Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Tatap menatap


__ADS_3

Rifki menjitak kepala Nadhira dengan pelannya, Rifki tidak pernah melakukan hal itu kepadanya selama ini, sehingga membuat Nadhira begitu merasa terkejut akan hal itu, Nadhira pun mendengus kesal atas tindakan yang Rifki lakukan kepadanya dan mengusap kepalanya dengan pelannya.


"Emang kau pikir aku tidak mengetahui apa yang terjadi disini Dhir?".


Rifki memancing kejujuran Nadhira dengan kata katanya, ia ingin mendengar alasan apa yang membuat Nadhira menyembunyikan hal tersebut dari dirinya dengan begitu eratnya.


"Apa yang kau ketahui?".


"Hubunganmu dengan siswa kelas lain".


Rifki tersenyum dengan menyeramkan, seakan akan ia telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan telah memakan mangsanya dengan lahapnya, Nadhira yang melihat itu hanya bisa menduga duga tentang apa yang telah diketahui olehnya Rifki.


"Tidak tidak, itu tidak seperti yang kau pikirkan Rif". Nadhira terburu buru untuk menjawabnya, ia tidak ingin adanya salah paham diantara keduanya.


"Lalu?".


"Maaf".


Nadhira menceritakan bagaimana keadaan disekolahan tanpa kehadiran Rifki saat itu betapa banyaknya seseorang yang menatap Nadhira dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, disaat seperti itu ada salah satu siswa kelas lain mendatangi Nadhira dan menggodanya sehingga Nadhira hampir saja lepas kendali akan dirinya sendiri dan iblis itu akan berhasil menguasainya lagi.


Nadhira dapat merasakan bahwa iblis itu terus memberontak dan terus melawan energi yang ada ditubuh Nadhira sehingga membuat jantung Nadhira terasa sedikit nyeri yang menembus kedadanya, tetapi Nadhira masih bisa menahannya.


Untung saja ada Rahma dan Fajar yang menolong Nadhira dalam situasi seperti itu, sehingga membuat Adam hanya mengalami luka kecil saja tanpa perlu dibawa kerumah sakit karena pukulan yang Nadhira lontarkan.


Rifki mendengarkan hal itu secara seksama sambil mengangguk angguk mengerti akan cerita yang Nadhira ceritakan tersebut, sesekali Rifki tersenyum mendengar kejujuran dari Nadhira tanpa ada sedikitpun yang Nadhira sembunyikan darinya.


"Oh jadi seperti itu".


"Kamu ngak marah kan Rif?".


"Tidak, sudah ku bereskan semuanya, kamu ngak perlu khawatir dengan kemarahanku".


Mendengar kata dibereskan dari mulut Rifki membuat Nadhira seakan akan berhenti bernafas, Nadhira begitu terkejut dengan apa yang sudah dibereskan oleh Rifki.


Nadhira melirik kearah Fajar yang tengah duduk jauh dari mereka berdua, Nadhira menduga bahwa Fajar lah yang telah mengatakan hal itu kepada Rifki sebelumnya sehingga Rifki mengetahui apa yang terjadi dan membuat pelajaran untuk Adam.


"Maksudmu apa? Apa yang kau bereskan?".


"Apalagi, ya jelaslah orang yang berani menggodamu, beraninya dia bersikap kurang ajar dengan seorang wanita, lihat saja kalo dia sampai berani melakukan hal itu lagi".


"Kenapa kau harus memakai kekerasan? Dia bukan lawanmu Rif, bagaimana kalo sampai dia terluka parah dan kau akan ikut terseret dalam kasus itu?".


"Tenang saja Dhir, yang melakukan itu bukan aku, tetapi anak buahku".


Sebenarnya Rifki sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi disekolah itu tanpa kehadirannya melalui mata mata rahasia yang ia suruh untuk mengawasi setiap gerakan Nadhira, mata mata itu melaporkan kepada Rifki mengenai seorang pemuda yang beraninya menggoda dan memaksa Nadhira, mata mata tersebut tidak diizinkan untuk mendekat kearah Nadhira sehingga Nadhira tidak mengetahui keberadaannya.


