Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Sekelompok Bersenjata #15


__ADS_3

Masyarakat di distrik barat hanya bisa bersembunyi mencari perlindungan karena kelompok merah itu yang tak henti-hentinya berkeliaran di sekitar dengan senjata api yang mereka bawa. Sedangkan pihak kepolisian mulai berdatangan dan berusaha untuk mendindak orang-orang tersebut.


Sekelompok orang berjaket merah itu terus saja berkeliaran seraya mengancam beberapa pengguna jalan yang melintas. Para aparat berwenang pun memberikan peringatan tegas kepada sekelompok orang itu untuk segera membubarkan diri. Jika tidak pihak kepolisian akan menindak tegas orang-orang itu.


"Segera bubar atau akan kami tindak tegas!" suara dari mobil polisi yang mulai berkeliaran dan mengejar beberapa dari sekelompok berjaket merah itu terdengar sangat jelas.


"Mereka bersenjata, Pak." Seorang petugas di dalam mobil polisi yang mengejar tampak memberikan informasi tersebut melalui radio komunikasi.


DOR!!!


Tiba-tiba suara tembakan terdengar. Satu butir peluru melesat memecah kaca depan mobil polisi tersebut, dan mengenai satu aparat yang baru saja berbicara menggunakan radionya. Kepanikan pun terjadi, terutama rekan aparat itu yang tampak panik dan kebingungan sembari mengemudikan mobil polisinya.


"Kami ditembak, satu aparat tertembak di bagian dada dan kondisinya cukup parah!" pekik aparat yang duduk di kursi pengemudi tepat di samping rekannya yang terluka. Ia melaju cepat menjauhi lokasi guna mencari pertolongan untuk rekannya yang terluka. Darah terus mengalir keluar dari luka tembak dan membasahi seragam polisinya.


"Baik, bawa satu aparat yang tertembak itu mundur dan segera berikan pertolongan! Untuk semua unit terdekat harap segera merapat ke lokasi, buat dan amankan perimater serta masyarakat! Karena mereka membuka tembakan terlebih dahulu, maka anggota dipersilakan untuk melumpuhkan para pelaku yang ada di sana segera! Helikopter ... silakan mengudara dan jadilah mata untuk unit darat!" Terdengar suara tegas Prawira memberikan arahan untuk semua anggotanya melalui radio komunikasi.


"Baik!"


"Dimengerti!"


"Helikopter izin mengudara dari Kantor Polisi Pusat."


Helikopter pun mengudara langsung terbang menuju ke distrik barat kota, beserta unit darat dengan raungan sirine yang terdengar jelas.


Prawira yang ketika itu berada di Kantor Polisi Pusat pun juga ikut bergegas menuju ke lokasi. "Aku akan pergi ke lokasi," ucap Prawira berjalan keluar dari ruangannya bersama Netty.


"Saya akan ikut!" sahut Netty.

__ADS_1


Prawira menghentikan langkahnya dan berkata, "maaf, tetapi aku membutuhkan mu di sini." Lalu ia berjalan pergi menuju garasi kantor polisi dan mengendarai mobil dinasnya meninggalkan Netty di sana.


"Pantauan udara, bagaimana?" tanya Prawira seraya melajukan mobilnya melewati padatnya lalu lintas dengan sirine yang menyala.


"Terpantau terdapat 25 orang berjaket merah dan semuanya bersenjata api, Pak. Helikopter izin terbang lebih tinggi dan sedikit menjauh, karena mereka beberapa kali melancarkan tembakannya ke arah kami." Co-pilot helikopter tersebut menjawab pertanyaan Prawira dengan nada bicara sedikit kepanikan.


"Baik, jaga jarak kalian dan laporkan terus pantauan udara kalian!" tegas Prawira seraya terus menyetir mobilnya menuju ke lokasi dengan cepat. "Sekarang unit darat, bersiap melakukan pembungkaman terhadap 25 orang pelaku, lakukan sesuai SOP! Komando lapangan sementara saya serahkan kepada anggota pangkat tertinggi di lokasi," ucap Prawira melalui radio komunikasinya dan didengar oleh seluruh anggotanya.


Distrik barat langsung dipenuhi dengan suara sirine dan aparat kepolisian untuk menangani sekelompok orang berjaket merah itu. Lokasi tersebut langsung diamankan, masyarakat yang sebelumnya di sana langsung dievakuasi ke tempat yang aman. Sekarang kepolisian memiliki ruang gerak luas untuk melakukan aksi pembungkaman terhadap sekelompok orang bersenjata itu. Namun, ruang gerak luas itu juga tentunya didapatkan oleh para pelaku untuk melakukan aksi perlawanannya.


~


Pukul 16:00 sore.


Distrik Barat.


Sesampainya Prawira di lokasi, ia langsung menemui komando tertinggi di lapangan. Seorang perwira muda bernama Flix Gates Samudra pun ditemui oleh Prawira di lokasi. Ia memiliki rencana untuk menangani situasi tersebut, dan rencana tersebut ia sampaikan kepada Prawira.


