Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Pengorbanan Nadhira


__ADS_3

Mendengar ucapan Nadhira sontak membuat semuanya terkejut kecuali Bi Ira dan Jono, karena keduanya sudah mengetahui bahwa Nadhira tidak benar benar hilang ingatan.


Beberapa hari belakangan ini, hubungan Jono dan Nadhira begitu baik, Jono sering kali memberitahu Nadhira tentang apa yang akan dilakukan oleh Sena selama ini, dan Jono lah orang yang telah memanahkan sebuah anak panah yang terdapat secuil kertas yang telah dibaca oleh Nadhira.


"Iya Pa, aku telah mengetahui semuanya, dan serangan waktu malam itu pelakunya tidak lain adalah Mama Sena sendiri".


"Apa yang kau katakan Dhira!" Teriak Sena.


"Kau tidak bisa menghindarinya Ma, luka yang ada ditanganmu itu adalah luka goresan yang telah aku berikan kepada pelaku malam itu, kau berpura pura seakan akan kau terjatuh sehingga terluka, tapi asal kau ketahui bahwa luka dengan cara terjatuh dan tersayat sebuah pisau itu berbeda!".


Rendi segera menarik lengan baju Sena hingga sobek dan menampakkan luka bekas sayatan itu dilengannya, Rendi tidak menyangka bahwa pelaku tersebut adalah orang yang dia sayangi.


"Ternyata kau adalah pelakunya, apa yang ada didalam fikiranmu Sena, kenapa ada bekas luka memanjang seperti ini?" Ucap Rendi yang tidak mempercayai apa yang ia lihat saat ini.


"Tidak Mas, dia berbohong" Bela Sena.


"Bukankah kebohongan itu begitu menyenangkan Mama Sena?" Tanya Nadhira.


"Kau!".


"Apa kau tidak ingin bertanya kepadaku tentang bagaimana aku bisa mengetahui semua rencana yang akan kau lakukan?"


"Maksudmu apa?"


"Jangan berpura pura tidak tau apa yang aku maksud Mama Sena, sepertinya kau lupa sesuatu sebelum bertindak dan bermain dengan diriku".


"Kebohongan apa lagi yang kau ucapkan itu!"


"Aku hanya mengatakan bahwa temanmu bisa jadi adalah musuhmu juga".


"Tidak! Kau pendusta!"


Nadhira tertawa ketika dirinya dikatakan pendusta oleh Mama tirinya, tawa itu menandakan rasa sakit hatinya yang kian semakin memuncak dengan sosok yang ada dihadapannya saat ini, melihat Nadhira yang tertawa membuat semuanya kebingungan dibuatnya itu.


"Pendusta kau bilang? Tiada pendusta yang lebih besar daripada dirimu Mama tiri" Ucap Nadhira yang seketika merubah senyuman menjadi ekspresi serius.


"Anak ini benar benar sudah tidak waras! Jangan dengarkan perkataannya itu".


"Dan kau mengatakan kepadaku bahwa Papa Rendi telah membunuh Papa kandungku, sehingga kau menyuruhku untuk balas dendam kepadanya, lalu siapa Papa kandungku yang sebenarnya itu?" Tanya Nadhira mengungkit ucapan Sena sebelumnya.


"Apa yang kau katakan Dhira?" Tanya Rendi dengan begitu terkejut ketika Nadhira menanyakan hal itu.


"Aku hanya butuh kepastian Pa, katakan! Siapa Papa kandungku yang sebenarnya!".


Rendi dan Sena tidak mampu menjawab pertanyaan dari Nadhira yang menanyakan siapa Ayah kandungnya sehingga Sena menyuruh Nadhira untuk membalaskan dendamnya kepada Rendi.


Jika diingat kembali, Nadhira bukanlah anak kandung dari Rendi melalui sebuah surat yang diberikan kepadanya oleh Sena, surat itu adalah surat hasil tes DNA antara dirinya dengan Nadhira.


"Pa, apakah sebesar itu Papa membenciku? Sehingga Papa tidak ingin lagi melihatku ada dihadapan Papa saat ini".


Pesta ulang tahun yang menyenangkan dan membahagiakan itu berubah menjadi kebisuan dan kesedihan bagi siapa saja yang menghadiri acara pesta ulang tahun itu, apalagi dengan Nadhira yang sedang berderaian air mata.


"Aku tau, aku bukanlah anak Papa, Papa tidak perlu menjelaskan hal itu kepadaku, karena aku sudah mengetahui jawabannya, sejak kecil Nadhira tumbuh bersama dengan Papa, Papa pasti sudah mengetahui sikapku selama ini, tapi kenapa Papa lebih mempercayai orang lain, aku benar benar kecewa dengan sikap Papa".


