Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kisah Pangeran Kian 24


__ADS_3

Hari demi hari telah berganti, berbulan bulan telah berlalu, Indah dan Panji begitu bahagia ketika mengetahui bahwa Indah tengah mengandung anak mereka berdua, racun yang ada didalam tubuh Panji mulai berkurang atas keajaiban yang telah diberikan oleh Allah SWT karena Panji yang selalu bertawakal dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada sang pencipta.


Selama berbulan bulan itu, Panji tak henti hentinya untuk berusaha mengobati racunnya dan mencari penawarannya, karena ketakwaannya sehingga dirinya membuahkan hasil yang begitu manis ketika merasakan bahwa racun yang ada didalam tubuhnya berkurang daripada sebelumnya.


Setelah pernikahannya, Panji memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanannya bersama dengan sang istri tercintanya seperti yang ia ucapkan sebelumnya bahwa Panji akan membawa istrinya untuk ikut bersamanya kemanapun ia berada dan kemanapun ia akan tinggal nantinya.


Permintaan tersebut segera dikabulkan oleh kedua orang tua Indah, kedua orang tuanya Indah memutuskan untuk tetap tinggal berdua ditempat itu sambil menikmati hari tua mereka yang tanpa beban dan selalu berada dalam kedamaian itu.


Saat ini Panji dan Indah sedang berada dihalaman depan rumah mereka yang telah mereka bangun sendiri setelah berkelana bersama, sejuknya halaman didepan rumah Panji membuat siapapun yang melihatnya akan merasa nyaman ketika berada dihalaman itu.


Panji mengusap perut Indah dengan lembut dan pelannya untuk menyapa anaknya yang masih berada didalam dikandung Indah yang masih berusia sekitar 10 minggu itu, Panji sudah tidak sabar untuk menanti kelahirannya putra pertamanya didunia ini.


"Anaknya Ayah, bagaimana kabarnya didalam sana? Jangan merepotkan Ibumu ya Nak, jadi anak yang baik ya, Ayah tidak sabar untuk menantikan kehadiran mu yang menjadi pelengkap kehidupan kami Nak". Ucap Panji kepada Anaknya yang masih berada dikandung Istrinya.


Berulang ulang kali Panji menciumi perut Indah yang terlihat sedikit berisi itu, hal yang dilakukan oleh Panji tersebut membuat Indah tersebut geli ketika merasakan ciuman Panji pada perutnya yang sedikit buncit itu.


"Alhamdulillah Adek baik Ayah, Adek ngak nakal kok, Adek kan anak yang baik, Ayah kerjanya yang semangat ya, Adek menanti kedatangan Ayah". Indah menjawab ucapan dari Panji dengan tersenyum geli ketika perutnya diusap oleh Panji.


Panji tersenyum kearah Indah dan segera bangkit dari berlutut untuk menyentuh perut Indah, Panji mencium kening Indah dengan sayangnya, selama berbulan bulan ini, Indah lah yang menjadi alasan utama Panji untuk tetap bertahan hidup.


"Tak beberapa lama lagi, aku akan menjadi seorang Ayah, aku sudah tidak sabar menyentuh tangan imutnya nanti sayang, ketika dewasa aku akan mengajarinya cara beladiri".


"Apa kamu sangat mengharapkan anak laki laki Mas? Bagaimana kalau anak ini adalah anak perempuan?".


"Aku tidak perduli dengan anak laki laki ataupun perempuan yang terlahir nantinya, bagiku anak adalah sebuah anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita untuk kita jaga dengan baik, meskipun nantinya yang terlahir adalah perempuan aku sama sekali tidak mempermasalahkannya karena itu adalah darah dagingku sendiri".


"Jika anak ini adalah laki laki pasti akan sangat tampan dan baik hati seperti dirimu sayang". Ucap Indah sambil menerawang jauh kesana.


"Dan jika anak ini perempuan, pasti secantik dirimu dan sebawel dirimu". Ucap Panji dengan nada menggoda istrinya.


"Kenapa jadi aku yang bawel? Bukannya kamu yang setiap hari bawel dan menyuruhku hanya duduk diam saja dirumah tanpa melakukan apapun?".


