
Bi Ira teringat pada saat Nadhira benar benar terpuruk waktu itu dan ingin segera mengakhiri hidupnya akan tetapi tiba tiba Nadhira tidak sadarkan diri karena perbuatan dari Nimas.
"Lalu apa yang dilakukan oleh Nadhira saat itu Bi?"
"Tiada lagi yang bisa ia lakukan selain menangis dimalam hari dalam diamnya tanpa sepengetahuan banyak orang dan berpura pura bahagia dan juga tegar ketika dipagi harinya, dan bahkan Tuan selalu membedakan kasih sayang antara Nadhira dan Amanda selama ini".
"Seandainya itu aku, mungkin aku tidak akan sekuat Nadhira, aku tidak suka jika harus dibeda bedakan dengan yang lainnya".
"Tapi Dhira berbeda dari yang lainnya, meskipun terluka hatinya begitu parah, akan tetapi dirinya tidak pernah memiliki rasa benci kepada orang tersebut, dia anak yang baik dan memiliki kasih sayang yang tulus".
Dalam mata yang terpejamkan seperti tidur itu, Nadhira saat ini sedang mendengarkan pembicaraan keduanya, tanpa keduanya sadari bahwa air mata Nadhira menetes tiba tiba, entah mengapa disaat orang lain membicarakan tentang apa yang ia alami, air matanya tidak mampu untuk dihentikan.
"Dhira apa kau sedih? Tidak usah berpura pura tidur dihadapanku sekarang, aku tau itu bahwa kau masih mendengarkan mereka berdua" Ucap Nimas.
"Aku lelah Nimas, aku ingin tidur tapi tidak bisa tidur, kepalaku terasa sangat sakit dan tenagaku seakan akan tidak ada, mungkin ini efek dari obat bius yang telah diberikan kepadaku". Batin Nadhira.
"Racun itu sangat mematikan Dhira, seandainya aku tidak mengeluarkannya dari tubuhmu sejak pertama dan bantuan dari obat yang diberikan oleh seseorang kepadamu mungkin setelah meminumnya kau pasti sudah tiada dan berada dialam yang berbeda dari alam manusia, disini tenagaku yang terkuras banyak tapi justru kau yang terlihat begitu lemah".
"Kita berbeda Nimas, aku hanyalah manusia biasa yang masih mampu merasakan sakitnya dunia, sementara dirimu bukanlah manusia dan jika terluka pun tenagamu saja yang habis tidak dengan rasa sakitnya".
"Sudah tau manusia biasa masih saja bertindak seperti pahlawan dan membahayakan nyawa sendiri bagaimana kalau kau tidak selamat saat ini Dhira, kau lupa apa yang Rifki katakan ha? Jangan bertindak gegabah, karena kau masih bisa mati kapanpun itu".
"Ya ya ya aku tau itu, karena itu aku ingin segera bertemu dengan Mama, emang kehidupanku penting bagi mereka? Tidak".
"Seandainya kau tau, kau pasti akan menyesal nantinya jika melakukan tindakan seperti itu".
"Pada akhirnya manusia akan mati juga Nimas, dan kita tidak tau dengan cara apa diri kita dipanggil oleh sang pencipta, meskipun aku tidak mati karena racun yang mematikan ini, bisa jadi diriku akan mati terpeleset dikamar mandi atau yang lainnya bukan? dan aku tidak tau akan hidup sampai kapan".
"Seandainya Rifki kembali dan mendengar kata katamu seperti ini, apa yang kau katakan kepada dirinya?".
Aku tidak tau, aku sangat berharap bahwa dirinya segera kembali, tapi aku tidak mampu untuk bertemu dengan dirinya".
"Cepat atau lambat dia pasti akan datang Dhira".
Nadhira tidak mampu untuk menemui Rifki karena dirinya telah merusak kepercayaan yang telah Rifki berikan kepadanya selama ini, akan tetapi dirinya berharap bahwa Rifki akan kembali bersama dirinya.
Setelah dua minggu penuh dirawat dirumah sakit tersebut akhinya Nadhira diperbolehkan untuk pulang karena kondisi Nadhira sudah membaik, David akan membawa Nadhira kerumah Ibunya untuk dirawat disana dan Nadhira hanya bisa pasrah meskipun jika David dan keluarganya bukan orang baik akan tetapi Nimas selalu ada untuk membantunya.
Ketika Nadhira melewati lobi rumah sakit dirinya tidak sengaja melihat Rendi dari kejauhan, Rendi yang melihat Nadhira ada didepannya segera berlari menuju kearah Nadhira.