"Beberapa pelaku memiliki persenjataan yang sangat mampu untuk memecah rompi kita dalam sekali tembak, karena beberapa dari mereka membawa senapan berat kelas militer. Jadi tidak menutup kemungkinan akan ada yang terluka di kejadian yang akan terjadi ini."


Mendengar apa yang dikatakan Flix membuat Prawira sedikit terkejut. Dirinya terkejut karena mendengar persenjataan yang para pelaku gunakan. Sebelumnya ia menerima informasi dari Garwig bahwa Berlin sempat melihat kelompok merah itu bertransaksi persenjataan dengan Clone Nostra.


"Kalau begitu bagaimana jika aku terjunkan regu penembak jitu?" tanya Prawira.


"Aku setuju, kurasa kita memerlukan peran mereka," jawab Flix.


Prawira pun mempersiapkan regu penembak jitu untuk segera memposisikan dirinya. Ia mengirim beberapa anggota penembak jitu untuk pergi dari lokasi, dan sedikit memutar mengambil posisi yang menguntungkan.

__ADS_1


"Aku memiliki rencana untuk situasi ini. Kita memiliki keunggulan karena kita memiliki mata di langit. Posisi masing-masing pelaku sudah valid diketahui, yaitu mereka berada di dua blok belakang bangunan Timur dan mini market di sana. Jarak kita empat blok dari sini, dan dua blok di sana telah dikuasai mereka, beberapa dari mereka juga bersiap di atap bangunan."


"Satu-satunya mata mereka ada di sebuah gedung paling tinggi pada blok tersebut. Jika kita melumpuhkannya ... maka akan menguntungkan bagi kita, dan peran itu akan diambil oleh regu penembak jitu."


"Pantauan helikopter, apakah kau melihat orang yang ada di atas gedung paling tinggi di sebelah Timur berjarak empat blok dari lokasi kami?" tanya Prawira kepada regu helikopter melalui radionya.


"Terdapat tiga orang berjaket merah, dan mereka terlihat membawa senapan laras panjang. Di tingkat ke dua terdapat empat orang terlihat membawa senapan berat." Regu helikopter pun menjawab pertanyaan itu.


"Bagus, hanya tiga orang saja. Regu penembak jitu akan menghabisi tiga orang itu, lalu menghabisi empat orang di tingkat kedua. Di saat yang bersamaan, kita akan menyergap mereka dari dalam gang dan melumpuhkan mereka di tempat."


"Ku harap regu penembak jitu kita tidak meleset, karena merekalah tumpuan kita dan yang menentukan riwayat kita. Jika mereka gagal melumpuhkan sasaran dalam waktu yang ditentukan, maka ... kita akan menjadi domba di bawah jurang yang dihujani peluru dari atas jurang." Flix mengatakan hal tersebut dengan sikap yang sangat dingin.


Flix tiba-tiba melihat waktu pada jam tangannya dan melihat ke arah langit barat. Kemudian ia berkata, "kita bisa memanfaatkan langit dan cahaya senja."


Dua blok yang dikuasai para pelaku berada di sebelah Timur dari Distrik Barat tersebut, dan itu sangat berlawanan dengan posisi matahari terbenam yang cukup menyilaukan mata dengan warna jingganya. Flix merasa ia bisa memanfaatkan hal tersebut untuk memenangkan situasi ini.


"Oh iya, Prawira. Persiapkan tenaga medis! Karena akan terjadi sedikit pertukaran peluru, dan sangat memungkinkan akan ada yang terluka di sini." Flix tampak meminta hal tersebut sembari bersiap dengan rompi dan senapan beratnya yang akan ia gunakan.


"Baik, komando ada di tanganmu, aku akan memanggil serta menyiapkan regu medis." Prawira menjawab dan segera mempersiapkan hal tersebut.


"Tunggu!" Flix menghentikan langkah Prawira yang hendak pergi memanggil tenaga medis. "Aku perlu kau sebagai komando dari para anggotamu, akan ada dua regu dengan dua pemimpin yang berbeda di sini, dan ... semoga Tuhan melindungi kita," ucapnya.


Prawira menatap tajam dan serius ke arah Flix, lalu mengangguk paham. Ia pun kembali melangkah pergi untuk segera memanggil serta mempersiapkan tenaga medis.


Sedangkan Flix, ia mengenakan masker yang menutupi penuh wajah tampannya, dan mempersiapkan perlengkapannya. Ia terlihat sangat siap untuk menangani dan memenangkan situasi ini. Ditambah lagi, ini perdana baginya untuk berkesempatan memimpin regu paling krusial, dan regu tersebut biasanya dipimpin oleh Prime.


"Oke, mari kita lakukan, kita akan memberikan pelajaran kepada para bedebah merepotkan itu," gumam Flix dengan tatapan tajamnya yang seolah siap melumpuhkan semua lawan yang menghalanginya. Ia merasa sedikit gugup, namun dirinya sangat yakin dan optimis sehingga itu menutupi rasa gugupnya.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2