"Itu kan demi kebaikanmu juga, selagi aku mampu untuk memasak, mencuci, membersihkan rumah dan sebagainya aku akan lakukan asalkan dirimu dan anak kita tetap sehat".


"Kamu suami terbaikkkkkkk..... Untukku Mas". Ucap Indah yang memanjangkan kalimat terbaik.


Indah begitu senang ketika dirinya telah menjadi pasangan hidup Panji selama ini, Panji dan Indah hidup begitu damainya untuk beberapa bulan ini, karena Panji yang selalu memanjakan Indah, Panji tidak pernah mengeluh jika hal itu menyangkut dengan istri dan calon anaknya.


Indah merasa beruntung ketika mendapat sosok suami seperti Panji yang ketika dirinya salah Panji akan menasehatinya dengan lembut dan memberitahukan yang benar kepada Indah, ketika Panji marah, dirinya akan mencium kening Indah untuk meredakan kemarahannya itu.


Panji tidak pernah berkata kasar kepada Indah ataupun bahkan berperilaku kasar kepadanya, meskipun kadang kala hubungan mereka tidak terlihat baik baik saja karena hanya masalah sepele akan tetapi Panji tetap berprilaku lembut kepada Indah.


Yang tadinya Panji adalah pria yang sangat kasar dan menyukai yang namanya pembunuhan sekarang berubah menjadi pria yang begitu lembut kepada Istrinya dan hanya Istrinya bukan orang lain ataupun wanita lain.


Jika dihadapan wanita lain, Panji tetaplah seorang pria yang menyikai perkelahian, terlihat begitu dingin kepada mereka, atau bahkan tanpa ampun sedikitpun itu, akan tetapi berbeda lagi jika dihadapan Indah dirinya akan menjelma sebagai malaikat yang begitu lembut.


Rumah mereka berada ditengah tengah hutan yang begitu sejuk dan rindang, semilir angin yang masuk kedalam rumah tersebut membuat siapa saja akan betah disana dan tidak ingin pulang.


Panji segera bersiap siap untuk pergi berburu disekitar hutan tersebut, Panji dan Indah biasanya makan daging kelinci ataupun ayam hutan untuk santapan mereka, kadang kala Panji berjualan hasil kebun dipasar terdekat dari tempat itu.


"Aku berangkat dulu ya Dek, tunggu aku pulang". Ucap Panji yang berpamitan kepada Istrinya.


"Iya sayang hati hati, cepat pulang, aku pasti akan merindukan dirimu". Ucap Indah dengan manjanya kepada Panji.

__ADS_1


"Iya, kamu juga jaga diri baik baik".


"Mas tidak perlu khawatir soal itu, aku akan bsik baik saja bersama dengan anak kita".


"Ya sudah, aku berangkat dulu ya, Assalamualaikum".


"Waalaikumussalam Mas".


Indah segera mencium tangan suaminya itu, Panji bergegas pergi dari tempat itu setelah kepergian dari suaminya itu, Indah segera masuk kedalam rumahnya dan menutup pintu rumah tersebut sesuai perintah dari Panjim


Tidak ada yang menyangka bahwa ketentangan itu tidak berlangsung lama ketika bayangan Panji sudah tidak lagi terlihat ditempat itu, tiba tiba muncullah beberapa orang yang sedang mengitari rumah mereka tersebut.


Orang orang tersebut segera mendatangi rumah mereka dengan membawa senjata, sementara didalam rumah itu Indah sedang duduk duduk dikamarnya sambil mengusap perutnya.


"Panji kecilku, baik baik ya didalam sana, kau tau Nak, kehadiran dirimu membuat dia sangat bahagia, melihat wajahnya saja membuat Ibu merasa damai". Ucap Indah sambil mengusap perutnya.


Indah merasa sangat bahagia, meskipun hidup sederhana akan tetapi Panji tidak pernah membuatnya kelaparan dan kekurangan sebuah kasih sayang, apapun akan Panji lakukan demi mencukupi kebutuhan istri dan anaknya.


Indah membayangkan kehidupannya kelak jika anak yang ada didalam kandungannya sudah lahir kedunia, mereka akan menjadi keluarga kecil yang begitu bahagia karena telah dilengkapi dengan sosok seorang anak dalam kehidupan mereka.


