Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kisah Pangeran Kian 12


__ADS_3

Dalam diamnya, Indah meneteskan air matanya, ia sangat tidak mempercayai bahwa sosok Panji telah tiada seperti apa yang dikatakan oleh orang orang kepadanya saat dirinya datang kedesa tersebut.


"Panji apa kau benar benar sudah tiada seperti yang mereka bilang kepadaku waktu aku mendatangi rumahmu? Jika benar seperti itu maka beritahukan padaku dimana dirimu dimakamkan, agar aku bisa datang untuk mengunjungimu". Ucap Indah pelan sambil membayangkan wajah Panji kecil temannya itu.


"Panjimu ada didepanmu saat ini Indah, maafkan aku yang tidak bisa mengatakan segalanya kepadamu tentang apa yang tengah terjadi kepadaku selama ini dan sebaiknya kau sesegera mungkin untuk melupakan diriku ini, karena aku tidak pantas untukmu, tanganku penuh dengan noda darah, darah orang orang yang telah aku bunuh sebelumnya sementara dirimu begitu suci bagiku". Batin Panji.


Keduanya berdiam diri cukup lama ditempat itu, sampai akhirnya Panji berpamitan kepada Indah untuk melanjutkan perjalanannya untuk membunuh orang orang jahat.


"Jangan tinggalkan aku, meski kau bukan Panji yang aku kenal, tetapi aku mampu merasakan kehadiran Panji dalam tubuhmu, memang terdengar aneh, tapi keyakinanku bahwa kau adalah Panji begitu kuat". Ucap Indah kepada Panji.


"Panjimu sudah tiada Nona, orang yang sudah tiada, dia tidak akan pernah bisa kembali lagi kedunia ini, meskipun kau berusaha untuk tidak mempercayainya sekalipun itu, hal itu tidak akan bisa membawanya kembali kedunia ini".


"Apa yang kau katakan! Panjiku akan tetap ada didalam hatiku! Selamanya akan ada dan tidak akan pernah pergi meninggalkan diriku! Aku yakin suatu hati nanti dirinya sendirilah yang akan datang untuk menemuiku dan meminta restu kepada kedua orang tuaku nantinya".


"Aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya beberpa tahun yang lalu, dia sudah tiada karena dibunuh oleh seseorang yang sama pemimpin dari orang orang yang akan menjadi anak anak kecil itu sebagai tumbal waktu itu, arwahnya tidak akan pernah kembali lagi".


"Itu tidak mungkin, Panjiku tidak akan pergi meninggalkan diriku seperti ini, kau pasti berbohong kepadaku, bagaimana kau bisa mengetahui semuanya kau sendiri tidak mengenalinya".


"Aku sangat mengenalinya karena kita tumbuh bersama selama ini, dan aku lebih mengenalinya daripada apa yang kamu kenal tentang dirinya, rintihan tangisnya masih dapat ku dengar sampai saat ini, ketika sebuah pukulan tenaga dalam mengenai jantungnya sehingga membuatnya tewas seketika itu juga, kau tidak akan tau bertapa sakitnya pukulan itu".


"Kebohonganmu ini sangat tidak lucu, bagaimana mungkin Panji meninggalkanku seperti ini, tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Kau hanya berbohong bukan? Panji tidak mungkin pergi meninggalkan diriku secepat ini".


"Butuh bukti apalagi dirimu Nona? Apa kau sudah lihat rumahnya yang hancur berantakan saat ini? Mungkin masih banyak bekas darah didalam rumah itu sekarang, banyak warga yang bilang bahwa Panji dan keluarganya juga sudah tiada bukan? Karena mereka juga telah menjadi saksi bisu dari kejadian yang ada didesanya waktu itu".


"Tidak! Panji masih hidup! Jika kau bisa bilang Panji sudah tiada maka tunjukkan kepadaku dimana dirinya dimakamkan saat ini, bawa aku ketempat itu agar aku tau sendiri bahwa Panji benar benar sudah tiada". Ucap Indah dengan marahnya kepada Panji.


"Aku tidak bisa membawamu ketempat itu, karena Panji pernah berpesan kepadaku, agar tidak ada yang tau dimana dirinya dimakamkan sebelumnya".


