Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Mengenang sosok Lia


__ADS_3

Dipagi hari yang cerah, Nadhira sedang menyirami bunga bunga yang ada di halaman depan rumahnya dengan bahagianya ketika melihat bunga bunga itu mulai bermekaran dengan begitu indahnya, bersama dengan Bi Ira yang sedang menyapu halaman rumah tersebut, Nadhira begitu bahagia ketika bunga bunga yang selalu ia rawat itu kini mulai mekar dan harum semerbak mewangi.


Lia sangat menyukai bunga bunga yang indah apalagi sampai bermekaran dan diriya menanam begitu banyak bunga dirumahnya, hal itulah yang mengingatkan Nadhira tentang Mamanya yang telah lama tiada, Mamanya begitu menyukai bunga bunga yang indah seperti saat ini, akan tetapi Mamanya pergi begitu cepatnya.


Dengan pelannya Nadhira memberikan air kepada bunga bunga itu, Nadhira menjaga dan merawatnya dengan baik sehingga bunga bunga itu tubuh dengan segarnya dan berbunga begitu lebatnya.


"Mama pasti senang ketika melihat bunga bunga yang ia tanam mulai bermekaran seperti ini, semoga Mama bahagia disana, Nadhira sudah berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis, Mama bilang kalau Nadhira menangis nanti Maka akan ikut menangis ketika melihat Nadhira menangis". Guman Nadhira ketika melihat bunga bunga yang bermekaran itu.


Bi Ira yang mendengar suara Nadhira pelan segera menoleh kearahnya, Bi Ira melihat Nadhira tengah tersenyum kepada bunga bunga itu, akan tetapi senyuman itu mengandung kesedihan yang begitu mendalam, Bi Ira segera mendekat kearah dimana Nadhira tengah berdiri saat ini.


"Lia begitu beruntung memiliki anak sepertimu Nak, meskipun banyak cobaan yang kau lalui, kau tidak pernah mengeluh untuk hal itu". Ucap Bi Ira kepada Nadhira dengan bangganya.


Nadhira tersenyum mendengar ucapan dari Ibu angkatnya itu, memang dirinya selama ini tidak pernah mengeluh dihadapan mereka semua akan tetapi dirinya selalu mengeluh didalam sujudnya, meskipun Nadhira berbisik kepada bumi akan tetapi suaranya mampu terdengar oleh langit.


Nadhira selalu tersenyum dihadapan semua orang akan tetapi disaat dirinya sedang sendiri, air matanya yang ingin mengalir dengan derasnya tidak akan pernah mampu untuk dicegah olehnya.


"Bu, apakah harapanku terlalu tinggi jika menginginkan Mama hidup kembali?". Tanya Nadhira.


"Tidak salah jika kau berharap seperti itu Nak, karena jenazah Lia sendiri masih tidak ditemukan sampai saat ini, wajar saja jika kau berharap bahwa Lia masih hidup didunia ini".


"Bu, ketika Ibu bersama Mama dulu, apa yang sering Mama bicarakan kepada Ibu? Ya seperti perkataan perkataan yang tidak akan pernah Ibu lupakan".


"Dulu sekali, Lia sering bilang kepadaku tentang keluarganya, dia ingin bertemu dengan sosok lelaki yang mampu menerima segala kekurangannya dan ingin hidup bahagia bersama putri kecilnya, meskipun dirinya berada didalam keluarga yang mampu akan tetapi Lia tidak pernah mengeluh sama seperti dirimu saat ini Nak".


Bi Ira menceritakan tentang Lia ketika mereka masih berusia remaja, Lia adalah seorang gadis yang tidak pernah menyerah untuk dapat mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini, dia adalah sosok pekerja keras dan tidak semua orang yang dalam golongan mampu mau melakukan apa yang telah dilakukan oleh Lia.


Meskipun Lia terlahir dalam keluarga yang berkecukupan akan tetapi Lia tidak pernah menggunakan uang milik keluarga itu untuk berfoya foya, justru yang Lia lakukan adalah membantu anak yatim menggunakan uang tersebut tanpa sepengetahuan dari keluarganya.


"Ibu jadi merindukan sosok Lia, tapi Lia kecil sekarang sudah berada didepan Ibu". Ucap Bi Ira sambil mengusap kepala Nadhira pelan.


