
Mereka akhirnya sampai ditujuan, setelah sampai mereka segera memasang tenda dan sebagian bergegas untuk mengumpulkan kayu bakar untuk nanti malam. Setiap kelas membangun dua tenda, untuk laki laki dan perempuan, tenda tersebut cukup luas mampi diisi oleh 20 anak setiap tenda.
Nadhira ditugaskan untuk mengumpulkan kayu bakar, melihat itu Rifki segera mengajukan diri untuk ikut serta mencari kayu bakar, pernyataan itu segera diiyakan oleh ketua kelas mereka.
Keduanya segera bergegas untuk memasuki hutan dan mengumpulkan kayu bakar, dengan cepat kayu bakar mereka terkumpul banyak.
"Rif". panggil Nadhira.
"Iya ada apa Nadhira?". Rifki menoleh kearah Nadhira.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu".
Mendengar Nadhira ingin mengucapkan sesuatu kepada Rifki, Rifki segera menaruh kayu bakar yang ada ditangannya dan mendekati Nadhira.
"Ngmong aja Nadhira, aku dengarkan kok".
"Tapi kamu harus janji, jangan menceritakan ini kepada siapapun meskipun itu Susi maupun Bayu".
"Aku janji Nadhira".
"Sebenarnya ........"
Nadhira menceritakan kepada Rifki tentang ia diberi oleh ibu tirinya sebuah obat, mulai dari disaat jantungnya selalu terasa sakit. Rifki teringat disaat itu, ia yang menyerap energi itu sehingga sakit itu berpindah kepadanya, akhirnya ia ditolong oleh seorang kakek tua yang tak kasat mata.
"Akhinya kau menceritakan hal ini kepadaku Nadhira, sudah bertahun tahun kau sembunyikan dariku". Batin Rifki.
Tidak hanya itu, Nadhira juga menceritakan sosok seorang yang Rifki kenal sebagai Nimas, selama ini ia tidak mengetahui bagaimana sosok Nimas karena ia tidak mampu melihat kekuatan yang dikeluarkan oleh gadis itu.
"Wanita itu begitu cantik, tapi separuh wajahnya hancur, dan airmata darahnya tidak pernah berhenti mengalir". Jelas Nadhira.
Nadhira melanjutkan ceritanya, ia menceritakan kepada Rifki tentang bagaimana tubuhnya diambil alih oleh mahluk itu pada saat ia berada dirumah sakit. Rifki diam membisu mendengar cerita tersebut, ternyata apa yang ia duga selama ini adalah benar adanya.
"Kau ingat?! disaat Theo terbaring dilantai saat itu?".
"Iya aku ingat Dhira".
Nadhira terus melanjutkan ceritanya, sampai ketika ia melihat bayangan orang orang yang ia sayang perlahan lahan mati dihadapannya lewat mimpinya, Rifki bahkan sangat terkejut mendengar itu, karena dalam kisah itu ia akan kehilangan adik kandungnya.
Sampai ketika roh iblis itu datang menghampiri Nadhira dan merebut kesadarannya, roh iblis itu membawa Nadhira kesebuah desa yang sudah tidak ditinggali dan memasuki sebuah ruangan bawah tanah.
Disaat itu Nadhira tidak sadar bahwa ia masuk kedalam ruangan itu, setelah kesadarannya kembali ia merasa ketakutan karena diruangan itu penuh dengan tengkorak dan ruangan itu begitu menyeramkan.
Nadhira mengusap sebuah tengkorak yang tidak jauh darinya, Nadhira menatap kesekelilingnya, ia berjalan mendekat kearah sebuah bebatuan dan mengambil sebuah benda dari tempat itu.
"Benda ini akan mudah mempengaruhi emosinya, lihatlah bagaimana aku akan melakukan semuanya".
Nadhira menelan benda tersebut, benda tersebut berbentuk bulat seperti permata tetapi berwarna hitam pekat, permata tersebut begitu kuat yang tercipta dari kekuatan seluruh mahluk yang ada ditempat itu.
Tercipta sebuah senyuman diwajah Nadhira yang dikendalikan, iblis itu merasa bahwa permata yang ditelannya berhenti di jantung Nadhira, ia juga merasakan adanya energi lain yang mengunci kekuatan permata tersebut, senyum yang tadi ia ciptakan kini mulai memudar.
"Bagaimana ini bisa terjadi?".
"Kau tidak akan bisa mengendalikanku sepenuhnya, tidak akan mungkin satu tubuh memiliki dua roh didalamnya". Ucap Nadhira yang merebut kembali kesadarannya.
"Ah nampaknya waktuku sudah habis untuk mengendalikanmu, tapi tidak masalah karena permata itu sudah berada didalam tubuhmu, dan kapanpun aku mau, aku bisa saja merasuki rubuhmu". Tiba tiba sosok wanita tersebut muncul didepan Nadhira.
Nadhira menceritakan kisahnya secara terperinci kepada Rifki, sampai akhirnya ia tidak sadarkan diri dan saat itu Rifki menemukannya dan membawanya kemarkasnya.
