Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Camping 10


__ADS_3

Nadhira berserta teman temannya sedang berkumpul ditenda kelasnya untuk mengemasi barang barang mereka semua.


"Nadhira". Panggil Rahma.


"Iya ada apa Ma?". Jawab Nadhira.


"Kamu nanti pulangnya dijemput apa? Boleh nebeng ngak, soalnya ayahku lagi sibuk jadi ngak bisa njemput".


"Kalo itu mah aku ngak tau Ma, soalnya aku mau bareng Rifki pulangnya".


Rahma terdiam beberapa saat ketika mendengar bahwa Nadhira pulang bersama dengan Rifki, dia merasa bingung harus pulang bagaimana, karena tidak ada yang menjemputnya.


Rahma pun terlihat kebingungan bagaimana caranya ia untuk pulang, sementara ia adalah anak rumahan yang tidak mengerti bagaimana caranya untuk naik angkutan umum, sedangkan jarak sekolahnya dan rumahnya cukup jauh.


"Apakah aku boleh ikut kalian? Pliss... Tolong bilang kepada Rifki ya, aku ikut nebeng kalian".


Nadhira terdiam beberapa saat dan memikirkan ucapan Rahma, ia tidak bisa memutuskan begitu saja karena dirinya juga nebeng pada Rifki untuk berangkat ketempat camping sebelumnya.


"Kenapa kamu tidak bilang langsung kepadanya?".


"Kau tau kan, meskipun kita sekelas tetapi tidak begitu akrab dengannya, kan dikelas ini hanya kamu dan Fajar saja yang akrab, jika kamu yang minta pasti dia mau". Rengek Rahma.


Rahma memikirkan kata kata yang tepat untuk bilang kepada Nadhira, karena selama ini Rahma mengetahui karakter Rifki yang merupakan seorang pendiam dan tatapannya yang begitu tajam, seakan akan seperti singa yang sedang tertidur..


Nadhira memikirkan apa yang dikatakan oleh Rahma mengenai Rifki, ia mulai memikirkan bagaimana caranya ia untuk bilang kepada Rifki bahwa ia akan mengajak temannya juga untuk nebeng dimobil Rifki.


"Em.... Baiklah, aku akan bilang kepadanya sekarang".


"Terima kasih Nadhira, kau yang terbaik".


"Sudah sudah, aku mau ketendanya dulu".


Nadhira pergi ketenda milik Rifki berserta teman temannya lainnya, didalam perjalanan ia terus memikirkan bagaimana caranya untuk bilang kepada Rifki mengenai permintaan Rahma, ia bergegas mendatangi tempat dimana Rifki berada saat ini.


"Apa yang harus aku katakan sekarang?". Guman Nadhira.


Saat itu Rifki sedang sibuk berbincang bincang dengan Fajar sambil memakan cemilannya, ia tidak memperhatikan bahwa Nadhira datang ingin menemuinya.


Rifki membicarakan tentang pelatihannya selama ini kepada Fajar, dan tips tips untuk berlatih dengan baik, Fajar ingin menjadi seperti Rifki yang hebat dalam bela diri dan juga hal gaib. Tetapi Fajar tidak mampu apabila indranya dibuka oleh Rifki, sehingga Fajar tidak ingin mempelajari mengenai hal hal yang berhubungan dengan alam gaib.


Rifki baru sadar kedatangan Nadhira ketika Nadhira sudah duduk disampingnya, Rifki mengira bahwa itu adalah temannya yang lain, tetapi ketika ia menoleh ia begitu terkejut ketika Nadhira sudah berada disampingnya.


Merasakan keberadaan seseorang disampingnya membuat Rifki begitu terkejut, tetapi aura yang dipancarkan oleh permata itu membuat Rifki mengetahui bahwa yang disampingnya adalah Nadhira.


"Eigh... Ada apa ini?". Ucap Rifki.


Nadhira merebut cemilan tersebut dari tangan Rifki dan memakannya, sambil mendengarkan apa yang sedang keduanya bicarakan. Rifki hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika cemilannya direbut oleh Nadhira, jika orang itu bukan Nadhira mungkin akan ada perkelahian diantara keduanya.


"Diamlah!! Aku mau mendengarkan apa yang kalian bicarakan, hingga seserius seperti itu". Ucap Nadhira.


"Baiklah aku akan diam". Ucap Rifki.


Melihat Nadhira memakan cemilan itu dengan lahapnya membuat Fajar mengeluarkan sebungkus makanan ringan dari tas ranselnya dan memberikannya kepada Nadhira.


"Kau lapar Nadhira? Ini aku ambilkan cemilan yang masih utuh". Ucap Fajar sambil menyodorkan sebungkus cemilan kepada Nadhira.


Nadhira segera memberikan cemilan yang ada ditangannya kepada Rifki, sementara tangan satunya sedang sibuk meraih cemilan yang diberikan oleh Fajar kepadanya.