Nadhira tersenyum kearah Bi Ira saat ini, "Jika Mama masih hidup mungkin Mama akan merasa bangga ketika memiliki sahabat seperti Ibu, meskipun kalian telah berpisah cukup lama tapi Ibu sama sekali tidak pernah melupakan dirinya".


"Kamu bisa saja Nak".


"Beneran Bu, Mama pasti sangat bahagia memiliki sahabat seperti Ibu".


"Justru kebalikannya Nak, karena Ibu sangat bahagia mendapatkan sahabat seperti Lia".


"Bu, hal apa yang membuat kalian berdua tertawa bersama sama waktu itu?". Tanya Nadhira lagi.


"Pernah karena hanya ingin bertemu dengan Lia, sampai sampai aku lupa bahwa hari itu adalah hari minggu, dan aku masuk sekolah seorang diri, Lia terus menertawakannya, bahkan sampai kita akan berpisah, Lia masih mengingat hal itu".


Nadhira dan Bi Ira tertawa bersama sama, Bi Ira tertawa jauh lebih keras ketika mengingat kejadian kejadian itu bersama dengan sahabatnya yang telah tiada itu, dirinya sangat merindukan hari hari dimana keduanya masih bersama.


"Lalu Bu?".


"Setelah itu, kita pernah dihukum bareng disekolah".

__ADS_1


"Kenapa bisa dihukum?".


"Karena Lia lupa tidak membawa dasi ketika upacara bendera waktu itu, melihat itu aku langsung menyembunyikan dasiku dan berdiri bersama dengan Lia dibawah tiang bendera".


"Kenapa Ibu melakukan itu?". Jawab Nadhira dan sesekali tertawa bersama dengan Ibu angkatnya itu.


"Karena Ibu ingin menemani Lia, kau tau Nak saat itu, Lia sedang menyukai seseorang.....".


Bi Ira menceritakan kepada Nadhira tentang Mamanya ketika Mamanya masih bersekolah SMP bersama dengan Bi Ira, karena disaat Lia memasuki sekolah SMA, Bi Ira tidak dapat melanjutkannya karena kendala dari biaya sekolah dan juga dirinya adalah anak yatim piatu disebuah panti asuhan.


Bi Ira mengatakan kepada Nadhira bahwa Mamanya dulu tengah mencintai sosok seorang pemuda yang memiliki wajah paling tampan dari teman temannya yang ada disekolah, pemuda itu memiliki postur tubuh yang cukup gagah karena dirinya adalah seorang atlit yang terpopuler disekolah itu.


Lia telah menaruh perasaannya kepada pemuda itu, akan tetapi Lia tidak mampu untuk mengungkapkan isi hatinya itu, akhirnya dia menceritakan hal itu kepada Bi Ira karena Bi Ira adalah satu satunya tempat dimana dirinya mampu bercerita karena dirinya hanya mampu percaya dengan Bi Ira.


Bi Ira adalah pendengar yang baik disaat Lia bercerita begitupun dengan sebaliknya, dan sampai akhirnya sosok pemuda itu mengetahui perasaan Lia dan pemuda itu mencoba untuk mendekati Lia.


"Lalu setelah itu, apakah Mama menerima pemuda itu Bu?". Tanya Nadhira yang berpikir bahwa pemuda itu adalah Rendi, Papanya sendiri.


"Iya Nak, dia menerima pemuda itu".


Nadhira tersenyum ketika mendengar jawaban dari Bi Ira yang terlihat penuh dengan antusias untuk menceritakan kisah mereka berdua kepada Nadhira, begitu juga dengan Nadhira yang begitu semangatnya untuk mendengarkan kisah itu.


"Apakah pemuda itu adalah Papa, Bu?". Tanya Nadhira lagi kepada Bi Ira.


"Bukan Nak, dia adalah pemuda yang berbeda, pemuda itu begitu baik, dan juga mampu menerima Lia dengan segala kekurangannya, setelah lulus dari SMP, Lia dan pemuda itu bersekolah ditempat yang sama, Ibu dengar hubungan keduanya juga begitu eratnya, tapi anehnya kenapa keduanya bisa berpisah saat itu". Ucap Bi Ira.


