
Rifki bergegas meninggalkan Theo yang tengah mematung karena kejadian yang ia alami, Theo terus memikirkan apa yang telah Rifki ucapkan. Anak buahnya kini tengah membantu Theo untuk berdiri setelah kepergian Rifki dari tempat itu.
Theo sangat marah, ia tidak terima dengan kekalahannya kali ini. Ia terus memukuli anak buahnya, karena mereka sama sekali tidak membantunya untuk melawan Rifki.
"Maaf bos, kami merasa tidak bertenaga sama sekali saat itu, kami juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi". Ucap salah satu anak buah Theo.
"Diam!! Aku tidak butuh alasan kalian". Theo menendang perut anak buahnya tersebut.
Sementara itu Rifki tersenyum sambil melangkah menjauhi lapangan tersebut, Raka mengikutinya dari belakang dengan wajah yang nampak sangat puas. Raka hanya menghisap energi dari anak buah Theo saja, perkelahian antara Rifki dan Theo dilakukan dengan adil.
Rifki kembali pulang kerumahnya untuk belajar, karena besok ia melaksanakan Ujian Nasional untuk kelulusan dan ia harus mendapatkan nilai terbaik agar bisa diterima diSMA favoritnya. Nadhira juga membaca buku yang diberikan oleh Rifki dengan teliti, dan terus mengulang apa yang dipelajari.
Hari ini mereka semua sibuk untuk menghadapi Ujian Nasional yang akan datang, agar dapat masuk kesekolah yang mereka impikan. Nadhira terus belajar dan belajar meskipun ia berada dirumah sakit, sementara bi Ira menyuapinya makan agar Nadhira memiliki energi untuk belajar dan memahami.
Sementara dirumah Nadhira, kedua orang tuanya sedang menonton acara tv kesukaan mereka. Sementara Amanda bermain hp dengan ditutupi oleh buku yang tebal, seakan akan terlihat bahwa ia sedang serius dalam belajar dikamarnya.
Waktu berjalan dengan cepatnya, pagi mulai menjelang dan matahari mulai meninggi. Dikelasnya Amanda sedang membaca soal soal ujian yang ada ditangannya, beberapa kali ia menoleh kearah temannya untuk mendapatkan jawaban dari temannya.
"Syuttt... Nomer lima apa?". Bisik Amanda kepada teman yang paling dekat dengannya.
"Ngak tau, belum ku baca". Jawab temannya dan juga berbisik.
Amanda sangat gelisah karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud dalam soal tersebut, kemarin ia hanya menonton vidio dan berbalas pesan dengan temannya. Ini hari pertama ia mengerjakan ujian dengan tidak tenang karena belum mendapatkan kunci jawaban dari temannya.
Jarum jam terus berputar dan kertas jawaban milik Amanda hanya terisi beberapa nomer saja, ia menoleh kekiri dan kekanan mencari jawaban dari temannya. Ketika waktu hampir habis, Amanda mengintip jawaban dari temannya dan segera menyalinnya dengan cepat.
"Akhirnya selesai juga". Ucapnya.
Amanda segera mengumpulkan kertas Ujiannya dan bergegas untuk keluar dari kelas, tak berapa lama kemudian teman temannya ikut menyusul keluar. Teman temannya saling berbincang bincang menenai kesulitan mereka dalam mengerjakan soal soal ujian.
"Iya susah banget, apalagi soalnya diacak".
"Bener, soal ku yang nomer 10 sama kayak Vera tapi dia bukan dinomer 10 melainkan dinomer 30".
__ADS_1
Amanda terdiam beberapa saat ketika mendengarkan teman temannya bercerita tentang kesulitan dalam soal tersebut, ia mulai mencerna apa yang dibicarakan oleh temannya. Jika memang soal itu diacak itu artinya jawabannya salah semua, Amanda mengigit jarinya sendiri mendengar ucapan mereka.
"Kamu kenapa Manda?". Tanya seorang anak yang berada didekatnya.
"Ngak papa". Jawab Amanda dengan ketakutan.
"Kamu ngak lihat jawabanku kan? Mereka bilang soalnya diacak".
"Ngak kok, aku mau kekamar mandi dulu".
Amanda terburu buru pergi menjauh dari teman temannya, ia takut kalau ia mendapatkan nilai yang jelek tetapi ia tidak mau berusaha untuk belajar, menurutnya belajar adalah hal yang membosankan.
Sementara Rifki dan lainnya sedang mengerjakan ujian dengan tenang, sesekali mereka kebingungan untuk mengerjakannya tetapi mereka terus berusaha untuk memecahkan kebingungannya.
*****
Pagi ini Nadhira bangun lebih awal dari biasanya, ia meminta bantuan bi Ira untuk memapahnya menuju kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai membersihkan dirinya, bi Ira membantu menyuapinya sedangkan dikedua tangannya Nadhira memegang sebuah buku yang cukup tebal.
"Pagi Nadhira?". Ucap guru laki laki.