"Nak kau baik baik saja?" Tanya Rendi dengan bahagianya karena dapat bertemu dengan Nadhira.
"Kenapa kau datang! Jangan dekati keponakanku" Ucap David sambil mendorong pelan tubuh Rendi.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Nadhira"
"Kau tidak pantas untuk bertemu dengannya, Ayah yang sangat jahat sepertimu tidak pantas untuk menjadi Ayah Nadhira".
Sarah memegangi tangan Nadhira dengan erat ketika melihat David dan Rendi sedang bertengkar, sementara Nadhira dan Nandhita hanya mampu berdiam diri melihat situasi itu, Nandhita hatinya begitu terluka ketika dirinya mendengar apa yang selama ini dilakukan oleh Rendi kepada Nadhira.
"Untuk apa Papa ingin bertemu dengan Dhira? Papa sadar ngak, apa yang selama ini Papa lakukan kepada Dhira, Dhira hampir kehilangan nyawa gara gara Papa" Ucap Nandhita.
"Dhita, kau disini? Sejak kapan kau pulang Nak?"
"Aku sangat kecewa sama Papa, gara gara Papa dan wanita itu, Mama kehilangan nyawanya!"
"Maksud Kak Dhita apa?" Ucap Nadhira dengan terkejut mendengar ucapan Nandhita.
"Iya Dhira! Mama meninggalkan kita gara gara Papa, karena apa yang dilakukan oleh Papa membuat Mama masuk kedalam jurang waktu itu".
"Tidak Dhira, itu semua tidak benar, Papa tidak tau apa apa soal itu Dhira" Bantah Rendi.
Tubuh Nadhira seketika terasa begitu lemah, dan membuat Sarah dan Nandhita segera memapahnya agar tetap bisa berdiri dengan tegaknya, air mata Nadhira perlahan lahan jatuh membasahi pipinya.
"Kenapa Papa melakukan itu kepada Mama?" Tanya Nadhira dengan sedihnya.
__ADS_1
"Ini tidak seperti apa yang kamu dengar Dhir...."
Dhuk.... Bhukk...
"Papa"
Belum sempat Rendi mengatakan sesuatu kepada Nadhira, tangan David lebih cepat untuk menonjok Rendi dengan sangat kerasnya hingga Rendi terjatuh kelantai.
Rendi segera bangkit dari jatuhnya dan berdiri tegak dihadapan Nadhira dengan darah yang mengalir di ujung bibirnya, dan ketika David ingin menghajar Rendi lagi, Nadhira segera melepaskan pegangan tangan Sarah dari dirinya dan bergegas untuk menghentikan apa yang akan dilakukan oleh David kepada Rendi.
Nadhira berdiri didepan David dengan tegaknya, dan membelakangi Rendi, entah sekian lama tidak pernah melihat Nadhira begitu marahnya tiba tiba kali ini Nadhira terlihat begitu marah kepada David karena telah membuat Rendi terluka.
"Tidak Om, jangan sakiti Papa lagi!" Ucap Nadhira sambil menangkis tangan David.
"Kenapa kamu menghalangiku Dhira! Dia sudah membuatmu menderita selama ini, dia juga telah membunuh Kakakku".
"Ini kemauan Dhira sendiri dan ini semua bukan salah Papa melakukan itu kepada Dhira, soal kematian Mama aku butuh bukti yang nyata, jika tidak ada bukti jangan pernah menuduh orang sembarangan, jika sekarang Om ingin menghajar Papa, maka lawanlah aku dulu sebelum Om melakukan itu kepada Papa, aku tidak akan membiarkan Om melakukan itu dan mencelakai Papa".
"Nak apa yang kau lakukan? Kemarilah" Ucap Sarah meminta Nadhira mendekat kepadanya.
"Tidak Oma, aku tidak akan membiarkan Papa kenapa kenapa, karena Papa adalah orang tua Dhira satu satunya, Dhira tidak mau jika terjadi apa apa kepada dirinya karena kelalaian Dhira"
"Dek, apa yang kau lakukan?" Ucap Nandhita sambil berjalan kearah Nadhira dan memegang tangan Nadhira dengan erat.
"Dhira, jangan halangi Om!" Ucap David dengan emosinya.
David segera berusaha untuk dapat memukul Rendi akan tetapi Nadhira terus menghalanginya untuk sampai kepada Rendi, Nadhira terus menangkis tangan David dan tidak membiarkan pukulan pukulan itu mengenai Rendi.
