
Nadhira berhenti sesaat dan berhadapan dengan orang itu untuk mengatur pernafasannya kembali, tanpa diketahui oleh siapapun disaat Nadhira kelelahan Nimas mulai merasuki tubuhnya dan mengambil alih tubuh Nadhira.
"Tidak untuk saat ini, kau telah merusak ketenangan desa ini, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi" Ucap Nimas menggunakan tubuh Nadhira.
Seketika itu juga ucapan Nadhira terlihat begitu berbeda dan berubah menjadi menyeramkan, mendengar suara itu membuat mereka menghentikan pertarungan mereka dan menatap kearah Nadhira dengan tatapan ngeri.
Nafas yang tadinya memburu saat ini perlahan lahan mulai setabil kembali, tubuh yang tadinya kelelahan kini perlahan lahan mulai bertenaga lagi dan mampu berdiri dengan tegak kembali.
"Ada apa dengan wanita ini?".
"Wahai penghuni tempat ini, aku memanggil kalian untuk berkumpul disini sekarang juga, datanglah! Penuhi panggilanku" Ucap Nadhira.
Seketika itu juga kedua mata Nadhira mulai memerah karena sebuah amarah, dan seketika ada angin yang begitu kencang datang menyelimuti tempat itu, angin itu tercipta karena banyaknya mahluk gaib yang datang atas panggilan dari Nimas sang Ratu iblis.
Melihat hal itu membuat orang orang tersebut terpental mundur dan terjatuh ditanah, hal itu juga berpengaruh kepada Theo akan tetapi karena ikatan tangannya membuat Theo hanya terduduk ditanah tanpa harus terpental terlebih dahulu.
"Siapapun yang telah merusak ketenangan tempat ini, akan berhadapan dengan bangsaku"
"Cepat serang wanita itu!" Teriak sang pemimpi.
Mereka segera bangkit dari jatuhnya dan segera bergegas menyerang kearah Nadhira akan tetapi Nadhira hanya tersenyum melihat itu, senyum yang sangat misterius yang Nadhira tujukan kepada orang orang itu.
"Majulah kalian bersama sama, aku habisi kalian semua sekarang!" Ucap Nadhira.
Seketika itu juga orang orang itu kembali terpental dari Nadhira karena bantuan dari bangsa gaib, melihat itu Nadhira tertawa dengan kerasnya, tawa itu terlihat sangat menyeramkan dan membuat orang yang mendengarnya merasa merinding dengan sendirinya begitupun dengan Theo.
Theo tidak bisa berkata kata lagi dengan apa yang dialami oleh Nadhira saat ini, ia tidak tau lagi harus berbuat apa kepada Nadhira, Theo yakin bahwa itu bukanlah Nadhira yang biasanya akan tetapi mahluk yang bernama Nimas telah merasuki tubuhnya.
"Dhira, sadarlah" Ucap Theo pelan.
Nadhira hanya menoleh sesaat kepada Theo dan kembali menatap tajam kearah orang orang yang sedang menjadi lawannya itu, seketika itu juga bau dupa mulai tercium ditempat itu dan mengendalikan para mahluk gaib yang telah terkumpul.
"Siapa yang telah berani menantangku! Keluarlah sekarang! Akan ku habisi dirimu saat ini juga" Teriak Nadhira dengan lantang.
Dikejauhan terlihat sosok berbaju hitam dengan menggenakan penutup kepala berupa udeng dan berpenampilan seperti seorang dukun yang sakti sedang berjalan kearah Nadhira sambil membawa sebuah wadah yang berisikan kemenyan ditangan kirinya dan juga segenggam dupa ditangan kanannya itu sambil membaca sebuah mantra.
"Oh jadi dirimu yang ingin berhadapan denganku!" Ucap Nadhira.
Bacaan mantra tersebut seketika membuat keributan dialam gaib, para mahluk gaib berlarian kesana kemari dengan kacaunya, hal itu membuat Nimas merasa sangat murka dengan seseorang yang ada dihadapannya itu.
Orang itu masih tetap membacakan sebuah mantra dan mengarahkannya kepada Nimas, seketika itu juga Nimas merasa seperti diikat oleh sesuatu yang begitu sangat keras hingga dirinya tidak bisa bergerak dengan leluasanya.
Orang itu mengangkat tangannya keatas dan menjatuhkannya hingga menyentuh tanah dihadapan Nadhira, ketika tangannya menyentuh tanah seketika itu juga Nimas yang menggunakan tubuh Nadhira tertunduk dihadapannya.