"Kau bohong! Aku sama sekali tidak mempercayai dirimu, Panjiku masih hidup, ingat itu! aku sangat membenci dirimu ketika kau mengatakan bahwa Panjiku telah tiada!".


Indah segera berlari keluar dari kedai tersebut meninggalkan Panji ditempat itu, Indah merasa shock ketika mendengar apa yang dikatakan oleh pemuda yang ia anggap sebagai Panji tersebut, Panji yang melihat itu segera bergegas mengejarnya setelah selesai membayar makanan yang ia pesan sebelumnya.


Panji sangat menghawatirkan tentang kondisi Indah, ia tidak menduga bahwa ucapannya akan membuat Indah menangis sejadi jadinya, ia hanya ingin memastikan bahwa Indah akan sampai dirumahnya bukan untuk menghentikan larinya.


Tanpa disangka bahwa Indah berlari ketepi sungai yang airnya mengalir begitu derasnya, Indah berhenti dan berlutut ditepi sungai tersebut dan beberapa kali memanggil nama Panji, Panji yang melihat hanya bisa berdiam diri tanpa bisa melakukan apapun dari kejauhan.


"PANJI!!...... KENAPA KAU MENINGGALKAN DIRIKU SEPERTI INI". Teriak Indah ditepi aliran sungai yang mengalir begitu derasnya itu.


Indah sama sekali tidak menyangka bahwa kabar yang ia dengar itu benar benar terjadi kepada Panji dan keluarganya, sudah lama ia memendam perasaannya kepada Panji, ketika dewasa ia ingin sekali bersama dengan Panji seperti yang keduanya ucapkan sejak dulu.


Bagi Indah Panji adalah teman masa kecilnya yang begitu baik kepadanya, keduanya telah sama sama berjanji akan bersama sama ketika dewasa kelak, Panji dan Indau sudah dijodohkan sejak keduanya masih bayi, kedua orang tua mereka adalah sahabat akrab sehingga keduanya setuju untuk menjodohkan Panji dan Indah.

__ADS_1


Sejak kecil Panji sudah diberi tanggung jawab untuk menjaga dan menemani Indah untuk bermain, oleh karena itu hubungan keduanya terasa begitu dekat hingga sesuatu memisahkan keduanya.


"Panji, kenapa kau pergi meninggalkanku secepat ini, bukankah kau dulu pernah berjanji kepadaku bahwa tidak akan pernah meninggalkanku dan kita akan bersama sama ketika kita dewasa, dimana janjimu itu Panji dimana? Hiks.... Hiks.... Hiks.... Dimana dirimu Panji kembalilah... Kembalilah". Tangis Indah pecah seketika ditempat itu.


"Maafkan aku Indah, kau harus melupakan diriku untuk saat ini dan selamanya, aku tidak tau lagi kapan diriku akan menyusul kedua orang tuaku, karena musuhku begitu banyak diluar sana, aku tidak ingin kau juga terlibat dalam hal ini dan akan membahayakan nyawamu beserta keluargamu". Batin Panji.


"Meskipun kau sampai menangis darah sekalipun itu, orang yang telah pergi tidak akan bisa kembali lagi, ikhlaskan kepergiannya Nak, doakan yang terbaik untuk dia, semoga dia tenang dialam sana dan dirimu diberikan ketabahan yang luar biasa untuk dapat mengikhlaskan kepergiannya". Ucap seseorang disamping Indah.


"Ayah". Ucap Indah pelan.


Ketika Panji ingin menghampiri Indah karena tidak tega melihat Indah yang menangis seperti itu, akan tetapi langkahnya segera terhentikan ketika melihat seorang lelaki datang mendekatinya, Panji segera bersembunyi kembali dibalik semak semak yang tidak jauh dari tepat itu.


"Kenapa kau menangis disini Nak?". Tanya orang itu yang tidak lain adalah Ayah dari Indah.


Indah yang melihat kedatangan Ayah segera memeluknya dengan erat, ia tidak tau lagi apa yang harus ia katakan kepada lelaki yang ada didepannya saat ini, berurusan dengan perasaan memang sangat sulit untuk mencari jalan keluarnya.


