
Nadhira berhasil merebut kembali tubuhnya dari roh itu, ia memegangi dadanya yang terasa begitu sakit, aimatanya mengalir tubuhnya bergetar hebat. Ia memandangi kedua tangannya, terakhir kali ia ingat adalah seorang pria tua yang terbaring lemah dilantai.
"Apa yang telah aku lakukan, hiks hiks... ".
Nadhira melepaskan penutup wajahnya dan ia menangis sambil berlutut ditepi jalan, bukan karena ia merasa takut dihukum oleh pihak berwajib, tetapi karena penyebab kematian orang itu adalah dirinya yang telah dikendalikan oleh roh lain.
Sebenarnya setelah membunuh pria paruh baya tersebut, waktu Nimas untuk menguasai Nadhira telah habis, sehingga ia buru buru keluar dari rumah tersebut, ia tidak ingin jika Nadhira melakukan tindakan yang membuatnya kehilangan tubuh Nadhira.
Nadhira berdiri dan berjalan sempoyongan kearah rumahnya, ketika jarak antara dirinya dan rumahannya hanya berkisar 10 meter, tiba tiba hujan turun begitu lebatnya membasahi tubuh Nadhira, Nadhira mengenggam kedua tangannya dan meletakkannya didepan mulutnya.
"Bahkan langit pun ikut menangis karenaku".
Nadhira berjalan diderasnya air hujan, tiada seorang pun tau bahwa dia sedang menangis. Nadhira membentangkan kedua tangannya dan membiarkan air itu membasahi seluruh tubuhnya, ia menghadap kelangit dan memejamkan kedua matanya.
Hujan masih lebat tetapi ia tidak merasakan air hujan itu jatuh mengenai tubuhnya, ia membuka matanya dan menatap keatas dan menemukan sebuah payung telah berada diatasnya, ia segera menoleh kepada seseorang yang mengarahkan payung tersebut kepadanya.
Pandangan keduanya bertemu, Nadhira menatap kedua mata pemuda yang ada dihadapannya, begitupun sebaliknya, Nadhira termundur beberapa langkah sementara pemuda itu maju beberapa langkah.
"Apa yang kamu lakukan disini?". Tanya Nadhira sambil mengalihkan pandangannya.
"Aku hanya lewat, tidak sengaja menemukanmu sedang hujan hujanan". Jawab pemuda itu.
"Kalau begitu pergilah aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, orang yang tidak bisa menghargai manusia lain tidak berhak untuk dihargai balik".
Nadhira melangkah menjauh dari pemuda tersebut, dan bergegas untuk masuk kedalam rumahnya, ketika ia sampai di gerbang rumahnya ia berhenti karena ucapan pemuda tersebut.
"Nadhira!! Aku mencintaimu, tolong jangan menyuruhku pergi dari hidupmu".
Nadhira tidak mempedulikan hal ini, ia segera melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam rumahnya, dan mengunci kembali gerbang yang telah ia buka, karena suasana sudah larut malam jadi rumahnya sudah dikunci.
Nadhira memutuskan untuk masuk kedalam rumahnya melalui cendela kamarnya, ia berusaha untuk bisa membuka cendelanya. Dan kebetulan daat itu ia belum menguncinya, Nadhira segera melompat masuk dan bergegas menuju kamar mandi yang ada dikamarnya untuk mengganti pakaian yang ia kenakan karena sudah basah karena air hujan.
Setelah selesai ia mandi, ia mengambil sebuah kain yang tidak terpakai untuk mengelap lantai yang basah karenanya, setelahnya ia membaringkan tubuhnya, ia mengingat kembali perkataan pemuda yang menemuinya yang tidak lain adalah Theo.
Baru pertama kali ia mendengar seseorang yang mengungkapkan perasaannya secara langsung kepadanya, ia tertawa mengingat hal itu, bagaimana bisa seseorang mengatakan lah terbodoh seperti itu kepadanya.
Nadhira memandang jam yang ada dikamarnya, dan menunjukkan pukul 12 malam, ia berfikir apa yang dilakukan Theo didepan rumahnya dijam seperti ini, Nadhira menidurkan tubuhnya dikasurnya, tak lama kemudian ia tertidur begitu lelapnya karena tubuhnya terasa sangat lelah.
