Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Tuan Muda


__ADS_3

Aryabima menyuruh seseorang untuk masuk kedalam kamar Rifki, orang itu memiliki perawakan yang gagah dan tinggi, berkulit putih dan berkumis tebal.


Rifki sama sekali tidak mengenali pria yang ada dihadapannya saat ini, kakeknya tidak pernah memperkenalkan ia kepada Rifki sebelumnya, tetapi Rifki mampu merasakan bahwa orang yang ada didepannya bukanlah orang jahat.


"Nak perkenalkan ini adalah Pak Bram, dia adalah mata mata kakek dan juga tangan kanan kakek, mulai sekarang kau akan dibimbing olehnya untuk menjalankan perusahaan".


Rifki juga memperkenalkan dirinya kepada Bram, setelah pengenalan itu berlangsung cukup lama, Rifki mengetahui bahwa karakter orang yang ada didepannya itu memiliki karakter pendiam, dan pintar.


"Ternyata kakek sudah menyiapkan hal ini". Batin Rifki


"Tuan muda mulai saat ini saya yang akan menjaga Tuan muda". Ucap Bram.


"Bram, mulai saat ini kamu tinggal dimarkas ini, jaga cucuku jangan sampai lecet sedikitpun".


"Baik Tuan".


Setelah berbincang cukup lama, Aryabima segera menyuruh seluruh anggota gencobra untuk berkumpul ruang privasi, ia ingin membicarakan sesuatu kepada mereka mengenai Rifki.


Ketika itu kakeknya lebih dulu ketempat itu meninggalkan Bram dengan Rifki yang sedang saling berbincang, ketika keduanya bergegas menuju ruangan itu, mereka berpapasan dengan Bayu yang baru akan masuk kedalam ruangan.


Bayu begitu terkejut melihat orang yang berada disebalah Rifki, begitu pun sebaliknya orang yang berada didekat Rifki juga ikut terkejut ketika berpapasan dengan Bayu, setelah itu Bayu ssgera berjalan kearah orang itu yang tidak lain adalah Bram.


"Ayah!! Kenapa ayah disini?". Tegur Bayu kepada seseorang yang berada disamping Rifki.


"Loh... Nak kok disini juga? Ngapain?". Tanya Bram kembali.


"Kenapa ayah balik nanya? ayah sendiri ngapain disini?".


"Ayah?? Jadi ini orang tuamu Bay? Dan itu adalah anak Pak Bram?". Ucap Rifki.


Seketika Rifki ikut terkejut ketika mengetahui sahabat memanggil orang yang ada disampingnya dengan panggilan ayah, Rifki memandang kearah Bram dan Bayu secara bergantian memang wajah mereka hampir mirip.


Selama ini Rifki tidak begitu mengenal orang tua Bayu, selama Rifki bermain dirumah Bayi ia tidak pernah bertemu dengan ayahnya, tetapi Rifki masih mengenali mengenai ibunya Bayu yang selalu ada ketika Rifki bermain dirumah Bayu.


Bram adalah bodyguard rahasia milik Aryabima, jadi harus siap siaga ketika dibutuhkan oleh Aryabima, biasanya ia akan berangkat kerja pukul 6 pagi dan akan pulang pukul 12 malam, atau bahkan tidak pernah pulang sama sekali begitupun seterusnya.


"Iya ini ayahku, oh iya aku lupa, aku kan belum mengenalkan ayahku padamu Rif, jadi kamu belum mengenal ayahku".


"Sejak kapan kamu ikut geng ini hem? kenapa tidak memberitahukan ini kepada ayah sebelumnya". Tanya Bram.


"Sebenarnya aku bukan bagian dari geng ini, tapi karena Rifki adalah sahabatku, jadi ya begitulah, salah ayah sendiri sih kenapa selalu ngak ada waktu untukku".


"Kalian berdua sahabatan? Kenapa aku tidak mengetahuinya?".


