Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Papa Janji! #104


__ADS_3

"Papa! Papa, Akira di sini!"


Mendengar suara anak kecil itu, Berlin segera menghampiri sumber suaranya. Dan benar saja, dirinya menemukan sosok anak kecil bernama Akira yang berlari dari balik kegelapan ke arahnya. Berlin langsung berlutut dan menyambut gadis kecil itu dengan pelukan hangat.


"Akira sendirian di sini? Di mana yang lain?" tanya Berlin sembari memeluk erat anak itu.


Pelukan hangat yang begitu erat, Berlin dapat merasakan ketakutan serta trauma yang cukup mendalam dari gadis kecil yang saat ini berada dalam pelukannya.


Akira menggelengkan kepala dan menjawab, "tidak ...! Kami sembunyi di belakang," ucap Akira dengan tatapan penuh dengan ketakutan ketika menatap Berlin.


Di saat yang bersamaan, Nyonya Helena dan Alana beserta anak-anak yang lain dan juga dua pekerja panti asuhan pun muncul menghampiri Berlin dari balik kegelapan.


"Kami kira mereka berhasil menerobos masuk, ternyata itu dirimu, Berlin," ucap Helena, kedua matanya terlihat penuh dengan rasa syukur ketika melihat kehadiran Berlin.


Berlin menggendong tubuh kecil milik Akira dan berbicara, "kami akan membawa kalian ke tempat aman," kepada Helena.


"Kimmy, bawa mereka ke mobil!" pinta Berlin kepada rekannya.


Dengan sikap yang amat ramah dan begitu baik, Kimmy membawa anak-anak itu beserta dua pekerja wanita panti asuhan menuju empat mobil yang sudah disediakan.


"Terima kasih banyak, Berlin. Maaf jika cukup merepotkan," ucap Helena menjabat salah satu tangan milik Berlin dan berterima kasih dengan sangat tulus.


"Tidak perlu, aku melakukan ini karena menurutku sudah seharusnya untuk ku lakukan," ucapnya sembari melirik ke arah Akira yang tampak begitu menempel pada gendongannya dengan pelukan kecil yang seolah tak ingin lepas. Gadis kecil itu dengan nyamannya menyandarkan kepala kecil miliknya di atas bahu kiri milik sosok pria yang ia panggil dengan sebutan 'Papa' itu.


Di saat yang bersamaan, Berlin tiba-tiba menerima laporan dari salah satu rekannya yakni Aryo melalui radio komunikasi yang ia kantongi. Aryo berkata, "Bos, kami melihat adanya pergerakan dari Clone Nostra. Mereka datang dari arah Utara."


"Segeralah ikuti rekanku Kimmy, kalian akan kami bawa menuju ke zona aman. Tidak perlu khawatir soal keamanan, karena kami akan menjamin keselamatan dan keamanan kalian," ucap Berlin kepada Helena dan Alana.


Sebelum Alana dan Helena beranjak pergi mengikuti ke mana Kimmy melangkah. Berlin hendak menyerahkan Akira terlebih dahulu dari gendongannya ke gendongan Helena. Namun tampaknya anak itu menolak, bahkan merengek ketika Berlin melepas gendongan tersebut.


"Nggak mau! Aku mau sama papa!" Anak itu langsung ngambek. Ia semakin mempererat pelukannya terhadap Berlin, dan tidak ingin berpindah kepada Helena.


Berlin menghela napas dan membiarkan gadis kecil itu berada dalam gendongannya sejenak. Sepertinya ini akan menjadi hal yang cukup sulit baginya.


"Akira, dengarkan papa dahulu, ya?" Berlin berusaha untuk membujuk anak itu agar mau ikut bersama dengan Nyonya Helena dan Alana.

__ADS_1


"Di luar sana masih banyak orang jahat yang harus papa atasi, dan Akira tahu sendiri kalau itu adalah hal yang berbahaya. Papa mau Akira ikut sama Bunda Helena dan Kak Alana untuk sementara, nanti setelah semuanya selesai ... Papa akan temui Akira lagi, ya?"


Dengan sedikit penjelasan seperti itu, tampaknya anak itu paham. Akira yang sebelumnya mengalihkan pandangannya dari Berlin sembari menaruh dagunya pada bahu kiri pria itu, kini mulai beralih untuk menatap wajah sosok pria yang ia panggil sebagai 'Papa' baginya.


"Papa janji ...?" ucap Akira dengan kedua mata besar miliknya yang sungguh lucu.


Berlin tersenyum, wajahnya begitu dekat dengan wajah gadis itu, "janji!" ucapnya.


"Nanti setelah sampai ke tempat aman, papa mau Akira langsung temui mama di sana, ya?" lanjut Berlin.


"Sungguh? Mama ada di sana?!" sahut Akira, raut wajah yang sebelumnya memasang ekspresi ngambek tiba-tiba saja berubah ceria ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin.


Berlin tersenyum dan mengangguk, "iya," menjawab pertanyaan itu.


Sepertinya Berlin berhasil membujuk gadis kecil itu. Akira berpindah kepada gendongan Nyonya Helena, dan kemudian segera beranjak pergi menuju ke mobil milik Berlin.


