Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Orang-orang Gila #20


__ADS_3

Pukul 20:00 malam.


"Berlin, apakah tidak apa aku semobil dengan mu, dan hanya ada kita berdua saja di mobil ini?" Kimmy melihat cincin pernikahan yang dipakai Berlin pada jari manisnya, dan tiba-tiba menanyakan hal tersebut padanya. Ia terlihat sangat tidak enak hati jika harus hanya berdua saja dengan Berlin berada di satu mobil, meskipun dalam lubuk hati terdalam dirinya merasa senang.


"Memangnya kenapa? Tidak ada yang mempermasalahkan juga, 'kan?" sahut Berlin sembari terus menyetir mobilnya mengikuti kendaraan rekan-rekannya.


"A-aku hanya ... tidak enak dengan Nadia, dan juga ... teman-teman yang lain," jawab Kimmy tertunduk.


Berlin langsung paham dengan maksud dari perkataan tersebut. "Kita hanya sebatas rekan kerja, dan lagipula aku tahu segala batasan-batasannya ... meskipun di dalam Ashagrd kau memiliki peran penting yang harus berada di sampingku."


"Tenang saja, yang penting selama kau ... ataupun kita tidak berbuat hal yang macam-macam, maka tidak akan menimbulkan kesalahpahaman. Nadia juga sudah tahu segalanya, aku hampir selalu bercerita soal pekerjaan dengannya ketika aku pulang dari pekerjaan."


Berlin tampak menanggapi hal tersebut dengan sangat santai namun juga menegaskan beberapa hal yang penting. Di tengah perbincangan tersebut dan juga perjalanannya untuk keluar dari wilayah itu. Tiba-tiba saja muncul seorang pria berjas putih dan membawa sebuah senapan di tangannya. Pria itu berdiri di tengah jalan lalu menodongkan senapan mesin itu ke arah mobil yang dikendarai Adam dan juga beberapa rekan pengendara motornya.


Drrrttt ....!!!!!


Tanpa berbicara apapun, pria itu langsung menghujani peluru ke arah rombongan Berlin dan rekan-rekannya. Sontak hal itu membuat semuanya kaget dan situasi menjadi kacau. Rekan-rekan yang mengendarai motor langsung berhamburan memacu kecepatan motor mereka ke segala arah untuk menyelamatkan diri dari peluru-peluru yang beterbangan itu. Sedangkan dua mobil yang dikendarai oleh Adam dan Berlin masih ada di sana.


"Apa maksud dari orang itu?!"


"Dia sudah gila!"


"Hei, Berlin dan Adam di sana, mobil mereka tidak bisa berputar balik begitu saja seperti motor kita, apa kita mau meninggalkan mereka?!"


"Kita terpecah dari formasi!"


"Faris, apa arahan mu?!"


Faris hanya bisa terdiam seraya fokus mengendarai motornya melaju ke arah jalan yang berbeda dan menjauhi orang gila itu. Serangan yang tiba-tiba itu mengacaukan formasi Ashgard sehingga hanya meninggalkan dua mobil yang dikendarai oleh Berlin dan Adam.


"Faris, berikan perintah mu! Apa kau lupa?!"


Rekan-rekannya terus mendesak Faris untuk memberikan perintah, namun Faris hanya bisa terdiam. Otaknya tidak bisa berpikir dan dirinya tidak bisa memberikan keputusan yang tepat.


"Yang benar saja kalian! Aku akan kembali kepada Berlin!" pekik Asep terlihat cukup terbawa emosi dengan situasi yang terjadi. Ia kembali memutar balikkan motor yang dikendarainya berboncengan dengan Kent menuju ke arah Berlin.


Namun niat tersebut terbantah dengan tiba-tiba terdengar Berlin berbicara, "bagus tinggalkan aku dan Adam! Kalian pengendara motor segeralah menjauh terlebih dahulu, tubuh kalian tidak anti peluru, ingat itu!" dengan tenangnya ia berbicara seperti itu melalui radio komunikasi miliknya.


"Ya, kalian dengan apa yang dikatakan Berlin, 'kan?" timpal Adam juga terdengar sangat tenang sekali melalui radio komunikasi itu.

__ADS_1


Berlin dan Adam dapat dengan tenang seperti itu karena mobil yang mereka gunakan adalah mobil yang telah dimodifikasi untuk situasi seperti yang sedang terjadi.


"Sep, bawa regu motor menjauh dari wilayah ini menuju ke kota, aku dan Adam akan menyusul!" pinta Berlin.


"Ba-baiklah," jawab Asep yang mendengar mereka berdua berbicara.


"Beritahu kami terus kondisi dan situasi kalian! Kami akan bantu dari luar," cetus Kent. Berlin tertawa kecil dan senang mendengar hal tersebut.


Desing peluru terus saja terdengar lagi dan lagi terus berulang selama orang itu masih saja menembaki dua mobil yang ada di hadapannya. Mobil yang dinaiki oleh Adam tampak sudah sangat rusak di bagian badan mobilnya, dan terlihat cukup banyak peluru yang bersangkar di sana. Sedangkan mobil yang dinaiki oleh Berlin hanya lecet akibat peluru-peluru itu.


"Ayo, kita lakukan, Dam!" seru Berlin melalui radio komunikasinya. Adam pun mulai memacu mobilnya ke arah orang yang menembakinya dengan niat menabrak orang itu jika dia tidak ingin minggir.