"Apa kau percaya denganku?". Tanya Nadhira.
__ADS_1
"Aku percaya padamu Nadhira, mengenai permata itu aku akan berusaha untuk mencari solusinya".
Nadhira mengangguki ucapan Rifki, "Soal pembunuhan itu ........"
Nadhira melanjutkan ceritanya mengenai pembunuhan yang ia lakukan kepada pasangan suami istri paruh baya yang sama sekali tidak ia kenali, ia tidak mengetahui bagaimana caranya tubuhnya melakukan itu, tetapi ia yakin kematian mereka berdua memang tidak wajar.
Saat kejadian itu Rifki tidak begitu jelas mengetahuinya, saat ia mendatangi lokasi kejadian, Rifki begitu terkejut melihatnya bagaimana caranya kedua orang itu tewas mengenaskan.
Bukan hanya itu saja, Nadhira juga menjelaskan tentang kejadian yang beberapa hari ini ia alami mengenai percobaan pembunuhan yang akhirnya gagal karena kedatangan seseorang yang menghentikannya melakukan itu.
"Lalu aku harus bagaimana Rif?, aku tau kau mampu melihat alam gaib, berikan aku solusi untuk menghentikan langkah iblis itu". Ucap Nadhira.
"Kekuatanku terbatas Nadhira, untuk saat ini aku belum menemukan solusinya, percayalah kepadaku, aku tidak akan membiarkan iblis itu menguasaimu".
"Aku percaya padamu Rif, itulah sebabnya mengapa aku menceritakan ini semua kepadamu".
"Ya sudah, untuk saat ini, ayo kembali ketenda, kayu bakarnya juga sudah cukup".
Rifki memungutinya kembali setelah menaruhnya, keduanya segera membawanya kembali ketenda untuk saat ini. Setelah menaruhnya kembali ditenda tersebut, Nadhira membantu teman temannya untuk menata isi tendanya.
"Rif, kenapa ibu tirinya Nadhira seperti itu ya, apa mungkin ada dendam diantaranya?". Tanya Raka yang mendengar cerita dari Nadhira.
"Entahlah, aku rasa juga begitu, bagaimana mungkin ada orang yang meminta kepada mahluk gaib untuk menghancurkan hidup seseorang tanpa ada alasan tertentu". Jawab Rifki.
"Sepertinya kita harus menyelesaikan masalah ini, jangan biarkan mahluk itu terus bertindak sesuka hatinya, apalagi kamu sendiri tidak dapat melihatnya dengan jelas kan? berarti kekuatan mahluk itu begitu besar daripada yang lainnya".
"Kamu benar Ka, Apa kamu tau obat yang dimaksud oleh Nadhira sebelumnya?".
"Untuk masalah obat itu aku tidak tau pasti, tapi aku yakin itu obat berasal dari mahluk itu juga".
*****
Malam hari pun tiba, seluruh peserta berkumpul dan mengitari api unggun bersama sama. Rifki duduk disebelah Fajar, belakang ini keduanya mulai begitu akrab.
"Sebelum itu, ada sedikit tambahan dari saya, dihutan yang akan kalian lewati terdapat banyak sekali mahluk yang tak kasat mata, bapak harap kalian mampu menjaga sopan santun kalian, jangan mengambil apapun dijalan itu yang kalian lihat, ingat!!! jangan sampai terpisah dari kelompok kalian". Ucap guru laki laki yang bernama pak Yusuf.
"Baik pak". Jawab serempak.
"Baiklah langsung saja kita membagi kelompoknya, satu kelompok terdiri dari 10 anak, 5 laki laki dan 5 perempuan, kalian harus bisa menjaga satu sama lain".
Bu Rita segera menyebutkan kelompok mereka, karena jumlah siswa yang banyak, ada sekitar 30 kelompok yang berhasil mereka bagi. Nadhira kebagian kelompok 25 dan satu tim dengan Amanda.
Rifki dan Fajar kebagian kelompok dengan nomor urut paling terakhir dari semuanya, yakni kelompok ke 30. Setelah selesai menyebutkan kelompok tersebut, Rifki segera mengangkat tangannya untuk bertanya kepada bapak dan ibu guru.
"Pak!! bolehkah saya pindah kelompok? pindah kelompok 25".
"Kenapa harus pindah?". Tanya Bu Rita.
Sebelum Rifki menjelaskannya, Nadhira segera mengangkat tangan untuk menghentikan Rifki berbicara, perhatian semua orang sekarang tertuju kepada Nadhira.
"Bu saya boleh berbicara berdua dengan Rifki?". Tanya Nadhira.
"Baiklah, saya beri waktu 5 menit".
"Terima kasih bu".
Nadhira berjalan mendekat kearah Rifki, dan menarik tangannya untuk menjauh. Keduanya segera bergegas menjauh dari keramaian, Keduanya berhenti tepat ditenda kelasnya.
"Apa yang kamu lakukan Rif?". Tanya Nadhira.
