
Transfusi darah telah selesai dilakukan, Nadhira masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri. Dokter berkata bahwa Nadhira sedang keritis, mereka sudah berusaha semaksimal mungkin yang mereka bisa. Tetapi jiwa Nadhira menolak untuk berusaha tetap bertahan, semakin lama semakin lemah detak jantungnya.
"Semoga ada keajaiban, harapan terakhir kita hanyalah berdoa kepada-Nya". Ucap dokter kepada Rifki.
Setetes airmata mengalir, siapa yang menyangka bahwa Rifki juga mampu untuk menangis. Rifki duduk disamping dimana Nadhira terbaring dengan beberapa selang yang menancap ditubuhnya.
"Mengapa kau lakukan itu Nadhira? Bangunlah, ini semua salahku, seharusnya aku yang terbaring disini, bangunlah Nadhira, aku yakin kamu pasti kuat menghadapi ini semua, kamu wanita yang hebat, Nadhiraku pasti akan sembuh".
Terlihat sebuah kristal kecil keluar dari kelopak mata Nadhira yang indah, Nadhira dapat merasakan kesedihan yang sedang Rifki rasakan.
Dialam bawah sadarnya Nadhira berlarian untuk mengejar sosok yang ia lihat, Nadhira melihat bahwa itu adalah Lia. Cahaya putih bermunculan dan membimbing Nadhira untuk terus berlari. Sosok mamanya terus berjalan menjauhinya, meskipun Nadhira berteriak sosok tersebut tidak berhenti untuk terus melangkah.
Jarak keduanya terpisah cukup jauh, namun Nadhira masih bisa melihat sosok tersebut begitu nyata. Langkah demi langkah Nadhira mendekat kearah wanita yang ia kejar, wanita itu berhenti tepat diantara kegelapan.
"Mama, aku ingin bersama mama".
Wanita itu membalikkan badannya dan tersenyum tipis kepada Nadhira, Nadhira membalas senyuman tersebut dan ia berlari mendekat kearah wanita tersebut.
Wanita itu juga melangkah kearah dimana Nadhira berada, Nadhira langsung memeluk wanita itu dengan erat, begitu pun sebaliknya.
"Bagaimana kabarmu nak?". Tanya wanita itu.
"Seperti yang mama lihat, aku sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan mama, aku ingin ikut dengan mama".
"Apa kamu yakin mau ikut dengan mama? Lalu bagaimana dengan seseorang yang tengah menangis disampingmu?".
"Asalkan aku ikut dengan mama itu sudah cukup bagiku, papa sudah tidak memperdulikanku, untuk apa terus bertahan didunia ini ma, sudah tiada alasan untuk aku terus bertahan"
"Jika itu keputusanmu, ayo".
Keduanya bergandengan tangan untuk menelusuri jalan setapak yang mengarah kepusat cahaya yang sangat terang. Wanita itu memimpin Nadhira untuk terus melangkah maju, tiba tiba langkah kaki Nadhira berhenti, ia menatap kembali jalan yang telah ia lalui.
"Ada apa nak?"
__ADS_1
"Ma, aku merasa langkah ini cukup berat"
"Maka kembalilah nak, banyak orang yang mengharapkanmu untuk tetap hidup"
"Tapi ma, aku ingin bersama dengan mama"
Lia menarik kembali tangan Nadhira, keduanya terus melangkah mendekat setitik cahaya yang masih berada dikejauhan dari keduanya.
Rifki terus menggengan tangan Nadhira yang perlahan mulai mendingin, denyut nadi Nadhira semakin melemah, ia juga membacakan doa doa didekat telinga Nadhira. Disuatu tempat terdengar suara gemercik air yang mengalir, seseorang wanita dewasa dan dua orang gadis remaja tengah menggunakan mukenahnya sedang memanjatkan doa doanya, air mata mereka terus mengalir disetiap sujudnya.
"Ya Allah kembalikanlah Nadhira kepada kami, janganlah ambil dia dari kami, Hamba mohon selamatkanlah nyawa Nadhira kami, hilangkanlah semua rasa sakit yang ia rasakan, Hamba memohon kepada-Mu Ya Allah, hanya kepada Engkaulah hamba memohon pertolongan dan hanya kepada Engkaulah hamba berlindung. Wahai Zat yang maha segalanya, kabulkan doa hamba". Doa seorang wanita dewasa.
"Ya Allah selamatkanlah Nadhira kami, jangan Engkau ambil dia dari kami, hamba memohon kepada-Mu Ya Allah, Nadhira begitu berarti buat kami, hamba mohon jangan pisahkan kami secepat ini Ya Allah".
Didepan ruangan dimana Nadhira dirawat terdapat beberapa anak laki laki dan juga terdapat dua anak gadis. Anak laki laki itu tidak lain adalah Theo, Bayu, Reno, dan anak buah Rifki lainnya, sedangkan kedua gadis tersebut adalah Widya Dan Reta.
"Apakah Nadhira akan baik baik saja?". Widya tak bisa menghentikan airmatanya yang akan menetes.
"Aku juga tidak tau, tapi aku yakin Nadhira akan baik baik saja". Jawab Reta.