Nadhira tidak memiliki alasan apapun untuk dapat mempertahankan nyawanya, disaat seluruhnya membenci dirinya seperti itu, hati Nadhira begitu hancur tak tersisa, meskipun ada tangis diwajahnya akan tetapi mampu memperlihatkan sebuah senyuman yang memilukan.


"Aku hanya ingin bertanya pada Papa sekali saja"


"Apa yang ingin kau tanyakan?"

__ADS_1


"Apa penyebab kematian dari Mama, aku berhak untuk mengetahuinya Pa, jawab aku Pa! Dan apa alasan dari Kak Nandhita pergi meninggalkan diriku selama ini! Jawab pertanyaanku Pa!".


Rendi tidak mampu berkata kata lagi ketika Nadhira tiba tiba menanyakan hal mengenai kematian dari Lia, yang selama ini tidak pernah Nadhira ungkit ataupun Nadhira tanyakan kepada dirinya, dan entah kenapa kali ini Nadhira menanyakan hal itu.


"Aku tidak tau! Aku tidak peduli soal Lia".


"Ternyata dugaanku benar, bahwa Papa dan Mama Sena adalah dalang dibalik kematian dari Mama Lia, dan Kak Dhita telah mengetahui semuanya sejak awal, sehingga dirinya memutuskan untuk pergi dan tidak akan kembali sampai saat ini".


Rendi berdiam diri mendengar ucapan Nadhira yang seakan akan dirinya sudah mengetahui tentang misteri dibalik kematian dari Lia, Rendi berfikir bahwa Nadhira sudah mengetahuinya karena memang dirinya juga ada dibalik kejadian waktu itu.


"Kediaman Papa telah menjawab semuanya, dan aku berdoa semoga tidak ada dendam didalam hatiku untuk Papa, terima kasih atas luka dan air mata yang telah Papa berikan kepada diriku, aku hanya bisa berdoa kepada Allah semoga Papa selalu bahagia dan selalu berada didalam lindungan-Nya". Ucap Nadhira dengan air mata yang terus mengalir.


Disatu sisi Bi Ira sedang berdiri bersebelahan dengan Reno yang telah mengantar Nadhira ketempat itu, Reno tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan Nadhira dan keluarganya itu, sehingga Reno hanya berdiam diri menyaksikan hal itu.


"Bi, apa yang sebenarnya terjadi dengan Nadhira?" Tanya Reno berbisik kepada Bi Ira.


"Ceritanya sangat panjang, kasihan dia karena keluarganya sangat membenci dirinya, dan bahkan Mama tirinya terus menghasut Papanya agar ikut serta membenci dirinya".


"Separah itukah Bi, pasti ini sangat berat untuk Nadhira, semoga saja semuanya akan baik baik saja".


"Dan minuman yang tengah dibawa olehnya itu, telah dicampuri racun olehnya, aku sangat takut jika terjadi sesuatu dengan Nadhira"


"Apa? Jadi benar minuman itu beracun?"


Reno begitu terkejut ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Bi Ira bahwa minuman yang ada ditangan Nadhira telah diberi racun oleh Sena, entah racun apa yang ada didalam minuman itu.


"Iya, dan aku takut terjadi sesuatu dengan dirinya".


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang Bi, aku tidak akan bisa mencegah apa yang ingin Nadhira lakukan, seandainya Rifki ada disini mungkin hanya dirinya yang bisa menghentikan tindakan Nadhira".


Banyak sekali yang tengah membicarakan tentang tindakan yang dilakukan oleh Nadhira saat ini, akan tetapi Nadhira sama sekali tidak mempedulikan hal itu karena bagi dirinya tidak masalah jika dibicarakan banyak orang asalkan dirinya mampu untuk menyelamatkan nyawa Ayahnya.


Sebelumnya Sena telah menyuruh Nadhira untuk memberikan obat mules kepada Rendi, akan tetapi dengan diam diam Nadhira menyuruh Bi Ira untuk menuangkan obat itu kedalam minuman Sena dan Nadhira berpura pura menuangkan obat itu keminuman Rendi, sebenarnya apa yang Nadhira tuangkan waktu itu adalah gula pasir yang telah dihaluskan.


"Kau begitu licik Dhira".


"Selicik dirimu Mama tiri, kau memerintahkan Amanda untuk terus mengawasi diriku bukan? Karena kau merasa tidak percaya kepadaku, aku sudah tau semuanya, dan aku hanya berpura pura tidak tau Mama, kau bilang aku licik? Bukankah kau sendiri yang mengajariku untuk berbuat licik?".


