
Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang tenang dan sangat damai bagi Berlin. Meskipun dirinya berjauhan dengan Nadia hanya dalam satu hari lebih beberapa jam sedikit. Namun setelah semua yang terjadi di hari ini, sepertinya itu cukup membuat hatinya sangat berat untuk berjarak dengan seseorang tercintanya.
"Ini beneran kamu, 'kan? Aku tidak sedang bermimpi, 'kan ...?!" cetus Nadia menatap dalam-dalam kedua mata milik Berlin dengan jarak yang begitu dekat. Posisinya saat ini berada sangat dekat yakni di samping Berlin ketika duduk di sebuah sofa.
Berlin memberikan jawabannya dengan mencubit salah satu pipi kenyal milik sang istri, dan berhasil membuatnya merasa sedikit kesakitan.
"Aduh!" Nadia kelihatannya sangat terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh suaminya.
"Gimana? Sakit, 'kan?" tanya Berlin tersenyum melihat Nadia yang tampak sedikit terkejut dengan satu tangan memegangi pipinya yang kini berwarna merah merona.
Bibir merah muda milik Nadia cemberut dan sedikit mengerucut karena kesal dengan Berlin yang main cubit tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu. Melihat ekspresi tersebut, Berlin jadi merasa tidak tega. Ia meraih pipi merah milik istrinya dengan begitu lembut sembari berkata, "aw, maafkan aku, ya? Sini ...!" ucapnya dengan intonasi yang sungguh lembut.
Alih-alih merebahkan tubuhnya dan kemudian tidur di atas brankar atau ranjang, Nadia justru memilih untuk menyandarkan kepalanya di atas dada bidang milik Berlin yang tengah duduk bersandar santai di sebuah sofa. Tentu di sofa tersebut masih ada Akira yang tampaknya tertidur sangat pulas sedari tadi.
"Berlin, aku sangat berharap ketenangan ini dapat berlangsung lama," cetus Nadia dengan intonasi yang terdengar sungguh lemah lembut. Kedua tangannya terus melingkar pada tubuh Berlin yang lebih besar daripada dirinya.
"Tidak hanya kamu yang mengharapkan hal tersebut, namun aku juga tentunya mengharapkan hal yang sama," jawab Berlin, dan kemudian pandangannya tertuju pada jendela kamar yang memperlihatkan indahnya langit malam di hari ini setelah dari pagi hingga sore hanya dipenuhi oleh awan gelap. Bulan yang bersinar begitu cantik serta bintang-bintang yang berada di sekitarnya, semuanya dapat dilihat melalui jendela itu.
Ketika kepala milik Nadia hanya bersandar, bahkan tepat berada di bawah dagu milik Berlin. Pandangan kedua mata milik wanita itu tertuju ke bawah, tepatnya ke arah salah satu kaki milik Berlin yang cedera. Kelihatannya Nadia cukup mencemaskan cedera yang dialami oleh sang suami.
"Jangan khawatir, ini hanya akan membutuhkan waktu beberapa pekan untuk pulih, kok!" cetus Berlin tampaknya menyadari hal tersebut. Ia menjawab sembari mengusap beberapa kali kepala milik sang istri, dan kemudian memberikan kecupan pada keningnya.
__ADS_1
Setelahnya, salah satu tangan milik Berlin perlahan beranjak turun dan berhenti tepat pada perut besar milik Nadia sembari bertanya, "selama aku pergi, dia tidak rewel, 'kan?" tanyanya sembari mengusap lembut perut bumil itu dengan penuh kasih sayang.
Nadia tersenyum ketika mendapat sentuhan hangat itu dan kemudian menggelengkan kepalanya dengan menjawab, "tidak, justru sepertinya ... aku yang rewel, sih. Hehehe ...!" jawabnya kemudian tertawa kecil.
Berlin sungguh menikmati sentuhannya pada perut milik sang istri, dan dirinya dapat merasakan adanya pergerakan yang cukup aktif dari dalam sana. Ia tersenyum dengan sendirinya ketika dapat merasakan pergerakan-pergerakan kecil dari dalam perut itu.
Di tengah ketenangan dan suasana yang cukup dingin di malam ini. Nadia mendongakkan kepalanya untuk dapat menatap sepasang iris mata hitam milik sang suami, sebelum kemudian bertanya, "kira-kira ... kapan kita akan pulang?"