Rifki yang mengetahui itu dari anak buahnya, ia segera memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi laki laki itu dan melaporkan ciri cirinya kepada Rifki, setelah itu Rifki memerintahkan Vano dan beberapa anak buahnya untuk menghadang pemuda itu ketika pulang sekolah.


Vano segera melaksanakan perintah itu, ia membawa beberapa anak buah Rifki berjaga diarea luar sekolah, setelah pemuda itu keluar Reno segera menyuruh anggotanya untuk mengikutinya sampai digang yang sepi.


Rifki hanya menghawatirkan Nadhira ketika Nadhira lepas kendali karena emosinya, sehingga Rifki sendirilah yang menjemput Nadhira ketika pulang sekolah.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan keadaannya? Kenapa kamu main keroyokan?". Tanya Nadhira.


"Dia baik baik saja kok, anak buahku cuma memberi peringatan saja kepadanya, aku sangat tidak suka melihat seorang lelaki memiliki sikap seperti itu, meskipun aku sendiri lelaki, kalo dia berani melakukannya lagi mungkin aku sendiri yang akan maju".


Nadhira hanya bisa menggapainya dengan tersenyum canggung, ia tidak tau harus berkata apa lagi tentang sikap yang diambil oleh Rifki, ia juga merasa khawatir dengan keadaan pemuda itu karena telah berhadapan dengan anak buah Rifki, meskipun Rifki telah mengatakan bahwa pemuda itu baik baik saja, tetapi Nadhira berpikir setidaknya dia akan mempunyai luka di sekujur tubuhnya.


*****


Jam istirahat pun tiba, Nadhira dan teman temannya segera menuju kekantin untuk mengisi perut mereka, disepanjang perjalanan menuju ke kantin banyak siswa yang menatap kearah mereka dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.


Rifki segera duduk dikursi yang disediakan dikantin tersebut bersama dengan Fajar sambil membaca buku yang ia bawa, sementara Nadhira, Rahma dan Raihan segera memesan makanan untuk mereka, setelah itu mereka ikut bergabung dengan Rifki dan Fajar.


"Kenapa pandangan mereka begitu aneh". Guman Raihan yang baru pertama kali bergabung dengan Nadhira dan lainnya.


"Kenapa lagi kalo bukan karena Rifki". Ucap Fajar dengan malasnya sambil menoleh kearah Rifki berada.


"Kenapa jadi aku? Aku aja baru masuk kesekolah, kenapa ngak kamu tanya ke Nadhira aja". Bantah Rifki.


"Aku malah ngak tau apa apa". Ucap Nadhira dengan santainya.


"Hah!!! Bagaimana mungkin". Teriak Rahma yang spontan karena rasa terkejutnya ketika mendengar ucapan Nadhira.


Justru ucapan itu membuat semua temannya menoleh kearahnya sambil menggelengkan kepalanya mereka mendengar ucapan Nadhira, bagaimana Nadhira tidak mengetahuinya sedangkan dirinya yang dengan beraninya memukuli siswa kelas lain.


Tatapan dari mereka membuat Nadhira menjadi salah tingkah karenanya, dan sampai akhirnya pesanan mereka datang, mereka memakannya dengan lahapnya.


Setelah selesai makan mereka tidak langsung kembali kekelasnya melainkan melanjutkan pembicaraan mereka, sementara Rifki tetap fokus pada bukunya ia membacanya dengan teliti mengenai ilmu bisnis dan sebagainya untuk bisa menjadi pemimpin perusahaan yang baik.


Melihat Rifki yang begitu fokusnya dengan buku yang ada ditangannya membuat beberapa siswa yang ada ditempat itu merasa begitu kagum dengan Rifki, sementara siswa yang lainnya memilih untuk tidak berisik dan menganggu konsentrasi Rifki.


"Sebenarnya lebih galakan siapa? Rifki atau Nadhira?". Tanya Rahma yang tiba tiba.


"Nadhira!!". Jawab Rifki dan Fajar bersamaan.


"Rifki!!". Jawab Nadhira.