Sejak awal Nadhira sudah mengetahui bahwa Sena tidak terlalu mempercayai dirinya karena Nadhira sendiri tidak mampu untuk berpura pura hilang ingatan dengan baik, hal itu membuat Sena dan Amanda terus mengawasi dirinya.


"Apa yang kau katakan tidak benar Dhira! Dari tadi kau hanya membohongi kami semua disini" Teriak Amanda kepada Nadhira.


"Kau bilang aku tidak benar? Iya memang aku serba salah, dan kau! Apa yang kau lakukan kepadaku itu benar ha? Kau memaksaku untuk meminum minuman beralkohol dan akan membawaku kehotel untuk dilecehkan apakah itu benar Manda?" Tanya Nadhira balik kepada Amanda.


"Maksudmu apa? Aku sama sekali tidak mengerti".


"Tidak perlu mengerti tentang maksudku Adik tiriku, karena bangsa manusia dan iblis itu berbeda jauh, jadi kau tidak perlu berlajar begitu dalam soal bahasa manusia"


"Kau bilang seolah olah diriku adalah iblis begitu maksudmu ha?" Ucap Amanda dengan menatap tajam kearah Nadhira.


"Apalagi kalau bukan iblis? Tidak ada manusia yang memiliki hati seperti dirimu yang ingin melecehkan seseorang yang bahkan sama sekali tidak pernah mengusik dirimu, seorang predator jika tidak bisa memilih mangsa dengan sangat tepat maka dirinya yang akan menjadi mangsa dari mangsanya, begitupun Mama Sena, jika tidak bisa membidik disasaran yang tepat maka dirinya yang akan menjadi sasaran tersebut".


Nadhira menjentikkan jarinya dengan keras, tiba tiba muncullah seseorang dibelakang semua para tamu yang hadir diacara malam itu, orang itu adalah Theo yang sengaja Nadhira ajak keacara pesta ini untuk menjadi saksi atas perbuatan yang telah dilakukan oleh Amanda.


"Kau pasti mengingat pemuda ini bukan? Dia adalah pemuda yang sama, yang telah menyelamatkan diriku dari rencana yang telah kau buat waktu itu".


"Kau tidak bisa mengelak lagi Manda, aku adalah satu satunya saksi yang ada didalam kejadian waktu itu" Ucap Theo.


Sebelum Reno dan Nadhira melanjutkan perjalanan ketempat tujuannya itu, Nadhira meminta kepada Reno untuk mengantarkannya ketempat markas Theo untuk meminta bantuan kepada Theo, dan Reno tidak bisa menolak keinginan dari Nadhira meskipun Reno tidak menyukai itu sehingga dirinya dengan terpaksa mengantarkan Nadhira ketempat itu.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan kepada Papaku kali ini Mama? Apa kau masih berniat untuk membunuh Papa malam ini Mama? Setelah kau gagal membunuhnya malam itu?" Tanya Nadhira sambil mengangkat gelas yang ada ditangannya.


Nadhira memandangi gelas itu sambil tertawa dengan rasa kecewanya terhadap Papanya yang tidak mempercayai dirinya saat ini.


"Aku tidak memberikan apapun kepada Rendi, kau jangan memfitnahku seperti itu Dhira!"


Rendi hanya diam membisu saat ini, dirinya tidak percaya dengan apa yang dikatan oleh Nadhira saat ini, dirinya begitu mencintai Sena, karena ada setitik rasa benci dihati Rendi untuk Nadhira hal itu membuat Rendi tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nadhira bahwa Sena telah memberikan sesuatu kepada minuman Rendi.


"Papa butuh bukti yang nyata bukan? Maka aku akan membuktikannya kepada Papa bahwa minuman ini telah diberi racun oleh wanita ini dengan cara meminumnya saat ini juga dihadapan semua orang yang hadir" Ucap Nadhira dengan tegasnya.


"Maka buktikanlah sekarang juga apa yang telah kau katakan itu Dhira, jika sampai Sena terbukti tidak bersalah saat ini maka segera mungkin angkat kaki dari rumahku, aku tidak ingin menerima dirimu lagi dalam rumahku".


"Sudah Mas, jangan paksa Nadhira untuk meminumnya" Sela Sena.


"Dia harus bertanggung jawab dengan ucapannya sendiri Sena, jika kau merasa tidak melakukan sesuatu maka jangan menghentikan dirinya".


