Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Satu Langkah Tertinggal #57


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian, laporan mengenai pergerakan Clone Nostra kini sampai ke telinga Garwig dan Prawira. "Sepertinya ... mereka mencoba untuk mendahului kita?" gumam Garwig berbicara kepada Prawira yang berdiri di sampingnya saat berada di atap gedung balaikota.


"Apa rencanamu?" sahut Prawira menoleh dan menatap tajam Garwig.


"Kita tutup seluruh perbatasan segera!"


Keduanya pun segera beranjak pergi dari sana. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Garwig. Prawira langsung menggerakkan hampir seluruh anggotanya untuk menutup seluruh perbatasan kota dan wilayah, termasuk mengamankan area pelabuhan kota.


Dalam kurun waktu lima belas menit setelahnya. Area pelabuhan sebelah tenggara kota langsung dipenuhi oleh pihak berwajib. Dua helikopter milik kepolisian pun juga ikut diterbangkan mengelilingi tempat tersebut. Dan sepertinya tak hanya area pelabuhan saja yang dijaga sangat ketat, namun perbatasan antara Kota Metro, Shandy Shell, dan Paletown juga ikut diperketat. Di sisi lain, Garwig mengirimkan beberapa personel laut untuk memperketat penjagaan di area perbatasan laut, terutama laut sebelah tenggara yang berbatasan langsung dengan laut Pulau La Luna.


Apa yang dilakukan oleh para aparat ini tentunya mengundang perhatian banyak gelombang masyarakat dan media. Masyarakat dan para media tidak ada yang tahu apa tujuan dari para aparat yang secara tiba-tiba memperketat perbatasan. Mereka masih tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Jaga para wartawan itu, jangan sampai melewati batas yang sudah ditentukan! Kalau bisa, bubarkan saja mereka!" pinta Prawira kepada salah satu perwiranya di sana. Pria itu adalah James, polisi yang memiliki kedekatan dengan Ashgard terutama Berlin.


"Baik, pak."


Tampaknya Prawira tidak sendiri untuk berada di pelabuhan ini. Dirinya ditemani oleh Garwig yang juga ikut turun langsung ke lokasi.


"Area sudah dijaga sangat ketat. Apakah kita terlambat?" tanya Prawira ketika berjalan perlahan memasuki pelabuhan. Di sekelilingnya terpantau banyak sekali polisi yang berjaga, terutama juga regu khusus anti teror pun juga ikut diturunkan.


"Seharusnya ... tidak, perjalanan dari pulau ke sini melalui jalur laut memerlukan waktu kurang lebih dua puluh menit." Garwig menjawab pertanyaan tersebut ketika berjalan bersebelahan dengan rekannya itu. Namun dirinya tidak yakin dengan jawabannya sendiri, "itupun jika ... lawan kita hanyalah sekelompok penjahat biasa."


"Maksudmu?" sahut Prawira menghentikan langkahnya dan menatap bingung Garwig.


"Clone Nostra bukanlah sindikat yang remeh, Prawira. Aku takut kalau mereka sudah mendahului kita," jawab Garwig menyimpan rasa kekhawatiran ketika memberikan jawaban tersebut. Prawira jadi berpikir dan terdiam. Memang, apa yang dikatakan oleh Garwig itu benar.


Dalam waktu yang cukup dekat. Sebuah kapal pengangkut barang yang cukup besar tiba-tiba saja berlayar mendekat, dan berlabuh di pelabuhan tersebut.


Kedatangan kapal kargo itu tentu membuat Garwig dan Prawira langsung waspada. Banyak sekali aparat terutama regu khusus langsung merapat dan bersiaga di dekat kapal itu.


Ketika kapal itu selesai berlabuh dan benar-benar berhenti. Tidak terlihat pergerakan apapun dari kapal tersebut. Bahkan juga tidak terlihat adanya awak kapal di dek paling atas. Dari luar kapal itu terlihat seperti kapal yang telah mati, tidak terlihat adanya pergerakan sama sekali di dek paling atas kapal.

__ADS_1


Kesunyian itu tentu membuat Prawira semakin curiga. Dirinya pun memberikan perintah kepada satu helikopter milik kepolisian yang saat ini terbang tepat di atasnya. "Helikopter lakukan scanning!" pintanya.


"Terpantau 15 hawa panas berkumpul di dek atas, tepatnya di ruang kemudi kapal dalam keadaan berlutut. Selain dari itu, semuanya clear."


Mendengar laporan dari helikopter kepolisian yang kini mengelilingi atas kapal itu. Prawira dan Garwig semakin dibuat curiga. Apakah ini sebuah penyanderaan? Atau telah terjadi pembajakan kapal? Tentu pertanyaan-pertanyaan itu seketika terpikirkan oleh mereka.


Tanpa membuang-buang waktu lagi. Prawira langsung menggerakkan anggota-anggotanya untuk masuk ke kapal itu, dan kemudian memeriksa keadaan 15 orang yang tengah berlutut di dalam sana.


Lorong demi lorong, dan satu persatu ruangan yang ada di dalam kapal itu digeledah oleh banyak sekali aparat berwenang. Namun hasilnya nihil, dan tidak ditemukan orang lain.


Pemeriksaan setiap ruangan di dalam kapal itu akhirnya berakhir sampai ruang kemudi yang terletak di dek atas, dan benar saja di sana terkumpul semua awak kapal dalam keadaaan berlutut dengan tangan kaki terikat.


