Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kecurigaan yang muncul tiba tiba


__ADS_3

Dari cendela kamarnya dapat Nadhira lihat bahwa Rifki telah pergi dari rumahnya, Nadhira segera menutup cendelanya dari dalam, karena sudah larut malam sehingga seluruh penghuni rumah telah tertidur dengan nyenyaknya.


"Sudah jam sebelas malam, apa Manda baik baik saja ya".


Nadhira segera bergegas menuju kekamar Amanda untuk memastikan bahwa Amanda baik baik saja sampai dirumah, Nadhira begitu mencemaskan keadaan Manda, bisa jadi Manda akan mengalami trauma karena kejadian ini.


Dengan pelannya Nadhira membuka pintu kamar milik Amanda tersebut, ia dapat melihat Amanda tidur dengan pulasnya sambil tertutupi oleh selimut yang tebal, kejadian itu membuatnya merasa ketakutan untuk keluar malam lagi.


"Syukurlah dia sudah dirumah, dari tadi aku begitu mencemaskan dirinya ketika memikirkannya, dan melihatnya tidur seperti itu, aku merasa sudah lega".


Nadhira tersenyum ketika ia melihat bahwa Amanda berada dikamarnya, Nadhira segera menutup pintu kamar itu dan bergegas menuju kedapur untuk minum karena ia begitu haus setelah melakukan perkelahian dan juga perjalanan yang cukup jauh.


Dengan pelannya Nadhira memutar kran galonnya dan mengisi penuh gelasnya, setelah itu ia meminumnya hingga tandas tak tersisa sedikit pun air digelas itu.


Ketika Nadhira melewati kamar bi Ira tiba tiba ia mendengar suara isak tangis yang begitu pelan dari kamar itu, setelah selesai minum Nadhira segera bergegas mengetuk pintu kamar tersebut dengan pelannya.


Tok.. Tok..


"Ibu? Ibu tidak papa?". Tanya Nadhira pelan sambil mengetuk pintu..


Karena tidak ada sahutan dari dalam membuat Nadhira merasa khawatir dengan tiba tiba, Nadhira segera membuka pintu kemar tersebut dan masuk kedalamnya untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi kepada ibu angkatnya itu.


Setelah Nadhira masuk, Nadhira begitu terkejut ketika lampu dikamar itu mati, dan kamar itu begitu gelapnya, Nadhira menoleh kesana kemari mencari sosok ibunya, sampai akhirnya ia menemukan sebuah sosok dipojok kamar yang sedang menangis.


"Maaf bu, aku lancang masuk kedalam, ibu kenapa menangis?". Tanya Nadhira yang melihat bi Ira bersimpuh di lantai sambil memeluk kakinya.


Bi Ira sama sekali tidak mendengar pintu kamarnya diketuk maupun dibuka oleh Nadhira, tetapi ucapan Nadhira segera membuatnya tersadar bahwa Nadhira sedang berada dihadapannya saat ini, bi Ira menatap Nadhira dengan mata yang berkaca kaca.


"Nak, kau belum tidur?". Tanyanya dengan lirih dengan berlinangan air mata.


"Belum bu, aku ngak sengaja dengar ibu menangis, jadi aku langsung masuk kedalam, ada apa bu? Cerita ke Dhira siapa tau Dhira bisa bantu, apakah Mama Sena telah melakukan sesuatu kepada ibu?".


"Tidak nak, Ibu hanya bermimpi bertemu dengan Lia, ibu sangat merindukan dirinya, didalam mimpi Lia tersenyum begitu bahagianya kepada ibu".


Nadhira segera memeluk ibu angkatnya itu dengan eratnya, apa yang dirasakan oleh ibu angkatnya juga Nadhira rasakan, biar bagaimanapun kepergian Lia dari hidup Nadhira membuat Nadhira begitu merasa kehilangan sosok yang paling ia sayangi, begitupun dengan bi Ira yang rindu dengan sahabatnya yang telah lama tidak bertemu dan tiba tiba mendapatkan kabar bahwa sahabatnya telah tiada cukup lama.


Nadhira bahkan tidak bisa berziarah dimakam mamanya karena jasad mamanya pun tidak ditemukan setelah kecelakaan itu, ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga mamanya selalu bahagia disyurga-Nya.


