Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kembali


__ADS_3

Mendengar anaknya berteriak Nek Ani segera bergegas mendatanginya dikamarnya, ia menemukan anaknya terduduk dilantai dan membenamkan wajahnya di lipatan kedua tangannya.


"Ada apa nak?". Tanya Nek Ani.


"Seseorang telah hilang dalam hatiku ibu, hatiku terasa begitu sepi, dalam bayangan ku seorang anak kecil menangis tiba tiba anak itu hilang dalam sekejap, hilang untuk selamanya, bayangan itu selalu menghantuiku ibu, siapa sebenarnya diriku ini bu, aku sama sekali tidak mengingatnya". Tangis Salsa.


Nek Ani segera memeluk anaknya. "Kamu adalah anak ibu satu satunya Salsa, jangan pernah dipaksakan untuk mengingat, suatu hari kamu pasti akan mengingatnya".


"Iya ibu, aku hanya merasa begitu khawatir dengan anak itu".


Nek Ani terus menenangkan anaknya itu dan mengusap kepalanya pelan. Entah mengapa dirinya ikut sedih ketika melihat Salsa menangis.


*****


Didalam ruangan ICU Rifki memeluk Nadhira, Rifki menangis sesenggukan didepan jenazah Nadhira. Nadhira terpejam begitu tenang, seakan akan ia sudah bahagia dialam yang berbeda.


"Mengapa kau meninggalkanku begitu cepat Nadhira, semoga engkau tenang dialam sana, kau wanita kedua yang paling ku cintai setelah ibuku, maafkan aku tidak bisa menyelamatkanmu, tawamu selalu akan melekat dalam hatiku, Nadhira terima kasih karena selalu ada buatku selama ini". Rifki mengatakan hal itu didalam pelukannya dengan berlinang air mata.


"Nadhira kau mengajarkanku arti sebuah sahabat sejati, melukiskan canda tawa didalam hatiku, begitu banyak beban yang kau pikul tetapi tak pernah kau bagikan dengan kami, meskipun kau keras kepala, suka main tangan, suka kekerasan tetapi hatimu begitu baik, tenanglah dialam sana Nadhira, suatu saat kita akan bertemu kembali". Ucap Susi


Setelah dokter mengatakan bahwa Nadhira sudah tak terselamatkan lagi, teman temannya masuk kedalam ruangan untuk melihat Nadhira untuk terakhir kalinya.


"Nadhira terima kasih, selalu melindungiku meskipun kau selalu memperlakukan sangat kasar, kau ingat? Demi aku kau bertarung dengan Clara, dan hampir dikeluarkan dari sekolah, Nadhira maafkan aku, sering membuatmu marah". Ucap Widya sambil mengusap airmatanya.


"Non terima kasih telah menghormati ku layaknya seorang ibu untukmu, kau tidak pernah memperdulikan dirimu sendiri, kau rela menanggung semua luka hanya untuk orang lain, aku berharap ini hanyalah mimpi, ketika aku terbangun kau ada disampingku". Setelah mengatakan hal itu, bi Ira segera pergi dari situ karena ia tak sanggup melihat Nadhira terbaring.


Dialam yang sangat gelap Nadhira berjalan menyusuri jalan setapak sambil bergandengan tangan dengan mamanya, Nadhira berjalan dengan tersenyum karena ia akan bersama dengan mamanya. Tiba tiba ada suara yang menghentikan langkahnya, ia melepaskan pegangan tangan mamanya dan berjalan mundur beberapa langkah.


"Nadhira kembalilah".


Suara itu terdengar begitu pilu dan sedih, Nadhira menoleh kebelakang dan menemukan sosok Rifki berdiri dibelakangnya. Sosok Lia berjalan mendekati Nadhira, ia tersenyum kepada Nadhira.


"Kembali lah nak, perjalanmu belum tuntas". Ucap Lia.


"Maksud mama apa? Apakah kita kan berpisah lagi?". Tanya Nadhira.


"Nadhira kembalilah". Rifki terus mengatakan hal itu.


"Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti, saat ini kau harus kembali demi mereka, kembalilah sayang, mama akan selalu menyayangimu, kau adalah wanita yang kuat, kau kesayangan mama nak, jaga dirimu baik baik sayang, kembalilah, cerita hidupmu belum tuntas, mama akan selalu menunggumu disini". Lia memeluk Nadhira dengan erat.

__ADS_1


"Baik ma, aku sangat menyayangi mama".


Lia mulai melepaskan pelukannya dari Nadhira dan mundur perlahan menjauh i Nadhira, Nadhira melambaikan tangannya kepada mamanya. Nadhira mulai berjalan mendekati Rifki, senyum Rifki melebar melihat Nadhira akan kembali bersamanya.


Sementara didalam ruangan tersebut sekarang hanya tinggal Rifki seorang, Rifki seakan akan tidak mau untuk melepaskan kepergian Nadhira.


"Dek biarkan kami bekerja, jenazah harus segera dimakamkan"


Rifki tidak mau melepaskan pelukannya, tiba tiba ia memiliki keyakinan bahwa Nadhira belum meninggal. Ia tidak mau bahwa slang infus dan pernafasan dilepaskan dari diri Nadhira.


"Izinkan aku melihatnya untuk terakhir kalinya dok".


"Tapi dek, jika jenazah tidak langsung dimakamkan maka kita sama saja menyiksanya".


"Sudah dok, kita akan menunggu disini". Ucap suster.


Dokter itu mengangguk mengiyakan ucapan sang suster, memang berat untuk melepaskan kepergian seseorang yang begitu berarti bagi dirinya.


Tiba tiba Nadhira mengambil nafas panjang, jantungnya kembali berdetak. Rifki yang melihat hal itu segera memanggil dokter yang ada disampingnya untuk memeriksa keadaan Nadhira.


