
Di hari yang berbeda, dan di siang hari yang cukup terik namun berawan. Berlin pergi menuju ke tempat di mana Garwig berada yaitu Penjara Federal. Kedatangannya tidak terduga oleh Garwig, dan Berlin hanya datang seorang diri tanpa ditemani oleh siapapun.
"Aku terkejut kau datang kemari," ucap Garwig menyambut kedatangan Berlin di halaman depan Federal.
"Aku butuh berbicara denganmu, apakah kau ada waktu?" tanya Berlin.
Garwig pun menjawab, "sebenarnya aku tidak ada waktu luang, bahkan jam istirahat ku saja harus termakan oleh pekerjaanku."
"Tetapi, karena kau yang meminta, maka sebuah kehormatan bagiku untuk meluangkan waktuku," lanjutnya dengan sedikit menundukkan kepalanya di hadapan Berlin.
"Mari ikuti aku, aku tahu tempat yang nyaman untuk berbicara di tempat yang kelam ini." Garwig pun mengajak Berlin masuk ke dalam Federal. Melewati lobi utama dan lorong Federal yang berisikan ruangan-ruangan penting. Di ujung lorong terdapat pintu tangga menuju ke landasan helikopter. Berlin pun mengikuti Garwig menaiki anak tangga tersebut menuju landasan.
"Tempat favoritmu tidak berubah meskipun berada di tempat kelam ini," gumam Berlin ketika tiba di landasan helikopter yang pada saat itu kosong tidak terdapat helikopter milik kepolisian yang terparkir.
Garwig hanya tertawa mendengarkan celetukan Berlin. Memang benar apa yang dikatakan oleh Berlin, karena dirinya lebih suka tempat yang dapat memandang langit secara langsung.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Garwig bersandar di pagar pembatas atap tersebut.
"Apa Prawira sudah memberitahumu? Memberitahu soal ... laporan yang kami buat kemarin," jawab Berlin melempar pertanyaan.
Garwig langsung dapat memahami apa yang dimaksud oleh Berlin. Memang kemarin malam dirinya mendapat sebuah laporan dari Prawira yang berasal dari Ashgard. "Oh, soal ... laporan transaksi itu?" sahut Garwig.
"Iya," sahut Berlin dengan nada yang rendah, dan sikap yang tampak menakutkan serta mengkhawatirkan sesuatu.
"Baik, aku bisa paham apa yang kau risaukan." Garwig menoleh dan dapat memahami sikap Berlin yang tampak cukup gelisah dan tidak bisa tenang.
"Awalnya aku sangat terkejut ketika pertama menerima laporan beserta bukti rekaman itu, aku tidak tahu mereka mendapat persenjataan itu dari mana," ucap Garwig.
"Dengan persenjataan itu, mereka bisa saja dengan mudah membuat kekacauan yang sama dengan yang dibuat Mafioso beberapa bulan yang lalu, atau bahkan ... lebih buruk dari itu." Berlin memberitahukan apa yang membuatnya cukup risau dan tidak bisa tenang.
"Aku sedang menyelidiki tentang persenjataan itu, aku memiliki beberapa spekulasi, tetapi hanyalah spekulasi atau dugaan belaka," ujar Garwig.
Berlin melirik tajam kepada Garwig yang ada di sampingnya, dan lalu bertanya, "apakah ada orang dalam yang menyuplai atau dibayar oleh Clone Nostra?"
"Aku tidak tahu, dan tidak akan diketahui jika tidak diselidiki atau dicari tahu." jawab Garwig lalu menghela napas berat.
"Aku juga mencurigainya," lanjut Garwig melirik ke arah Berlin di sampingnya.
Berlin hanya terdiam, tidak ada yang ingin ia bicarakan lagi karena ternyata Garwig sudah dapat memahami kerisauannya. Berlin pun beranjak dari tempatnya berdiri berjalan kembali menuju anak tangga.
