Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Sebuah foto


__ADS_3

Rendi sedang terbaring didalam kasur rumah sakit dengan selang infus yang masih terpasang pada tubuhnya, sudah empat hari dirinya dirawat dirumah sakit tersebut akan tetapi dia tidak menemukan tanda tanda bahwa Nadhira akan menjenguknya.


Rendi sangat menantikan kabar dari Nadhira akan tetapi Nadhira sama sekali tidak memberinya kabar ataupun bahkan sekedar menanyakan keadaannya selama dirinya dirawat didalam rumah sakit tersebut, akan tetapi tanpa Rendi sadari bahwa Nadhira juga kini telah berada diatas kasur rumah sakit karena luka operasinya terus saja mengeluarkan darah.


"Makan dulu Pa" Ucap Amanda membangunkan lamunan Rendi.


Amanda menaruh sebuah mangkuk berisi sup ayam diatas sebuah meja terdekat dari dimana Rendi saat ini terbaring, Rendi seakan akan sedang tidak nafsu makan karena dirinya hanya ingin bertemu dengan Nadhira seorang.


"Papa ngak lapar" Ucap Rendi sambil membuang mukanya dari hadapan Amanda.


"Papa harus makan, kalau Papa ngak makan, Papa ngak akan sembuh, terus siapa yang harus mencari uang untuk menghidupiku? Aku tidak bisa kerja, capek" Ucap Amanda.


"Bawa Dhira kemari, Papa hanya ingin bertemu dengan Dhira"


"Dhira lagi Dhira lagi, kenapa sih yang ada dipikiran Papa hanya ada Dhira, Dhira itu sudah tidak peduli dengan Papa lagi, kalaupun dia peduli, dia pasti akan datang!"


"Apa yang terjadi dengan Dhira? Kenapa dia tidak datang menemui Papa?"


"Sudah ku katakan berapa kali sih Pa? Dhira itu sudah tidak peduli dengan Papa lagi, meskipun Papa nangis darah sekalipun dia tidak akan pernah datang lagi"


"Papa akan terus menunggu Dhira datang, siapa tau dia akan datang tapi sekarang dia masih sibuk"


"Terserah Papa, cape aku memberitahu Papa terus" Amanda bergegas meninggalkan Rendi sendirian ditempat itu.


Sementara disatu sisi Nadhira sedang terbaring dalam tidurnya, luka jahitan yang ada diperut Nadhira terbuka karena Nadhira yang tidak bisa diam ditempat begitu lama, sehingga dokter kembali menjahitnya ulang.


Nadhira sedang menahan rasa perih dari jahitan itu dengan cara memejamkan matanya, keringatnya mulai bercucuran meskipun kipas angin yang ada diruang rawat Nadhira telah dinyalakan dengan kecepatan paling tinggi.


Melihat Nadhira yang lukanya dijahit ulang membuat Sarah merasa takut sehingga meneteskan air matanya dan terus memegangi tangan Nadhira dengan eratnya seakan akan ia juga merasakan perih yang dirasakan oleh Nadhira.


Nadhira beberapa kali menarik nafas dan menghembuskan dengan cepat, dan mengenggam erat tangan Sarah yang sedang memeganginya saat ini, Nadhira mengigit bibirnya sendiri agar dirinya tidak berteriak kesakitan.


"Dok tambah obat biusnya, kasihan cucuku kesakitan seperti ini" Ucap Sarah dan menjatuhkan kepalanya disamping Nadhira.


"Maaf Bu, jika kebanyakan obat bius juga tidak baik bagi tubuhnya" Jawab dokter tersebut sambil terus menjahit luka Nadhira.


"Dhira ngak apa apa Oma, Oma jangan takut ya" Ucap Nadhira menenangkan Sarah.


Nadhira terus menahan rasa nyerinya agar tidak membuat Sarah semakin cemas, tak beberapa lama kemudian akhirnya dokter tersebut telah selesai menjahit ulang luka Nadhira dan menutupnya dengan perban yang sangat tebal.


"Lukanya belum kering, jadi Mbaknya jangan banyak gerak dulu, kalau terus terusan seperti ini bisa bisa infeksi nantinya" Omel dokter kepada Nadhira.


"Diikat saja Dok, biar dia ngak banyak gerak terus" Ucap Sarah memberikan sarannya.


"Mampus kau Dhira, haha..." Nimas tertawa mendengar ucapan Sarah.


"Oma kok gitu, ngak kasihan apa sama Dhira?" Ucap Nadhira dengan cemberutnya.


"Habisnya kamu ngak bisa diam, nanti kalau infeksi bagaimana? Siapa yang sakit? Oma juga yang sedih nanti" Jawab Sarah.


