Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Pusat perhatian


__ADS_3

Setelah mengatakan hal itu Nadhira segera berbalik kembali dan melangkahkan kakinya menuju ke halaman sekolahnya meninggalkan anak buah Rifki, lagi lagi langkahnya dihentikan olehnya, ia segera berbalik dan mendatangi orang itu.


"Ada apa?".


"Tuan Muda bilang, kalo nanti aku disuruh untuk menjemputmu tapi aku tidak tau jam berapa kamu pulang sekolah".


"Nanti pulang jam 2 siang".


"Baiklah aku akan menjemputmu sebelum jam 2 siang, sebelum aku jemput jangan keluar dari sekolahan karena itu juga termasuk perintah dari Tuan Muda".


"Iyaya baiklah".


Kali ini Nadhira tidak berbalik dan masih berdiri diposisinya sebelumnya, anak buah Rifki hanya bisa berdiam diri karena Nadhira tidak kunjung masuk kedalam sekolahnya, akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Mengapa tidak masuk?".


"Apa masih ada yang perlu kau sampaikan?".


"Sudah tidak ada, silahkan masuk".


"Baiklah".


Kali ini Nadhira dengan pelannya berjalan masuk kedalam area sekolahan, tak beberapa lama kemudian sebelum Nadhira menginjakkan kakinya digerbang sekolahan, orang itu kembali memanggil Nadhira.


Sebenarnya Nadhira begitu kesal pagi itu, karena perbuatan dari anak buah Rifki membuat semakin kesal, ingin sekali ia melahap orang tersebut karena telah mempermainkan.


"Hih... Ada apa lagi sih? Katakan pada bosmu, jangan cerewet!! Sudah ya aku mau masuk, bisa bisa aku telat masuk kekelas, katakan pada dia jangan khawatir!!". Teriak Nadhira.


"Aku hanya menyampaikan pesan dari Tuan Muda katanya 'Semangat belajarnya Nadhira' begitu".


"Iyayaya... Sekarang kembalilah".


"Baik".


Akhirnya Nadhira masuk kedalam sekolahnya, dan berjalan menuju kekelasnya, melihat Nadhira yang berjalan sendirian membuat perhatian seluruh siswa terarah kepadanya.


"Hey, gadis itu berjalan sendirian, biasanya selalu dikawal, entah kemana pengawalnya".


"Bodoamat masalah pengawal, yang penting bisa menatap wajahnya yang imut itu".


Sebagian siswa laki laki menganggap ketidak hadiran Rifki adalah sebuah anugerah disekolah tersebut, karena mereka bisa berusaha untuk mendekati Nadhira yang kecantikannya bak dewi tersebut.


Nadhira dengan santainya berjalan menuju kekelasnya tanpa ia sadari bahwa seluruh perhatian siswa laki laki terarah kepadanya, dan sebagian lagi berjalan mengikuti Nadhira dari belakang.


"Hay Nadhira".


Tiba tiba seseorang menghadang jalan Nadhira, Nadhira berhenti tepat dihadapannya, dengan malasnya Nadhira mengalihkan pandangan dari siswa tersebut, siswa itu bernama Adam.


"Ada apa?". Tanya Nadhira tanpa menoleh kearahnya.


"Kalau diajak ngomong itu hadap kesini dong, masak iya orang yang mengajak ngomong berada disana".


"Ngak usah basa basi katakan saja, aku malas meladeni".


"Cantik cantik kok galak gitu sih? dimana pelindungmu, apa dia tidak masuk?".


"Tidak".

__ADS_1


Tiba tiba Adam menyentuh tangan Nadhira, Nadhira begitu terkejut merasakan hal itu dan ia segera mengibaskannya tangannya untuk melepaskan pegangan tangan tersebut.


"Apa yang kau lakukan". Tanya Nadhira dengan marahnya.


"Aku hanya ingin merasakan halusnya kulitmu, itu saja".


Plak..


Nadhira dengan kuatnya menampar Adam, hingga meninggal bekas merah dipipi Adam, setelah melakukan itu Nadhira segera berjalan kearah wastafel yang berada didepan kelasnya, dan mencuci tangannya hingga bersih.


Adam tidak terima diperlakukan seperti itu, sehingga ia kembali menggenggam erat tangan Nadhira, Nadhira tidak tinggal diam begitu saja, ia langsung melawan dan memukuli Adam hingga babak belur. Keributan tersebut menarik perhatian seluruh siswa sekolah tersebut yang sudah berangkat.


Ketika itu Fajar sedang lewat ditempat itu, ia mencoba untuk memisahkan keduanya, Rahma yang berada disitu juga ikut menarik tangan Nadhira agar menjauh dari Adam.


"Sudah Nadhira!!!". Ucap Rahma.