"Jika bukan takdirnya, maka takdir lah yang akan mencari jalannya sendiri untuk dapat terwujud, meskipun mereka terlihat begitu dekat akan tetapi jika mereka bukanlah jodoh maka takdir yang akan memisahkan keduanya".


Nadhira berdiam diri, dirinya begitu takut jika harus berpisah dengan Rifki, memang untuk saat ini hubungan keduanya begitu dekat seperti Mamanya dengan pemuda yang ia temukan diwaktu SMP, karena bukan takdirnya maka keduanya berpisah juga akhirnya.


Nadhira terlihat begitu sedih untuk saat ini, apakah mungkin dirinya tidak akan pernah bertemu dengan Rifki lagi setelah ini, karena Rifki akan pergi keluar negeri dalam waktu yang tidak sebentar, mungkin saja Rifki menemukan pengganti dirinya disana.


"Kenapa kamu terlihat sedih Nak?". Tanya Bi Ira.


"Aku hanya takut Bu, aku takut kehilangan Rifki, sebentar lagi dirinya akan pergi keluar negeri dalam waktu yang sangat lama, aku takut tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi". Ucap Nadhira.


"Jika memang benar Rifki adalah jodohmu, meskipun dirinya pergi keujung dunia sekalipun dia akan kembali dan kalian berdua akan bersama sama, begitu juga sebaliknya jika kalian memang tidak ditakdirkan bersama meskipun kalian begitu dekatnya kalian akan terpisah jua, intinya serahkan semuanya kepada sang pencipta".


"Mungkin aku terlihat begitu egois Bu, jika aku menginginkan Rifki hanya untukku sendiri, tapi aku tidak sanggup jika harus berpisah dengannya".


"Jodoh itu seperti bayangan Nak, jika kau mengejarnya, dirinya akan berlari jauh lebih kencang untuk menghindar darimu akan tetapi jika kau meminta kepada sang pencipta alam semesta maka dia akan mengejar dirimu".


"Ibu benar, seharusnya aku tidak perlu menghawatirkan soal itu, karena Allah sudah mengaturnya, aku akan meminta kepada Allah agar Rifki memang telah ditakdirkan untukku".


Bi Ira tersenyum kepada Nadhira, Bi Ira melanjutkan ceritanya tentang bagaimana perjuangan pemuda itu untuk mendapatkan perhatian dari Lia, pemuda itu terus membuat hal hal yang baru untuk dapat mencuri perhatian dari Lia.


Pemuda itu adalah seorang atlit beladiri dan juga atlit lari sehingga tubuhnya terlihat begitu sehat dan gagahnya, Lia sangat mengagumi pemuda itu, dirinya bahkan terlihat salah tingkah jika berhadapan dengan pemuda itu.

__ADS_1


Mendengar cerita itu membuat Nadhira tertawa, sementara Bi Ira mampu mengenang kembali masa masa dimana dirinya dan Lia sering bermain bersama dan bahkan menjalani hidup mereka bersama sama.


Bi Ira tidak akan pernah bisa melupakan masa dimana dirinya dan Lia yang selalu bersama disaat suka maupun duka keduanya akan selalu bersama dan tidak akan ada yang mampu untuk memisahkan mereka berdua karena keduanya adalah sahabat sejati dan saling melengkapi satu sama lainnya.


"Terus apa yang dilakukan oleh Mama waktu itu Bu?".


"Lia dibuat sampai bersimpu malu dihadapannya, Lia sampai tidak mampu berkata kata lagi ketika pemuda itu mengutarakan isi hatinya kepada Lia".


"Apakah Mama menerimanya?".


"Iya, dia menerimanya tanpa ada penolakan, Lia mengatakan kepada pemuda itu bahwa dirinya tidak ingin berpacaran sehingga pemuda itu terus menunggu Lia sampai usia Lia memungkinkan untuk menikah, meskipun begitu pemuda itu adalah Kakak kelas dari kami berdua".


Nadhira tersenyum ketika dirinya mendengar tentang kisah percintaan yang dialami oleh Mamanya itu, dirinya tidak menyangka bahwa kisah dari Mamanya akan seperti itu dan sampai akhirnya Mamanya menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya.


Sebenarnya ketika Lia lulus SMA, dirinya dijodohkan dengan pemuda pilihan dari kedua orang tuanya, Lia sempat menolak untuk dinikahkan dengan pemuda yang sama sekali tidak ia kenali itu, karena Lia dan pemuda itu telah menjalin hubungan begitu eratnya.