"Dok, kapan aku boleh pulang? Aku bosan jika disini terus terusan seperti ini" Keluh Nadhira.


"Kalau lukanya sudah kering, anda boleh pulang kok"


"Lama banget".


"Ya sudah saya permisi dulu, masih banyak pasien yang harus saya periksa"


"Iya Dok"


Setelah dokter itu pergi Nadhira kembali melanjutkan tidurnya karena dirinya tiba tiba mengantuk, belakang ini Nadhira mudah sekali mengantuk tiba tiba dan tenaganya seakan akan berkurang dengan cepatnya sehingga dirinya mudah sekali letih.


Nadhira tertidur dengan damainya, Nadhira dapat merasakan bahwa sesekali Sarah mengusap kepalanya dengan sayang, usapan lembut yang diberikan oleh Sarah membuat Nadhira merasa begitu tenang.


"Mama aku rindu" Ucap Nadhira pelan.


Sarah yang mendengarkan ucapan Nadhira hanya mampu menatap Nadhira dalam diam, Sarah tau bahwa Nadhira menyimpan sebuah kesedihan yang mendalam dari balik tawanya setiap hari untuk menghibur dirinya.


Meskipun mulut Nadhira tertawa bahagia bersama dengan dirinya akan tetapi tawa tersebut tidak mampu untuk membohongi dirinya sendiri bahwa dirinya sedang tidak baik baik saja.


Nadhira merasa bahwa dirinya sangat kesepian ditengah tengah keramaian, Nadhira tidak pernah menceritakan apapun yang ia alami selama ini kepada siapapun, seakan akan semuanya tertutup rapat rapat oleh mulutnya.


Batin Nadhira menangis menjerit, dirinya sangat merindukan Lia dan ingin segera bertemu dengan dirinya, entah mengapa Nadhira sangat yakin bahwa Nadhira akan bahagia ketika dirinya bisa bertemu dengan Mamanya disyurga.

__ADS_1


*****


Beberapa hari kemudian, Nadhira diizinkan untuk pulang kerumahnya karena luka jahitannya sudah mulai mengering, Bi Ira menyambut kedatangannya dengan sebuah senyuman yang tulus kepada Nadhira seorang.


Nadhira yang baru saja keluar dari mobil, pandangannya terarah kepada Bi Ira dan Nadhira berjalan kearahnya dengan senyuman yang begitu manis diberikan kepada Bi Ira.


Nadhira merasa senang karena dirinya dapat berjumpa kembali dengan Bi Ira, Nadhira menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Bi Ira sementara Bi Ira segera membalas pelukan hangat dari Nadhira.


"Bagaimana keadaanmu Nak?" Tanya Bi Ira dengan meneteskan air mata bahagia karena dapat bertemu kembali dengan Nadhira.


"Seperti yang Ibu lihat sekarang, Ibu tenang saja, tidak akan ada yang bisa mencelakai Dhira, Dhira pasti akan baik baik saja" Jawab Nadhira.


Ketika Nadhira memeluk Bi Ira, Sarah seakan akan tidak menyukai hal itu, karena bagi Sarah sosok seperti Bi Ira adalah orang yang berbeda dari dirinya, tapi Sarah tidak bisa berbuat apa apa ketika menghadapi Nadhira.


Jika terjadi sesuatu diantara hubungan keduanya, Nadhira pasti akan memilih untuk tinggal bersama Bi Ira walaupun dalam keadaan sederhana, akan tetapi Nadhira tidak masalah untuk hal itu asalkan dirinya bisa bahagia dengan orang yang sangat berarti baginya seperti Bi Ira.


"Dhira ayo masuk, kau butuh istirahat lebih banyak sekarang" Ucap Sarah sambil mencoba melepaskan pelukan Nadhira dari Bi Ira.


"Iya Oma, Dhira akan istirahat, Bu Dhira istirahat dulu ya" Ucap Nadhira pasrah karena dirinya disuruh untuk istirahat.


"Iya Nak"


Sarah membantu Nadhira untuk berjalan masuk kedalam rumahnya itu, dengan hati hati Nadhira berjalan agar luka jahitannya tidak terbuka lagi, setelah sampai dikamarnya Nadhira segera mengistirahatkan tubuhnya yang lelah itu.


"Oma, bagaimana kabar Papa?"


"Dia sudah pulang dua hari yang lalu, lukanya lebih cepat sembuh daripada dirimu"


Sarah memperintahkan seseorang untuk terus mengawasi keadaan dari Rendi, karena Nadhira terus memaksa untuk melihatnya sendiri akan tetapi dirinya sama sekali tidak mengizinkan karena kondisi yang dialami oleh Nadhira sehingga dirinya menyuruh seseorang untuk terus memberitahukan keadaan Rendi kepadanya.