Lamunan itu tidak berlangsung lama, seketika itu juga Indah terbangun dari lamunannya ketika ada seseorang yang tengah mengetuk pintu rumahnya begitu keras tidak biasanya ada yang melakukan itu dirumahnya.


Brak Brak Brak


Ketika Indah ingin bergegas untuk melihatnya seketika itu juga ketukan itu berubah tiba tiba hingga terdengar suara beberapa orang yang tengah berusaha untuk mendobrak pintu rumah itu.


Indah merasa begitu terkejut mendengarnya, siapa yang datang kerumahnya dengan cara seperti itu, jika itu adalah Panji, orang itu tidak akan melakukan hal seperti itu yang membuat Indah merasa takut, karena suara tersebut seketika membuat Indah mewurungkan niatnya untuk membukakan pintu rumah tersebut.


"Keluar kau!!". Teriak orang itu dari luar.


"Panji keluar kau! Jangan hanya bersembunyi seperti pengecut, aku tau kau masih hidup! Keluar dan hadapi aku!". Ucap orang itu dengan kencangnya.


Suara itu begitu mengelegar didalam rumahnya, sehingga membuat Indah segera bersembunyi didalam kamarnya karena dirinya begitu ketakutan dengan suara keras dan menggelegar seperti itu.


"Mas kamu dimana?". Ucap Indah dengan ketakutan.


Brak Brak Brak


Orang orang itu terus terusan mencoba untuk mendobrak pintu rumah Panji, suara itu membuat Indah semakin merasa takut, ia sangat berharap bahwa Panji segera pulang untuk menyelamatkan dirinya dan juga anak yang didalam kandungannya.


Sementara disatu sisi, Panji sedang berjalan untuk pergi berburu, jaraknya dengan rumah sekarang lumayan jauh sehingga dirinya tidak mendengar suara orang orang yang tengah mencoba masuk kedalam rumahnya itu.


Sekilas Panji melihat sebuah ayam hutan yang menjadi buruannya itu, Panji berusaha untuk mengejarnya dan menangkap ayam tersebut untuk Indah, akan tetapi seketika Panji terlihat begitu tidak tega untuk menangkapnya ketika melihat ayam tersebut bersama dengan anak anaknya.


"Pergilah, aku tidak akan menangkapmu". Ucap Panji dengan mengusir ayam ayam itu.


Akan tetapi ayam ayam tersebut tidak mau pergi dari tempat itu, seketika itu juga Panji teringat tentang istrinya yang ada dirumah, perasaan panji seketika berubah menjadi rasa cemas yang mendalam.


"Ada apa ini". Guman Panji pelan dan segera bergegas menuju kerumahnya.


Disatu sisi Indah sedang ketakutan ketika mendengar dobrakan itu yang berkali kali, Indah duduk ditepi kamarnya dengan menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya dengan ketakutan.


Karena terus menerus pintu rumah itu didobrak sehingga pintu itu roboh seketika, dan beberapa orang masuk kedalamnya sementara yang lainnya masih tetap menunggu diluar rumah agar pemilik rumah tidak dapat kabur.

__ADS_1


"Mas tolong aku". Ucap lirih Indah dengan badan yang gemetaran karena ketakutan.


Orang orang yang masuk tersebut segera menemukan keberadaan Indah, Indah yang melihat beberapa lelaki yang masuk kedalam rumahnya begitu terkejut dan langsung berdiri dari duduknya.


"Arghh.... Siapa kalian? Aku tidak kenal dengan kalian, kenapa kalian masuk kedalam rumah dengan paksa seperti ini?". Teriak Indah dengan ketakutan.


"Ternyata istrinya cantik juga". Ucap orang yang paling depan diantara yang lainnya.


"Jangan mendekat!".


Indah segera mengambil barang barang yang paling dekat darinya untuk berusaha membela diri dari orang orang yang sama sekali tidak mereka kenal itu, Indah mengambil sebuah anak panah yang telah tanpa sengaja ditinggalkan oleh Panji ketika hendak berangkat berburu.


Orang orang itu justru tertawa dengan apa yang dilakukan oleh Indah saat ini, Indah seakan akan menjadi lelucon bagi mereka karena mengangkat sebuah anak panah tanpa busur tersebut.