Karena Lia tidak ingin menolak keinginan dari kedua orang tuanya akhirnya dengan terpaksa dirinya menerima perjodohan itu karena ucapan dari pemuda yang ia cintai itu, tapi dengan syarat bahwa Lia ingin melanjutkan pendidikannya terlebih dahulu.


Pemuda yang telah dijodohkan dengan Lia adalah Rendi anak dari sahabat kedua orang tuanya, kedua orang tua Lia berpikir bahwa Rendi adalah sosok pemuda yang pantas untuk bersanding dengan Lia karena kedua orang tuanya menganggap Rendi adalah pemuda yang baik.


Tapi siapa sangka bahwa sebelum Lia meninggal, Rendi membawa Lia untuk pergi ke suatu tempat yang sama sekali belum pernah dilihat oleh Lia, Rendi adalah lelaki yang tidak puas dengan satu wanita, dan Rendi lah yang telah menyakiti hati Lia dengan dalamnya.


"Tapi kenapa pemuda itu tidak menikah dengan Mamaku Bu?". Tanya Nadhira yang masih penasaran.


"Ibu juga tidak tau, disaat itu tiba tiba Ibu mendengar bahwa Lia akan menikah dengan seseorang, Ibu pikir orang itu adalah pemuda itu tapi nyatanya orang itu adalah orang yang berbeda".


"Pasti pemuda itu merasa sakit hati karena ditinggal oleh seseorang yang ia cintai untuk menikah dengan laki laki lain". Guman Nadhira.


"Tetapi dirinya juga tidak bisa menyalahkan takdir Nak, biar bagaimanapun dirinya tidak akan mampu untuk menentang takdir yang seharusnya menjadi jalan hidup keduanya".


Mendengar penjelasan dari Bi Ira, Nadhira berfikir bahwa dirinya terlihat begitu egois untuk dapat memiliki Rifki, dirinya seakan akan tidak mempercayai adanya sebuah takdir yang telah ditentukan kepadanya dan yang terbaik untuk dirinya.


Nadhira kini telah sadar bahwa Allah telah menyiapkan yang terbaik untuknya, jika suatu saat nanti dirinya tidak ditakdirkan untuk Rifki maka Nadhira akan ikhlas dengan hal itu, karena yang terbaik untuk dirinya tidak akan pernah menjadi milik orang lain selain dirinya sendiri.


Meskipun itu begitu berat bagi Nadhira, akan tetapi itulah yang terbaik untuk dirinya, Allah tidak akan pernah menguji suatu kaum melainkan kaum tersebut mampu dan sanggup untuk melewatinya.


"Bu, mungkinkah pemuda itu masih menyimpan perasaan kepada Mama?".


"Jika dirinya sudah menikah maka tidak ada lagi perasaan yang tersisa untuk Lia, tetapi jika dirinya belum menikah masih ada harapan dihatinya untuk memiliki Lia, tapi Ibu juga tidak mengetahui tentang kabarnya selama ini, mungkin dirinya juga tidak mengetahui bahwa Lia sudah tiada".


"Meskipun nantinya Rifki tidak ditakdirkan untukku, aku ingin mengukir namanya dalam doaku, agar Allah mempersatukan kita disyurga-Nya".


"Nadhira anak yang baik, Allah pasti akan mempertemukan Nadhira dengan lelaki yang baik juag, karena lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik, begitupun dengan sebalinya".


Nadhira tersenyum ketika mendengar ucapan dari Bi Ira, sekarang Nadhira mengerti bahwa orang yang begitu dekat dengan kita belumlah menjadi takdir kita, dan justru orang yang begitu jauh dengan kita bisa jadi orang itulah takdir kita, kita tidak akan pernah tau takdir akan berkata seperti apa nantinya yang perlu kita tahu adalah itulah yang terbaik untuk kita suatu saat nanti.


Nadhira dan Bi Ira tersenyum bersamaan, keduanya menatap kearah bunga bunga yang tengah bermekaran itu, tidak ada kebahagiaan lain selain melihat bunga bunga itu bermekaran begitulah yang Nadhira rasakan saat ini.

__ADS_1


......Jangan lupa like dan dukungannya 🥰......


__ADS_2