Ketika berjalan, ia menghentikan langkahnya tiba-tiba dan mengatakan, "aku akan melakukan apapun agar kekacauan itu tidak terulang, dan kedamaian ini berlangsung lama. Jangan coba-coba untuk menghalangi ku ...!"
__ADS_1
Garwig dapat memahami keinginan kuat itu, dan dirinya pun juga tentunya menginginkan hal yang sama. "Aku akan mengusahakan yang terbaik, jika kau memerlukan bantuan ku, maka katakanlah!" ucapnya berjalan ke arah Berlin.
Berlin pun menuruni anak tangga tersebut, dan ingin segera pergi dari tempat yang paling ia tidak sukai itu. Ketika berada di halaman depan Federal. Ia pun berpamitan dengan Garwig, lalu tak lupa mengatakan, "musuh kita adalah Clone Nostra, dan mereka bukanlah sindikat amatiran. Mereka mungkin saja bisa menggulingkan pemerintahan jika mereka mau," ucap Berlin masih berdiri tepat di pintu masuk sebelum kembali ke tangga.
"Ku harap ... kau ... dan pihak keamanan tidak terlalu terlena dan menganggap remeh ini," lanjut Berlin menatap tajam Garwig dan sangat serius dengan apa yang ia katakan.
Garwig mengangguk pelan dan berkata, "aku tahu siapa yang menjadi lawan kita, dan tentu aku tidak meremehkan sindikat itu."
Setelah mendengar kata-kata yang membuatnya cukup puas. Berlin pun berjalan menuju mobilnya yang terparkir di sana, dan lalu segera pergi melaju keluar dari tempat Federal itu.
.
~
.
Di sore harinya, Berlin tampak kembali sibuk dengan pekerjaannya. Banyak yang harus ia urus terlebih dahulu, dan semua itu demi keperluan serta kebutuhan Ashgard. Beruntung dirinya tidak sendiri, karena ada Kimmy yang membantunya dalam masalah pembukuan.
"Mungkin hanya rompi saja yang jumlahnya sangat minim di brankas kita, selebihnya seperti perlengkapan senjata beserta amunisi masih lebih dari cukup." Kimmy memberikan sebuah buku catatan kepada Berlin ketika di ruang kerjanya.
"Baik, aku akan menghubungi Prawira untuk hal itu," sahut Berlin lalu mengambil ponsel miliknya dan mengirimkan beberapa pesan untuk Prawira.
"Kim, bisakah kau panggilkan Asep kemari?" tanya Berlin kemudian.
Berlin tampak diam merencanakan sesuatu, dan dirinya membutuhkan peran serta keahlian Asep untuk melaksanakan rencananya.
"Ada yang bisa dibantu, Bos?" Tak menunggu waktu yang lama, Kimmy pun kembali bersama dengan Asep.
"Aku membutuhkanmu untuk melakukan sesuatu," jawab Berlin menatap tajam dan serius rekannya yang berdiri di hadapannya.
"Sesuatu?" Asep mengernyitkan dahinya.
Berlin pun menyampaikan rencana serta perintahnya untuk rekannya tersebut, dan menurutnya hanya Asep yang dapat melaksanakan perintah serta menjalankan misi yang akan ia berikan.
Berlin meletakkan secarik kertas kecil bertuliskan angka koordinat, dan lalu berkata, "aku ingin kau mencari tahu tentang pulau ini, apapun itu pokoknya cari tahu informasi tentang pulau ini."
Asep sedikit terkejut ketika mendengar perintah atau permintaan tersebut, begitu pula dengan Kimmy yang hanya mendengarkannya saja. Ia bingung dan tak menyangka akan menerima perintah serta permintaan Berlin. Tak mungkin bagi dirinya menolak perintah tersebut.