"Haha... Kau sangat lucu Nona, bagaimana bisa kau melawan kami dengan anak panah yang tidak berguna itu? Dimana suamimu? Apakah dia takut untuk menghadapi kami semua?". Tanya lelaki itu dengan nada menghina.


"Suamiku tidak takut dengan kalian! Kalian akan dihabisi olehnya, lihat saja nanti!".


"Oh aku sunggu takut Nona jika itu terjadi, ku harap kau secepatnya memanggil dirinya untuk datang kemari, atau kau akan kehilangan nyawamu".


"Aku dengar kau sedang mengandung Nona, jangan melawan kami atau anakmu itu akan keguguran". Tambah salah satu dari mereka.


"Tidak!! Aku tidak akan membiarkan apapun yang akan terjadi kepada anak yang ada didalam kandunganku, anak ini bukanlah kelemahanku". Ucap Indah sambil menudingkan anak panah tersebut.


Indah berusaha untuk dapat kabur dari rumah kayu tersebut meskipun dengan susah payahnya, karena untuk menangkap Indah bukanlah hal yang mudah bagi mereka karena Indah adalah wanita yang cukup lincah dan sangat mudah untuk lolos dari tangkapan mereka semua.


Karena mereka tidak dapat menangkap Indah sehingga membuat mereka begitu jengkelnya dan terus berusaha untuk menyakiti Indah, karena sedang mengandung sehingga membuat Indah harus berhati hati untuk melangkah agar kandungannya tidak sampai keguguran.


Dhuk...


"Akh...".


Orang itu berhasil menangkap tangan Indah dan menariknya kebelakang sehingga tubuh Indah yang tiba tiba ditarik seperti itu ikut mundur dan menabrak sebuah pohon yang cukup besar, Indah kepala terbentur pada pohon tersebut sehingga membuat darah mengalir dari keningnya.


Indah terjatuh diantara rerumputan dengan darah yang mengalir menuju wajahnya, orang itu tertawa begitu kerasnya ketika melihat Indah yang sudah tidak mampu bangkit lagi saat ini.


"Bertahanlah sayang, kau adalah anak Panji, kau harus kuat ya Nak". Batin Indah menjerit ketika merasakan perih dikeningnya yang tengah mengeluarkan darah begitu banyaknya.


"Hanya seperti itukah kemampuanmu untuk berlari Nona? Apakah tenagamu sudah habis?". Tanya orang tersebut dengan nada mengejek kepada Indah yang tengah tidak berdaya itu.


Indah terus berusaha untuk bangkit dari duduknya sambil memegangi perutnya yang terasa sedikit kram karena terjatuh, ia sangat berharap bahwa anak yang ada didalam kandungannya akan baik baik saja.


Dengan tangis, darah dan keringat yang tengah menjadi satu kesatuan, Indah terus berusaha untuk bangkit dari duduknya tanpa berpikir panjang dirinya kembali berlari menghindari mereka.


Mereka yang melihat itu hanya mampu membiarkan Indah yang terus berlari seperti itu, dalam sekejap saja mereka mampu untuk menangkap tubuh Indah karena kecepatan yang mereka miliki berbeda jauh dari yang Indah miliki saat ini sehingga mereka terlihat begitu santai untuk menangkap Indah.


Panji begitu terkejut ketika sampai dirumah itu, ia tidak menyangka bahwa rumahnya akan jadi seperti ini ketika ia kembali, dengan pintu yang sudah roboh, barang barang yang ada didalam berceceran kemana mana, dan bahkan didalam rumah tersebut sudah tidak terlihat seperti rumah sebelum.


"INDAH!!". Teriak Panji dengan begitu terkejutnya dan seketika itu juga dirinya bergegas untuk mencari Indah didalam rumahnya dan sekitarnya rumahnya.


Panji tanpa berpikir panjang segera mencari sosok istrinya, ia begitu cemas ketika mengetahui bahwa Indah sudah tidak lagi berada didalam rumahnya, ia segera menyambar sebuah pedang kecil yang masih berada didalam sarungnya yang telah ia sembunyikan bertahun tahun didalam rumahnya tersebut dan bergegas mencari istrinya.


"Indah!! Dimana kamu!!". Teriak Panji dengan kebingungan karena dirinya tak kunjung menemukan keberadaan dari Indah.

__ADS_1


...Jangan lupa like dan dukungannya 🥰...


__ADS_2