
Setelah bertemu dengan Flix di Distrik Timur. Kimmy beserta seluruh rekannya langsung bergegas menemui petinggi kepolisian yang dimaksudkan oleh Flix. Mereka melakukan pertemuan tersebut dilakukan di perbatasan antara Distrik Timur dengan Distrik Balaikota.
Seperti dugaan Kimmy sebelum, petinggi yang dimaksud oleh Flix adalah Prawira. Dirinya beserta dua orang rekannya yakni Adam dan Asep menjalani pertemuan dengan Prawira di perbatasan tersebut.
Ketika sampai di sana, Kimmy beserta pihaknya langsung dipertemukan dengan regu gabungan dari aparat kepolisian dan militer. Mereka terlihat tengah melakukan persiapan dengan mendirikan kamp darurat di antara gedung-gedung pertokoan dan juga di tengah-tengah jalanan.
"Flix sudah mengabariku soal apa yang terjadi di sana, dan soal tujuan kalian datang," ucap Prawira langsung menyambut Kimmy beserta dua rekan kepercayaan Berlin di sebuah tenda pertemuan.
"Baik, baguslah. Langsung saja kepada intinya, kami akan bergerak menuju ke Balaikota untuk menyelamatkan Berlin yang dibawa dan ditawan di sana," sahut Asep.
Prawira sangat memahami apa yang saat ini dirasakan oleh tiga orang itu, termasuk seluruh personel Ashgard. Mereka bertiga terlihat begitu khawatir dengan kondisi Berlin yang tentunya masih tidak diketahui sampai detik ini.
"Iya, aku paham situasinya, namun kita tidak bisa bergerak secara gegabah ... mengingat Berlin berada di tangan Clone Nostra," ucap Prawira sebelum akhirnya membeberkan rencana yang disusun oleh Garwig ketika masih berada di Taman Kota.
"Saat ini aku dan Garwig akan melakukan penyerangan terhadap komplotan mereka yang menguasai Gedung Balaikota. Namun setelah mendengar kabar dari Flix dan kalian, kurasa aku akan melakukan perubahan rencana," ucap Prawira.
"Baik, langsung saja katakan, apa rencana anda, pak?" sahut Kimmy.
Prawira pun menjawab dan mengatakan, "aku sudah membicarakan soal penyerangan yang akan dilakukan oleh personel gabungan dengan Garwig, dan kami memutuskan untuk menunda sejenak penyerangan tersebut."
"Tak hanya itu, kami juga akan mencoba mengirimkan tim khusus untuk melakukan pengintaian, serta menerbangkan pesawat tanpa awak untuk melakukan pemindaian di area gedung tersebut," lanjut Prawira.
Di saat yang bersamaan, Netty yakni sekertaris Prawira tiba-tiba saja datang ke tenda tersebut dan menyerahkan sebuah alat komunikasi berupa radio sembari mengatakan, "pak, salah satu helikopter kita berhasil menangkap keberadaan Berlin di gedung itu."
Apa yang diucapkan oleh Netty disusul dengan sebuah suara dari seorang co-pilot helikopter yang berkata, "kami melihat seorang tawanan pria dengan jubah hitam, dia berlutut tepat di depan pintu utama Balaikota dengan keadaan kedua tangan terikat di belakang," ucap co-pilot itu menyebutkan semua ciri-ciri tawanan yang ia lihat.
Sontak hal tersebut membuat Kimmy dan kedua rekannya terkejut, mengingat ciri-ciri yang disebutkan sangat mendeskripsikan sosok Berlin yang terakhir kali mereka lihat.
Namun sesaat setelah memberikan laporan serta informasi itu, suara co-pilot yang melaporkan tiba-tiba terputus-putus sembari mengatakan, "kami ... ditembaki ...."
"Menjauh dari sana, dan kembalilah!" titah Prawira menjawab dengan menekan tombol bicara pada radio komunikasi tersebut.
__ADS_1
"Ba-baik!"
Setelah menerima laporan tersebut, Prawira langsung bergegas menuju ke tenda komunikasi untuk menghubungi Garwig. Bersama dengan ketiga petinggi Ashgard, dirinya berjalan menuju tenda itu dan hendak menyampaikan suatu permintaan kepada Garwig.
"Apa yang akan anda lakukan? Bukankah seharusnya kita segera bergerak?" tanya Kimmy.
"Ya! Berlin sudah dikonfirmasi ada di sana, anda bisa mendengarnya sendiri, bukan?" timpal Asep.
Di antara ketiga orang itu, hanya Adam yang diam dan tidak terlalu aktif berbicara. Prawira memaklumi kepanikan yang terjadi, namun dirinya juga salut dengan sikap Adam yang begitu tenang, benar-benar mengingatkannya pada sikap Berlin.
"Regu dan anggotaku sudah siap untuk itu, kalian langsung saja bisa temui Prime dan Flix untuk berkoordinasi lebih lanjut," ucap Prawira, dan tak lama kemudian sampai di depan tenda komunikasi.
Pria dengan pakaian serba hitam dan lencana tiga bintang berwarna emas itu menghentikan langkahnya ketika berada tepat di depan tenda.