"Asal kau tau ya, aku lebih dari mampu untuk melawanmu tanpa kehadiran Rifki disampingku!! Jangan kau kira dengan gampangnya kau bisa menyentuhku semaumu". Ucap Nadhira yang kini tengah dipegangi oleh Rahma.


Rahma mengajak Nadhira untuk masuk kekelas sementara Fajar berusaha untuk mengusir Adam dari tempat itu, sesampainya mereka ditempat duduk Rahma terkejut melihat luka dileher Nadhira yang kembali mengeluarkan darah.


"Nadhira leher kamu!!".


Rahma segera membuka tasnya dan mengeluarkan tisu dari dalam tasnya dan mengusap darah yang ada dileher Nadhira dengan pelannya, mendadak tisu itu berubah menjadi warna merah darah. Rahma begitu panik mengenai hal itu, sementara Nadhira hanya bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apapun.


"Ngak papa, hanya darah dikit nanti juga kering, lagian ini juga luka lama". Ucap Nadhira sambil menempelkan tisu kepada lukanya.


Fajar segera berlari kearah UKS untuk mengambilkan betadin untuk Nadhira tetapi karena petugas UKS masih belum datang sehingga ruangan itu masih dikunci dengan rapat, karena tidak bisa mengambil obat dari tempat itu, Fajar segera bergegas keluar sekolahnya untuk membeli betadin ditoko terdekat sekolahnya.


Setelah mendapatkan obat tersebut, Fajar segera kembali kekelasnya untuk menemui Nadhira, Rahma langsung mengambil obat tersebut dari tangan Fajar dan langsung mengobati Nadhira, terlihat Nadhira sedang meringis karena lukanya terkena betadin.


"Apa yang terjadi Nadhira?".


"Bagaimana kami ngak khawatir Nadhira, melihatmu berkelahi seperti itu sampe lukamu berdarah lagi".


"Bener tuh apa kata Rahma, seandainya Rifki ada disini, huh pasti hal ini tidak akan selesai dengan mudahnya apalagi sampek melihat kesayangannya terluka seperti ini".


"Kamu memang benar Jar, Rifki tidak akan membiarkan itu, maka dari itu jangan sampek kejadian ini diketahui olehnya, ingat itu!".


Keduanya bergidik ngeri membayangkan kejadian pada waktu camping saat itu ketika Rifki marah marah karena Nadhira tersesat di hutan untung saja pelakunya perempuan kalau laki laki mereka tidak akan mengetahui bagaimana nasibnya ketika berhadapan dengan Rifki.


Keduanya mengangguk kepada Nadhira, tetapi mereka tidak bisa menjamin kalau kabar tersebut tidak akan sampai kepada Rifki, karena begitu banyak mulut orang yang tidak bisa mereka hentikan dan menguncinya.


"Oh iya ngomong ngomong Rifki kenapa ngak masuk sekolah? Apa dia sakit Dhir?". Tanya Bayu.


"Ada urusan yang penting dan mendesak sehingga dia tidak bisa masuk sekolah, besok baru bisa masuk".


"Kamu tau tempat Rifki latihan beladiri Dhir? Aku mendatanginya tetapi ia tidak datang, dan aku tanya kepada anak anak yang berlatih disana mereka bilang tidak ada yang mengenal Rifki".


"Rifki sudah lama tidak latihan disana, ia sekarang berlatih sendiri dirumah, kebanyakan disana adalah siswa baru jadi tidak mungkin kenal dengan Rifki".


"Ouhh.. seperti itu".


Ketiganya melanjutkan obrolan seperti biasanya, sejak pengenalan siswa baru membuat mereka begitu akrab seperti sekarang ini, kalo ada Rifki diantara mereka pasti mereka tidak bisa mengutarakan sesuai isi hatinya.


Sampai akhirnya bel masuk berbunyi dan mereka segera menyiapkan buku buku untuk keperluan pelajaran jam pertama mereka, pihak keluarga Rifki sudah menghubungi sekolahan bahwa Rifki tidak dapat masuk kekelas hari ini sehingga bapak ibu guru yang mengajar tidak menanyakannya.


Bu Rita yang mengisi pelajaran matematika kali ini dikelas Nadhira, setelah selesai menerangkan, Bu Rita menuliskan sebuah soal dipapan tulis dan menyuruh salah satu muridnya untuk maju kedepan dan mengerjakan.

__ADS_1


Karena tidak ada yang mau maju kedepan, sehingga ia memilih salah satu siswanya untuk maju kali ini, Nadhira masih menghitung dibuku buramnya tiba tiba ia ditunjuk untuk mengerjakannya.


"Ayo Nadhira kerjakan didepan". Ucap Bu Rita.


"Baik bu".


