Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Situasi Buruk #91


__ADS_3

"Siapa?" gumam Nicolaus dengan kedua mata tertutup dan dalam keadaan tangan serta kaki yang terbelenggu oleh besi.


Melihat laporan medis soal kondisi Nicolaus, membuat Berlin cukup terkejut. Ternyata kedua mata milik pria itu tidak dapat terbuka akibat debu panas yang sempat ia lemparkan ke arahnya beberapa waktu sebelumnya.


"Dia tidak bisa melihat, terjadi iritasi berat pada matanya sehingga membuatnya sangat sulit membuka kedua matanya," ucap Flix berbisik kepada Berlin yang berdiri tepat di sampingnya.


"Kau 'kah itu, Berlin?" cetus Nicolaus yang tampaknya merasakan keberadaan Berlin tepat di hadapannya.


Berlin mendekati pria yang duduk terbelenggu itu, dan kemudian berkata, "maafkan aku, jika kau tidak memulainya aku tak akan melemparkan debu itu ke wajahmu."


Nicolaus terkekeh dengan sendirinya dan heran dengan apa yang ia dengar. Permintaan maaf? Apakah dirinya tidak salah dengar?


"Insting bertahan hidupmu hebat, Berlin. Ku akui itu, dan menurutku aku pantas mendapatkan ini," ucap Nicolaus.


Pria yang terbelenggu itu kemudian menghela napas berat dan berkata, "ku akui, aku kalah darimu," ucapnya sembari mendongakkan kepalanya untuk bisa menghadap ke arah wajah milik Berlin, meskipun dirinya tidak tahu pasti ke arah mana dirinya harus menghadap.


Nicolaus kembali menundukkan kepalanya dan bertanya, "sekarang, apa yang kau inginkan dariku?"


"Apa tujuan sebenarnya Clone Nostra? Dan mengapa sekarang mereka melakukan penyerangan di kota ...?!" Tampak Berlin sangat geram ketika harus bertanya soal itu.


Nicolaus tersenyum tipis dan malah kembali bertanya, "hei, apakah kau mengenal Tokyo? Tokyo El Claunius."


Nama yang disebutkan oleh Nicolaus sudah tidak asing lagi di telinga milik Berlin. Dirinya benar-benar tahu seberapa bahayanya orang bernama Tokyo El Claunius itu.


"Setiap aku bertanya kepadanya soal apa tujuannya, dia selalu menjawab 'ingin mengukir sejarah baru'. Hanya itu yang ku ketahui, dan aku berani bersumpah tidak ada yang ku sembunyikan lagi," ucap Nico.


Mengukir sejarah baru? Apakah yang dimaksud dengan mengukir sejarah baru itu dengan melakukan invasi ke area kota dan sekitarnya? Tentu itu menjadi pertanyaan bagi Flix dan Berlin ketika pertama kali mendengar soal itu.


...


"Menurut kabar yang ku terima untuk saat ini, Clone Nostra telah mengambil alih Paletown dan Shandy Shell, sebelum kemudian mengalihkan fokus mereka untuk menyerang Metro." Sembari berjalan berdampingan dengan Berlin, Flix menyampaikan hal tersebut seusai pertemuan mereka dengan Nicolaus.

__ADS_1


"Sebenarnya berapa jumlah mereka ...?!" tanya Berlin.


Flix menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap serius ke arah Berlin sebelum kemudian berkata, "kau tidak akan percaya jika mengetahuinya."


***


Waktu setempat menunjukkan pukul tiga lebih lima belas menit. Situasi kota benar-benar sangat darurat. Tak hanya kepolisian, namun dari pihak militer juga turut diterjunkan untuk menangani situasi terkini.


Clone Nostra benar-benar bertindak semaunya, bahkan mereka tak hanya membuat kekacauan di gedung-gedung pemerintahan, namun juga menjarah beberapa rumah warga serta pertokoan.


Seluruh masyarakat dihimbau untuk tidak meninggalkan zona aman yang telah ditetapkan oleh pihak berwajib. Semua orang diungsikan ke zona aman tersebut yang memang benar-benar dijaga ketat oleh pihak kepolisian dan militer.