"Pagi juga pak, bu". Sapa Nadhira.
"Bagaimana kabarnya?". Tanya guru perempuan.
"Alhamdulillah baik bu, hanya kadang kontraksi jadi harus dirawat dulu untuk sementara waktu". Jawab Nadhira.
"Semoga cepat sembuh ya nak, masih kuat untuk memegang pengsil?". Tanya guru laki laki.
"Aamiin,,, Alhamdulillah masih kok pak, memegang pisau juga masih kuat pak, hehe". Nadhira meringis menjawab pertanyaan gurunya.
Kedua gurunya menjelaskan peraturan yang harus dilakukan oleh Nadhira ketika mengerjakan ujian, Nadhira mengangguk mengiyakan bahwa ia sudah mengerti. Nadhira mengerjakannya dengan teliti dan berkali kali mengulang bacaan tersebut sehingga menurutnya bisa memilih jawaban yang sesuai dari pertanyaan tersebut.
Beberapa jam kemudian akhirnya Nadhira selesai mengerjakannya dengan jujur, ia menyerahkan kertas ujiannya itu kepada guru yang sedang menjaganya.
__ADS_1
"Nadhira kamu memang hebat, ibu bangga memiliki murid sepertimu dan Rifki, berkat kalian para orang tua yang anaknya diculik sangat bahagia, ibu lihat banyak yang ingin bertemu denganmu diluar, tetapi dihadang oleh para satpam". Ucap guru perempuan kepada Nadhira.
Nadhira menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung harus menjawab apa, ia benar benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh gurunya tersebut. Ia menoleh kearah ibu angkatnya untuk meminta penjelasan darinya, justru ibu angkatnya malah menaikkan pundaknya dan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Ibu terlalu menuju, Nadhira jadi malu". Ucap Nadhira sambil tersenyum canggung.
Keduanya mengusap kepala Nadhira dengan lembut dan berpamitan untuk pulang, sebelum pulang mereka mengatakan kepada Nadhira bahwa mereka akan datang setiap hari sampai Ujian Nasional selesai dilaksanakan oleh Nadhira.
Selepas kepergian kedua gurunya, Nadhira bertanya kepada ibu angkatnya mengenai orang orang yang dimaksud oleh kedua gurunya tersebut, mengapa ia tidak mengetahui hal ini sama sekali.
Bi Ira menjelaskan bahwa Rifki menggerakkan kedua anak buahnya untuk menjaganya didepan ruangan secara bergantian, tidak membiarkan orang lain masuk kecuali itu adalah teman dan kerabat dekat Nadhira. Mereka hanya diizinkan masuk maksimal 3 orang, agar tidak menggangu Nadhira untuk istirahat.
Jika mereka tidak ada hubungannya dengan Nadhira maka mereka tidak diizinkan untuk masuk, jika mereka memaksa maka petugas keamanan akan bergerak karena mengganggu pasien yang lainnya.
"Harus bagaimana lagi, ibu juga tidak bisa berbuat apa apa". Lanjut bi Ira setelah menjelaskan apa yang terjadi kepada Nadhira.
Nadhira menghela nafas panjang ketika mendengar penjelasan dari ibu angkatnya, Nadhira meminta kepada ibu angkatnya untuk menyuruh kedua anak buah Rifki masuk kedalam ruangannya. Keduanya segera masuk kedalam untuk menemui Nadhira, mereka merasa heran karena tiba tiba dimintai untuk masuk.
"Kamu!". Ujar Nadhira ketika melihat Reno dan satu temannya lagi masuk.
"Ada apa memanggil kami?". Tanya Reno dengan penasaran.
"Apakah diluar banyak orang yang ingin bertemu denganku? Kenapa tidak diizinkan untuk masuk?". Tanya Nadhira dengan to the points.
"Maafkan kami, kami hanya menjalankan perintah dari atasan, kami tidak ingin ada yang menggangu kenyamanan anda". Jawab Vano yang ada disebelah Reno.
"Tolong izinkan mereka masuk, tidak perlu begitu sopan seperti itu, bukankah dulu Rifki sudah mengatakan hal itu? Biarkan mereka masuk". Ucap Nadhira dengan tegas kepada keduanya.
"Memang bos telah memperlakukan kami seperti saudara, bagi kami tanpa adanya dia, kami hanyalah seorang gelandang dijalan, maaf sebelumnya kami tidak berhak untuk membiarkan mereka masuk". Jawab Vano.
"Biarkan mereka masuk atau ku panggilkan Rifki untuk segera datang karena kalian mengangguku, jika kalian ingin menjagaku maka tinggal awasi saja dari dalam apa susahnya sih". Ancam Nadhira.
Keduanya saling bertatapan satu sama lain, untuk bertukar jawaban. Akhirnya mereka mengiyakan permintaan Nadhira untuk mengizinkan para orang tua itu masuk menemuinya, dan mereka menjaga didalam.
__ADS_1