"Tidak Nimas, kau tidak boleh menyerah begitu saja, kau harus bangkit kembali Nimas" Ucap Nadhira dikepala Nimas.
"Jangan sekali kali melawanku, jika kau melakukan itu maka aku bisa saja melenyapkan jiwamu saat ini juga ingat itu" Ucap dukun tersebut kepada Nimas.
"Kau tidak akan bisa menundukkan diriku dengan mudahnya, aku tidak akan pernah tuntuk kepada manusia seperti dirimu!"
Nimas mencoba untuk melepaskan dirinya dari ikatan dukun tersebut, ia tidak boleh menyerah begitu saja dan Nimas mencoba untuk bangkit berdiri, dengan usaha yang keras akhirnya Nimas mampu untuk bangkit kembali.
"Argh...." Teriak Nimas yang begitu kerasnya menggunakan tubuh Nadhira.
Seketika itu juga mantra dari dukun tersebut lenyap begitu saja dihadapan Nimas, dukun itu bukanlah tandingan dari sang Ratu iblis, seberapa kerasnya orang itu berusaha, dia tidak akan pernah berhasil untuk melawan Ratu iblis apalagi menundukkannya.
Ketika mantra itu dihancurkan oleh Nimas, seketika itu juga sang dukun tersebut termuntahkan seteguk darah karena serangan mantranya sendiri yang telah gagal untuk menundukkan Ratu iblis.
"Mahluk apa kau ini!" Ucap dukun itu yang begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nimas.
"Kau bahkan tidak akan mampu dan tidak akan sanggup untuk dapat melihat wujud asliku, sebaiknya jangan halangi diriku".
"Ini tidak mungkin! Aku tidak akan membiarkan dirimu berbuat semaumu ditempatku seperti ini".
"Maka bersiaplah berhadapan dengan diriku".
__ADS_1
Dukun tersebut sama sekali tidak mau kalah dengan sosok yang ada dihadapannya, ia terus membaca sebuah mantra untuk mengikat kembali Nimas, akan tetapi mantra mantranya itu seolah olah tidak berpengaruh lagi kepada Nimas.
Dukun sakti itu nampak kebingungan dengan apa yang dihadapinya saat ini, bagaimana mungkin mantra mantranya tidak lagi mampu berpengaruh kepada mahluk gaib yang ada dihadapannya itu, entah mahluk gaib seperti apa yang tengah ia hadapi saat ini, dirinya sama sekali tidak mengetahuinya.
Aura Nimas begitu misterius baginya karena dirinya tidak mampu untuk menebak aura apa yang keluar dari tubuh Nadhira saat ini, karena aura itu sangat berbeda dari aura mahluk gaib lain pada umumnya, karena aura itu berasal dari sebuah permata sehingga siapapun tidak akan mengetahui aura seperti apa yang dimiliki oleh Nadhira dan Nimas.
"Siapa kau!" Tanya dukun itu.
"Sudah ku bilang, kau tidak akan mampu untuk melihat wujudku meskipun aku menampakkannya dihadapanmu saat ini".
"Mahluk seperti apa dirimu itu? Kenapa energimu begitu sangat kuat sekali".
"Kau tidak pantas untuk melihat wujudku apalagi mengetahui sosok seperti apa diriku, kau hanyalah seorang manusia rendahan tidak akan mampu untuk melihat wujud asliku".
Nadhira terus berjalan mendekat kearah orang itu, sementara orang itu kebingungan karena mantranya sama sekali tidak bekerja kepada mahluk yang ada dihadapannya saat ini, ia memilih untuk terus mundur dan menjauh dari sosok yang ada dihadapannya.
Dengan cepatnya tangan Nadhira ia arahkan kedepan dan meraih leher dari dukun tersebut, bukan hanya itu saja akan tetapi Nimas segera mengangkat tubuhnya keatas dan bergelantungan dengan leher yang dipegangi erat olehnya.
"Le... Paskan... Aku" Ucap dukun itu dengan kesusahan karena lehernya dicekik oleh Nadhira.
"Dhira hentikan! Orang itu bisa mati jika kau terus mencekiknya seperti ini" Ucap Theo sambil memegangi tangan Nadhira.
"Aku sangat menyukai pembunuhan, jika orang ini mati sekarang itu akan menjadi hal yang sangat menyenangkan bagiku".
"Dhira sadarlah, kau bisa membunuhnya jika terus seperti ini Dhira".