"Sebuah keajaiban pasien kembali hidup, sus ambilkan peralatan lainnya".


Rifki tidak menyangka bahwa Nadhira telah hidup kembali, matanya sungguh berbinar binar. Rifki merasa begitu bahagia melihat alat alat medis yang sedang dipasangkan ditubuh Nadhira.


Rifki keluar dari dalam ruangan dengan airmata kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya, ia menatap sekelilingnya dan hanya menemukan Susi, Bayu, Bi Ira, dan beberapa anak buahnya, melihat hal itu semua orang yang ada disitu berjalan mendatanginya.


"Nadhira, Nadhira". Ucapnya dengan wajah berbinar.


"Aku tau Rif, kita harus mengikhlaskan kepergiannya". Ucap Susi.


"Tidak, Nadhira masih hidup". Ucap Rifki sambil menatap kearah susi


"Maksudmu apa Rif? Nadhira sudah tiada, dan kami melihatnya, aku tau ini sangatlah berat, tapi kita harus mengikhlaskan kepergiannya". Bantah Susi.


"Percayalah kepadaku, Nadhira ia bernafas kembali, dan dokter sedang memeriksanya didalam, percayalah Nadhira belum meninggal".


"Apa yang kau katakan". Bi Ira terkejut mendengar perkataan Rifki.


Rifki menjelaskan kepada mereka yang berada disitu bahwa Nadhira mengalami mati suri, mereka merasa begitu lega mendengarnya dan beberapa kali mengucapkan rasa syukur atas kembalinya Nadhira. Kedua orang tua dan saudara tiri Nadhira telah lama meninggalkan rumah sakit tersebut sejak mendengar bahwa nyawa Nadhira tidak terselamatkan.

__ADS_1


Dokter keluar dari ruangan dan memberitahukan bahwa keadaan pasien mulai membaik dan sebentar lagi akan siuman, ia juga mengatakan bahwa Nadhira akan dipindahkan keruang rawat pasien.


Setelah Nadhira dipindahkan diruang rawat, semua orang berpamitan untuk pulang. Tinggal Rifki seorang yang masih tinggal, setelah lama Rifki menunggu tetapi Nadhira belum sadar juga dan akhirnya Rifki tertidur bersandarkan kasur rumah sakit tempat Nadhira terbaring.


Nadhira merasakan silau cahaya merembes masuk kematanya membuatnya mengernyitkan dahinya, ia menggerakkan jarinya pertanda bahwa ia mulai siuman dan akan segera sadar.


Nadhira mulai membuka kedua matanya dengan perlahan dan menemukan sosok Rifki tertidur didekatnya, ia merasakan sakit dibagian perutnya dan tangan kirinya.


Ketika merasakan pergerakan dari tubuh Nadhira, Rifki mulai membuka matanya dan melihat bahwa Nadhira sudah terbangun dan sedang mengusap kepalanya dengan lembut.


"Kau sudah sadar? Akan ku panggilkan dokter". Rifki segera berlari memanggil dokter.


Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan Nadhira, setelah kepergian dokter Nadhira meneteskan air mata tanpa ada satu kata pun keluar dari mulutnya.


Sejak dirinya sadar, ia begitu diam dan seakan akan pandangannya kosong. Sesekali Nadhira mengedipkan matanya, Rifki duduk disampingnya sambil memperhatikannya.


"Nadhira apa lukamu masih terasa sakit?". Tanya Rifki


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanya Nadhira tanpa menoleh kearahnya.


"Sekitar 5 harian"


"Apakah Amanda baik baik saja? Bagaimana kabarnya? Apa dia terluka".


"Dia baik baik saja kok Dhir, kamu ngak usah khawatir, dia sudah ada dirumah sejak penangkapan itu".


"Dimana papa? Apa papa masih marah padaku karena tidak bisa menjaga Amanda dengan baik, papa pasti kecewa padaku, sehingga ia tidak berada didekatku saat ini".


"Dia!...".


"Sudah ku duga sebelumnya, aku mengerti apa yang mau kamu katakan". Airmatanya mengalir.


Luka akibat tusukan terasa begitu sakit tetapi Nadhira tidak memperdulikannya, baginya itu tidaklah seberapa daripada harus kehilangan kasih sayang seorang ayah. Bagi anak gadis, ayahnya adalah cinta pertamanya, ketika ayahnya mulai tidak memperdulikannya maka itu adalah sakit hati terhebat yang ia rasakan.


Ayah adalah pemimpin dalam rumah tangga, seorang ibu adalah kehidupan dari sebuah rumah tangga dan seorang anak adalah pelengkap dari sebuah rumah tangga. Jika kehidupan sudah tiada, maka pemimpin kehilangan jati dirinya dan sebuah rumah tanpa adanya kehidupan apalah arti rumah itu.


Seorang ibu akan rela mengorbankan nyawanya demi sang anak yang ia sayangi, tetapi ia tidak akan rela melihat anaknya diasuh oleh orang lain. Karena mereka belum tentu menyayangi dan mencintai anaknya seperti seorang dirinya.


Ayah akan rela melakukan apapun demi keluarga yang ia sayangi, bekerja tanpa lelah hanya untuk sesuap nasi dan kebahagiaan anak anaknya. Ayah adalah lelaki pertama yang sangat menyayangi anak gadisnya tanpa menyakitnya.

__ADS_1


Sejak pertama kali Nadhira membuka matanya hatinya begitu terluka karena yang ia lihat pertama kali bukanlah sosok papanya melainkan sosok orang lain yang berada didekatnya. Ia teringat perkataan papanya ketika Amanda diculik, papanya sama sekali tidak memperdulikannya.


__ADS_2