"Aku ngak tau!!". Ucap Reihan dengan pelannya.


"Kenapa kalian berdua bisa mengatakan bahwa Nadhira lebih galak?". Tanya Rahma kepada Rifki dan Fajar.


Mendengar pertanyaan itu membuat Fajar berpikir keras untuk mendapatkan kata kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Rahma, sementara Rifki hanya diam membisu sambil terus membaca buku yang ada ditangannya.


"Iya karena Rifki sama sekali tidak berani melawan Nadhira". Fajar melirik kearah Rifki yang tengah membaca buku.


"Tidak!! Tidak seperti itu, Rifki itu memang benar benar galak, tetapi ia tidak berani melawan seorang wanita". Bela Nadhira.


Rifki mengalihkan pandangannya dari buku kewajah Nadhira hanya sesaat dengan lirikan yang mengintimidasi seseorang, setelah itu kembali fokus kepada bukunya, hal itu membuat Nadhira tertawa dengan lepasnya, melihat Nadhira tertawa membuat Rahma ikut tersenyum karena hal itu.


Tawa itu berhasil membuat perhatian seluruh orang terarah kepada mereka, tetapi tatapan dari Rifki yang tiba tiba membuat semuanya mengalihkan pandangannya.


Dikejauhan dapat telihat Adam yang tengah duduk dengan beberapa anak sambil memakan cemilan yang ia beli dan menatap kearah Rifki dengan tatapan yang begitu tajam, seakan akan ia tidak terima jika harus kalah dengan adik kelasnya sendiri, padahal selama ini dirinyalah yang paling ditakuti oleh seluruh penghuni sekolahan, tetapi sejak kehadiran kedua orang itu membuag reputasinya hancur.

__ADS_1


Karena insting Rifki yang begitu kuat sehingga ia dapat merasakan tatapan yang tengah diarahkan kepadanya itu dan membuat Rifki menatap balik kearah Adam dengan tatapan yang jauh lebih tajam membuat Adam sampai harus mengalihkan pandangannya dari Rifki dengan cepatnya karena ia tidak ingin dikalahkan lagi dihadapan semua orang.


Nadhira yang memperhatikan pergerakan dari Rifki segera menoleh kearah dimana Rifki menoleh saat ini, dan menemukan sosok pemuda yang pernah berhadapan dengan Nadhira kemarin, pemuda itu adalah Adam, yang sekarang tengah menutupi wajahnya dengan salah satu tangannya agar mereka tidak dapat melihat wajahnya yang tengah terlihat begitu kesal kepada Rifki dan teman temannya.


Meskipun sudah ditutupi olehnya tetapi Nadhira masih mampu mengenalinya dengan jelas karena mereka sempat bertemu dan berhadapan disaat Rifki tidak masuk sekolah, hal itu membuat Nadhira begitu mengenalinya.


"Kenapa dia?". Tanya Nadhira tiba tiba.


"Ngak tau". Jawab Rifki singkat dan melanjutkan membacanya.


Nadhira menatap kearah Adam begitu lama sehingga membuat Rifki harus menggerakkan tangannya untuk menolehkan wajah Nadhira menjauh dari wajah Adam yang bersampingan dengan mereka, hal yang dilakukan oleh Rifki seketika membuat Nadhira merasa kesal karena tindakannya.


"Eih... Bukankah dia kakak kelas yang sok berkuasa itu ya? Yang pernah mengeroyokmu?". Tanya Reihan kepada Rifki ketika mengetahui pergerakan dari Rifki dan Nadhira. "Tapi kenapa dia seperti ketakutan seperti itu?".


"Ya kenapa lagi kalo bukan karena ada seseorang yang jauh lebih berbahaya daripada harimau yang sekarang ada disampingmu". Ucap Fajar yang mendengarkan percakapan itu sambil menunjuk kearah Rifki.


Mendengar ucapan Fajar membuat Rifki melirik sekilas kearahnya dan tak beberapa lama kemudian Rifki kembali fokus kepada buku yang ia baca saat ini, seakan akan ia tidak terganggu dengan ucapan mereka tersebut. Rifki sama sekali tidak mempedulikan dengan apa yang mereka bicarakan saat ini, yang ia pedulikan adalah menyerap materi dari buku tersebut agar dia tidak kewalahan untuk menjadi pemimpin perusahaan.