"Ayah sendiri ngak pernah pulang, sekalinya pulang malam terus, mana mungkin bisa ketemu sama teman temanku".


Rifki menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan antara ayah dan anak, siapa sangka bahwa orang kepercayaan kakeknya adalah ayah dari sahabatnya sendiri.


Setelah itu ketiganya segera masuk kedalam ruangan tersebut, Aryabima merasa heran bagaimana bisa ketiganya masuk kedalam ruangan secara bersamaan, ia juga tidak pernah melihat Bayu berada di markas tersebut, karena Rifki tidak pernah membawanya kemarkas, sejak mereka memasukkan sekolah SMA, Bayu berani main sendiri kemarkas tersebut.


Bayu mengikuti kemana ayahnya pergi dan berdiri disamping ayahnya, sedangkan Rifki berdiri disamping kakeknya, Arya bima menatap kearah Bayu dan ayahnya dengan lama.


"Kalian begitu mirip". Ucap Aryabima kepada Bram.


"Kakek mereka kan ayah dan anak, masak iya ngak mirip, masak bisa sih Bayu mirip dengan tetangganya kan ngak lucu". Rifki berbicara kepada kakeknya.


"Apa!?! Jadi ini anakmu Bram, kenapa bisa masuk kesini?". Tanya Aryabima.


"Maaf kelancaran anak saya pak, dia...".

__ADS_1


"Adalah sahabatku". Sahut Rifki sebelum Bram menjelaskan.


"Ohh... sahabatmu, kenapa tidak pernah memberitahu kakek hem!! kalo sahabatmu ini adalah anak dari orang kepercayaan kakek selama ini?". Tanya Aryabima.


"Bagaimana aku bisa tau kek, kan ini juga pertama kali aku mengetahui bahwa mereka adalah ayah dan anak, kalo aku tau sejak lama, aku akan mengadukan sikap Bayu pada Pak Bram, biar dia dihukum".


Aryabima tertawa mendengar bahwa Rifki mengakui bahwa anak yang berada disebelah Bram adalah sahabatnya, itu adalah hal yang bagus karena Rifki akan mudah bersosialisasi dengan Bram apalagi dengan mudah menerima ilmu yang akan ia berikan.


Setelah semuanya anggota tersebut berkumpul, Aryabima mulai menyampaikan maksudnya untuk mengumpulkan mereka semua, bahwa ia memberikan sepenuhnya posisi pemilik gengcobra kepada Rifki.


"Aku harap kalian bisa menjaga nama baik organisasi ini, mulai sekarang Rifki adalah pemilik gengcobra, dan panggil dia dengan nama Tuan muda".


"Baik Tuan besar". Jawab mereka serempak.


Bukan kesenangan yang Rifki rasakan saat ini, tetapi ia merasakan sebuah kesedihan yang mendalam karena sebentar lagi kakeknya akan pergi meninggalkannya, ia tidak berdaya untuk menghentikannya sehingga ia hanya bisa pasrah dengan hal ini.


Seluruhnya bahagia mendengar hal itu, hal inilah yang dinantikan oleh mereka, mereka ingin Rifki memimpin geng tersebut, karena kebijakan dan ketegasan Rifki selama ini.


"Tuan muda Rifki". Ucap Bayu seperti sedang mengejek.


"Diamlah!!". Ucap Rifki sambil memandang Bayu dengan kesal.


"Kan memang benar, tapi masak iya aku juga harus manggil seperti itu? Karena aku sudah terbiasa dengan langsung memanggil namamu". Ucap Bayu sambil berpikir mengenai panggilan tersebut.


"Terserahmu, aku ngak peduli".


"Aku panggil kamu seperti biasanya aja ya, kalo manggil Tuan muda nanti kelamaan, enakan Rif, Rifki.. nah begitu kan enak".


"Yayaya... Terserah!!".


