Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Gerimis Tenang #246


__ADS_3

Hujan rintik-rintik yang sebelumnya deras, kini perlahan berubah menjadi gerimis ringan. Namun suasana serta angin di sore hari ini masih terasa dingin seperti angin pada malam hari. Dengan mengenakan dress sederhana seperti biasanya ditambah jaket biru muda yang juga dikenakan untuk menghangatkan tubuh, Nadia duduk di sofa panjang ruang tamu sembari menikmati secangkir teh hangat dan menyimak berita yang disiarkan di televisi ruang tamu.


Bumil itu terlihat cukup serius untuk menyimak serta menyaksikan berita yang ia lihat di televisi saat ini, karena berita tersebut sedang menyiarkan topik yang sedang panas hari ini, yakni soal persidangan yang sudah berlangsung.


"Persidangan telah dinyatakan selesai digelar dengan hasil terdakwa Tokyo El Claunius divonis hukuman mati secara resmi. Namun kami tidak mendapatkan informasi atau kejelasan lebih lanjut mengenai kapan hukuman tersebut akan dilaksanakan," ujar si perempuan pembawa berita yang terlihat jelas pada layar kaca.


Setelah pemberitaan mengenai hasil dari persidangan Tokyo El Claunius disiarkan dan diberitakan secara luas serta dapat disaksikan oleh publik. Layar kaca tersebut kemudian berpindah menjadi sebuah rekaman yang diambil melalui helikopter milik awak media. Topik pemberitaan pun juga ikut berpindah pada saat itu juga menjadi membahas mengenai perkembangan Distrik Komersial yang sebelumnya sempat menjadi medan peperangan antar kelompok.


Seorang laki-laki pembawa berita lain kembali menyiarkan serta berbicara beberapa kata dan kalimat di depan kamera mengenai pantauannya terhadap Distrik Komersial melalui udara. Penyiaran serta pemberitaan tersebut dilakukan dari dalam helikopter, dan disiarkan secara langsung untuk dapat disaksikan oleh seluruh warga.


Kamera dari pemberitaan sempat tertuju ke arah sekelompok orang dengan mantel hitam, kemudian diikuti oleh si pembawa berita yang mengatakan, "masih belum diketahui siapa sebenarnya mereka, namun mereka berhasil mengambil alih serta mengendalikan situasi atas konflik yang sempat terjadi, sebelum lima menit kemudian pihak kepolisian mulai berdatangan masuk ke dalam distrik. Beruntung sekali orang-orang dengan mantel hitam itu berada di pihak kita."


Ketika layar kaca menampilkan sekelompok orang bermantel hitam yang tengah berkumpul di tengah jalan dan terlihat sedang mengurusi beberapa pelaku berjaket merah yang masih hidup. Kedua mata Nadia menangkap sosok laki-laki dengan perawakan yang sudah sangat tidak asing lagi baginya, bahkan ketika melihatnya masih berdiri tegak dengan tongkat di tangan kirinya, itu langsung membuat hatinya merasa jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Bumil itu langsung menghela napas lega sembari berkata, "syukurlah," ucapnya secara spontan dengan kedua tangan mengatup di atas pangkuannya, dan kemudian tersenyum tipis setelah mengucap syukur.


TAP ... TAP ... TAP ...!


Langkah-langkah kecil terdengar menuruni anak tangga sebelum akhirnya disusul oleh suara Akira yang meminta, "Mama, aku ingin minum cokelat hangat, dong ...!" ucapnya ketika melangkah menuruni anak tangga dan menghampiri Nadia dengan salah satu tangan mendekap sebuah boneka beruang kecil berwarna putih.


"Yuk, Mama buatkan, ya ...?" jawab Nadia, tersenyum, dan kemudian beranjak dari sofa menuju ke dapur bersama dengan putrinya. Akira terlihat senang dan beberapa kali cengar-cengir serta tertawa kecil ketika mengikuti langkah Nadia menuju ke dapur.