Mengetahui mobil besar itu melaju, orang yang menembaki itu langsung melompat ke tepi jalan untuk menghindar agar tidak tertabrak. Dua mobil yang ia halangi pun lolos begitu saja melaju mengarah keluar dari wilayah tersebut.


"Kami sudah perjalanan keluar," ucap Adam memberitahukan kepada teman-temannya yang mengendarai motor melalui radionya.


"Berlin, sepertinya ... mereka mengejar kita," ucap Kimmy menoleh ke arah belakang dan melihat beberapa motor yang dikendarai oleh orang-orang berpakaian rapi serba putih.


"Batu sekali mereka," gusar Berlin terlihat kesal karena dirinya sudah mulai keluar dari wilayah itu. Tetapi tampaknya mereka sangat tidak ingin membiarkannya lolos begitu saja.


"Dam, sepertinya mereka tidak mau melepaskan kita begitu saja," ucap Kimmy kepada Adam di mobil depan melalui radio.


"Mereka mengejar?"


"Kita hajar aja, gimana?!"


"Faris, bagaimana?"


"Bos, tunggu kami akan kembali merapat ke arah mu."


Terdengar beberapa temannya sudah mulai terpancing emosi untuk segera menghajar orang-orang itu. Namun mereka tidak bisa bergerak terlebih dahulu karena belum ada perintah atau arahan lebih dari Faris ataupun Berlin.


"Jika terlalu banyak terkena tembakan lagi, sepertinya mobil kita tidak bisa bertahan lebih lama, melihat kerusakannya yang cukup parah akibat tembakan tadi." Sasha mencoba untuk mengingatkan Adam yang mengemudi di sampingnya. Beberapa kaca mobilnya memang sudah retak, dan bahkan beberapa tidak bisa untuk melihat lagi akibat peluru yang bersarang pada kaca-kaca tersebut.


"Berlin, bagaimana? Mobilku juga sepertinya tidak bisa bertahan lagi, jika terkena terlalu banyak perluru lagi maka akan tembus," tanya Adam kepada Berlin menggunakan radionya.


"Kim, bisakah kau carikan jalan layang terdekat?" tanya Berlin meminta.


"Jalan layang?" Kimmy bingung, namun dirinya pun melaksanakan permintaan tersebut. Dirinya pun menyalakan sebuah peta digital pada layar kecil monitor yang ada di mobil.

__ADS_1


"Aku menemukannya, tepat sebelum memasuki kota dan dekat dengan tol kota!" cetus Kimmy menemukan apa yang dicari.


"Arah?" tanya Berlin.


"Persimpangan di depan mengarah ke Timur!" sahut Kimmy seraya menujuk pada peta tersebut.


"Posisi Faris ku ambil alih kembali. Dengarkan aku! Kalian regu motor, segeralah menuju ke jalan layang tepat sebelum memasuki kota dan dekat dengan tol kota! Ambil posisi kalian di atas jalan layang tersebut, dan siap menyambut kami!"


"Adam, di persimpangan depan lajukan mobilmu mengarah ke Timur dan ke bawah dari jalan layang itu!"


"Baik!"


Mendengar arahan tersebut. Rekan-rekannya pun langsung mengikuti dan melaksanakan perintahnya.


"Bersiap dengan senjata kalian! Jika melihat mereka langsung saja tembak tidak usah ragu!" Tak lupa Berlin mengingatkan satu hal itu kepada rekan-rekannya. Dirinya cukup tersulut amarah dengan apa yang dilakukan orang-orang itu, namun amarah tersebut masih bisa terkendali.


Berlin pun memasuki jalan raya yang malam ini dipadati oleh banyak warga di sana. Tak ada jalan lain selain dirinya harus mengambil jalan ini, meskipun dirinya tidak mau karena mengingat risikonya yang cukup tinggi untuk warga yang ada di sana.


Aksi kejar-kejaran itu masih terjadi, dan suara tembakan sempat terdengar berasal dari orang-orang yang mengejar itu. Akibat suara itu, masyarakat di sana pun dibuat ketakutan berhamburan berlari mencari perlindungan.


Berlin terlihat cukup geram dengan apa yang diperbuat oleh orang-orang yang mengejarnya. Mereka berbuat seenaknya, bahkan sempat menembaki beberapa mobil orang lain yang melintas dan tidak memiliki hubungannya dalam konflik kejar-kejaran yang sedang terjadi.


Kimmy dapat melihat kegeraman Berlin dengan caranya memegang kemudi mobil dan menyetir. Tangannya memegang erat kemudi mobil itu dan tatapannya tajam ke arah jalanan di depannya.


"Berlin," gumam Kimmy yang merasa sedikit takut dengan kegeraman lelaki itu. Dirinya hanya bisa diam dan berpegangan karena mobil yang ia naiki melaju sangat cepat seolah sedang balapan.


***


"Aku melihat mereka!" cetus Faris.


Regu motor sudah sampai dan berada di posisi tepat di atas jalan layang yang dimaksud oleh Berlin. Mereka juga tampak sudah siap dengan pistol milik mereka masing-masing.


"Mari kita beri sambutan untuk para bedebah itu!" seru Asep tampak sangat antusias.


"Kita hajar orang-orang gila itu!" seru beberapa rekannya yang juga berantusias.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2