Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Keputusan Persidangan #245


__ADS_3

Pukul empat sore dengan hujan yang perlahan mulai reda. Suasana dingin tak hanya di rasakan di luar ruangan, namun juga dirasakan di dalam ruang sidang. Persidangan yang berlangsung lebih dari lima jam itu, akhirnya menemui titik akhir setelah melewati beberapa kali perundingan para jaksa dengan hakim.


"Terdakwa atas nama Tokyo El Claunius, berdasarkan pasal-pasal yang telah dilanggar dan setelah melalui beberapa perundingan serta pertimbangan, maka keputusan telah dibuat bulat bahwa terdakwa akan menjalani hukuman mati."


Tok ... Tok ... Tok ...!


Palu keadilan telah diketuk sesaat setelah hakim mengutarakan sebuah keputusan soal hukuman yang akan dijalani oleh terdakwa. Keputusan telah dibuat, dan persidangan pun menemui titik akhir alias selesai. Terdakwa Tokyo El Claunius langsung dibawa keluar dari ruang sidang, dikawal sangat ketat oleh banyak aparat taktis dengan seragam gelap serta senapan-senapan yang mereka bawa. Tokyo El Claunius digiring keluar dari gedung pengadilan, dan langsung dimuat ke dalam sebuah mobil baja tahanan yang sudah siap terparkir tepat di depan pintu masuk gedung pengadilan.


Banyak sekali perhatian yang tertuju kepada Tokyo, terutama pada wartawan yang hanya bisa meliput serta menunggu semua keputusan serta hasil dari persidangan dari luar gerbang utama. Mereka terlihat heboh sekali ketika melihat mobil baja milik Federal terparkir, dan tepat di belakang mobil tersebut banyak sekali aparat taktis yang tampak sedang mengamankan serta menutupi sesuatu. Namun sayangnya mata serta kamera mereka tidak dapat menangkap serta melihat sosok Tokyo El Claunius, karena benar-benar ditutup dan tidak terekspos sama sekali.


Ketika Tokyo sudah benar-benar berada di dalam mobil tahanan yang sangat tertutup serta juga dijaga bersama dengan tiga aparat yang turut ikut. Rombongan kepolisian pun segera melakukan pengawalan, dan kemudian membawa mobil tahanan itu keluar dari area pengadilan dengan sangat ketat, tidak memberikan ruang sedikitpun bagi siapapun untuk bisa melihat lama wujud dari mobil itu sendiri, karena dikelilingi oleh mobil-mobil baja milik kepolisian yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari mobil tahanan tersebut.


Garwig menyaksikan semua itu, bahkan dirinya juga mengikuti serta jalannya persidangan yang berlangsung cukup lama itu. Tak hanya menyimak jalannya persidangan, dirinya juga sempat melihat beberapa kali bagaimana ekspresi Tokyo El Claunius sepanjang persidangan, terutama ketika terdengar keputusan hukuman yang dijatuhkan padanya. Ekspresi yang terkesan sangat dingin, cuek, acuh tak acuh, dan datar. Tak hanya ekspresi, Garwig juga berkali-kali menyaksikan bagaimana tatapan yang selalu ditunjukkan oleh Tokyo di sepanjang persidangannya, tatapan yang tak pernah lepas dari ketajamannya serta menggambarkan sekali hastrat untuk ingin terus menghabisi nyawa seseorang.


Setelah persidangan selesai dan Garwig juga telah mengetahui hukuman apa yang dijatuhkan kepada Tokyo El Claunius. Ia pun beranjak keluar dari gedung setelah semuanya tenang dan tidak terlalu ramai, kemudian menemui Prawira yang terlihat tengah sibuk di tenda-tenda darurat yang dibangun oleh kepolisian.


"Kau masih sibuk?" tanya Garwig ketika sampai di salah satu tenda dan bertemu dengan Prawira.


Prawira tampak selesai berbicara dan memerintah salah seorang anggota polisi, dan di saat itulah Garwig muncul di belakangnya. Ia pun segera berbalik badan setelah mendengar suara yang sangat tidak asing di telinganya, "sudah tidak terlalu, bagaimana?" ucapnya kemudian kepada Garwig.