Antara beberapa zona aman yang telah ditetapkan di beberapa titik penting kota. Salah satu tempat yang juga dijadikan tempat orang-orang berlindung adalah Rumah Sakit Pusat. Di tempat itu juga Nadia berada dan tampaknya mendapat sedikit perawatan.


"Syukurlah hanya kelelahan, dan tidak ada yang buruk. Selebihnya ibu harus istirahat yang cukup, dan jangan terlalu banyak pikiran terlebih dahulu." Seorang dokter perempuan terlihat selesai memeriksa kondisi dari Nadia yang berbaring di atas sebuah brankar. Setelah selesai memeriksa kondisi tubuh Nadia, dokter itu kemudian beranjak pergi dari ruang inap tersebut.


Tidak sendiri, Siska terlihat begitu setia menemani sahabatnya, bahkan sampai ikut khawatir soal kondisi rekannya itu. Untuk sementara waktu, Nadia menetap di dalam ruang rawat inap rumah sakit tersebut.


Media berita itu menyiarkan situasi dan kondisi terkini kota, beserta apa yang sedang terjadi di area Gedung Balaikota. Terlihat begitu mencekam dan mengerikan situasi di sana. Nadia merasa beruntung dapat pergi lebih dahulu dari area itu.


***


Suara dentuman kembali terdengar dan berasal dari depan Gedung Balaikota. Terlihat kondisi bangunan itu terbakar di bagian depannya, dan terlihat juga sangat banyak sekali orang-orang berbaju putih bersenjata yang menginvasi tempat itu.


Prawira dapat menyaksikan itu semua dengan kedua matanya dari kejauhan, dan dirinya beserta para rekan aparatnya berhasil dibuat seolah tidak dapat berbuat apa-apa. Lantaran komplotan bersenjata itu memiliki jumlah personel yang sangat banyak, bahkan hampir sebanding dengan jumlah personel gabungan milik pihak kepolisian.


Persenjataan yang digunakan oleh Clone Nostra juga cukup mengerikan, bahkan mereka juga menggunakan beberapa peledak serta senjata berat layaknya sebuah pasukan.


"Pak, kita tidak bisa terus begini, jika kita memaksakan untuk mengambil alih kembali gedung itu, maka akan banyak pengorbanan yang terjadi." Seorang aparat mendekatinya dan berkata demikian.


Memang berdasarkan apa yang disaksikan oleh kedua mata kepalanya sendiri. Para penjaga di gedung itu sangat kewalahan ketika harus dihadapkan dengan Clone Nostra. Semua usaha mereka percuma, karena pada akhirnya merekalah yang terbantai oleh Clone Nostra di tempat itu.

__ADS_1


"Buat permeter di setiap akses keluar area Balaikota! Untuk sementara waktu kita tidak bisa bergerak secara gegabah tanpa adanya rencana yang matang," ucap Prawira.


"Baik!"


Prawira mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang menggunakan benda itu.


Ketika seseorang yang ia hubungi merespons panggilan suaranya. Tiba-tiba saja orang bernama Garwig itu langsung berbicara, "Prawira! Boni tidak ada di kediamannya!"


"Apa?!"


Sepengetahuan Prawira berdasarkan informasi terakhir yang ia terima. Boni Jackson alias sang Walikota aman berada di kediamannya sendiri. Namun setelah mendengar Garwig berkata demikian, dirinya benar-benar dibuat bingung.


"Saat ini aku berada di kediamannya, dan tempat ini benar-benar kosong, bahkan para penjaga yang bertugas juga tidak ada," ucap Garwig dalam panggilan suara itu


"Aku merasa ada yang janggal," lanjut Garwig.


***


"Tokyo, gedung putih telah kita kuasai. Sekarang apa?" tanya seorang wanita bernama Karina.


Di suatu perbukitan Shandy Shell, Tokyo tengah duduk santai sembari menikmati pemandangan malam menjelang pagi yang amat dingin dan sejuk.


"Aku akan menemui orang itu! Aku tidak ingin menunggu-nunggu lagi," jawab Tokyo dengan sikap yang begitu dingin.


"Dirimu?" cetus Karina.


"Ya, aku akan ke sana, ke tempat yang disebut dengan Gedung Balaikota itu." Tokyo beranjak perlahan pergi dari posisi awalnya berada, dan menuju ke sebuah gudang yang berada tepat di antara hutan-hutan perbukitan.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2