Nadhira segera membuka bungkus cemilan tersebut dengan cara mengigitnya hingga plastik yang menutupi cemilan tersebut sobek, setelah itu Nadhira segera memakannya.


"Pelan pelan Nadhira kalo makan". Ucap Rifki yang melihat Nadhira memakannya begitu lahap.


"Kenapa kalian berhenti mengobrol? Lanjutkan saja, aku ngak nganggu kok hanya mendengarkan saja". Ucap Nadhira ketika melihat keduanya hanya diam saja.

__ADS_1


Fajar tidak tau lagi harus berbicara apa, sejak kedatangan Nadhira membuatnya lupa apa yang akan ia ucapkan, kata kata yang ia rangkai menghilang begitu mudahnya.


Fajar menoleh kearah Rifki untuk meminta saran kepada, tetapi Rifki hanya menggelengkan kepalanya kepada Fajar, Rifki juga tidak tau apa yang harus keduanya bicarakan.


"Apa ada yang perlu kamu sampaikan Nadhira, sehingga membuatmu datang kemari tiba tiba". Tanya Rifki.


Nadhira segera menoleh kearah dimana Rifki berada, dengan tatapan tajam ia menatap Rifki sambil menyipitkan kedua matanya, jarak antara wajahnya dengan wajah Rifki semakin lama semakin mendekat.


"Kenapa?? Apakah aku datang kemari harus mempunyai alasan". Ucap Nadhira dengan kesalnya.


"Ti.... tidak seperti itu, apa kamu sudah mengemasi barang barangmu? Atau kamu membutuhkan bantuanku?". Dengan gugup Rifki menjawab Nadhira, ia tidak ingin Nadhira marah ditempat ini dan dilihat banyak orang.


"Ah iya aku lupa, aku kesini tadi mau ngapain?". Tanya Nadhira kepada keduanya.


"Bagaimana kami bisa tau? Kau tanya kepada kami, lalu kami harus bertanya kepada siapa ha?". Ucap Fajar.


"Tanya saja sama rumput bergoyang". Jawab Nadhira dengan marahnya.


Fajar mendekatkan wajahnya kearah rerumputan yang ada di sebelahnya, ia memperhatikan bahwa rumput itu tidak bergoyang sehingga ia meniup rumput itu hingga bergerak.


"Mana bisa ia menjawab". Guman Fajar.


Rifki menertawakan apa yang tengah dilakukan oleh Fajar, bagaimana bisa ada orang sebodoh itu yang mau melakukan apa yang diperintahkan oleh orang yang asal bicara.


"Diam kau!!". Teriak Fajar.


Nadhira mengingat ingat kembali apa yang membuatnya datang ketenda mereka, karena percakapan antara Rifki dan Fajar membuatnya lupa tujuan awalnya ia datang.


Ekspresi Nadhira berubah ubah setelah berusaha untuk mengingat tujuan awalnya ia datang ketempat ini, sampai sampai ia harus bangkit dan mondar mandir kesana kemari untuk mengingatnya.


Melihat Nadhira yang mondar mandir kesana kemari membuat Rifki ikut melakukan hal yang sama sambil memandang pergerakan Nadhira, terus dan terus Nadhira mengingatnya.


"Eh apa yang kau lakukan ha?". Tanya Nadhira ketika hampir bertabrakan dengan Rifki.


"Siapa suruh kau ikut ikutan, sudahlah kamu duduk aja dulu, biar aku mengingatnya".


"Hah?? Kenapa kamu tidak kembali aja ketendamu dan ingat ingat lagi sebelum kamu kesini itu ngapain aja, kali aja kamu dapat mengingatnya lagi". Saran Rifki.


"Ahay... Itu ide bagus, kenapa ngak dari tadi sih bilangnya kan aku cape harus terus mengingat ingat". Ucap Nadhira.


"Iyayaya... Karena cowok selalu salah dimata cewek". Pasrah Rifki.


Nadhira hanya melirik kearah Rifki sesaat setelah itu ia melangkah dengan pelan menuju kearah tendanya berdiri, ia terus mengingat ingat hal apa yang ia lupakan sebelumnya.


Tak beberapa jauh ia melangkah, kemudian ia kembali lagi ketenda Rifki karena sudah mengingat hal yang membuatnya harus datang ketempat Rifki berada.


"Kenapa lagi?". Tanya Rifki ketika melihat Nadhira berbalik badan dan berjalan mendekat kearahnya.


"Aku sudah mengingat". Ucap Nadhira.


"Iya jadi bagaimana?". Ucap Fajar.


Nadhira segera berjalan mendekati keduanya dan duduk diantara keduanya, karena tempat itu begitu sempit sehingga membuat Fajar terjatuh dari tempat duduknya sebelum. Fajar segera bangkit dari jatuhnya dan segera membersihkan celananya yang kotor karena tanah.