Reno bersandar didinding dan perlahan lahan mulai terjatuh dilantai, ini adalah kesalahannya terhadap apa yang terjadi saat ini. Setelah ia kembali kemarkas ia menunggu kedatangan Rifki begitu lama, tetapi Rifki belum juga datang. Keesokan harinya beberapa anak kembali kemarkas untuk menemui guru besar mereka, Reno bertanya kepada mereka tetapi jawaban mereka bagaikan petir disiang hari.
Reno segera bergegas untuk menyusul Rifki kerumah sakit, sesampainya disana ia menemukan bahwa keadaan Nadhira sedang kritis. Membuatnya seperti dihantui oleh rasa bersalah yang sangat mendalam.
Disatu sisi terdengar isak tangis yang mendalam, isak tangit itu mengandung kesedihan yang cukup kuat. Isak tangis itu berasal dari Rifki yang menunduk disamping Nadhira, ia berharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi dan ketika ia bangun semuanya akan baik baik saja. Ia teringat dimasa kecilnya bersama dengan Nadhira.
*****
Suatu hari yang cukup cerah, dibawah terik matahari yang menyengat, terdapat dua orang anak kecil yang berusia sekitar 6 tahunan sedang berlarian dihalaman nan luas.
"Aku lelah Dhira, apa kau tidak merasa lelah". Tanya seorang anak kecil
"Aku ingin menjadi kupu kupu, bisa terbang kemanapun yang aku mau, hinggap dibunga terbang kesana dan kemari tanpa lelah". Ucap sang gadis.
__ADS_1
"Mengapa kamu ingin jadi kupu kupu? Kau bahkan tidak punya sayap bagai bisa terbang?"
"Kau lihat itu?". Menunjuk kesebuah semak yang terdapat beberapa kupu kupu yang melintas. "Mereka begitu cantik, dan bisa terbang kemanapun yang mereka suka, seperti ini". Gadis itu membentangkan kedua tangannya dan menggerakkan keatas dan kebawah.
Ia berlari memutari laki laki itu, suara tawa mereka dapat terdengar dari kejauhan, gadis itu perlahan lahan mendekat kearah sang lelaki tanpa disadari oleh laki laki itu, gadis itu memukulnya dan berlari menghindar.
"Kau". Ucap laki laki yang marah karena sang wanita memukulnya.
"Haha.... Coba tangkap aku kalau bisa". Sang wanita menjulurkan lidahnya.
"Berhenti dhira, aku akan membalasmu lihat saja". Ia mulai mengejar gadis itu.
Keduanya terus bermain kejar kejaran dihalaman tersebut, canda tawa menyelimuti keduanya. Tiba tiba gadis itu terjatuh dan lututnya berdarah, ia menangis karena lukanya. Anak laki laki tersebut segera bergegas mendatanginya, dan membantunya untuk berdiri.
"Sudah ku bilang kan, jangan lari lari lagi, lihatlah lututmu sampai berdarah seperti ini".
"Sakit... Hiks... Hiks... Hiks..."
"Ayo aku antar pulang, biar segera diobati oleh mamamu, kalau tidak diobati nanti jadi infeksi".
"Ngak mau, aku takut". Teriak sang gadis.
"Jangan takut, biar tidak infeksi, kalau tidak mau diobati nanti bisa semakin parah dhira"
Gadis kecil itu terus saja menangis disepanjang jalan tanpa berhenti, sesampainya mereka dirumah, ibu dari gadis itu segera mengobati luka sang anak meskipun sang anak menangis begitu keras ketika obat itu bersentuhan dengan lukanya.
Rifki tertawa ketika mengingat hal itu, gadis kecil yang ia lihat diingatnya adalah Nadhira, orang yang tengah berbaring dengan lemas didepannya. Rifki mengusap keningnya dengan lembut, setetes demi setetes airmatanya yang jatuh mengenai tangan Nadhira.
"Kau tau? Saat itu kau menangis begitu kerasnya, tante Lia sampai harus menggendongmu dengan susah payah ia juga terus memarahiku karena kau terluka gara gara aku, aku sangat merasa bersalah karena aku berani menyakiti anak kesayangannya, tetapi saat ini siapa lagi yang akan memarahiku Nadhira? Kau begitu berarti bagiku, kami semua ada bersamamu Nadhira, aku yakin kau pasti bisa melewati ini semua, jangan tinggalkan kami Nadhira, bukalah matamu Dhira, kau ingin lihat aku tersenyumkan? Maka aku akan tersenyum ketika kau membuka mata".
Denyut jantung Nadhira perlahan lahan melambat, ia juga mengambil nafas dengan berat seperti ia tidak bisa bernafas dan akhirnya berhenti berdetak. Rifki tersadar bahwa Nadhira telah berhenti bernafas, pandangannya kosong menatap wajah Nadhira.
Rifki berteriak memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Nadhira, melihat dokter berlarian masuk kedalam ruangan dimana Nadhira berada membuat semua orang merasa terkejut dan saling berpandangan.
__ADS_1
Seorang wanita yang bersama dua orang gadis tiba tiba terjatuh berlutut dilantai, bagaikan sebuah cambuk yang diarahkan kepadanya ketika melihat dokter dan beberapa perawatan memasuki ruangan itu dengan tergesa gesa.