"Papa tidak perlu memerintahku untuk pergi dari rumah Papa, meskipun tanpa diperintah pun aku akan segera pergi dari dunia ini dan Papa tidak perlu cemas soal itu aku akan mengabulkan keinginan Papa selama aku mampu".


"Dhira jangan lakukan itu" Ucap Bi Ira.


"Dhira apa yang akan kau lakukan! Jangan bertindak sembrono" Teriak Reno.


"Dhira jangan lakukan hal yang bisa membahayakan dirimu" Ucap Theo.


"Selamat tinggal semuanya, maafkan atas kesalahan yang pernah Nadhira lakukan kepada kalian semua, Papa bilang bahwa Papa tidak lagi ingin melihatku ada didepan Papa bukan? Maka ini adalah terakhir kalinya Papa akan melihat diriku hidup, mungkin setelah ini Papa akan merasa bahagia atas kepergian diriku kali ini, inikah yang Papa inginkan selama ini dariku bukan? Maka Dhira akan menurutinya".


"Dhira, aku mohon jangan lakukan itu" Ucap Theo.


"Jangan lakukan itu Nak, aku mohon, jangan tinggalkan diriku" Tangis Bi Ira pecah ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Nadhira.


"Dhira hentikan! Rifki akan sangat marah kepadamu jika kau melakukan hal seperti ini, aku mohon Dhira hentikan itu, ingat apa yang pernah Rifki katakan kepadamu Dhira". Ucap Reno.


"Bahkan jika aku hidup didunia ini, aku tidak akan mampu dan tidak berani untuk bertemu dengannya lagi, aku telah merusak kepercayaan yang telah ia berikan kepadaku, aku tidak sanggup untuk bertemu dengannya, sampaikan maafku kepada dia, katakan kepada dia bahwa aku sangat menyayanginya dan biarkan aku pergi dengan tenangnya Reno".


"Ini bukan salahmu Dhira, dia pasti bisa memaklumi apa yang telah kau lakukan itu, itu bukanlah kemauanmu sendiri Dhira, Rifki tidak akan pernah bisa marah kepadamu karena hal itu, justru dia akan kecewa ketika dirinya kembali ketanah air dirinya tidak bertemu dengan dirimu".


"Lebih baik dia merasa kecewa karena tidak menemukan diriku daripada harus bertemu dengan diriku yang telah kotor ini, aku tidak bisa bertemu dengannya, terlalu banyak kepercayaannya yang telah aku rusak".


"Tidak Dhira jangan lakukan itu, aku mohon,aku tidak bisa melihat Tuan Muda Rifki bersedih karena kehilangan dirimu Dhira, jangan lakukan itu, jangan Dhira aku mohon".


"Maafkan aku, mulai sekarang lupakan segalanya tentang diriku, lupakan bahwa aku pernah hidup didunia ini, mulai sekarang Nadhira sudah tiada dan sebaiknya kalian melupakan dirinya, biarkan aku beristirahat dengan tenang tanpa adanya air mata yang mengiringi kepergianku".


Nadhira terus meneteskan air matanya, dengan sekuat tenaga dirinya terus bersikap tegar seolah olah beban yang ada didalam pikirannya akan segera hilang seiring berjalannya waktu karena Nadhira sudah pasrah dengan kematian yang ada didepan matanya saat ini.


"Maafkan Dhira Pa, Dhira pamit untuk yang terakhir kalinya, jaga diri Papa baik baik ya, Dhira sangat menyayangi Papa lebih dari hidup Nadhira sendiri, semoga Papa bahagia tanpa kehadiran Nadhira yang selalu membuat Papa kecewa, maafkan Dhira Pa, aku sayang Papa" Ucap Nadhira lirih sambil menatap kearah Rendi.


Nadhira memejamkan matanya dan meneteskan air matanya, ia segera menempelkan ujung gelas itu kepada bibirnya dan mulai meneguk minuman tersebut dengan perlahan lahan, belum habis minuman itu Nadhira sudah melepas pegangannya dari gelas tersebut.


Ketika minuman itu berhasil melalui tenggorokan Nadhira, Nadhira merasakan bahwa seketika itu juga dirinya tidak bisa bernafas dengan baik, rasa panas dan perih dari minuman itu kini tengah menyerang dirinya.


"Maafkan Dhira Pa". Ucap Nadhira pelan.


Pandangan Nadhira perlahan lahan mulai memudar karena racun tersebut, perlahan lahan tubuhnya mulai terjatuh kelantai dengan pelannya, akan tetapi sebelum tubuhnya sampai dilantai Bi Ira segera menangkap tubuhnya itu.


"Dhira!"


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰...


...Terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2