"Semua orang bilang bahwa Panji sudah tiada Ayah, tetapi hatiku mengatakan bahwa Panjiku masih ada, Ayah tolong bawa Panji kembali kepadaku Ayah, aku mohon kepada Ayah, bawa dia kembali Ayah". Jawab Indah sambil menangis dipeluk Ayahnya.


"Orang yang sudah tiada tidak mungkin bisa kembali Nak, jika hatimu begitu yakin bahwa dirinya masih ada maka yakinlah bahwa dirinya masih selamat setelah kejadian pembunuhan itu". Ucap Ayahnya sambil mengusap pelan kepala Indah.


"Bawa dia kembali Ayah, aku mohon kepada Ayah".


"Ayah, apakah Panji masih ada didunia ini?". Tanya Nimas dengan bekaca kaca menatap kearah Ayahnya itu.


"Iya Nak, Panji akan tetap ada".


Indah merasa sedikit tenang setelah mendengar perkataan dari Ayahnya, sementara Ayahnya memandang ketempat dimana Panji bersembunyi sebelumnya, dan tersenyum kearah itu.


Indah begitu nyaman berada dipelukan Ayahnya, seorang Ayah adalah cinta pertama bagi anak gadisnya, karena anak gadisnya merasa bahwa tidak ada laki laki lain yang akan mencintainya dengan tulus seperti cinta seorang Ayah kepada anak gadisnya itu.


Sementara disatu sisi, Panji hanya bisa berdiam diri menatap keduanya yang tengah berpelukan itu dengan perasaan yang campur aduk, Panji merasa sangat bersalah dengan apa yang dia lakukan kepada Indah, kan tetapi dirinya tidak punya pilihan lain selain membuat Indah melupakan dirinya.


Ayah Indah menyuruh Indah untuk kembali pulang kerumahnya untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya, Indah hanya bisa menuruti perintah dari Ayahnya dan segera bergegas pergi dari tempat itu menuju kerumahnya sementara Ayahnya berjalan menuju ketempat dimana Panji bersembunyi sebelumnya.


"Keluarlah Nak, aku sudah tau segalanya". Ucap Ayah Indah menyuruh Panji untuk keluar dari tempat persembunyiannya sebelumnya.


Panji keluar dari tempat persembunyiannya dengan begitu pasrahnya dengan apa yang akan dilakukan oleh orang itu kepadanya karena telah menyakiti hati putri kecilnya itu.


Ia tidak menyangka bahwa tatapan dari Ayah gadis tersebut mampu mengetahui dimana keberadaannya sebelumnya, setelah Panji muncul dari tempat persembunyiannya, Ayah Indah segera memeluk tubuh Panji dan Panji merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh orang itu kepadanya saat ini.


Orang itu memeluk Panji layaknya seperti anak sendiri, Panji mampu merasakan ketulusan hati dari lelaki itu, biar bagaimanapun juga Panji tetap merasa bersalah karena telah menyakiti hati anak gadis dari orang yang tengah memeluknya itu.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu Nak? Paman sudah mendengar semuanya, kemana dirimu selama ini? Apa yang terjadi dengan Kuswanto saat itu Nak". Tanya orang itu kepada Panji.


"Bagaimana Paman bisa mengenali diriku begitu mudah?". Tanya Panji kepada orang yang ia kenali itu.


"Bagaimana bisa aku tidak mengenali anak dari sahabatku sendiri hmm? Dirimu bahkan sudah ku anggap sebagai anak sendiri ketika kau masih kecil dahulu dan berniat untuk menjodohkan kalian ketika kalian sudah dewasa".


"Maafkan aku Paman, aku telah menyakiti hati putri kecilmu itu, aku hanya tidak punya pilihan lain selain menghindar dari dirinya, agar dirinya tidak terlibat dalam bahaya karena hidup bersamaku, aku tidak ingin dirinya bernasib seperti Ibuku".


"Nak, kita hanyalah sebuah wayang yang digerakkan oleh dalang, tidak ada yang bisa mengetahui tentang nasib seseorang nantinya, mungkin kau mengira sedemikian rupanya akan tetapi takdir mampu berubah ubah sesuai dengan alur yang telah diberi kepada kita, kita tidak akan mengetahui akhirnya akan seperti apa, yang harus kita lakukan hanyalah pasrahkan semuanya kepada Allah sang Maha Segalanya pemilik langit dan bumi".