...


Dalam waktu yang sangat singkat. Ashgard telah mengeluarkan semua anak beserta dua pekerja panti asuhan bersama dengan Nyonya Helena dan Alana. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit Pusat. Beruntung jarak antara Distrik Timur dengan Pusat Kota tidaklah terlalu jauh.


Keempat mobil besar yang dibawa dari pihak Ashgard kini dipenuhi oleh anak-anak dan dua pekerja panti asuhan, dan di mobil milik Berlin sendiri ditumpangi oleh Akira, Helena, dan Alana. Namun pada saat ini bukan Berlin yang mengendarai mobil tersebut, melainkan salah satu rekan pilihannya yakni Kent. Berlin sendiri lebih memilih untuk bergabung dengan regu pemotor.


"Bos, ada yang mengikuti kita!" teriak salah satu rekan pengendara motornya yakni Rony yang berboncengan dengan Aryo. Ia melaju tepat di samping motor yang tengah dikendarai oleh Berlin.


Mendengar hal tersebut, Berlin langsung membagi menjadi dua kelompok, "Kina, Sasha, Galang. Kalian lanjut ikuti rombongan mobil! Aryo dan Rony, kalian ikuti aku untuk mengalihkan mereka!" titahnya menggunakan radio komunikasi dengan sangat cepat.


"Bos, apa kau yakin?" sahut Sasha tampak cukup kontra dengan keputusan itu.


"Ya! Kalian harus mencapai perbatasan terlebih dahulu," sahut Berlin berteriak.


Motor yang dikendarai Berlin langsung putar balik, diikuti oleh motor yang ditumpangi oleh Rony dan Aryo. Dua motor itu putar balik menjauh dari rombongan, dan menuju ke arah sekelompok orang berbaju putih yang mengikuti di belakang.


DESING ...!!!


Beberapa peluru tiba-tiba saja melesat ke arah Berlin dan kedua rekannya. Namun beruntungnya beberapa timah panas yang melesat itu meleset.

__ADS_1


Setelah berjarak cukup dekat dengan sekelompok orang bersenjata yang mengendarai mobil dan beberapa motor itu. Berlin pun kembali memutar balikkan motor yang dikendarai, begitu pula dengan Rony yang terlihat begitu lincah mengendarakan motornya.


"Kita alihkan perhatian mereka, sedikit berpencar!" titah Berlin berteriak ke arah Rony.


"Baik!"


Kedua motor itu pun berpencar ketika sampai di sebuah jalan bercabang. Kedua motor itu terus melaju sambil menuju ke arah perbatasan antara Distrik Timur dan Pusat Kota. Mereka terus dikejar oleh beberapa mobil dan motor yang dipenuhi oleh orang-orang bersenjata. Tak hanya itu, keduanya juga terus ditembaki oleh sekelompok bersenjata itu.


"Nembak aja masih remidi, belajar dahulu, lah!" celetuk Aryo yang berada di boncengan Rony.


"Berisik! Mending kau berikan sedikit perlawanan terhadap mereka!" ucap Rony sembari fokus mengendarakan motornya yang melaju sangat kencang.


Sedangkan di sisi lain, Berlin seorang tengah sibuk membuat orang-orang yang mengejar kesal dan pusing. Pria dengan jubah berwarna hitam itu melaju dengan motornya begitu kencang. Tak hanya itu, Berlin juga tampak sangat terampil dan lincah. Dirinya meliuk-liuk di beberapa belokan sela-sela kota, dan berhasil membuat mobil-mobil yang mengejar dirinya kewalahan. Sepertinya kemampuan mengemudinya tidak usah ditanyakan.


"Bos, sepertinya kita tidak dapat bertahan lama jika terus begini. Apakah kau ada rencana?!" tanya Aryo kepada Berlin melalui radio komunikasi. Suaranya begitu kencang dan bercampur dengan suara angin yang cukup ribut didengar.


"Entahlah," jawaban singkat yang diberikan oleh Berlin. "Terus saja ke arah Pusat Kota!" lanjutnya memberikan arahan kepada kedua rekannya itu menggunakan radio komunikasinya.


Namun sebelum sampai di perbatasan. Tiba-tiba saja satu peluru melesat dan tepat mengenai roda belakang dari motor yang dikendarai oleh Berlin.


"Celaka ...!"


GUBRAAKKK ...!!!!


Seketika motor yang dikendarai Berlin menabrak tepian jalan, dan tubuhnya sempat terpelanting cukup jauh sebelum akhirnya membuat dirinya tersungkur di aspal.


"Bos? Bos, apakah terjadi sesuatu?!"


"Berlin! Jawablah!"


Sepertinya sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi, Berlin belum mematikan tombol bicara pada radio komunikasi yang ia kantongi. Kini radio tersebut terlempar jauh dari jangkauannya tepat berada di bawa pembatas jalanan.


"Berlin, jawablah! Katakan sesuatu, apapun itu!" pinta Sasha melalui radio tersebut.


Namun tidak ada jawaban dari Berlin atas pertanyaan dari rekan-rekannya yang mendengar kericuhan yang berasal dari radio milik Berlin.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2