"Lalu bagaimana dengan anda?" tanya Adam yang akhirnya angkat bicara.
"Aku akan menghubungi Garwig untuk menerbangkan pesawat tanpa awak, kita memerlukan pengintai di langit juga untuk melihat semuanya," jawab Prawira.
***
Luka dan darah yang ada di dahi kanannya sudah mengering, namun tidak pada luka sayatan yang ia dapatkan pada lengan kirinya. Luka itu masih basah dan masih mengeluarkan sedikit darah meskipun tak sebanyak sebelumnya.
"Hai, tampan. Sayang sekali aku harus melihat dirimu dalam keadaan seperti ini," celetuk seorang wanita berjas putih yang tiba-tiba saja berjalan mendekatinya.
Berlin tak mengenal siapa wanita itu, namun melihat orang-orang Clone Nostra di sekitarnya yang tampak sangat segan dengan sosok wanita tersebut . Itu cukup membuatnya tahu bahwa sosok wanita yang kini berada di hadapannya adalah salah satu sosok petinggi selain Tokyo di dalam sindikat atau kelompok bernama Clone Nostra.
"Apakah kamu haus? Aku bisa membawakan air minum untukmu, Berlin," ucap wanita tersebut.
Namun tidak ada jawaban dari Berlin yang hanya memilih untuk tunduk dan tidak melihat wajah milik wanita di hadapannya. Merasa seolah tertantang, wanita itu tiba-tiba saja memegang salah satu pipi miliknya sembari mendekatkan kedua tatapan matanya dengan wajahnya.
"Ayolah, jangan cuekin aku. Dahulu aku sempat menggemarimu, loh, Berlin! Aku jadi iri dengan perempuan yang kini menjadi istrimu itu, betapa beruntungnya dia bisa memiliki laki-laki tampan sepertimu."
__ADS_1
Berlin memasang tatapan tajam dan benci. Alih-alih mendengarkan semua yang diucapkan, dirinya memilih untuk menerima segala ucapan itu menggunakan telinga kanannya dan membuang semua ucapan yang ia dengar menggunakan telinga kirinya.
"Aku tidak peduli siapapun dirimu, namun jika kau tidak menjauhkan wajah j*l*ng mu dari hadapanku, maka aku tidak akan mengampuni dirimu," ucap Berlin dengan sikap yang seperti biasa dingin dan intonasi bicara mengancam. Wajah wanita itu benar-benar sangat dekat dengan wajahnya, dan itu sangat membuatnya muak.
"Nona Karina, anda dipanggil oleh Tuan Tokyo di dalam," cetus tiba-tiba seorang wanita yakni salah satu anggota Clone Nostra yang mendatangi wanita di hadapan Berlin.
Wanita yang ternyata adalah Karina itu tampak menghela napas berat dan berkata, "baiklah, aku akan segera ke sana."
"Mengganggu waktuku saja," gumamnya.
Ketika melangkah pergi melewati Berlin. Karina sempat menghentikan langkahnya tepat di belakang Berlin, dan secara tiba-tiba merangkul pria itu dari belakang sembari membisikan, "berbeda dengan Tokyo, aku tidak akan membunuhmu, sayang. Kamu tenang saja, ya ...?"
Setelah melakukan bisikan dan tindakan yang membuat Berlin sangat jijik dan muak. Wanita itu beranjak pergi begitu saja. Berlin sendiri sangat kesal dan marah karena tidak dapat menghajar wanita itu dengan kedua tangannya. Namun semua kekesalannya hanya dapat terpendam, dan dirinya memilih untuk bersabar untuk sementara waktu.
Meski kelihatannya kematian-lah yang berada dekat dengan dirinya, namun dalam hati Berlin masih berharap adanya bantuan yang akan datang untuk keselamatan nyawanya. Di sekelilingnya hanya ada senapan-senapan yang dibawa oleh setiap anggota Clone Nostra yang berjumlah lebih dari dua puluh orang, dan itu tidak termasuk jumlah orang-orang Clone Nostra yang berjaga di luar halaman serta perbukitan seberang Gedung Balaikota.
Senapan-senapan yang mereka bawa bisa saja sewaktu-waktu melesatkan timah panas ke arahnya, dan Berlin sendiri tidak akan bisa berbuat apa dengan kondisi tubuhnya saat ini yang sangat jauh dari kata prima.
"Kimmy, Asep, Adam, dan kalian semua Ashgard. Aku percayakan semuanya pada kalian," batin Berlin sembari memejamkan kedua matanya dan menghela napas cukup panjang.
***
"Berlin?! Kau yang benar saja?"
"Oke, baik!"
"Baik, akan ku luncurkan segera!"
Garwig menerima panggilan serta kabar yang sangat tidak baik dari Prawira yang berada di perbatasan Distrik Timur dan Distrik Balaikota.
Sesuai dengan apa yang diminta oleh Prawira, yang kemudian dirinya pun setuju dengan ide serta permintaan tersebut. Garwig segera menghubungi personelnya yang berada di markas pusat, dan memberikan perintah serta izin untuk meluncurkan pesawat tanpa awak yang akan terbang berpatroli mengelilingi Gedung Balaikota dari balik awan.
__ADS_1
.
Bersambung.