Ayah dari Indah terus menasehati Panji agar Panji tidak sampai salah jalan lagi, dirinya sangat mengetahui bagaimana Panji bisa berubah menjadi seorang pembunuh berdarah dingin itu karena sebuah tekanan batin yang ia dapatkan mulai dari kematian kedua orang tuanya, hidup sendirian dan bahkan jarangnya dirinya bersosialisasi atau berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.


"Paman benar, tapi aku sama sekali tidak berdaya untuk saat ini Paman, Indah begitu kecewa dengan diriku, aku akan pergi dari sini Paman dan membiarkan dia melupakanku untuk selama lamanya agar dirinya tidak terlibat terlalu dalam".


"Jika itu sudah menjadi keputusanmu, maka Paman hanya bisa mendukungmu, semoga tujuanmu segera tercapai Nak, Kuswanto adalah orang yang baik yang pernah aku temui selama ini, Paman juga telah mendengar tentang apa yang kau lakukan selama ini dan Paman yakin bahwa itulah yang terbaik, dan Paman juga sangat mengenali putriku, ia tidak akan mampu melakukan hal itu kepada orang lain selain dirimu Nak, dia sangat mencintaimu".


"Apakah itu benar Paman? Aku sendiri tidak bisa melihatnya dalam bahaya, musuhku terlalu banyak Paman, mereka telah merenggut nyawa kedua orang tuaku dengan sangat kejinya, dan aku tidak ingin hal itu terjadi juga kepada Indah".


"Aku tau itu Nak, tapi tidak ada salahnya ketika kalian bersama, jangan terlalu berambisi untuk menghabisi semua musuhmu karena hal itu tidak akan pernah ada habisnya, aku tau dirimu tidak akan mampu muncul dihadapan Indah untuk saat ini, tapi percayalah kalian berdua akan mampu mengatasi semuanya bersama sama".


"Maksud Paman apa?".


Panji sama sekali tidak mengerti tentang maksud dari perkataan orang yang ada didepannya, orang itu terdiam cukup lama ketika mendengar pertanyaan dari Panji dan Panji masih tetap setia menunggu jawaban dari orang tersebut.


"Kembalilah Nak, kembali seperti sosok Panji yang selama ini Paman kenal sebelumnya, kau juga berhak untuk bahagia Nak, kembalilah seperti dulu, Paman tau hal itu tidak akan mudah bagimu, tapi percayalah kepada Paman, kau bisa melewatinya, pergilah untuk memikirkan apa yang Paman katakan, setelah itu kembalilah menemui Paman dan Indah".


"Iya Paman, aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk melakukan itu, untuk sementara waktu jangan biarkan ada orang yang mengetahui tentang identitasku yang sebenarnya".


"Kau bisa percayakan hal itu kepadaku Nak, jangan beranggapan bahwa kau sendirian saat ini, ada Paman yang akan selalu ada untukmu".


"Terima kasih Paman".


Ayah Indah segera pergi dari tempat itu untuk menyusul anaknya yang sudah terlebih dahulu kembali kerumah, sementara Panji hanya mampu menatap kepergiannya itu.


Selama ini Panji merasa hidup seorang diri, tidak mempunyai teman maupun saudara yang selalu ada bersamanya, sehingga hal itu membuatnya sudah terbiasa dengan apa yang dilakukannya sekarang kemana mana selalu sendiri dan jarang sekali bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.


Semenjak Panji bertemu dengan Indah, dirinya semakin banyak bicara daripada sebelumnya, apalagi ketika berdebat dengan Indah, dirinya seakan akan seperti es batu yang tengah mencair secara perlahan lahan karena sikap yang Indah perlakukan kepadanya saat keduanya bersama sama.


Berminggu minggu kemudian, Panji masih memikirkan hal yang dikatakan oleh Ayah Indah mengenai perasaan Indah kepadanya, tak henti hentinya Panji terus memikirkan tentang Indah dalam setiap langkah yang ia ambil.


...^^^*jangan lupa like dan komen ya*^^^...

__ADS_1


__ADS_2