
Prawira mendapatkan panggilan dari Garwig untuk datang ke Gedung Balaikota, bersama dengan beberapa perwira seniornya. Dirinya diminta untuk menemui pria itu pada pukul enam petang. Kabar atau panggilan itu sangatlah mendadak, dan sempat membuat Prawira terkejut ketika pertama kali menerima panggilan tersebut melalui Netty sekretarisnya.
"Sepertinya ada hal penting yang ingin Garwig sampaikan padamu, kurasa kau harus segera menemuinya sesuai dengan permintaannya," ucap Netty, mengantongi kembali ponsel miliknya.
"Ya," jawab singkat Prawira, kemudian memeriksa waktu pada jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Waktu menunjukkan pukul lima lebih empat lima sore, lima belas menit sebelum waktu menunjukkan pukul enam petang pas.
"Tetapi aku tidak bisa meninggalkan tugas yang ada di sini, masih ada beberapa yang harus dikerjakan, belum lagi untuk soal perlengkapan anggota," lanjut Prawira.
"Apakah kau lupa kalau punya diriku?" sahut Netty, menatap hangat nan serius pria itu, dan kemudian tersenyum tipis sembari lanjut berkata, "kau bisa mengandalkan ku!"
"Akan sangat merepot--"
"Tidak merepotkan, karena aku siap menerima semua tugas dan perintah yang kau berikan, pak!"
Belum selesai Prawira berbicara, Netty sudah lebih dahulu menyambar dengan intonasi dan sikapnya yang begitu bersemangat, terlihat dari kedua sorot matanya yang tajam dan membara.
Prawira hanya menghela napas, tersenyum dan kemudian berkata, "baiklah, untuk sementara aku serahkan yang ada di sini kepadamu."
"Siap!" sahut Netty, menegapkan badannya dan kemudian tersenyum lebar.
Pria itu kemudian beranjak pergi dari sana sembari menghubungi James, Prime, dan Flix sebelum akhirnya pergi dari lokasi tersebut untuk menemui Garwig di Gedung Balaikota.
***
Tidak membutuhkan waktu lama, Prawira dan rekan-rekannya sampai di Gedung Balaikota tepat waktu pada pukul enam petang. Ketika sampai di gedung putih tersebut, Prawira dan tiga rekannya cukup dibuat terkejut dengan kehadiran Berlin dan Carlos di sana. Tak hanya Berlin, namun juga hadir dua orang kepercayaan Berlin yakni Kimmy dan Asep.
__ADS_1
Mereka berlima terlihat berdiri di depan pintu masuk gedung, menunggu serta menyambut hangat kedatangan Prawira dan rekan-rekannya.
"Ada apa ini?" tanya Prawira sesaat setelah berjabatan tangan dengan Garwig dan juga Berlin.
"Bagaimana kabarmu, Berlin? Apakah kakimu semakin membaik?" lanjut Prawira, menatap kepada Berlin yang masih berdiri menggunakan tongkat bantu jalannya.
Berlin tersenyum menjawab, "syukurlah semakin membaik, hanya saja belum ada pernyataan dari dokter untuk aku merelakan tongkat ini."
"Syukurlah kalau begitu," Prawira tersenyum hangat melihat kondisi Berlin yang semakin membaik.
"Bagaimana kalau kita lanjut berbincang di dalam? Aku tidak enak hati jika harus melihat tamu-tamu terhormat ku berdiri di depan pintu seperti ini, jadi marilah masuk!" ucap Garwig, sedikit menyela pembicaraan, dan kemudian mengajak tamu-tamunya untuk masuk ke dalam gedung.
Gedung putih yang megah dan besar itu. Setelah melalui pekan yang buruk yang menyebabkan kehancuran di hampir setengah dari bagian gedung. Sekarang gedung atau bangunan itu perlahan sudah melalui banyak pemulihan hanya dalam waktu sepekan.
"Renovasi yang kau lakukan terbilang cepat juga ya, hanya memerlukan waktu sepekan untuk bisa pulih seperti ini," ucap Prawira menyindir Garwig ketika dirinya berjalan melalui aula utama.
"Ini belum semuanya, di bagian sisi timur dan barat gedung masih dalam perbaikan karena kerusakannya lebih parah dari yang ada di sini," sahut Garwig.
Garwig terus berjalan, memimpin para tamunya menuju ke sebuah ruang pertemuan. Di dalam ruang pertemuan tersebut terdapat sebuah meja rapat yang berukuran panjang, dan di sana sudah ditunggu oleh sosok Siska yang berdiri di kursi paling depan.
"Alasan mengapa aku ingin bertemu denganmu dan juga pihak mu, karena ada yang ingin ku sampaikan kepada kalian, dan hal ini bersangkutan dengan Red Rascals juga Clone Nostra."
Siska menutup rapat pintu ruang pertemuan yang kedap suara itu, setelah memastikan semua tamu yang diundang oleh Garwig untuk datang telah memasuki ruangan. Sesaat kemudian, Garwig mulai langsung berbicara tanpa berbasa-basi mengenai alasannya mengundang Prawira dan pihaknya untuk datang.
Garwig meletakkan sebuah buku catatan kecil berwarna cokelat di atas meja, dan disaksikan oleh seluruh orang di ruangan itu yang berada mengelilingi meja panjang tersebut.
__ADS_1
"Buku ini dibeli oleh Carlos dari informan Mafioso, kemudian diserahkan kepada Berlin, dan berakhir di tanganku."
"Di dalam buku ini ada beberapa hal yang berkemungkinan besar adalah rencana dari Red Rascals untuk persidangan yang akan datang."
Prawira, James, Prime, dan Flix secara bersamaan menatap buku kecil itu dengan tatapan tajam penuh penasaran, apalagi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Garwig mengenai buku tersebut.
"Carlos?" cetus Prime, kemudian menatap Carlos yang tepat berada bersebrangan dengan dirinya.
"Ya, aku membelinya dari informan Mafioso," jawab Carlos, tenang. Di sampingnya terdapat Berlin yang seolah siap menambahkan kata-kata bila saudaranya kehabisan kosa kata untuk menjawab.
"Kau membelinya?" sahut Prawira, mengerutkan dahinya dan menatap tajam Carlos.
"Ya, dia membelinya berdasarkan perintahku untuk mencari serta membeli informasi apapun mengenai Red Rascals dan Clone Nostra." Carlos terdiam mendengar pertanyaan tersebut, dan kemudian pertanyaan dari Prawira dijawab langsung oleh Berlin dengan sikapnya yang juga tenang seperti biasa.
"Garwig, bisa ku lihat isi dari buku itu?" lanjut Prawira, mengalihkan pandangannya kepada Garwig yang berdiri di kursi paling depan.
"Silakan," jawab Garwig, kemudian menggeser buku yang ada di atas meja itu untuk lebih dekat kepada Prawira.
Prawira pun menerimanya, membukanya, dan memeriksa dalamnya. Prime yang ada di sampingnya juga secara spontan melihat isi dari buku tersebut. Mereka berdua berhasil dibuat terkejut dengan isinya, sama seperti Berlin dan juga Garwig ketika membuka buku itu untuk pertama kalinya.
"Rencana penyerangan Pengadilan Negeri Metro Pusat, Red Rascals, Clone Nostra. Yang benar saja?!" cetus Prawira, membaca dengan lugas sebuah kalimat yang tertulis di halaman pertama buku.
.
Bersambung.
__ADS_1