"Aku bisa saja menyerahkan misi ini kepada yang lain, tetapi aku lebih percaya kau yang melakukanya. Bukannya aku tidak percaya dengan rekan-rekan yang lain, aku percaya dengan kalian semua, namun ... hanya kau yang bisa melaksanakan ini." Berlin dengan sangat yakin dan serius memberikan amanah ini kepada salah satu rekan sekaligus sahabat terbaiknya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Asep terlihat bingung, karena perintah yang ia terima sangatlah mendadak.
__ADS_1
"Kau bebas mau menggunakan cara yang seperti apa, yang jelas ... kita perlu informasi mengenai pulau tersebut," jawab Berlin.
"Um ..., bolehkah aku bertanya?" sela Kimmy.
Berlin mengangguk dan mempersilakan Kimmy untuk bertanya. Dengan ekspresi penasarannya, Kimmy pun bertanya, "apa yang membuatmu memiliki rencana seperti ini? Dan mengapa kau hanya mempercayakan Asep untuk melakukannya?"
Tanpa basa-basi Berlin pun langsung memberikan jawabannya, "aku hanya ingin tahu soal pulau itu, ditambah lagi orang-orang Clone Nostra sering sekali melintasi perbatasan secara ilegal dan mengarah ke sana."
"Dan aku percaya hanya Asep yang bisa melakukannya," lanjutnya.
Berlin menatap tajam dan serius ke arah Asep yang berdiri di depan mejanya. Ia dapat melihat kegugupan serta kebingungan Asep di saat menerima perintahnya. "Aku percaya dan mengagumimu keahlianmu, apalagi keahlianmu dalam hal komputer," ucap Berlin.
"Baik, akan ku usahakan dan akan ku berikan yang terbaik, aku akan berusaha agar tidak mengecewakan," ujar Asep tampak berseri dan bersemangat setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin padanya.
"Jika kau mengalami kesulitan yang tak bisa diselesaikan oleh dirimu seorang, maka berbicaralah kepada rekan-rekan, dan kau juga bisa berbicara denganku. Hal ini juga berlaku untuk kalian semua," ucap Berlin lalu tersenyum terhadap kedua rekannya yang saat itu berdiri tepat di hadapannya.
"Dan itu juga berlaku untukmu!" timpal Kimmy lalu mengulas senyumnya.
Berlin hanya terkekeh mendengar apa yang dikatakan Kimmy padanya. Dirinya pun membubarkan kedua rekannya dari ruangannya, dan mempersilakan mereka untuk kembali melakukan kegiatan mereka masing-masing.
Ketika mereka berdua beranjak meninggalkan ruangan. Asep tiba-tiba menghentikan langkahnya, berbalik badan kembali dan lalu bertanya, "lalu, kapan aku bisa memulainya?"
"Berhubung besok adalah akhir pekan, jadi kau bisa memulainya lusa saja. Oh iya, jangan lupa nikmati waktumu untuk akhir pekan!" jawab Berlin lalu tersenyum lebar kepada rekannya itu.
.
~
.
Pukul 20:20 malam.
"Merasa bosan, Nico?" tanya seorang pria dengan pakaian jas serba putih berjalan menghampiri Nico yang tampak duduk bersantai menikmati suasana malam di tepi pantai.
Suara gemuruh ombak terdengar tak ada hentinya. Malam yang cerah menyajikan pemandangan langit yang sangat indah. Banyak sekali bintang bertaburan dan menemani satu bulan yang bersinar paling terang di antara ribuan bintang itu.
"Mungkin iya, Tokyo" jawab Nico.
Tokyo tersenyum tipis dan lalu berkata, "dalam waktu dekat kami akan melakukan sedikit aksi. Apa kau ingin ikut serta?"
"Aksi?" Nico menoleh dan melirik kepada Tokyo yang berdiri di sampingnya. "Menarik, bisa kita bicarakan nanti," Nico memberikan jawabannya seraya memalingkan pandangannya kembali ke arah indahnya langit malam di pulau itu.
__ADS_1
.
Bersambung.