__ADS_1


Bersama dengan Prawira, Garwig pun berjalan keluar dan sedikit menjauhi tenda tersebut karena cukup ramai dengan aparat. Sambil berjalan ke arah samping dari gedung pengadilan, Garwig bertanya soal, "bagaimana kabar dari Ashgard?"


"Aku sudah menerima laporan dari anggota, tak hanya dari anggota, aku juga sudah menerima pembaruan laporan dari Berlin sendiri melalui pesan singkat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari mereka, mereka berhasil mengatasi situasi yang ada, sekaligus melumpuhkan beberapa pelaku yang ada di sana. Sisanya aku telah mengirimkan banyak anggota untuk menetralkan situasi serta suasana yang sudah membuat banyak warga ketakutan." Prawira langsung memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan sangat lugas tanpa terbata-bata.


"Apakah ada korban baik dari mereka atau dari warga?" tanya Garwig, menghentikan langkahnya ketika sampai di samping gedung dan sudah cukup jauh dari pusat keramaian.


Prawira menggeleng, "tidak ada korban jiwa, hanya beberapa korban dengan luka ringan baik dari pihak Ashgard maupun warga yang sempat menjadi tawanan di sana. Selain dari luka ringan, mungkin juga ada cukup luka dalam mental korban yang sempat tawanan."


"Kapan kita bisa bertemu dengan Berlin? Apakah kau sudah menghubunginya untuk bertemu?" ucap Garwig kembali bertanya.


"Sudah, Netty baru saja sudah mengatur pertemuan dengan mereka," jawab Prawira.


Prawira bersedekap, menarik napas dan berkata, "sebenarnya ada sedikit hal yang menurutku cukup menarik, dan aku juga penasaran akan hal ini. Untuk itu nanti kita bisa tanyakan lebih lanjut kepada Berlin."


"Menarik?" gumam Garwig menatap serius pria di hadapannya.


"Ya, tampaknya ada sedikit pertemuan yang tidak terduga setelah baku tembak yang terjadi, pertemuan itu melibatkan Ashgard dengan Clone Nostra dan Cassano." Prawira menjawab dan sedikit memberikan kejelasan kepada Garwig.


Garwig mengangguk paham dan berkata, "baiklah, nanti kita bicarakan saja dengan Berlin."

__ADS_1


Prawira kemudian menoleh ke arah gerbang utama gedung pengadilan yang terlihat dari kejauhan. Di sana masih terlihat banyak sekali awak media yang berkumpul, dan menunggu kejelasan soal hasil dari persidangan yang belum dipublikasikan.


"Apakah kau memiliki rencana untuk mereka?" tanya Prawira, kemudian kembali menatap kepada Garwig di hadapannya.


"Aku akan mengurusnya, tentunya bersama denganmu karena aku membutuhkan dampingan darimu," jawab Garwig.


Setelah dirasa cukup untuk sedikit berbincang, Garwig pun memutuskan segera beranjak dari sana dan menuju ke gerbang depan bersama dengan Prawira tentunya. Meski hujan perlahan mulai reda, namun dirinya tetap siap untuk menghadapi guyuran pertanyaan yang sebentar lagi akan ia dengar dari para awak media yang ada di sana.


"Kau tidak ingin ikut pengawalan ke Federal?" tanya Garwig sembari berjalan.


"Kurasa tidak perlu, karena untuk pengawalan sudah dipantau oleh James dan Prime, juga sudah ada helikopter yang mengudara untuk ikut mengawal melalui udara," jawab Prawira dengan santai dan tenang.


"Apakah kau sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang akan datang?" lanjut Prawira, sedikit mengalihkan topik pembicaraan sembari berjalan menuju gerbang.


Garwig terkekeh kecil dan kemudian menjawab, "entahlah, tidak akan semua yang ku jawab, hanya beberapa pertanyaan yang perlu saja," ucapnya dan tak lama dirinya sampai ke gerbang. Ketika berjalan mendekat dengan gerbang utama, beberapa aparat taktis yang berjaga di sekitar langsung merapat kepada dirinya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2