"Sudah ibu, Jangan terlalu dipikirkan terlalu dalam lagi bu, mending ibu tidur dulu karena ini sudah larut malam". Ucap Nadhira sambil membantu ibu angkatnya untuk bangkit.


"Nak, apakah Lia benar benar sudah tiada?". Tanya bi Ira dengan pelannya kepada Nadhira.


"Aku tidak tau pastinya bu, karena Mama tidak kunjung kembali, maka semua orang menganggap bahwa Mama sudah tiada".


Setelah itu Nadhira menyuruh ibu angkatnya itu untuk tidur, sementara Nadhira menatata selimut untuk digunakan oleh ibu angkatnya itu, setelah itu Nadhira pamit untuk kembali tidur dikamarnya, ia begitu lelah untuk hari ini.


Nadhira segera keluar dari kamar itu, dan menutup pintu kamar itu, diluar kamar Nadhira tidak mampu menahan air matanya yang hendak terjatuh, diluar kamar itu Nadhira menangis karena dirinya juga sangat merindukan mamanya.


Sampai detik ini Nadhira begitu sangat tidak mempercayai bahwa mamanya telah tiada, Nadhira hanya mengira bahwa mamanya pergi entah kemana, karena sampai saat ini tidak ada tanda tanda ia menemukan jenazah mamanya, hal itu membuat Nadhira mempercayai bahwa mamanya masih hidup.

__ADS_1


Akan tetapi kenyataan lain, hal itu membuat Nadhira begitu rapuh karena sampai detik ini ia tidak mendapatkan kabar sedikitpun mengenai keberadaan mamanya yang telah lama hilang entah kemana, ia sama sekali tidak dapat menemukannya.


"Mama aku rindu".


Rintihan suara Nadhira yang memanggil manggil nama Lia, meskipun didepan semua orang Nadhira adalah gadis yang kuat tetapi kenyataannya Nadhira adalah gadis yang begitu rapuh pondasinya, ia mampu tertawa didepan semua orang tetapi disaat dia sendiri ia tidak bisa menahan airmatanya yang hendak terjatuh meluncur keluar dari pelupuk matanya yang indah itu.


Nadhira berjalan menuju kekamarnya dengan langkah yang begitu berat untuk meninggalkan kamar ibu angkatnya.


Sesampainya dikamarnya, Nadhira segera menjatuhkan tubuhnya kelantai kamarnya setelah menutup pintu kamar dari dalam, ia memegangi lututnya dengan erat.


"Apa yang sebenarnya terjadi kepada mama? Kenapa mama bisa mengalami kecelakaan itu? Apakah Kak Dhita mengetahui sesuatu mengenai ini, sehingga ia tidak pernah berkunjung kemari meskipun hanya untuk menengokku sebentar saja".


Selama ini Nadhira menang tidak pernah mengetahui apa yang menjadi penyebab kematian mamanya, yang ia ketahui bahwa mamanya kecelakaan dan mobil yang dikendarainya masuk kedalam jurang.


Nadhira yang saat itu masih belum dewasa sehingga ia belum mengetahui apa pun mengenai kecelakaan itu, karena saat itu Nadhira sedang kesekolah sementara kegiatan mamanya dirumah Nadhira tidak dapat mengetahuinya, baru kali ini Nadhira memikirkan tentang hal itu.


"Mengapa disaat kejadian itu, papa sama sekali tidak terluka? padahal mobil itu adalah mobil milik papa, lalu bagaimana caranya mama mengendarai mobil itu sendirian, kemana papa".


"Tunggu bentar, kau bilang mamamu kecelakaan pake mobil papamu, tapi papamu masih baik baik saja? Aneh juga". Guman Nimas didekat Nadhira tetapi Nadhira masih tidak bisa melihatnya.


"Kau disini?". Tanya Nadhira entah menoleh kemana.


"Bukankah sudah ku bilang, kemanapun kau pergi aku juga ikut".


Nadhira hanya diam saja mendengar hal itu, karena dirinya tidak bisa melihat Nimas, jadi Nadhira berpikir bahwa Nimas tidak selalu mengikutinya melainkan berulang ulang kali menengoknya saja.


