Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Meledak-ledak #75


__ADS_3

Detik demi detik terus berjalan, dan waktu setempat menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit.


Sebuah helikopter mendaratkan beberapa aparat berpakaian serba hitam dengan senjata laras panjang mereka di atas dari beberapa gedung yang dekat dengan gedung Bank Central Metro. Tak hanya itu, helikopter milik kepolisian juga terlihat menurunkan beberapa orang tepat di atas dari gedung bank tersebut. Sedangkan unit yang berada di darat sudah siap di beberapa titik pintu keluar dari bank tersebut, termasuk pintu darurat yang ada di bagian belakang gedung.


Kini arahan dari Prawira yang akan menentukan pergerakan dari pihak aparat selanjutnya. Dengan memanfaatkan helikopter yang terus mengudara di sekitar gedung tersebut, Prawira jadi tahu kapan ia harus memberikan perintah atau arahannya untuk pergerakan para anggotanya.


"Regu penembak jitu sudah siap di posisi, pak." Aparat-aparat yang diturunkan di atas-atas gedung itu memberikan laporannya kepada Prawira melalui radio.


"Kami juga siap menyergap melalui atas, pak." Regu yang diturunkan oleh helikopter tepat di atas dari gedung bank itu juga melaporkan posisi mereka.


Prawira menerima laporan-laporan tersebut, dan bersiap untuk melakukan penyergapan ke dalam gedung dengan waktu yang tepat. Ia melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh lewat empat belas menit.


"Kalian bersiaplah! Kita akan bergerak sesaat lagi," ucap Prawira dengan intonasi bicara rendah kepada rekan-rekannya di sampingnya. Posisinya kini berada di dalam gang dekat dengan pintu darurat gedung tersebut. Ia bersama dengan unit taktisnya berencana untuk masuk melalui pintu darurat atau pintu belakang itu.


"Kami selalu siap, pak." Senapan-senapan serbu yang dibawa oleh rekan-rekannya langsung dipersiapkan. Mereka melepas pengaman pada pelatuk senapan-senapan yang mereka bawa, dan dengan amunisi yang penuh.


Prawira menghela napas panjang dengan pandangan menatap ke arah langit malam yang begitu cerah. Ketenangan bercampur dengan ketegangan, begitulah suasana di malam ini yang dirasakan oleh Prawira.


Sesaat kemudian ia kembali melihat ke arah jam tangannya, sebelum kemudian memberikan sebuah perintah menggunakan radio komunikasinya dengan berkata, "sekarang!"


BOOM ..!!!


"Sial!"


"Dari belakang!"


"Dari depan juga?!"


Ledakan kembali terjadi di bagian dalam gedung tersebut, dan sesaat kemudian semua aparat yang terlibat itu merangsek masuk ke dalam gedung. Baku tembak kembali terjadi dan tidak dapat terelakkan lagi. Para pelaku di dalam sana secara membabi buta menembaki setiap aparat yang mereka lihat.


Suasana yang sebelumnya tenang seketika berubah menjadi kacau. Karena para pelaku di dalam sana benar-benar tidak dapat kooperatif dan terus melakukan perlawanan terhadap anggota. Alhasil pihak dari Prawira tidak ada pilihan lain selain melumpuhkan para pelaku di tempat, karena jika tidak nyawanya dan rekan-rekannya yang menjadi taruhan.


"Ayo! Masuk!"

__ADS_1


"Regu yang berada di pintu masuk bagian depan sudah berhasil masuk ke dalam!"


"Kami izin bergabung, pak!" ucap salah satu aparat dari regu yang diturunkan oleh helikopter melalui atap gedung. Mereka menuruni tangga dan langsung bergabung dengan regu milik Prawira.


"Kalian langsung bantu bergabung dengan regu yang masuk dari pintu depan! Sisanya ikut aku menuju brankas!" Setelah ruangan yang saat ini Prawira dan regunya berada telah diamankan. Ia langsung menunjuk beberapa rekan aparatnya untuk menemaninya menuju brankas.


Lokasi brankas berada di bawah tanah. Mereka harus menuruni anak tangga yang melingkar ke bawah untuk mencapai brankas, dan tempat itu sangat berisiko tinggi karena hanya ada satu jalan keluar dan masuk.


"Waspada dari sudut-sudut ruangan, dan ranjau yang bisa saja mereka pasang di tangga ini!" ucap Prawira ketika ia dan regunya sampai di depan anak tangga ke bawah itu.