"Syukurlah kalau begitu Oma"


"Sudah, kamu istirahat dulu, Oma mau kekamar Oma dulu ya".


"Iya Oma".


Sarah segera bergegas meninggalkan kamar Nadhira, ketika Nadhira ingin membaringkan tubuhnya pandangannya tidak sengaja terarah kepada sebuah meja yang tidak jauh darinya.


Dengan hati hati Nadhira bangkit dari kasurnya untuk melihat apa yang ada didalam meja tersebut, Nadhira terus melangkah kearah meja itu dan dirinya begitu terkejut ketika melihat sesuatu yang ada diatas meja yang ada dikamarnya itu.


Nadhira menemukan sebuah foto yang ada dimeja kamarnya, ia tidak mempercayai apa yang dirinya lihat saat ini, entah siapa yang sebagian menaruhnya disana akan tetapi Nadhira tidak mengetahui dari mana asalnya foto tersebut.


Seketika foto tersebut membuatnya bersedih, ia tidak menduga bahwa adanya foto seperti itu didalam kamarnya dan entah siapa yang menaruhnya didalam tanpa sepengetahuan dirinya.


"Bi Sari! Bi Sari! Kemarilah" Panggil Nadhira kepada Bi Sari seorang wanita yang bekerja sebagai pembantu dirumah sebesar itu.


Nadhira memanggil pembantu rumah itu, Bi Sari adalah orang yang diperintahkan oleh Sarah menjaga Nadhira, membereskan ruang kamar Nadhira, dan apapun yang berhubungan dengan Nadhira diserahkan kepadanya.


Mendengar teriakan Nadhira yang memanggil dirinya membuat Bi Sari yang saat ini sedang mencuci pakaian Nadhira segera bergegas untuk memenuhi panggilan tersebut, jika dirinya terlambat sedetik pun bisa bisa dia kena marah oleh Sarah.


"Iya Non ada yang bisa saya bantu?" Ucap Bi Sari yang segera masuk kedalam kamar Nadhira.


"Siapa yang telah masuk kedalam kamarku sebelumnya Bi? Apa ada seseorang yang masuk kedalam kamarku?" Tanya Nadhira.


"Setahu saya tidak ada Non, soalnya ketika Non Dhira dirawat dirumah sakit Bibi selalu menguncinya dan masuk kalau mau membersihkannya saja Non, ada apa ya Non?"


Nadhira menyerahkan sebuah foto tersebut kepada Bi Sari untuk dilihatnya, Bi Sari sama sekali tidak mengerti apa maksud dari foto tersebut sehingga Nadhira memanggilnya tiba tiba seperti itu.


"Apa ini Non? Saya tidak mengerti"


"Ini adalah foto almarhum Mama" Ucap Nadhira dengan sedihnya ketika melihat foto tersebut.


"Ada apa dengan foto ini Non? Kenapa Non Dhira tiba tiba bersedih seperti itu?"


"Aku juga tidak mengerti Bi, foto ini aneh sekali kenapa Mama didalam foto ini bisa bertemu dengan Mama Sena, apa yang sebenarnya terjadi waktu itu sebelum Mama mengalami kecelakaan, apakah kecelakaan Mama memang telah direncanakan sebelumnya oleh Mama Sena, siapa yang menaruh foto ini disini? Aku tidak mengerti apa tujuannya itu"


"Selama Non Dhira dirumah sakit, tidak ada yang berani masuk kedalam kamar Non Dhira, Bibi sangat yakin itu Non, Bibi tidak tau kalau ada foto ini, tadi pagi Bibi membersihkannya tapi Bibi juga tidak melihat foto ini disini"


"Itu artinya tadi pagi segelah Bibi membersihkan kamarku ada orang yang diam diam masuk kedalam kamarku untuk menaruh foto ini disini, dan orang itu pasti cukup pintar karena bisa diam diam masuk kedalam kamarku, ya sudah Bi, Bibi bisa kembali sekarang".


"Baik Non".


Bi Sari kembali keluar dari kamar Nadhira, sementara Nadhira membawa foto tersebut kembali ketempat tidurnya untuk dilihati, Nadhira merasa ada yang janggal dibalik foto tersebut karena didalam foto itu gambaran Lia sedang seperti menangis sementara Sena entah mengatakan sesuatu kepada Lia.