Fajar ingin sekali melahap Nadhira hidup hidup jika tidak memikirkan adanya Rifki diantara keduanya, kekesalan itu segera ia tahan dan ia telan kedalam lambungnya agar tidak sakit hati, Nadhira melihat wajah Fajar saat ini yang sedang menunjukkan kekesalan kepada Nadhira.


"Kenapa mengeluh?". Tanya Nadhira kepada Fajar.


"Ngak, cuma ingin memakan sesuatu". Jawab Fajar.


"Makanlah, tuh banyak dedaunan, ranting, kayu, silahkan makanlah".


"Kau begitu dermawan Nadhira, dan aku bersyukur bukan aku yang menjadi budak cintamu".

__ADS_1


"Maksudmu apa ha?".


"Sudah sudah, tadi kamu bilang sudah ingat, apa yang kamu ingat?". Ucap Rifki menghentikan keduanya.


"Ngak tau". Jawab Nadhira yang seketika membuat keduanya membuka matanya lebar lebar.


Rifki dan Fajar dengan barengan tiba tiba menjatuhkan dirinya ditanah itu ketika mendengar jawaban dari Nadhira yang seakan akan Nadhira ingin sekali membuat keduanya merasa jengkel.


Melihat keduanya tiduran ditanah membuat Nadhira menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung, ia berfikir apa yang salah dengan ucapannya sehingga membuat keduanya seperti putus asa.


"Bercanda, sekarang beneran sudah ingat aku".


Sekali lagi perkataan itu membuat keduanya segera bangkit dari tidurnya dan duduk diantara Nadhira, Nadhira tertawa keras melihat hal itu, kapan lagi ia bisa mengerjai keduanya.


"APA!!!". Teriak Fajar.


"Aku belum bicara! Ngak usah teriak juga kali". Keluh Nadhira.


"Iya tapi apa?".


"Sebenarnya....". Ucap Nadhira sambil menundukkan kepalanya. "Eigh... Siapa yang menaruh bawang disini?".


"Ngak ada bawang Nadhira, adanya chilli". Ucap Fajar yang sudah kesal melihat Nadhira.


"Sok inggris lu Jar".


"Biarin".


Fajar membuang mukanya dari wajah Nadhira, melihat hal itu Nadhira segera mengalihkan pandangannya menuju kearah Rifki berada.


"Eh iya Rif, nanti kamu dijemput kan?".


"Iya Nadhiraku yang begitu bawel dan ramah, se anggun bidadari". Puji Rifki yang kelelahan.


"Nah ini baru benar jawabnya, oh iya nanti Rahma mau nebeng juga boleh kan? Soalnya kasihan dia ngak ada yang jemput, ayahnya lagi sibuk".


"Nebeng?? Ehm... Boleh kok". Jawab Rifki.


"Benarkah, kalo begitu aku mau bilang ke Rahma dulu, makasih Rif".


"Aku bilang...."


Sebelum Rifki melanjutkan perkataannya, Nadhira segera menyahutinya. "Jangan ucapkan makasih kita kan sahabat, bukan begitu? Tapi aku mewakili Rahma untuk mengucapkannya".


"Terserahmu saja lah".


Nadhira segera bergegas menuju tendanya dengan bersenandung riang seperti anak kecil yang diberikan permen oleh orang tuanya, melihat tingkah Nadhira yang seperti itu membuat Rifki terdiam dan merasa aneh.


"Kenapa hari ini Nadhira berbeda? Ada apa dengannya, rasanya aku seperti melihat Nadhira yang dahulu telah kembali". Guman Rifki.


"Apa yang kau katakan Rif? Apakah Nadhira jarang seperti itu selama ini?". Tanya Fajar.


"Bukan jarang, bahkan tidak pernah terjadi, aku merasakan ada sesuatu yang aneh disini, semoga ini bukan pertanda yang buruk". Ucap Rifki.


"Aamiin". Fajar mengaminkan.


Keduanya melanjutkan apa yang mereka lakukan sebelumnya, dan bersiap siap untuk membereskan tenda yang telah terpasang ditempat itu. Karena hari ini adalah hari terakhir mereka camping, sehingga membuat mereka sangat sibuk untuk membereskan semuanya.


Nadhira pun begitu, setelah kembali dari tenda Rifki ia segera menuju ke tendanya untuk memberitahu kepada Rahma bahwa Rifki bersedia untuk mengantarnya pulang. Setelah itu Nadhira bergegas membongkar tenda dengan yang lainnya, dan mengemasi barang barangnya.


"Baik anak anak, setelah semuanya sudah selesai dibereskan, sebagai bentuk cinta kita kepada lingkungan dan alam, kami minta kalian untuk memunguti sampah yang berada disekitar sini".


"Baik bapak ibu guru".

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, mereka diminta oleh para guru untuk membersihkan sampah sampah yang berserakan disekeliling area perkemahan, agar tidak berserakan dan tetap menjaga keindahan alam sekitar.


__ADS_2