Ketika beberapa anggota khusus memasuki ruang kemudi itu. Ditemukan sang nahkoda kapal yang dalam keadaan terikat di kemudi oleh kabel-kabel mencurigakan. Mulut sang nahkoda membisu seolah tidak dapat berbicara ataupun meminta tolong, namun tatapannya yang seolah berbicara memohon pertolongan ketika aparat-aparat itu datang.


Melihat kabel-kabel itu, tentu membuat langkah demi langkah para aparat. Mereka mencurigai adanya ranjau atau bom saat melihat kabel-kabel tersebut, dan benar saja, "kami menemukan bom waktu yang terikat di kemudi kapal, Pak. Dan bom tersebut terikat pada kedua kaki dari nahkoda."


"Bom?!" Prawira terkejut mendengarnya. Dirinya pun segera menarik mundur anggotanya sementara, dan mengirimkan regu khusus untuk menangani bom itu.


Lima menit berlalu. Regu khusus penanganan bom yang terdiri dari tiga orang sudah berada di dalam ruang kemudi, tempat di mana bom waktu itu berada. Sebanyak 14 orang awak kapal sudah diamankan keluar dari kapal, sedangkan sang nahkoda masih berada di sana. Nahkoda itu tampak sangat pasrah dengan kondisinya yang dikelilingi oleh kabel-kabel dari bom tersebut.


"Kami usahakan!"


Prawira memantau semua yang terjadi di dalam ruang kemudi itu melalui layar monitor yang ada di sebuah mobil petugas. Monitor itu menampilkan apa yang dilihat oleh regu penjinak bom.


"Dinamit?" gumam Garwig.


"Namun sepertinya yang ini sudah dimodifikasi," sahut Prawira.


Matanya tak bisa lepas dari layar monitor itu. Ia dapat menyaksikan betapa hati-hatinya regu penjinak bom ketika melakukan eksekusi pada dinamit yang dimaksud. Dirinya juga dapat detik waktu digital pada bom itu yang menunjukkan sisa lima menit lagi.


Empat menit kemudian, bom tersebut sepertinya berhasil untuk dijinakkan. Beberapa kabel penting yang terikat pada bom itu sudah berusia diputus. Namun anehnya, waktu yang ada pada bom itu masih berjalan mundur. Bahkan semakin cepat.

__ADS_1


Melihat hal tersebut, sontak regu penjinak bom sempat dibuat panik. Mereka pun mengambil keputusan untuk segera menarik keluar sang nahkoda dari sana.


"Keluar dari sana!" pinta Prawira dengan tegas.


Detik demi detik berjalan mundur dan semakin cepat, sampai pada akhirnya waktu yang ada pada bom itu menunjukkan angka nol.


Prawira menoleh dan melihat dek atas kapal itu. Napasnya hampir tertahan, dan seolah bersiap dengan ledakan yang akan terjadi. Namun berjalan beberapa detik kemudian, bom itu tak kunjung meledak juga.


"Apa yang sebenarnya terjadi?!" gumam Prawira mengerutkan keningnya pertanda bingung.


Garwig yang pada saat itu berdiri di samping Prawira berkata, "kurasa ... ada yang aneh dengan ini semua," ucapnya seraya menoleh dan menatap rekannya dengan tatapan serius.


"Rasanya aku ingin memastikan secara langsung!" Prawira tiba-tiba bergegas masuk ke dalam kapal tanpa basa-basi.


"Pak, anda tidak bisa masuk sebelum dinyatakan aman!" dua orang anggota polisi dengan persenjataan lengkap menahan langkah Prawira ketika berada di depan pintu masuk kapal. Namun, Prawira tetap bersikeras, "jangan menghalangi! Ini perintah!"


Di saat yang bersamaan, Garwig menghampiri Prawira dan berkata kepada dua rekan polisi itu, "dia bersamaku, biarkan kami lewat!"


Mendengar Garwig berkata seperti itu. Dua aparat yang sebelumnya menghalangi hanya bisa menuruti. Mereka membiarkan dua orang penting itu lewat dan masuk, namun tidak meninggalkannya. Kedua aparat itu juga ikut masuk untuk penjaga Garwig dan Prawira.


Langkah mereka berempat akhirnya sampai di ruang kemudi kapal, dan di sudut ruangan itu terlihat jelas sebuah bom berwarna merah yang terletak di sana. Waktu digital pada bom itu tiba-tiba saja berubah berupa sebuah kata atau tulisan yang bertuliskan 'dibatalkan', yang berarti bahwa peledakan telah dibatalkan.


Melihat hal tersebut, Garwig merasa bom ini telah dikendalikan dari jarak jauh. Dirinya merasa kalau dugaan sebelumnya mengenai Clone Nostra benar.


"Aku merasa ... dugaanku sebelumnya benar, kita satu langkah tertinggal dari mereka," gumam Garwig dan didengar oleh Prawira.


***


"Masalah beres, bos. Sekarang aman untuk kita masuk dan bersiap ke seluruh penjuru kota," ucap Farres menghampiri Doma yang berada di sebuah gudang besar. Di sekitar gudang itu terlihat banyak sekali orang-orang berpakaian serba putih dengan persenjataan mereka.


"Bagus, ternyata nggak salah kita memiliki banyak relasi orang dalam," sahut Dom melipat lengannya dan lalu tersenyum sinis.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2