Nadia pun sibuk di dapur untuk membuatkan minuman kesukaan putrinya, dibantu juga oleh Akira yang terlihat seolah tidak bisa jika hanya diam dan menonton. Anak itu mengambil sebuah gelas plastik miliknya, dan kemudian memberikannya kepada Nadia sembari tersenyum.


"Makasih, kamu duduk saja ...! Sebentar lagi jadi minumannya," ucap Nadia setelah menerima gelas plastik tersebut.


Akira menurut, melangkah menuju ke salah satu kursi di meja makan dan kemudian naik perlahan karena kursinya sedikit lebih tinggi daripada tubuhnya. Ketika duduk anak perempuan itu kemudian bertanya, "Mama, Papa pulang jam berapa? Ikut makan malam sama kita, nggak?" tanyanya dengan kedua tangan di atas meja dan menumpu di bawah dagu kecilnya.


Sembari mengaduk segelas cokelat hangat yang sudah mulai jadi, Nadia menjawab pertanyaan itu dengan lembut berkata, "sepertinya tidak, sayang. Papa kamu sedang sibuk, dan sepertinya akan pulang malam."


Wajah Akira terlihat sedikit kecewa ketika mendengar jawaban itu, tetapi mau bagaimana lagi. Namun suasana hati gadis kecil itu yang awalnya kecewa, langsung berubah kembali membaik ketika di hadapannya sudah tersedia cokelat hangat buatan Nadia.


Sluurrpp ...!!


"Enaakk ...!!! Mama mau?" seru Akira, kemudian menawarkan minumannya kepada Nadia yang duduk di kursi sampingnya.

__ADS_1


Nadia tersenyum hangat menjawab, "tidak perlu, minum saja buat Akira pokoknya ...!"


Perhatian yang awalnya hanya sepenuhnya diambil alih oleh sosok cantik Akira yang duduk di dekatnya, tiba-tiba saja berpindah ketika ponsel yang ia letakkan di meja ruang tengah berbunyi, menandakan ada seseorang yang sedang ingin menghubunginya.


Nadia pun segera beranjak dari meja makan kembali ke ruang tengah, dan meraih ponsel tersebut serta membaca nama kontak yang sedang ingin menelepon dirinya. Rupanya kontak tersebut adalah Berlin.


"Halo, aku hanya ingin memberitahu kalau aku tidak bisa pulang cepat," ucap Berlin langsung berbicara ketika Nadia menjawab panggilan suaranya.


Dengan intonasi lembut Nadia berkata, "iya, aku paham situasinya, kamu fokus pada pekerjaan kamu saja, ya ...!"


"Yang terpenting kamu baik-baik saja, 'kan?" lanjut bumil itu.


Berlin terdengar sedang tertawa kecil dan kemudian berbicara, "aku tidak apa-apa, kok!"


"Oh iya, karena mungkin aku akan pulang larut, jadi jangan terlalu memaksakan diri untuk menunggu ku, ya ...? Kalau sudah mengantuk lebih baik istirahat saja dahulu," lanjut Berlin.


Nadia tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, "iya, kamu hati-hati, ya ...?"


Setelah berbincang singkat itu dan menyampaikan beberapa hal, Berlin pun mengakhiri panggilan suara tersebut. Ternyata apa yang Nadia katakan sebagai jawaban atas pertanyaan dari putrinya tidak salah. Setelah selesai dengan ponselnya, Nadia kembali beranjak ke meja makan dan duduk di dekat Akira yang terlihat dari tadi asyik duduk manis menikmati segelas cokelat hangat.


***


Pada pukul lima sore, Distrik Komersial telah dipenuhi oleh pihak berwajib yakni kepolisian. Banyak sekali anggota polisi yang sudah mulai berdatangan. Tak hanya polisi, namun dari pihak medis pun juga ikut berdatangan ke lokasi distrik tersebut guna mengevakuasi korban terluka serta para jasad pelaku yang tewas.


Seorang aparat taktis yang sudah tidak asing lagi yakni Flix, terlihat berjalan menemui Adam dan bertanya, "apakah saya bisa bertemu dengan Berlin?"


