya Rahma.
"Tidak, aku juga baru kenal pas masuk kelas ini, mana mungkin aku bisa memiliki perselisihan dengan dia, kecuali waktu itu saja". Jawab Nadhira masih tetap fokus pada bukunya.
"Ouh... Seperti itu".
Bel sekolah berbunyi pertanda jam selanjutnya telah dimulai, mereka kembali fokus pada pelajaran kali ini, tanpa mereka sadari waktu berlalu begitu cepat sehingga jam pulang sekolah pun tiba.
Nadhira mulai berjalan kearah gerbang sekolah, tetapi ia tidak mendapati anak buah Rifki berada, tak beberapa lama kemudian seseorang keluar dari sebuah mobil hitam yang berada didekat gerbang, seseorang itu tidak lain adalah Reno.
Nadhira segera mendekati mobil tersebut, Reno segera membukakan pintu mobil tersebut dan menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil, Nadhira begitu terkejutnya ketika melihat Rifki sudah berada didalam mobil dengan pakaian yang begitu rapinya.
"Gimana lukamu masih terasa sakit?". Tanya Rifki kepada Nadhira yang baru saja masuk kedalam mobil tersebut.
"Tadi sangat sakit, tetapi setelah melihatmu semuanya hilang".
"Eh baru juga tidak masuk sekolah satu hari, sudah pandai aja nih bocah gombalnya, emang belajar dari mana sih".
"Belajar darimu".
"Anda belajar diguru yang tepat Nona".
Dari kejauhan Amanda sedang memperhatikannya, meskipun Nadhira tidak pernah dipedulikan oleh ayah kandungnya tetapi melihat Nadhira diperlakukan dengan baik oleh orang lain membuatnya merasa begitu kesal dan iri dengan kehidupan Nadhira yang bisa mendapatkan perhatian khusus dari Rifki.
Nadhira merasa senang ketika melihat Rifki sudah berada didalam mobil tersebut, awalnya ia mengira bahwa apa yang dikatakan oleh anak buah Rifki sebelumnya adalah kebohongan agar Nadhira tidak merasa khawatir kepada Rifki, tetapi apa yang ia lihat saat ini ia merasa senang.
"Papamu ngak jemput Dhir?". Tanya Rifki.
"Emang pernah aku dijemput sama papa?". Tanya Nadhira balik.
"Ngak sih, aku hanya mau bilang ke papamu kalau anaknya aku culik, aku bawa kemarkas".
__ADS_1
"Emang ada ya, penculik yang mau nyulik bilang bilang dulu? Yang ada mah bisa bisa penjara penuh kali Rif".
"Iya ngak papa lah, penjara sekarang tuh seperti hotel bintang lima, siapa juga sih yang ngak betah disana".
"Iya itu mah khusus pejabat yang punya kedudukan doang, kalo menurut orang yang ngak mampu mah beda lagi cerita kali Rif".
Keduanya tertawa bersama sementara Reno dan supir mobil tersebut hanya bisa pura pura tidak mendengar mereka berdua, Rifki segera menyuruh supirnya segera melajukan mobil tersebut.
Melihat mobil itu melaju dengan cepat kearah berlawanan dengan markas dan juga berlawanan dengan rumahnya membuat Nadhira bertanya tanya didalam kepalanya.
"Emang kita mau kemana Rif?".
"Belanja".
"Hah? Kenapa tiba tiba belanja?".
Nadhira begitu terkejut ketika mendengar bahwa Rifki akan mengajaknya pergi belanja, tetapi Nadhira dapat melihat sebuah kesedihan dari mata Rifki meskipun hal itu sangat kecil dan bahkan sudah mulai dihilangkan oleh Rifki agar Nadhira tidak mengetahuinya, tetapi Nadhira bisa merasakan hal itu dengan mudahnya.
"Biasalah Nadhira, dimarkas cemilannya sudah menipis dan bahan bahan masakan juga sudah mulai habis".
"Tumben banget, biasanya juga kamu nyuruh anak buahmu untuk beli, kenapa sekarang kamu beli sendiri".