Reihan yang mengerti apa yang dimaksud oleh Fajar segera mengangguk menanggapi ucapan tersebut, selama ini Fajarlah yang paling dekat dengan Rifki disekolahan itu sehingga Reihan segera paham akan maksudnya.


"Memang benar apa yang dikatakan oleh orang orang, bahwa yang pendiam itu jauh lebih menakutkan dan lebih sadis daripada orang yang terlalu banyak bicara". Guman Reihan.


"Hahaha.... Tapi sesadis sadisnya Rifki, ia tidak akan pernah memakan temannya sendiri, bukan begitu Rif?". Tawa Fajar mengenai ucapan Reihan.


Rifki sama sekali tidak mempedulikan ucapan mereka mengenai dirinya, ia lebih memilih untuk fokus belajar dan belajar bagaimana caranya untuk menjadi pemimpin yang baik di perusahaannya kedepannya, Rifki harus terus mempelajarinya karena ia tidak ingin menyia nyiakan perjuangan kakeknya.


Rifki tidak menghafalkannya melainkan memahaminya, memahami maksud dan tujuan sebuah perusahaan dan bagaimana caranya untuk mengembangkan dengan baik sehingga dapat menjadi perusahaan yang besar dan maju.


"Memang benar apa yang dikatakan mereka, kau lebih berbahaya daripada harimau yang kelaparan". Ucap Raka mengiyakan apa yang dikatakan oleh teman teman Rifki, tetapi hanya Rifkilah yang bisa mendengarnya.


Rifki menganggap ucapan Raka hanya sebagai angin lalu saja, yang tidak perlu dihiraukan dan ditanggapi karena akan membuat dirinya seakan akan berbicara sendirian disaat seperti itu.


Melihat Rifki yang begitu fokusnya kepada buku yang ada ditangannya membuat Nadhira mengintip apa yang dibaca oleh Rifki, Rifki tersadar akan hal itu dan segera menutup buku itu secara perlahan lahan, Nadhira yang tanpa sadar terjatuh menatap tubuh Rifki yang ada disampingnya.


"Ih... Resek banget sih". Keluh Nadhira.


Nadhira segera bangkit dari tubuh Rifki dan mengusap kepalanya yang sakit akibat menabrak lengan Rifki, Rifki menutup bukunya dan menaruhnya diatas meja yang ada dihadapannya dan segera menoleh kearah dimana Nadhira berada.


Fajar, Reihan, dan Rahma yang melihat itu hanya bisa berdiam diri menyaksikan tingkah Nadhira dan Rifki, meskipun hal itu bukan pertama kali mereka melihat Nadhira yang terus membuat Rifki terganggu tetapi Rifki masih tetap tidak marah, tetapi mereka belum terbiasa akan hal itu.


"Kenapa?". Tanya Rifki.


"Kamu sih terlalu fokus dengan bukumu". Ucap Nadhira dengan cemberutnya.


"Maaf, ya sudah nanti saja pulang sekolah aku lanjut bacanya lagi, sekarang fokus dengan Nadhira aja".


"Ngak gitu juga kali".


"Ya sudah ayo kembali kekelas, bentar lagi jam istirahat sudah selesai". Ajak Rifki.


Mereka semua mengangguk kepada Rifki, memang benar yang dikatakan oleh Rifki bahwa sebentar lagi jam istirahat sudah selesai, tanpa melihat kearah jam Rifki sudah dapat menebaknya melalui posisi dimana matahari berada saat ini.

__ADS_1


Mereka segera berdiri dari duduknya dan bergegas menuju ke kelasnya, melihat rombongan Rifki yang mulai bergerak pergi dari tempat itu membuat Adam menghela nafas lega karenanya, entah apa yang dilakukan oleh anak buah Rifki sehingga membuat Adam seakan akan tidak memiliki harga diri didepan Rifki.


__ADS_2