Salah satu anggota mengambil sebuah senjata peledak yaitu granat dari dalam kantongnya, dan kemudian melemparkan granat itu ke bawah tangga sampai meledak. Sesaat kemudian, secara serempak Prawira dan rekan-rekannya merangsek masuk menuruni tangga sembari terus mengangkat bidikan senjata apinya.


Namun sayangnya, ketika sampai tepat di depan brankas yang sudah terbuka itu. Prawira dan regunya tidak menjumpai seorang pun pelaku yang ada di sana. Bahkan isi dari brankas yang berupa tumpukan uang tunai yang sampai menggunung pun masih ada di dalam sana.


"Kosong!"


"Tidak ada orang sama sekali, pak."


Beberapa anggotanya yang mengecek ke dalam brankas yang luas dan dapat dimuat lebih dari lima orang itu kembali kepada Prawira dan melaporkan hasil yang nihil. Tidak ada pelaku yang bersembunyi di dalamnya.


Suara ledakan tiba-tiba saja terdengar untuk yang ketiga kalinya yang berasal dari lantai atas. Mendengar hal tersebut, Prawira dan regunya mengambil langkah sigap dan segera beranjak kembali ke atas.


"Api?!"


"Bawa keluar rekan yang terluka!"


"Keluarkan mereka!"


Betapa terkejutnya Prawira ketika melihat api yang berkobar begitu besar memenuhi area teller dan lobi bank. Pandangannya kemudian tertuju ke arah beberapa aparat polisi yang tergeletak di sana, mungkin akibat ledakan itu. Bersama dengan regunya, dirinya pun langsung mengevakuasi rekan-rekannya dan membawa yang terluka keluar dari gedung.


Tak hanya itu, Prawira dan rekan-rekannya yang masih selamat juga mengevakuasi beberapa pelaku yang masih hidup meskipun dalam keadaan penuh luka tembak.


"Apakah masih ada yang di dalam?" tanya Prawira ketika sudah berada tepat di depan pintu masuk gedung.

__ADS_1


"Masih, pak. Tiga anggota terluka dan beberapa pelaku yang berhasil dilumpuhkan. Mereka terjebak tepat di tengah-tengah api itu," jawab salah satu rekannya.


"Kita harus mengeluarkan mereka!" cetus Prawira dan kemudian hendak kembali masuk ke dalam. Namun sayangnya langkahnya terhenti oleh cengkraman tangan dari anggotanya yang mencegahnya masuk.


"Api di dalam sana sudah terlalu mengganas, tidak bisa kita masuk tanpa harus memadamkannya terlebih dahulu! Pihak pemadam kebakaran sudah dipanggil dan sedang meluncur ke sini, lebih baik kita tunggu mereka terlebih dahulu."


"Tetapi jika kita menunggu, mereka akan --"


DUAR ...!!!


Ledakan yang cukup besar kembali terjadi untuk yang keempat kalinya, dan ledakan tersebut berasal dari kebakaran yang melahap habis lantai satu dari gedung tersebut. Akibat dari ledakan itu, beberapa partikel yang terbakar oleh api sampai terhambur keluar.


Prawira dan beberapa rekannya hanya bisa terdiam dengan pandangan tidak bekedip sama sekali melihat ke arah api yang membara begitu besar dari dalam sana.


***


Sebuah mobil beroda enam dan berwarna hitam pekat melaju mengarah ke sebuah gudang yang terletak di atas dari perbukitan Danau Shandy Shell.


"Beruntung kau tidak terpanggang di dalam sana, Farres." Dengan nada yang sedikit cekikikan, Doma berkata demikian kepada rekannya yang kini duduk tepat di sebelahnya yang tengah mengemudikan mobil.


"Kau benar-benar," Farres menoleh dan menatap tajam Doma lalu kemudian melanjutkan kata-katanya, "kau benar-benar terlambat!"


"Ayolah, cuma terlambat beberapa detik saja. Yang terpenting aku berhasil menarikmu keluar dari sana, 'kan?" sahut Doma dengan sedikit melirik ke arah rekannya di sampingnya.


"Sudahlah, sudah berlalu juga," ucap Farres kemudian menghela napas dan menyandarkan dirinya pada kursi tersebut.


"Ngomong-ngomong, Tokyo akan datang dalam beberapa waktu lagi," celetuk Doma dan berhasil membuat Farres sedikit terkejut.


"Kapan?! Bukankah terlalu cepat?" sahut Farres.


Doma sempat melirik tajam ke arah Farres di sampingnya dan kemudian berkata, "besok."


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2