Dengan senyuman yang sedari tadi sepertinya sulit untuk pudar dari wajahnya. Berlin menjawab, "kita akan segera pulang, sayang. Dan ...," lirikannya tiba-tiba saja tertuju ke arah Akira kecil yang tertidur tepat di samping Nadia, sebelum kemudian melanjutkan ucapannya, "kita bersama dengan Akira akan pulang ke rumah yang sama."
Masih dalam posisi yang sama, Nadia tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin, "ternyata kamu nggak lupa soal itu, ya ...?" lirihnya dengan tatapan nanar, dan kembali menyembunyikan paras cantiknya di bawah dagu milik Berlin.
"Mama?" tiba-tiba saja Akira terbangun dari tidurnya dengan perlahan membuka kedua matanya yang tampaknya masih terasa sangat ngantuk itu.
Berlin dan Nadia tersenyum dan tertawa kecil ketika melihat sikap lucu Akira yang sepertinya masih belum menyadari adanya kehadiran Berlin di dekatnya.
Nadia langsung memeluk gadis kecil itu yang sepertinya masih dalam keadaan setengah sadar. Ketika mendapat pelukan hangat itu, Akira seketika langsung menyandarkan kepalanya di atas dada milik Nadia dan melanjutkan tidurnya di sana.
Berlin terkekeh kecil melihat sikap dari anak kecil itu yang sampai sekarang belum menyadari kehadiran dirinya. Dengan perlahan dirinya mengelus lembut dan membelai rambut hitam panjang milik Akira yang tengah tertidur di dalam dekapan istrinya.
"Tentu aku tidak melupakannya," Berlin menjawab pertanyaan yang sebelumnya diucapkan oleh Nadia, sebelum akhirnya ia mendekatkan wajahnya kepada Akira yang kelihatan sangat tertidur nyaman di dalam dekapan Nadia.
__ADS_1
"Papa sudah ada di sini, kok! Sesuai dengan janji yang sempat papa buat denganmu," bisik Berlin, sebelum kemudian mengecup kening milik gadis kecil itu yang tampaknya melanjutkan tertidurnya dengan sangat pulas.
***
Pukul 23:00 malam, Penjara Federal.
Setelah selesai untuk sementara menangani Tokyo dan Farres bersama dengan Garwig, bahkan mereka berdua juga menemukan sosok ketua dari Cassano yang ternyata memang benar ada di antara banyaknya pelaku yang diamankan.
Kini Prawira berjalan di sebuah lorong dalam salah satu gedung di Federal. Lorong itu memiliki penerangan lampu yang tidak terlalu terang, namun juga tidak terlalu gelap. Langkahnya di lorong tersebut membawa dirinya menuju ke sebuah ruangan tersendiri di ujung lorong. Pintu ruangan itu terbuat dari lapisan baja, dan dindingnya berlapiskan beton yang sangat tebal sekali.
Hanya ada dirinya seorang yang kini berdiri di depan pintu ruangan tersebut. Prawira tidak ditemani oleh seorang rekan, hanya ada dirinya sendiri di lorong yang remang-remang itu.
"Apakah kau memerlukan sesuatu dariku, Prawira?" tanya seorang pria berjaket hitam ketika Prawira membuka pintu baja pada ruangan tersebut.
"Tidak, aku hanya memastikan dirimu saja," jawab Prawira.
Sosok pria berjaket hitam yang sebelumnya berdiri membelakangi Prawira yang ada di depan pintu, kini berbalik badan menghadapnya dan berkata, "jangan khawatir, aku tidak memiliki rencana untuk melarikan diri dari sini."
Sosok pria berjaket hitam itu rupanya adalah Carlos Gates Matrix, yang kini sudah berada di dalam ruangan atau sel penjaranya. Prawira tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan oleh Carlos, sebelum kemudian dirinya berbicara, "istirahatlah malam ini, Carlos. Karena besok aku ingin kau menemaniku ...!"
"Terima kasih perintahnya, silakan keluar! Aku ingin sendiri dan tenang di dalam ruanganku ini," sahut Carlos, beranjak duduk di sebuah kursi di dekat meja besi yang terletak di sudut ruangannya.
__ADS_1
.
Bersambung.