Tetapi ucapan Nimas saat ini membuat Nadhira begitu yakin bahwa Nimas selalu mengikutinya kemanapun dia pergi, untuk melindungi Nadhira sesuai dengan perintah dari Pangeran Kian atau biasa disebut dengan Kuswanto.


"Iya, Apa ada yang aneh dari ucapanku?".


"Coba kau pikir lagi, mamamu naik mobil papamu disaat kecelakaan itu, apa kau tidak mencurigai sesuatu pun saat itu?".


Nadhira masih diam membisu, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, airmatanya yang mengalir tersebut perlahan lahan mulai mengering karena tersapu dengan hiliran angin yang begitu lembutnya.


Kecurigaan itu mulai membesar, Nadhira begitu sangat penasarannya mengenai hal apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa papanya memutuskan untuk menikah lagi dengan mama tirinya saat ini tanpa kehadiran dari Nandhita.


"Sepertinya banyak yang disembunyikan oleh papamu maupun mama tirimu, dan itu bukanlah sesuatu yang baik".


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk mengetahui semuanya? Aku harus tau, apa yang menyebabkan mama meninggal dengan tidak wajar seperti ini".


Nadhira membulatkan tekadnya untuk dapat mengetahui ada apa dibalik kejadian itu sebenarnya, ia tidak bisa tinggal diam lagi, ia harus menemukan petunjuk mengenai hal itu, meskipun kasus itu sudah lama terjadi tetapi Nadhira masih tetap akan menyelidikinya untuk mendapatkan petunjuk.


"Ikuti saja permainannya".


"Permainan?". Nadhira masih tidak paham mengenai ucapan dari Nimas. Permainan apa yang sebenarnya sedang dimainkan. "Sekarang bukan saatnya untuk bermain!!".


"Bego banget sih jadi manusia!!". Umpat Nimas dengan kesalnya karena Nadhira tidak peka dengan apa yang ia maksud.


"Emang hantu tau apa itu bego?".

__ADS_1


"Sudah cukup jangan pura pura bego Dhira!! Aku tau kau sebenarnya paham kan dengan apa yang aku ucapkan ha!!".


Nadhira hanya mengangguk, tetapi Nadhira tidak mengetahui permainan seperti apakah yang akan ia ikuti untuk dapat mengetahui penyebab kematian Mamanya, Nadhira harus tau mengenai hal itu, yang menyebabkan Kakaknya begitu sangat membenci Papanya.


Bukan hal wajar ketika hal itu terjadi tiba tiba kepada Mamanya, apalagi disaat kejadian itu hanya Mamanya seorang yang tewas terbawa arus sungai yang begitu derasnya, sementara Papanya masih dalam keadaan baik baik saja tanpa adanya luka sedikitpun.


"Siapapun penyebab kematian Mama, dia harus merasakan apa yang dirasakan oleh Mama!!".


Nimas mampu merasakan seperti apa yang dirasakan oleh Nadhira saat ini, seperti dahulu ketika dirinya kehilangan keluarganya hanya karena kesalah pahaman para warga mengenai keluarganya sehingga menyebabkan seluruh keluarganya tewas seketika.


Tidak ada yang namanya anak yang tidak sakit hati ketika keluarganya dibantai bahkan difitnah oleh orang lain tanpa mengetahui kebenarannya terlebih dahulu, dan disaat itu juga Kakek dan Ayahnya melakukan tugas yang diberikan oleh Pangeran Kian kepada mereka untuk tetap menjaga goa tersembunyi itu.


Tetapi keluarga lain mengira bahwa keluarga Nimas telah mengambil hak mereka sebagai warga desa, karena keluarga Nimas tidak mau memberikan hak yang harus mereka dapatkan dari kepala Desa mereka yang sebenarnya itu bukanlah hak mereka juga.


Nimas mengingat tentang seseorang yang menyelamatkan diri dan mengajarinya mengenai banyak hal, sampai akhirnya orang tersebut meninggal dunia ketika Nimas masih berusia 3 tahun, Nimas terus mengembara untuk mencari sesuap nasi sampai akhirnya ia bertemu dengan Kuswanto.


Saat itu Kuswanto sedang berbelanja kepasar, ia tidak sengaja menemukan seorang gadis yang tengah kelaparan, karena rasa ibanya membuat dirinya mendekat kearah gadis kecil itu.