Pasrah Rifki yang tidak ingin meladeni ucapan Bayu, setiap kali ia ladeni akan panjang ceritanya, karena Bayu orangnya memang tidak bisa diam untuk berbicara.


"Apa yang kalian bicarakan!!". Ucap Aryabima.


Rifki terkejut mendengar suara kakeknya, ia segera menoleh kearahnya dan menemukan bahwa kakeknya tengah menatap dirinya dan Bayu secara bersamaan.


"Biasalah kek, dia ingin ngajak ribut". Jawab Rifki dengan santainya.


"Tidak kek, eh Tuan, bukan saya yang ngajak ribut, beneran sumpah". Ucap Bayu sambil menggerakkan jarinya.


Pernyataan Rifki membuat Bayu membuka matanya lebar lebar, batinnya ingin menjerit mengenai hal itu, karena Bayu hanya bertanya bukan mengajaknya untuk ribut ditempat itu.


"Maafkan anak saya Tuan". Ucap Bram dengan merasa bersalah.


"Tidak papa, wajarlah kan mereka masih anak anak jadi ribut adalah hal biasa, oh iya kenapa sikap kalian berbeda? Yang satunya pendiam dan berbicara seperlunya saja, dan yang satunya ngak bisa diam?". Tanya Aryabima.


"Jadi gini kek, eh maksudku Tuan, ayah memang pendiam orangnya tapi ibuku yang banyak bicara jadi banyak bicara ibuku turun kepadaku, begitu kek ceritanya, eh salah Tuan".


Aryabima tertawa mendengar penjelasan Bayu hal itu memang sedikit masuk akal dan wajar, tetapi ia juga merasa aneh mengapa ada seorang lelaki yang banyak bicara, selama ia hidup ia akan menemukan bahwa yang banyak bicara itu adalah perempuan tetapi kali ini berbeda.


Bayu lebih suka memanggil kakeknya Rifki dengan sebutan kakek, karena melihat ayahnya yang menjadi kepercayaan kakeknya Rifki membuatnya harus merubah panggilan itu menjadi Tuan.


Aryabima memang tidak mempermasalahkan bagaimana cara seseorang untuk memanggilnya, tetapi karena rasa tidak enak Bayu sehingga Bayu memanggil Aryabima dengan sebutan Tuan.


"Panggil kakek saja, sudah jangan ribet". Ucap Aryabima kepada Bayu.


"Baik kakek". Ucap Bayu sambil menyengir kayak kuda.


Setelah mengatakan apa yang hendak dikatakan, Aryabima menyuruh semuanya untuk kembali melakukan aktivitas mereka sebelumnya, kini ditempat itu hanya tersisa empat orang saja, karena Bayu tidak mau keluar dari ruangan tersebut, ia lebih memilih untuk bersama dengan ayahnya.

__ADS_1


Bram mengatakan kepada ayahnya bahwa ayahnya mendapatkan tugas dari Aryabima untuk menjaga Rifki, sehingga ayahnya harus tinggal dimarkas tersebut, Bram menyuruh Bayu untuk mengatakan hal itu kepada istrinya.


"Jadi ayah mulai saat ini tinggal dimarkas ini?". Tanya Bayu setelah mendengar penjelasan ayahnya. "Mengapa?".


"Sudah ayah jelaskan bukan? Ayah ditugaskan untuk menjaga Tuan muda".


"Kalo begitu aku juga mau tinggal disini, bareng sama Reno dan Vano".


"Lalu yang akan menjaga ibumu dirumah siapa? kalo kamu ikut tinggal disini juga?".


"Kan ada tetangga yah".


Cletak..


Bram segera menjitak kepala anaknya tersebut dengan geramnya karena ucapan anaknya, Bayu hanya mengeluh sakit karena hal tersebut.


"Apa yang salah dari ucapanku?". Tanya Bayu yang merasa keheranan karena tiba tiba kepalanya dijitak oleh sang ayah.