"Aku sama sekali tidak peduli dengan itu".
"To... Long"
Nimas yang menggunakan tubuh Nadhira seketika itu menambah erat cekikikannya hingga membuat orang itu seakan akan tidak bisa bernafas dan terus memberontak untuk dapat terlepas dari pegangan tangan gadis yang ada dihadapannya itu.
Setelah lama berjuang akhirnya tenaga orang itu habis jua, hal itu membuat orang yang tengah dicekik oleh Nadhira mulai tidak sadarkan diri dan tubuhnya seketika itu juga terlihat begitu lemas seakan akan sudah tidak ada kehidupan didalam tubuhnya itu.
Melihat orang tersebut sudah tidak lagi bergerak hal itu membuat Nimas segera melemparkan tubuhnya yang tidak berdaya itu kepada orang orang yang sebelumnya telah mengepungnya, hal itu sontak membuat mereka begitu sangat terkejut apalagi dengan sosok dukun yang mereka anggap begitu sakti terkurai tidak berdaya ditanah.
"Kau benar, apa sebaiknya kita pergi dari sini saja, bisa bisa nyawa kita melayang seperti dukun ini".
"Iya, sebaiknya kita pergi saja".
"Jangan harap kalian bisa pergi dari sini" Ucap Theo.
"Kalian tidak akan bisa kabur dariku!" Ucap Nimas dengan menggunakan tubuh Nadhira.
Melihat mereka yang hendak kabur membuat Nimas memerintahkan kepada para mahluk gaib tersebut untuk menghentikan mereka, para mahluk itu segera memegangi kaki dan tangan mereka dan menyebabkan mereka kesulitan untuk bergerak.
"Tolong lepaskan kami!"
"Kami mohon, biarkan kami pergi dari sini".
"Jangan sakiti kami, tolong lepaskan kami".
"Kami janji tidak akan pernah berbuat jahat lagi, tapi tolong lepaskan kami sekarang".
Satu persatu orang orang itu memohon kepada Nadhira agar Nadhira mengampuni mereka, sementara itu Theo segera menghubungi anak buahnya dan memerintahkan mereka untuk datang ketempat itu, sambil menunggu anak buahnya datang, Theo dan Nadhira segera bergegas kearah makam keramat itu.
Nimas segera keluar dari dalam tubuh Nadhira hingga membuat Nadhira tersentak sedikit dan hal itu membuat Theo segera memapah tubuh Nadhira, nafas Nadhira kembali tidak setabil setelah Nimas keluar dari dalam tubuhnya.
"Dhira, apa kau baik baik saja" Tanya Theo.
"Aku ngak apa apa".
"Sebenarnya apa yang terjadi kepada dirimu? Apakah mahluk itu merasukimu lagi?"
Nadhira mengangguk dengan pelan kearah Theo, tubuhnya terasa begitu lemah saat ini, sehingga Nadhira berusaha untuk menyetabilkan kembali pernafasannya yang saat ini tengah memburu.
__ADS_1
Nimas memutuskan untuk tetap berada ditanah lapang itu untuk mengaja orang orang yang ingin kabur dari tempat itu, sementara Theo segera membantu Nadhira untuk melangkah masuk kedalam makam keramat itu dan mengajak Nadhira istirahat sebentar karena wajah Nadhira terlihat begitu kelelahan setelah bertarung cukup lama.
Theo membiarkan Nadhira untuk istirahat sebentar disebuah batu yang ada dibawah pohon trembesi yang ada diarea makam itu, makam itu seperti sebuah makam kuno yang telah lama berada ditempat itu.
"Kita harus mencari mereka dimana Dhira? Tidak ada jalan lain ditempat ini" Ucap Theo yang terus memutari makam keramat itu.
Nadhira membuka kembali kertas yang ada didalam sakunya itu untuk mencari tau hal apa yang harus keduanya lakukan setelah itu, akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan jawaban apa yang saat ini sedang ia cari.
"Apa mungkin mereka ada dibawah tanah?"
"Dibawah tanah? Maksudmu, ada jalan untuk menuju bawah tanah begitu Dhira?"
"Iya, coba kau pikir Theo, dimana lagi orang orang itu menyembunyikan anak anak yang telah mereka tangkap sebelumnya? Lalu untuk apa tempat seperti ini dijaga dengan begitu ketatnya, sedangkan disini tidak ada ruangan ataupun bangunan".