__ADS_1
*****
"Seorang pasangan suami istri paruh baya meninggal dunia segara bersamaan diwaktu yang sama, belum diketahui penyebabnya mereka meninggal begitu tragis, pihak kepolisian tidak menemukan jejak yang mencurigakan, diduga penyebabnya adalah mahluk yang tak kasat mata, karena tidak ditemukan jejak sidik jari dikejauhan tersebut, keduanya meninggal secara tidak wajar".
Ketika Nadhira makan diruang makan, ia mendengar berita ditv yang mengatakan bahwa pasangan suami istri itu meninggal begitu tragis, sehingga membuatnya menjatuhkan sendok yang ada ditangannya.
"Ada apa Nadhira?". Tanya Sena.
Sena berusaha untuk mengubah sikapnya didepan Nadhira, karena ia tidak bisa membedakan Nadhira yang asli dengan Nadhira yang dikendalikan oleh roh jahat itu, ia sangat takut jikalau roh itu juga menginginkan nyawanya.
"Aku ngak lapar".
Nadhira bergegas kekamarnya, hari ini adalah hari pertamanya sekolah disekolah barunya, setelah lama ia masuk kedalam kamarnya, ia kembali keluar sambil menjinjing tas dibahunya, Nadhira telah siap pergi kesekolah.
Ketika sampailah ia digerbang rumahnya, ia begitu terkejut melihat seseorang telah siap didepan rumahnya dengan pakaian yang sama seperti yang ia kenakan.
"Pagi Nadhira". Sapa seseorang itu karena melihat Nadhira berjalan mendekatinya.
"Kamu kok disini?".
"Karena kita satu sekolah lagi dan jaraknya lumayan jauh, mulai sekarang aku yang akan mengantarmu pulang dan pergi kesekolah". Ucap pemuda itu sambil membungkuk dihadapan Nadhira.
"Siap tuan putri".
Nadhira segera menaiki motor Rifki, Rifki melajukan motornya dengan perlahan lahan, sambil menikmati pemandangan fikirnya. Ditengah tengah perjalanan Rifki bercerita tentang pembunuhan yang terjadi diperumahan sebelah, sedangkan Nadhira hanya diam mendengarkannya.
"kemarin malam aku sempat ketempat itu setelah diberi tahu oleh Reno tentang kejadian yang terjadi kepada pasangan suami istri tersebut, sampainya disana sudah banyak warga yang berkumpul dan beberapa polisi yang sedang menyelidikinya, tetapi mereka tidak menemukan bekas apapun disana".
Berita itu telah menyebar disemua sosial media dan juga seluruh warga diperumahan tersebut maupun warga yang berada diluar perumahan tersebut, kematian keduanya sungguh diluar hal kewajaran, dileher mayat perempuan terdapat luka bakar yang cukup parah, sedangkan mayat lelaki tubuhnya kaku beserta darah yang terus bercucuran, golok yang menancap ditubuhnya tidak memiliki jejak sidik jari orang lain selain pria paruh baya tersebut.
"Menurutmu bagaimana itu bisa terjadi?". Tanya Rifki.
"Aku ngak tau".
"Hal itu terjadi karena ada hubungannya dengan alam gaib, aku merasa kasihan dengan sepasang suami istri itu, entah kesalahan apa yang telah ia lakukan sehingga nasibnya begitu tragis seperti itu".
Nadhira merasa bersalah karena dirinyalah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tersebut secara tidak langsung, keduanya mati ditangannya dengan begitu tragis, Nadhira terdiam cukup lama membuat Rifki menjadi penasaran.
__ADS_1
Hal yang barusaja Rifki ceritakan membuat hati Nadhira merasa begitu sakit, sebenarnya ia mengetahui apa yang terjadi dirumah tersebut, tetapi ia tidak tau apa yang harus ia jelaskan karena ia tidak mengetahui bagaimana detailnya secara lengkap, yang ia tau adalah ketika ia berada didepan jenazah lelaki tua tersebut.
"Oh iya Dhira, jangan kebanyakan keluar malam ya, biasanya hantu hantu banyak berkeliaran diluar".