"Dhira masih tetap pada pendirian Dhira! Jika Om ingin melawan Papa, maka lawanlah Dhira terlebih dahulu, Dhira tidak akan membiarkan Papa kenapa kenapa, meskipun harus melawan Om! Lebih baik Dhira mati daripada Dhira harus melihat Papa terluka" Ucap Nadhira dengan tegasnya.
"Dhira, kenapa kau harus membela lelaki seperti ini, bahkan kau sampai melawan diriku".
"Aku tidak peduli siapapun itu! Jika dia ingin mencelakai Papa, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi kepada Papa, meskipun nyawa Dhira taruhannya aku tidak peduli".
"Sudah Dav, jangan berdebat dengan Dhira lagi, Dhira baru sembuh, jangan buat dia tertekan lagi" Ucap Sarah menghentikan pertengkaran antara keduanya itu.
David memejamkan matanya dan mencoba untuk meredahkan emosinya didepan Nadhira, pria kurus tinggi itu hanya mampu menghela nafasnya karena perkataan dari Ibunya.
"Kamu keras kepala sekali Dhira" Ucap David.
"Karena Papa adalah orang tua satu satunya yang Dhira miliki saat ini, Dhira sangat menyayangi Papa melebihi hidup Dhira sendiri, aku tidak bisa melihat Papa terluka seperti itu Om, karena hati Dhira akan terasa begitu sakit".
"Aku tidak tau apa yang ada dipikiranmu sekarang Dhira, sehingga kau membela lelaki seperti itu".
Nadhira sudah sembuh dari luka yang ada dikakinya sehingga sifat Nadhira yang menyukai pertarungan itu kembali lagi, selama dirinya dirawat dirumah sakit, dokter itu juga mengobati kakinya karena Nadhira mengeluh kepada dokter tersebut mengenai kondisi kakinya yang kadang kala terasa sakit.
"Ini urusan Dhira, tolong Om hargai keinginan Dhira".
Rendi merasa bahagia ketika Nadhira membela dirinya, itu artinya Nadhira tidak akan pernah meninggalkannya dan Nadhira akan kembali tinggal bersama dengan dirinya.
Nadhira membalikkan tubuhnya untuk menghadap kearah Rendi, tatapan keduanya bertemu. Rendi menatap kearah Nadhira dengan senyuman yang begitu tulus kepada Nadhira, sementara Nadhira hanya mampu menundukkan kepalanya didepan Rendi tanpa ingin melihat ekspresi itu.
"Untuk apa Papa kemari?" Tanya Nadhira.
"Papa ingin meminta maaf kepada dirimu Dhira".
"Dhira sudah memaafkan Papa sebelum Papa meminta maaf kepada Dhira, jadi Papa tidak perlu untuk meminta maaf kepada Dhira".
"Itu artinya kau tidak lagi marah dengan Papa Nak?"
"Aku pernah berkata kepada Papa sebelumnya bukan? Bahwa Dhira tidak akan pernah mampu untuk membenci Papa Dhira sendiri ataupun marah kepada Papa, Dhira tidak akan mampu melakukan itu".
"Terima kasih Nak, kau adalah anak yang baik, Papa datang untuk menjemputmu Nak, ayo pulang bersama dengan Papa".
Rendi segera memegangi tangan Nadhira dan bersiap untuk menarik Nadhira dan mengajaknya pulang, akan tetapi Nadhira tidak bergeming sama sekali dan tetap berdiri pada tempatnya sebelumnya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Rendi.
"Aku memaafkan Papa bukan berarti aku akan pulang bersama dengan Papa, Papa pernah bilang kepada Dhira bahwa Papa tidak ingin lagi melihat Dhira ada dihadapan Papa, maka Dhira akan mengabulkan perintah Papa, Dhira tidak akan pernah muncul kembali dihadapan Papa"
"Papa tidak mau kau pergi Dhira, maafkan Papa karena Papa tidak mempercayaimu sebelumnya, Papa sangat menyesal Dhira, kembalilah bersama dengan Papa".
"Maafkan Dhira, Dhira lebih memilih untuk tinggal bersama Oma dan Om, Dhira tidak bisa tinggal bersama Papa lagi".
"Kenapa tidak bisa Nak? Papa mohon kembalilah".
"Dhira lelah Pa, tidak ada lagi yang membuat Dhira tetap bertahan untuk tinggal disana, untuk apa adanya rumah jika tiada kebahagiaan didalamnya Pa, sejak kepergian Mama waktu itu, Dhira merasa bahwa Dhira sudah tidak berhak tinggal disana lagi karena kehadiran Mama Sena dan Manda yang begitu sangat membenci Dhira selama ini, Mama Sena telah membakar semua foto foto Mama, orang yang sangat Dhira sayangi, maafkan Dhira".