"Iya ngak papalah, emang salah ya kalo aku mau ngajak kamu belanja? Atau kamu ngak mau nemenin aku belanja?".
"Ah bukan begitu Rifki!! Baru kali ini aku lihat cewek yang nemanin cowok belanja, biasanya juga cowok yang nemanin cewek".
"Karena tidak ada yang begitu, maka aku ingin jadi satu satunya yang begitu, haha... "
Rifki tertawa bebas didepan Nadhira seakan akan tidak ada beban didalam pikirannya, Nadhira menatap kedua bola matanya dengan lekat lekat, Rifki yang ditatap seperti itu kini kembali menatap kearah Nadhira dengan cara yang sama.
"Apa yang kamu lihat?". Tanya Rifki kepada Nadhira.
"Aku melihat sesuatu dimata kamu, seperti langit yang cerah tetapi tertutup oleh mendung yang hitam, seakan akan mendung itu ingin sekali meneteskan air yang ia simpan".
"Ha... Mungkin kamu salah lihat kali Dhir". Rifki tersenyum kearah Nadhira.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampailah disebuah toko yang menjual bahan bahan pokok, Rifki segera mengajak Nadhira untuk masuk kedalamnya untuk membeli bahan yang dibutuhkan.
"Ternyata seorang Tuan Muda juga bisa membedakan bahan masakan ya". Guman Nadhira ketika melihat Rifki memilah milah bumbu dapur berupa, jahe, kunyit, dan lain lain.
"Ngak, bentuknya kelihatan sama semua, aku hanya bingung bagaimana caranya membedakannya".
Nadhira tertawa mendengar jawaban dari Rifki, Nadhira fikir Rifki mampu membedakannya karena keseriusannya dalam memilih bahan masakan, tetapi jawabannya sukses menjawab pertanyaan dari Nadhira.
"Kenapa tertawa? Bantuin napa orang yang lagi kebingungan ini".
"Dengan senang hati Tuan Muda".
Toko tersebut bersebelahan dengan pasar yang pernah Nadhira datangi dengan ibu angkatnya, Nadhira juga membantu Rifki untuk memilih milih bahan yang akan ia beli setelah semuanya telah terbeli, Reno dan supirnya segera mengangkatnya dan memasukkannya kedalam mobil tersebut.
"Sekarang mau beli cemilan dimana?". Tanya Nadhira.
"Em... Enaknya dimana ya, bagaimana kalo kita ke toko yang ada disana". Rifki menunjuk kesebuah toko yang berada tidak jauh dari mereka.
"Baiklah, ayo".
Nadhira dan Rifki segera berjalan menuju tempat tersebut, sesampainya ditoko tersebut tanpa sengaja Nadhira bertemu dengan seorang ibu ibu yang begitu tidak asing baginya, Nadhira mengingat ingat kembali dimana ia pernah bertemu dengan ibu tersebut.
Ibu itu juga hendak berbelanja ditempat itu, ibu ibu itu juga memandang Nadhira kembali dengan tatapan begitu senangnya ketika bertemu dengan Nadhira, Rifki yang melihatnya segera menarik tangan Nadhira, karena ia tidak mengetahui kenapa ibu ibu tersebut memandangi wajah Nadhira.
"Nak kau disini juga?". Tanya ibu tersebut.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya bu?". Tanya Nadhira yang terus mengingat ingat dimana ia pernah melihat wajah itu.
__ADS_1
"Apa kau melupakanku? orang yang kau tolong waktu itu didalam pasar, apa kau sudah lupa?". Tanya ibu itu kepada Nadhira.
Nadhira mengingat ingat kembali mengenai kejadian sebelumnya yang ia lupakan, ia mengingat ingat kembali dimana dia menemui wanita yang ada dihadapannya saat ini, hingga ia teringat sebuah kejadian ketika ia melawan pencopet tetapi bukan jiwanya yang melawan.
"Ah iya aku ingat sekarang, ibu apa kabar?".
"Alhamdulillah baik, seperti yang kau lihat saat ini, andai bukan karenamu pasti ibu akan kehilangan semuanya".