"Oh, tentu, orangnya sedang telepon di mobil belakang, jadi tunggu sebentar, ya ...!" jawab Adam.


Di sekitar Adam dan Flix terlihat banyak rekan Ashgard yang sedang sibuk dengan beberapa pelaku yang masih hidup. Tak hanya rekan-rekan dari Ashgard, namun dari pihak aparat juga turut turun tangan untuk meringkus para pelaku berjaket merah yang berjumlah lebih dari sepuluh orang itu.


Setelah menunggu beberapa detik, Berlin akhirnya datang juga menghampiri keduanya dan berkata, "ada yang bisa saya bantu?"


"Saya memerlukan laporan situasi di lapangan, terutama jumlah korban yang terluka baik luka ringan dan berat, hingga yang tewas," ucap Flix.

__ADS_1


"Untuk itu sudah didata oleh salah satu orang kami," jawab Berlin kemudian memanggil Kimmy yang berada tak jauh di sampingnya. Mendengar panggilan dari Berlin, wanita itu langsung datang dan kemudian memberikan sebuah lampiran catatan yang diperlukan.


"Tidak ada yang terluka berat dari pihak kami, hanya beberapa luka ringan, dan untuk pelaku yang tewas sangatlah banyak," ucap Berlin, menerima lampiran yang diberikan oleh Kimmy dan meneruskannya kepada Flix di hadapannya.


"Terima kasih atas laporannya, ini akan sangat membantu," ucap Flix kemudian lanjut bertanya, "apakah anda sudah diberitahu oleh Prawira untuk bertemu di kantor pusat?"


Berlin mengangguk menjawab, "sudah, setelah yang di sini selesai, kami akan segera merapat ke pusat."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi terlebih dahulu," ujar Flix.


Flix pun akhirnya pergi dan kembali melakukan tugasnya untuk membawa para pelaku yang masih hidup guna menjalani pemrosesan informasi serta data lebih lanjut.


Setelah melalui situasi kacau dan mengerikan selama beberapa jam, Ashgard akhirnya telah berhasil menyelesaikan semua itu. Tugas pertama yang tidak begitu menegangkan serta menyulitkan bagi Ashgard, karena mereka pernah mengalami yang lebih buruk daripada ini. Mungkin tugas ini akan menyulitkan dan merepotkan jika Red Rascals melakukan serangan secara masif dari empat wilayah yang berbeda. Namun beruntungnya hal tersebut tidak terjadi, dan mereka lebih tertarik ke Distrik Komersial karena kemunculan Clone Nostra dan Cassano secara tiba-tiba.


"Carlos di mana? Dia suka banget menghilang," cetus Kimmy bertanya dengan heran.


Berlin terkekeh mendengar hal tersebut dan menjawab, "dia tidak menghilang, hanya saja kau yang tidak menyadari keberadaannya," ucapnya kemudian menunjuk ke arah atap dari sebuah bangunan di sebrang jalan. Di atas sana terlihat seorang laki-laki dengan mantel hitam, dan laki-laki itu adalah orang yang dipertanyakan oleh Kimmy.


Kimmy cukup terkejut karena memang dari tadi dirinya tidak menyadari bahwa ternyata ada orang di atas sana. Begitu pula dengan Adam, dan sepertinya juga rekan-rekan yang lainnya, hanya Berlin saja yang tahu serta menyadarinya.


"Orang itu, antara hebat dan mengerikan," gumam Adam.


Berlin hanya tertawa kecil melihat serta menyadari reaksi rekan-rekannya yang terkejut seperti mengetahui seorang informan yang ternyata mengintai mereka sedari tadi.


"Kim, apakah yang lain sudah siap untuk bergerak?" tanya Berlin mengalihkan topik ketika sampai di samping mobilnya, dan kemudian bersandar pada benda besar itu.


"Setelah para pelaku selesai ditangani oleh aparat, kurasa kita siap kapanpun untuk bergerak," jawab Kimmy.


"Baik, beritahu mereka untuk bersiap, kita akan kembali ke kantor pusat ...!" pinta singkat Berlin.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2