__ADS_1
"Aku hanya takut kamu kenapa kenapa Nadhira, hutan ini kan luas, bagaimana kalau kau ada masalah dijalan".
"Aku ngak papa Rif, lagian banyak anak yang lain juga, aku akan baik baik saja kok, kamu ngak usah khawatir berlebihan".
"Tapi ....."
"Aku bisa jaga diri kok, percayalah kepadaku".
"Baiklah kalau begitu".
Dengan pasrahnya Rifki mengiyakan ucapan Nadhira, keduanya langsung bergegas kembali ketempat sebelumnya mereka berkumpul untuk melaksanakan jelajah malam.
Rifki kembali duduk disebelah Fajar dengan pasrahnya, ia mengatakan kepada para guru bahwa ia tidak jadi pindah kelompok. Fajar mengamati ekspresi wajah Rifki saat ini yang sedang merasa kesal setelah berbicara kepada Nadhira.
"Kenapa kamu ngak jadi pindah kelompok?". Tanya Fajar.
"Karena dia". Ucapnya sambil menatap Nadhira yang tidak tidak jauh darinya.
"Tenanglah, lagian ini kan cuma permainan, lagian kita juga kan yang paling belakang, buat jaga jaga kalau ada yang tertinggal,... haha".
"Kamu bener juga".
"Yayalah aku kan selalu benar, kamunya aja yang selalu tidak percaya kepadaku".
Dengan bangganya Fajar berkata sambil membusungkan dadanya kearah Rifki berada, Rifki yang melihat itu segera memukulnya menggunakan siku tangannya kearah dada Fajar.
Fajar hanya meringis kesakitan menahan serangan yang mendadak itu, ia hanya mampu tersenyum pahit kepada Rifki sambil mengelus dadanya yang terasa nyeri.
"Untung teman, kalau tidak sudah ku bunuh kau". Ucap Rifki dengan geramnya.
"Oh Tuhan.... kenapa aku harus memiliki teman segalak ini, lindungilah hambamu dari kegalakannya". Ucap Fajar dengan kedua matanya yang berbinar menatap Rifki.
Rifki hanya menggeleng gelengkan kepalanya sambil berdecak kesal kepada temannya itu, keduanya segera mengalihkan pandangan kearah para guru yang berada didekat api unggun.
Mereka menjelaskan bahwa akan ada post untuk mengkonfirmasi kedatangan mereka, ada sekitar 4 post yang harus mereka datangi. Disetiap post mereka harus meminta tanda tangan penjaga post tersebut, mereka akan diberi selembar kertas dimasing masing kelompok.
Rifki dipilih sebagai ketua kelompok dalam kelompoknya, karena anggota kelompoknyalah yang hanya memiliki 3 cewek, menurut mereka Rifki mampu menunjukkan jalan kepada mereka jadi mereka memilih Rifki sebagai ketua kelompok.
Setelah pembagian kertas tersebut, orang yang akan menjaga post segera berpencar untuk menempati tempat yang sudah disiapkan sebelumnya, sementara para guru sedang menata kelompok yang akan jalan terlebih dahulu.
"Baiklah, disetiap jalan sudah saya beri tanda, kalian hanya perlu mengikuti tanda itu saja, kami sudah menelusuri tempat itu sebelumnya".
"Bu saya mau bertanya". Ucap Rifki sambil mengangkat tangannya kanannya.
"Iya ada apa?".
"Apakah jalanan yang akan kami lewati sudah aman? dan setiap post jaraknya berapa ya bu?".
"Kalau dari pemantauan kami, jalanan yang akan dilewati sudah aman, kamu ngak perlu khawatir, karena anggota OSIS juga akan memantau kalian dari kejauhan, jarak antara post kurang lebih setengah kilo meter".
"Bu apakah disetiap post sudah disediakan minuman? atau kita akan membawanya sendiri?". Tanya salah satu murid.
"Untuk minuman dan obat obatan sudah kami siapkan, jadi kalian tidak perlu membawanya, satu lagi!! jangan ada yang berlarian, kalau kalian melihat apapun dijalan jangan lupa ucapkan permisi, entah itu mahluk astral ataupun yang lainnya". Ucap Bu Rita.
"Perlu kalian ketahui bahwa dunia ini tidak hanya dihuni oleh manusia, hewan dan tumbuhan saja, tetapi dunia ini juga dihuni oleh mahluk astral, yang tidak dapat kita lihat kecuali orang yang mampu melihatnya".
"Iya pak". Jawab mereka serempak.
Kelompok satu mulai jalan terlebih dahulu, setelah waktu 20 menit kemudian disusul oleh kelompok dua. Dari kejauhan Rifki dan Nadhira saling tatap tatapan, Rifki seakan tidak rela membiarkan Nadhira berada dikelompok lainnya.
__ADS_1
"Baiklah karena aku ketua kelompok disini, kalian harus mematuhiku, mungkin jalanan yang akan kita lewati penuh dengan mahluk gaib, nanti ikuti saja langkahku, jangan ada yang perotes". Ucap Rifki kepada kelompoknya.
*Jangan lupa like + komen*