Melihat keduanya akrab membuat Rifki meminta izin kepada Nadhira untuk masuk kedalam toko tersebut dan memilih cemilan yang akan ia beli ditempat itu, Rifki memang tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh keduanya sehingga ia memutuskan untuk masuk kedalam daripada harus menjadi patung diantara keduanya.
Nadhira dan ibu ibu tersebut terlihat begitu serasi seakan akan seperti seorang anak yang bercanda gurau dengan ibunya, tetapi sesekali pandangan Nadhira terarah kepada Rifki yang berada didalam toko tersebut, ketika ibu itu menyadari apa yang dipandang oleh anak yang ada didepannya membuatnya tertawa.
"Ah sepertinya kalian berdua memang pasangan yang serasi ya, sudah kayak pasutri aja yang sedang berbelanja kebutuhan pokok".
"Apa itu pasutri bu?".
"Apalagi kalau bukan pasangan suami istri".
"Ibu bisa aja, lagian kita mah masih kecil bu, ngak mungkin juga bisa menikah diusia dini seperti ini".
Keduanya melanjutkan pembicaraan mereka hingga ibu ibu itu pamit kepada Nadhira karena sudah terlalu lama keluar rumah, ia takut kalau anaknya mencarinya. Setelah kepergian ibu itu, Nadhira segera mendatangi Rifki yang masih memilih milih makanan yang ada didalam toko tersebut.
"Mau cari yang mana Tuan?". Tanya Nadhira kepada Rifki dengan begitu manisnya.
"Ah ini mbak, mau cari yang manis manis, seperti gadis yang ada dihadapan saya mbak".
"Boleh saya bantu Tuan?".
Nadhira mulai memilih milih makanan yang ada ditempat itu, sesuai permintaan Rifki, Rifki juga ikut memilih makanan apa yang enak dinikmati dimarkasnya.
"Boleh sekali mbak, oh iya siapa ibu ibu tadi?".
"Itu, ibu ibu yang aku temui dipasar ketika ibu Ira mengajakku kepasar untuk pertama kalinya".
"Oh".
"Kamu tau, makhluk apa yang paling menyebalkan diseluruh dunia ini?".
"Mahkluk apa itu?".
"Dirimuu!!!".
Rifki mengejek kearah Nadhira, dan ia menaruh keranjang belanjaan yang ia bawa kelantai, sementara Nadhira terus saja mencubitnya dengan keras, canda tawa mereka menarik perhatian orang orang yang sedang berbelanja ditempat itu, setelah itu Rifki mengambil kembali keranjang belanjaan tersebut, sementara Nadhira berjalan mengelilingi toko itu sambil memilih milih apa yang ingin ia beli.
Rifki mengikuti Nadhira dari belakang sambil membawakan keranjang belanjaan, sudah empat keranjang penuh dengan belanjaan kali ini adalah keranjang kelima yang Rifki bawa.
"Tuan Muda mau apa lagi? Atau sekalian penjualnya yang dibawa pulang?". Tanya Nadhira sambil memilih cemilan.
"Mbaknya aja yang aku bawa pulang gimana? Habisnya cerewet sih".
"Oh boleh, mau dibungkus sekalian atau gimana Tuan Muda?".
"Boleh Mbak, sekalian dibungkus dengan rapi, nanti aku buat pajangan dinding dimarkas soalnya".
"Hih... Ini manusia kali".
"Manusia? kenapa imut sekali sih".
"Sudah ah,, garing tauk".
"Iyaya.. memang lelaki serba salah".
Nadhira tertawa mendengar Rifki mengucapkan hal itu dengan pasrahnya, melihat Nadhira tertawa membuat Rifki ikut tertawa karenanya, keduanya sukses membuat semua pandangan tertuju kepada mereka.
__ADS_1
Setelah membeli semua cemilan, pihak toko segera menghitung total pengeluaran yang harus Rifki keluargkan, begitu banyak cemilan yang akan dibeli oleh Rifki sehingga pihak toko kebingungan dan kewalahan untuk menjumlahnya.
*Jangan lupa tekan Like 🙂