Kuswanto dapat merasakan bahwa adanya kekuatan yang besar dari gadis itu, tetapi sang gadis belum mampu untuk mengendalikannya karena tidak ada yang membimbing dirinya untuk mengendalikan kekuatan tersebut.


Karena itu Kuswanto membawa Nimas pulang kerumahnya, bertahun tahun Nimas dirawat dan dibesarkan oleh Kuswanto, hingga umur 15 tahun, setelah itu Nimas mengajukan diri kepada Kuswanto untuk melindungi goa karena rasa terima kasihnya kepada Kuswanto yang telah merawatnya selama ini.


Saat ini Nimas juga belajar untuk melupakan dendam dan ambisinya untuk membunuh seluruh keturunan Darma seperti yang diharapkan oleh Pangeran Kian kepadanya, dan dirinya mulai untuk membantu Nadhira karena kesalahan yang telah ia lakukan kepada Nadhira.


"Aku tau apa yang kau rasakan saat ini, tetapi jangan sampai bertindak gegabah mengenai ini, aku tidak ingin kau mengulangi kesalahan yang sama seperti yang aku lakukan".


"Lalu bagaimana sekarang?".


Nimas membisikkan sesuatu kepada Nadhira mengenai apa yang harus Nadhira lakukan selanjutnya, Nimas membantu Nadhira karena Nadhira wajib mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Mamanya.


****


Keesokan hari yang begitu teriknya Nadhira terbangun dari tidurnya karena kilauan sinar matahari yang merembes masuk kedalam kamarnya, Kilauannya begitu terang sampai menembus kematanya meskipun dalam keadaan terpejam.


Hari ini adalah hari minggu sehingga Bi Ira mengajak Nadhira untuk main kepanti asuhan lagi, seperti biasa Nadhira akan pergi untuk menjenguk Fika adik angkatnya, kali ini Nadhira mengajak Rifki untuk ikut bersama mereka menuju kepanti asuhan.


Rifki segera bergegas menuju kerumah Nadhira menggunakan mobilnya bersama sopir pribadinya yang siap siaga dengan apa yang diperintahkan oleh Rifki kepadanya, sesampainya dirumah Nadhira, ia segera turun dari mobilnya untuk memanggil Nadhira keluar.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya Nadhira dan Bi Ira keluar bebarengan, Nadhira segera bergegas menghampiri Rifki, Rifki mengajak Bi Ira dan juga Nadhira untuk masuk kedalam mobilnya, awalnya Bi Ira tidak enakan karena baru kali ini ia naik mobil bagus seperti yang Rifki naiki sekarang.


Ia juga tidak enak jika harus menolak keinginan Nadhira, akhirnya dirinya pasrah naik mobil tersebut, setelah itu mereka meluncur menuju ke arah pasar, dimana Bi Ira selama ini berbelanja disana.


"Oh iya Bi, aku ngak terlalu hafal dengan bumbu dapur dan mumpung kali ini aku bisa berbelanja bareng Bibi, bagaimana kalo Bibi yang belanja, biar aku dan Nadhira yang akan membawakan belanjaannya? sekalian belanjain anak anak panti juga". Ucap Rifki diperjalanan menuju ke pasar.


"Tapi Tuan Muda bukankah kau juga sudah hafal dengan hal itu? Kenapa bukan Tuan Muda saja yang belanja?". Tanya Nadhira dengan entengnya.


"Tapikan itu beda Dhira, Bi Ira lebih mengetahui tentang bumbu dapur daripada diriku bukan? Jadi apa salahnya aku belajar dari Bi Ira, lagi pula amal yang terus mengalir meskipun orang itu sudah tiada adalah ilmu yang bermanfaat bagi sesama".


"Sudah sudah, biar Bibi saja yang belanja". Sela Bi Ira.

__ADS_1


"Baiklah, nanti perlahan lahan jelaskan kepadaku ya Bi, fungsi dari bumbu itu, biar aku bisa masak yang lebih enak seperti masakan Bibi yang bagaikan masakan sebuah restoran bintang lima".


Bi Ira mengingat ingat kembali, apakah Rifki pernah memakan masakannya sehingga Rifki mampu memuji masakannya tanpa pernah mencicipinya, setahu dirinya Rifki tidak pernah makan ataupun hanya sekedar mencicipi masakannya selama ini.


__ADS_2