Nadhira mengangguki ucapan Rifki yang memperingatkan kepada Nadhira untuk tidak keluar malam, jika harus terpaksa keluar malam maka ia harus meminta kepada seseorang untuk menemaninya keluar jika tidak ada orang maka Rifki meminta Nadhira untuk menghubunginya, Rifki tidak ingin Nadhira kluar malam sendirian.
"Rif aku boleh tanya sesuatu?".
"Emhh??? Ada apa Dhira?".
"Apakah mahluk gaib juga menginginkan tubuh manusia untuk dikendalikan?".
"Kebanyakan begitu Nadhira, jika itu terjadi kapada manusia, mahluk gaib itu susah untuk dipisahkan dari manusia yang menurutnya nyaman untuk dikendalikan, bahkan ada orang yang sulit untuk meninggal karena selalu diikuti oleh mahluk gaib.... "
Orang yang memiliki ilmu gaib karena membuat persembahan untuk mahluk gaib sehingga ia mempunyai kekuatan dari mahluk gaib, orang seperti itu biasanya akan sulit untuk meninggal, atau bisa jadi tersiksa seumur hidupnya.
Kebanyakan orang didunia ini selalu mengandalkan alam gaib untuk kepentingan sendiri, bisa jadi untuk memperlancar usahanya, untuk memikat orang yang dicintainya, ataupun bahkan membunuh orang yang dibencinya dengan menggunakan ilmu santet dan sebagainya.
Bukan hal mudah untuk bisa menggunakan ilmu gaib seperti yang dilihat, mereka yang menggunakan ilmu gaib memiliki sebuah pantangan tersendiri, apabila pantangan itu dilanggar maka orang tersebut akan menanggung semua resiko karena perjanjiannya kepada sang mahluk tersebut.
Bukan hanya itu saja, orang yang memiliki perjanjian dengan mahluk gaib biasanya selalu diikuti kemanapun ia berada, kalau orang tersebut menggunakan ilmu santet biasanya akan memiliki resiko yang besar jika orang yang disantet mampu membalikkan santet tersebut maka orang yang memberikannya bisa jadi menjadi sasaran utamanya, karena kegagalan dalam hal itu.
Rifki menjelaskan kepada Nadhira tentang apa yang ia ketahui selama ini, bukan hanya dari sumber buku tetapi juga dengan interaksinya dengan beberapa mahluk gaib yang ia temui.
"Apa yang terjadi kepada orang yang telah dikirimi santet?". Tanya Nadhira.
"Tergantung bagaimana keinginan orang yang mengirimkannya, oh iya jangan pernah sekali kali melakukan hal itu, bukan hanya akan menderita didunia, tetapi mereka yang melakukan itu akan menderita diakhirat, mereka akan dimintai pertanggungjawaban diakhirat atas apa yang ia lakukan didunia".
"Baik Rif aku akan mengingatnya".
"Kita harus meyakinkan bahwa memang benar adanya alam gaib itu Dhira, tetapi kita tidak boleh takut apalagi berbuat musrik, Allah sangat membenci orang orang yang berbuat musrik ataupun meminta bantuan kepada dukun untuk hal hal seperti itu".
"Lalu apakah ada cara untuk bisa menjauhkan diri dari mahluk gaib bila ia diikuti oleh mahluk gaib?".
"Ada!! Dengan cara mendekatkan diri kepada sang pencipta, tetapi soal permata iblis aku tidak tau bagaimana caranya untuk mengatasi hal itu".
Rifki merasa yakin bahwa permata itu berada didalam tubuh Nadhira meskipun permata itu diselimuti oleh energi lain, tetapi ia mampu merasakan keberadaan permata tersebut. Dari pertanyaan yang diajukan oleh Nadhira mengenai alam gaib, membuat Rifki semakin yakin bahwa Nadhira sudah mengetahui mengenai permata tersebut.
__ADS_1
"Jika memang benar permata itu ada didalam tubuhmu, maka aku harus berusaha untuk bisa mengeluarkannya sebelum semuanya terlambat karena permata itu begitu kuat dan bahkan aku sendiri tidak bisa menahan energi yang dipancarkan oleh permata tersebut". Batin Rifki.
Mereka terus melanjutkan perjalanannya sampai keduanya tiba disebuah gedung yang cukup besar terdiri dari 3 lantai, gedung tersebut adalah sebuah sekolah untuk keduanya melanjutkan pendidikannya.