"Jangan tinggalkan Papa Nak, Papa mohon, kembalilah bersama Papa, Papa janji Papa tidak akan membiarkan Dhira terluka lagi seperti sebelumnya, maafkan kebodohan Papa selama ini".
"Jika tidak ada lagi yang ingin Papa katakan kepada Dhira, Dhira permisi".
Dengan perlahan lahan Nadhira melepaskan pegangan tangan Rendi dari pergelangan tangannya, Nadhira melangkah pergi dari tempat itu diikuti oleh yang lainnya, Nadhira pergi meninggalkan Rendi dengan rasa keterpaksaannya, sementara itu Rendi hanya bisa menatap kepergian dari Nadhira.
"Jangan tinggalkan Papa Dhira!"
Kepergian Nadhira kali ini membuat hati Rendi seakan akan kosong, Rendi ingin sekali menghentikan Nadhira untuk pergi meninggalkannya, akan tetapi kesalahan yang telah ia lakukan terlalu besar bagi Nadhira dan Nandhita.
Rendi seketika itu teringat segala kenangan saat saat indah bersama dengan keluarga kecilnya, Lia yang terus membuatnya tersenyum dan wajah imut Nadhira ketika dirinya kecil dengan canda tawa yang menghiasinya, Rendi seakan akan telah kehilangan semuanya dan sangat mustahil untuk kembali kemasa masa itu.
"Lia, dimana kamu berada sekarang, kembalilah Lia aku mohon, maafkan aku Lia".
"Maafkan Dhira Pa" Batin Nadhira.
Nadhira beserta yang lainnya segera bergegas menuju ke parkiran mobil yang ada dirumah sakit tersebut, David segera menyuruh Nadhira untuk masuk kedalam mobil miliknya beserta dengan Nandhita, ketika David akan masuk juga tiba tiba Bi Ira berlarian kearahnya, melihat itu Nadhira kembali keluar dari mobil itu diikuti oleh David.
"Ibu" Ucap Nadhira dengan bahagianya.
Nadhira segera bergegas untuk mendatangi Bi Ira dan menjatuhkan dirinya didalam pelukan Bi Ira, beberapa hari ini Nadhira tidak bertemu dengan Bi Ira sehingga Nadhira sangat merindukan Bi Ira saat ini.
"Ibu kemana saja, Dhira mencari Ibu dari kemarin".
"Maafkan Ibu".
Bi Ira segera memberikan sebuah kotak yang lumayan besar kepada Nadhira, Nadhira langsung menerimanya dengan herannya, kenapa tiba tiba Bi Ira memberikan hal itu kepada Nadhira.
"Apa ini Bu?"
"Buka saja".
Dengan rasa penasarannya Nadhira membuka isi kotak tersebut, Nadhira nampak tersenyum tipis ketika melihat isi kotak tersebut.
"Ini..." Ucap Nadhira sambil menatap kearah Bi Ira.
"Kau pasti akan sangat merindukan barang barang itu dirumah lamamu, aku sengaja membawakannya untuk dirimu Nak".
"Bagaimana Ibu tau bahwa ini adalah hal yang berharga bagiku, terima kasih Bu karena telah membawakan barang barang milikku ini".
Isi kotak tersebut adalah gaun berwarna pink yang pernah dibelikan oleh Rifki kepadanya, ada foto dari almarhum Lia, sebuah tabung kecil yang dapat berubah menjadi tongkat pemberian Rifki kepadanya untuk beladiri, dan juga sebuah kenangan kenangan dirinya bersama dengan Lia.
"Ibu tau, kau pasti akan merindukan barang barang itu sehingga Ibu membawakannya untukmu".
Nadhira mengambil sebuah tabung silinder yang pernah diberikan oleh Rifki kepadanya dengan sebuah senyuman bahagia, Nadhira memegang erat benda berbentuk tabung tersebut karena sudah lama dirinya tidak pernah menggunakan benda tersebut.
"Karena benda inilah aku sering membuat Rifki kerepotan dengan tingkahku, andai saja Rifki ada disini sekarang, aku sangat merindukanmu Rif, kapan kau pulang dan menemuiku" Tak terasa air mata Nadhira menetes.
"Benda apa itu Dhir?" Tanya David penasaran.
"Ini adalah sebuah tongkat Om dan sering aku gunakan untuk melindungi diriku dari orang orang yang ingin berniat jahat kepadaku".
"Boleh Om memegangnya?"
__ADS_1
...Terima kasih atas dukungannya terhadap karya ini 🙏 Jangan lupa like dan komen ya...