__ADS_1


Didalam foto tersebut juga terdapat adanya Rendi dan juga Amanda yang masih kecil, bisa dipastikan bahwa foto itu telah diambil pada beberapa tahun silam karena didalam foto itu usia Amanda sekisar masih berada diusia sepuluh taun ataupun sembilan tahun dan bisa ditebak bahwa foto itu diambil ketika Lia belum kecelakaan.


"Siapa yang telah mengirim foto ini? Foto ini mengatakan bahwa kecelakaan yang dialami oleh Mama ada hubungannya dengan Mama Sena, aku harus mencari tau kejadian apa yang terjadi dibalik kecelakaan itu"


"Bagaimana kau akan mencari tahu Dhira?" Nimas tiba tiba muncul didekat Nadhira dan sontak membuat Nadhira terkejut.


"Aaaa...."


Dok... Dok... Dok...


"Dhira kamu kenapa teriak seperti itu? Apa yang terjadi dengan dirimu? Apa kau baik baik saja?"


Setelah Nadhira berteriak karena keterkejutannya, Sarah segera bergegas menuju kekamar Nadhira untuk memastikan keadaan Nadhira karena teriakan tersebut membuat Sarah merasa semakin cemas, dirinya tidak ingin Nadhira kenapa kenapa.


"Aduh mati aku, kenapa Oma mendengarnya sih"


"Mampus kau Dhira, haha..."


"Dhira ngak apa apa Oma, Oma tenang saja, baru saja ada kecoak lewat Oma jadi Dhira teriak" Jawab Nadhira dari dalam kamarnya.


"Beneran kamu ngak apa apa Dhira?"


"Iya Oma, Oma istirahat kembali saja".


"Baiklah kalau begitu, kalau ada apa apa panggil Oma saja ya".


"Iya Oma".


"Masih saja terkejut karena kedatanganku yang tiba tiba ini, huh.. sepertinya aku harus terus mendatangimu dengan cara seperti ini agar kau bisa terbiasa dengan kehadiranku nantinya Dhira".


"Lain kali kalau mau muncul itu bilang bilang, bagaimana aku tidak terkejut? Kau tiba tiba ada disampingku".


"Terus aku harus jalan gitu untuk mendatangimu seperti orang orang pada umumnya ha? Kau kan tau sendiri kalau aku bukan manusia, jadi aku tidak bisa jalan ditanah dan aku bisanya melayang diudara".


"Sudahlah itu tidak penting" Nadhira kembali fokus kepada foto yang ada ditangannya.


"Lalu, bagaimana kau akan mencari tau?"


"Aku akan mendatangi rumah ini, kali saja aku bisa mendapatkan informasi mengenai kejadian waktu itu disana".


Nadhira bertekat untuk mendatangi tempat tinggal Sena yang lama, selama ini dirinya tidak pernah mengungkit tentang tempat tinggal itu, Nadhira yakin kalau dia mendatangi tempat itu dia akan mendapatkan informasi mengenai kematian Mamanya yang terjadi disebuah jurang yang menuju kearah rumah Sena lama.


"Kapan kau akan kesana? Kau masih baru saja keluar dari rumah sakit".


"Besok, aku tidak masalah dengan luka ini, aku harus mengetahui kebenarannya mengenai kematian dari Mama".


"Apa kau akan mencari tahunya sendirian?"


"Mungkin".


Nadhira bertekat untuk datang kesana demi mencari tau tentang kasus kematian dari Mamanya, tiba tiba Sarah masuk kedalam kamar Nadhira hingga membuat Nadhira sangat terkejut.


"Ada apa Oma?"


"Didepan ada temen kamu Nak"


"Temenku? Siapa Oma?"


"Oma ngak tau namanya, katanya dia temen kamu sekolah dulu"


"Kalau begitu Dhira akan menemuinya setelah ini"


"Iya udah Oma kedepan dulu"


Nadhira bersiap siap untuk menemuinya, setelah Sarah pergi dari tempat itu, Nadhira saling berpandangan kepada Nimas, bagaimana ada temannya yang datang sementara tidak ada yang tau bahwa Nadhira tinggal ditempat itu sekarang.


Nadhira segera bergegas untuk menemui orang yang dimaksud temannya itu, dengan hati hati Nadhira melangkah agar lukanya tidak kambuh lagi, diikuti oleh Nimas yang melayang dibelakangnya saat ini.


Nadhira begitu terkejut ketika melihat siapa yang datang kerumah barunya itu, dia adalah Theo teman Nadhira ketika ia masih bersekolah diSMP, melihat Nadhira datang mendekatinya membuat Theo bangkit dari tempat duduknya.


"Dhira".


"Ada apa? Kenapa kamu bisa tau kalau aku tinggal disini sekarang?"

__ADS_1


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰 terima kasih ...


__ADS_2