Nadhira segera melangkah maju dan mengambil spidol papan, setelah itu ia mulai mengerjakannya dipapan tulis tersebut. Tak beberapa lama kemudian akhirnya Nadhira telah selesai mengerjakannya, dan ia segera kembali kemejanya.


Bu Rita mulai mengkoreksi jawaban tersebut, dan mengangguk angguk mengenai kebenaran jawaban tersebut, seluruh siswa hanya diam ketika melihat tulisan Nadhira.


"Apakah jawaban benar?". Tanya Bu Rita.


"Benar bu". Jawab serempak.


"Bagaimana kalian bisa tau? Coba tunjukkan kepada ibu bagaimana caranya untuk menghitungnya".


Seluruh siswa tiba tiba diam membisu mengenai pertanyaan yang dilontarkan oleh Bu Rita, tetapi Nadhira mengkoreksi kembali jawaban yang ia tulis sebelumnya.


Nadhira segera mengangkat tangannya ketika menemukan sebuah jawaban yang ia tuliskan ada kesalahan dalam menghitungnya. Ketika Nadhira hitung kembali jawabannya berbeda dengan apa yang ia tuliskan dipapan.


"Maaf bu, ada kesalahan dalam hitunganku".


"Maka benarkan!!".


"Baik bu".


Nadhira segera maju kedepan dan menulis kembali jawaban yang salah hitungan tersebut, seluruh siswa memperhatikan Nadhira dengan teliti, karena mereka tidak bisa menemukan sebuah kesalahan dalam jawaban tersebut, tetapi Nadhira mampu menemukan kesalahan dalam penulisan.


Ada beberapa dari mereka yang merasa iri kepada Nadhira, dan mereka menganggap Nadhira sok pintar dikelasnya, banyak juga yang membicarakan tentang Nadhira dibelakangnya dan berbisik bisik mengenai dirinya.


Sebenarnya Nadhira mengetahui akan hal itu, tetapi Nadhira mengabaikannya, percumah saja Nadhira meladeninya yang akan membuat hilang kendali dan ia akan menyakiti siapapun tanpa ia sadari karena tiadanya Rifki disampingnya saat ini.


"Nah ini baru benar, jadi begini cara menghitungnya.... Blablabla". Bu Rita mulai menerangkan kembali kepada siswanya.


Nadhira kembali duduk dibangkunya, dan mendengarkan dengan baik apa yang akan disampaikan oleh gurunya kepadanya, ia juga mencatat hal hal yang penting untuk dicatat dan dipelajari dirumah ataupun berbagi catatan dengan Rifki karena ia tidak masuk kedalam kelas hati ini.


Jam istirahat pun akhirnya berbunyi Nadhira dan Rahma segera bergegas menuju kekantin diikuti oleh Fajar dan Reihan dari belakang. Keempatnya duduk dibangku yang sama dengan pesanan mereka masing masing, tiba tiba seseorang mendatangi Nadhira dan duduk disampingnya.


"Hay... Boleh kenalan? Biar kenal lebih dalam". Tanya siswa itu.


"mau sedalam apa?". Jawab Nadhira dengan singkatnya.


"Jangan ganggu dia, atau kau akan berhadapan dengan singa". Ucap Fajar kepada siswa tersebut.


Nadhira menghela nafasnya mengenai perkataan Fajar, Nadhira kembali melanjutkan makan siangnya, setelah itu ia mengajak Rahma kembali kekelas sementara Fajar dan Reihan masih tetap dikantin untuk melanjutkan ngobrol mereka sebelum masuk kedalam kelas.


Sesampainya di kelas Nadhira segera duduk di bangkunya, Nadhira terus memandangi bangku Rifki yang kosong karena ketidak hadirannya kesekolah waktu itu.


"Kamu merindukan Rifki, Dhira?"


"Aku hanya khawatir dengan lukanya".


"Luka? Kenapa dengan dia? Apa kalian terluka disaat yang bersamaan?".


"Iya, sebenarnya ini masalah geng mereka yang saling menyerang, sampai seseorang melemparkan sebuah jarum yang mengandung obat bius kepada Rifki, dan Rifki dipukuli habis habisan oleh ketua geng itu".


"APA!! Jadi Rifki tidak masuk gara gara itu? Lalu gimana kondisinya saat ini, bagaimana kalo kita menjenguknya pulang sekolah".

__ADS_1


"Entahlah aku ngak berani membawa orang lain masuk kemarkasnya, Rifki tinggal dimarkasnya ia jarang pulang kerumah".


Nadhira tidak bisa membawa orang lain untuk masuk kedalam markas milik Rifki, meskipun mereka adalah sahabat sejak kecil tetapi kalau soal hal itu, Nadhira harus meminta izin terlebih dahulu kepada Rifki.


__ADS_2