Aryabima dan juga Bram segera meninggalkan tempat itu, kini hanya tersisa dua orang saja yang berada diruangan tersebut, Bayu menatap wajah Rifki yang terlihat begitu sedih tetapi tidak ada airmata yang keluar.


Bayu melamun sesaat sambil menatap wajah Rifki dengan lekatnya, ia pun menggerakkan tangannya untuk memegang wajah Rifki dan menggerak gerakkannya untuk menoleh kekanan dan kekiri, tetapi tangan itu segera ditepis oleh Rifki.


"Apaan sih kamu Bay!!". Ucap Rifki dengan kesalnya.


"Apa yang terjadi kepadamu Tuan Muda, apakah kamu merindukan Nona Muda, padahal kalian sudah bertemu tadi". Ejek Bayu.


Rifki terdiam beberapa saat mengenai ucapan dari Bayu, sekilas bayangan Nadhira melintas dalam pikirannya, tetapi hal itu segera hilang berganti dengan bayangan kakeknya yang akan pergi meninggalkannya entah sampai kapan ia akan kembali.


"Kau tau kenapa kakek memerintahkan ayahmu kemari?".


"Iya,, kan untuk menjaga Tuan muda, lalu untuk apalagi dia kemari".


"Bay!!! Bisa serius dikit ngak sih, ini bukan waktunya untuk bercanda ngerti kamu!"


"LALU AKU HARUS BAGAIMANA!!". Teriak Bayu tanpa adanya senyuman diwajahnya.


"Kakekku akan pergi dalam waktu yang lama, dia memberiku tanggung jawab untuk menjaga markas dan meneruskan bisnis perusahaan". Jawab Rifki dengan pelan.


"APA!!! Diusia seperti ini kau disuruh meneruskan perusahaan? Yang benar saja kamu Rif, lagian kenapa juga mendadak seperti ini, emang kakekmu mau pergi kemana dan bagaimana bisa dia memberikanmu tanggung jawab seperti ini, kan kamu masih sekolah lalu bagaimana dengan sekolahmu".


Rifki bercerita kepada Bayu, bukannya mendapatkan solusi terbaik, ia malah mendapatkan sebuah pidato yang panjang yang dilontarkan oleh Bayu kepadanya, justru hal ini membuatnya semakin bertambah pusing dan ingin sekali menghajar orang yang ada didepannya saat ini.


Rifki meninggalkan Bayu yang tengah mengomel didalam ruangan tersebut, ia segera menuju kehalaman belakang markas untuk menenangkan pikirannya, sepanjang perjalanan seluruh anggota gengnya menyapanya dengan sebutan Tuan muda yang hanya dibalas oleh Rifki dengan anggukan.


"Selamat Tuan muda".


"Wih keren bos ku, sekarang sudah menjadi Tuan muda".


"Tuan muda Rifki yang terbaik".


"Iya terima kasih, dan sekarang kalian pergilah, aku ingin sendirian". Rifki tersenyum sebentar setelah itu senyum tersebut segera menghilang dari wajahnya dan kini berganti dengan muka datar.


"Baik Tuan muda".


Mereka meninggalkan Rifki yang tengah duduk disebuah gazebo dibelakangnya markasnya, sekarang Rifki benar benar sendirian, ia memejamkan kedua matanya sambil bersandar disebuah kursi, ia ingin menjernihkan pikirannya.


"Bagaimana aku bisa melakukan semua ini, papa, kemana sebenarnya dirimu pergi kenapa meninggalkanku disaat situasi seperti ini, kakek, apa yang ada dipikiran kakek sehingga memberiku tugas seberat ini".


Ia begitu kelelahan dalam sehari ini, begitu banyak kejadian yang tak terduga telah terjadi, pertama ia harus rela dipukuli karena efek obat bius, dan sekarang ia tiba tiba diberi tugas sebesar itu sendirian tanpa ada kakeknya yang menemaninya, entah urusan apa yang membuat kakeknya lebih memilih meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2