"Kalau begitu ayo kita cari jalan untuk menuju keruangan bawah tanah itu Dhira".
Nadhira lalu bangkit dari duduknya untuk mencari sesuatu yang dapat membawa keduanya masuk kedalam ruangan bawah tanah itu, keduanya terus mengelilingi tempat tersebut akan tetapi mereka sama sekali tidak menemukan apa yang mereka cari.
Tanpa sengaja Nadhira menoleh kearah makam keramat itu, Nadhira mendekat ketempat itu secara perlahan lahan, melihat Nadhira yang berjalan menuju makam membuat Theo ikut menyusulnya.
"Apa kau menemukan sesuatu Dhira?".
"Aku seperti mendengar suara seorang anak kecil yang tengah berteriak secara samar samar Theo, sepertinya itu berasal dari makam ini".
"Aku sama sekali tidak mendengar apa apa Dhira".
Nadhira segera mendekatkan telinganya kearah baru nisan yang ada dihadapannya saat ini, samar samar dia mendengar suara seseorang yang tengah berteriak meminta tolong dengan suara yang sangat memilukan untuk didengar.
Theo mengikuti apa yang dilakukan oleh Nadhira, ia begitu terkejut ketika dirinya juga mendengar apa yang didengar oleh Nadhira saat ini, Theo sama sekali tidak menyangka bahwa pendengaran Nadhira begitu tajamnya hingga suara samar samar itu mampu didengar oleh Nadhira dari kejauhan.
"Dhira bagaimana bisa kau mendengarnya?"
"Hanya perlu fokus saja dengan apa yang kita cari sebagai sasaran, begitu juga caranya untuk berlatih memanah, itulah yang diajarkan oleh Rifki kepadaku sebelumnya meskipun dalam kegelapan".
"Apa mungkin Rifki terlalu berarti bagi Nadhira, sehingga dalam keadaan seperti ini dia masih saja mengingatnya meskipun dia sudah pergi jauh entah kemana saat ini" Batin Theo.
"Sepertinya ada yang sedang cemburu nih" Ucap Nimas ketika melihat kearah Theo.
Theo tidak mengetahui bahwa tongkat dan juga senjata rahasia pena yang bertuliskan nama Kinara itu adalah pemberian dari Rifki untuk Nadhira, seandainya ia tau ia tidak akan memuji dan tidak akan mau untuk menggunakan alat alat rahasia itu.
Nadhira terus mencari cara agar dirinya bisa mengetahui adanya sebuah jalan ditempat itu, setelah dirinya terus mencari akhirnya ia melihat sebuah tombol yang sengaja dipasang dibelakang batu nisan tersebut dan ia segera menekan tombol itu dan seketika itu juga tengah tengah makam itu terbuka dengan lebarnya.
Ketika makam itu terbuka lebar, Nadhira dan Theo begitu terkejut ketika melihat bahwa ada sebuah tangga disana dan menuju kearah bawah, Nadhira dan Theo saling berpandangan satu sama lain.
"Ternyata makam ini hanyalah sebuah pengecoh belaka saja dari sebuah jalan rahasia, pantas saja tempat ini dijaga begitu ketatnya seperti itu oleh mereka semua" Ucap Nadhira.
"Dhira, sebaiknya kita berhati hati untuk turun kebawah, aku takut akan banyak jebakannya".
"Iya Theo, ayo kita turun dan melihatnya".
Nadhira turun lebih dahulu setelah itu Theo mengikutinya dari belakang, setelah keduanya sampai dibawah, jalan rahasia itu segera tertutup dengan sendirinya hal itu membuat keduanya segera bersiaga untuk memastikan bahaya yang keduanya tidak inginkan.
Dengan perlahan lahan keduanya menuruni tangga tersebut, sampailah mereka dibawah sebuah goa buatan yang memang diciptakan oleh orang orang tersebut untuk menyembunyikan sesuatu.
Sepanjang ujung goa itu disinari oleh cahaya obor sehingga terlihat begitu remang remang, jarak pandang Nadhira juga tidak terlalu jauh sehingga dirinya tidak mampu melihat apapun dari kejauhan.
"Sepertinya goa ini sangat luas".
"Kau benar Dhira".
"Non! Apa Non disana?" Tiba tiba terdengar suara teriakan dari dalam goa itu, dan Nadhira yakin bahwa itu adalah suara Pak Mun.
"Itu seperti suara Pak Mun".
"Non hati hati disana banyak perangkap"
__ADS_1
......Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ......