
Waktu setempat menunjukkan pukul sepuluh pagi. Pada pagi ini, Prawira mengadakan sebuah rapat tertutup yang hanya dihadiri oleh para petinggi kepolisian. Di dalam rapat itu, Garwig juga turut ikut hadir sebagai perwakilan dari walikota serta pertahanan pemerintah.
Pada rapat tersebut, semua hal mengenai Clone Nostra dibahas. Prawira juga tidak melewatkan untuk membahas bagaimana cara sindikat itu dapat melewati perbatasan yang sudah dijaga ketat. Kecurigaan mengenai Clone Nostra memiliki koneksi orang dalam pun timbul.
Di tengah pembahasan pada rapat itu. Garwig menunjukkan sebuah identitas dari seseorang yang patut dicurigai sebagai ketua dari kelompok itu. Berkat usaha dari beberapa orangnya yang menyelidiki soal sindikat itu. Identitas mengenai Tokyo El Claunius kini berhasil ia miliki.
Ketika Prawira melihat nama yang diberikan oleh Garwig. Sungguh dirinya dibuat terkejut, dan tampaknya bukan hanya ia yang terkejut. Beberapa rekan aparatnya pun merasakan hal yang sama.
"Dia bukan orang yang sembarangan," ucap seorang perwira tinggi bernama Gallahad.
"Ya, dengan begini kita jadi benar-benar tahu, bahwa lawan yang sedang kita hadapi adalah sebuah sindikat yang sangat berbahaya," timpal seorang perwira rendah bernama James.
"James, apakah Ashgard sudah mengetahui hal ini?" tanya Prawira.
James menghela napas dan sedikit memandang ke bawah serta meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Ashgard tidak berbicara mengenai apapun soal hal ini kepadaku. Namun ... aku yakin, mereka pasti sudah lebih dahulu tahu daripada kita," jawabnya.
"Tokyo El Claunius," gumam Garwig menatap tajam sebuah nama yang tertulis pada identitas yang ia bawa itu.
"Kita harus segera menyelidiki dugaan mengenai antek-antek Clone Nostra yang ada di antara kita. Jika tidak ... maka ... kita akan dihabisi secara perlahan dari dalam," ucap Prawira tegas.
Pada kasus kali ini, dirinya terlihat benar-benar berambisi dan tidak ingin melepaskannya begitu saja.
***
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda. Tampaknya sebuah rapat atau pertemuan juga digelar, dan bahkan baru saja selesai.
Red Rascals, Cassano, dan Clone Nostra. Ketiga kelompok ini telah menjalani pertemuan di sebuah tempat yang jauh dari jangkauan masyarakat. Sebuah tempat yang terletak di tengah hutan lereng pegunungan.
Dalam pertemuan tiga kelompok kali ini. Clone Nostra yang diwakili oleh Farres membahas langkah selanjutnya yang akan pihaknya ambil. Tak hanya itu, ia juga menyampaikan rencana yang akan dilakukan oleh tiga kelompok sekaligus. Rencana tersebut berasal dari Tokyo, dan dirinya mendapat titah untuk menyampaikan rencana itu kepada dua kelompok ini.
__ADS_1
Ketika pertemuan itu selesai, masing-masing kelompok langsung saja membubarkan diri mereka dari hutan itu. Clone Nostra di bawah pimpinan sementara Farres langsung kembali ke gudang di mana ia akan bertemu dengan Doma dan sebagian orang-orangnya. Begitu pula dengan Cassano yang langsung membubarkan diri dan menghilang begitu saja dari tempat itu.
Sedangkan Red Rascals tampaknya menjadi kelompok paling terakhir yang meninggalkan tempat pertemuan. Seorang pria bernama Felix sempat diam terlebih dahulu setelah mendengar semua perintah serta arahan yang diberikan oleh Farres.
Setelah Clone Nostra dan Cassano pergi dari sana. Felix sendiri merasa cukup kesal, dan terlihat muak. Lantaran dirinya sangat tidak ingin diarahkan apalagi diperintah untuk melakukan sesuatu. Namun kali ini dirinya harus melakukan itu semua.
"Felix, tenanglah! Kita hanya akan mengikuti perintah mereka di awal saja, selanjutkan kita akan mengeksekusi aksi kita sendiri." Seorang wanita menghampiri Felix yang tampak bersandar di sebuah pohon. Wanita itu kelihatannya sangat dekat dan mengenal pria yang tengah bersandar di pohon sana.
Felix hanya diam ketika mendengar hal itu. Dirinya menghela napas sejenak dan kemudian berkata, "kau benar," ucapnya sembari beranjak dari sana.
"Sudahlah, kita segera pergi dari sini! Persiapkan diri dan mental kalian!" tegasnya sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Langkahnya diikuti oleh para anak buahnya yang berjumlah lebih dari tiga puluh orang.
Tak lama kemudian, kelompok merah itu pun membubarkan diri dari tempat pertemuan. Mereka pergi menggunakan kendaraan mereka masing-masing, dan menuju ke arah Paletown.
Tanpa mereka sadari, ternyata perbincangan Felix dan beberapa anak buahnya dipantau oleh seseorang dari balik pepohonan. Seorang pria dengan sengaja memantau serta mencuri-curi dengar perbincangan Felix dan rekan-rekannya dari balik pepohonan. Pria itu memakai sebuah jaket dengan tudung berwarna putih. Tanpa terlihat wajahnya, ia berhasil mendengar percakapan itu.
***
Seorang pria dengan pakaian yang selalu rapi tampak berdiri di atas pasir putih pantai. Pria itu adalah Tokyo. Ia tampak sedang santai menghabiskan waktu senjanya di tepi pantai Pulau La Luna, atau bisa dibilang pulau pribadinya.
Di tengah ia bersantai, seorang wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Karina berjalan menghampirinya dari belakang.
"Ada apa? Aku sedang tidak ingin diganggu!" ucap Tokyo dengan intonasi bicara yang begitu rendah, namun terdengar ketus.
"Aku datang membawakan kabar untukmu, Tokyo." Karina menjawab dan menghentikan langkahnya ketika sampai tepat di sisi laki-laki itu.
Tokyo sedikit mengangkat satu alisnya dan melirik ke arah wanita di sebelahnya. "Kabar seperti apa yang kau bawakan?" tanyanya.
"Pertemuan telah berhasil dilaksanakan oleh Farres, dan mereka berhasil membuka ruang berbicara dengan dua kelompok yang bersekutu dengan kita."
__ADS_1
Karina menyeringai dengan tiba-tiba serta menunjukkan tatapan tajamnya sembari berkata, "namun sepertinya ... terdapat suatu hal yang menarik di antara dua sekutu kita."
Tokyo menoleh dan dapat menyaksikan paras cantik itu ketika sedang menatapnya tajam. Dirinya sangat tahu dan mengenal Karina. Ketika wanita itu menatapnya tajam, pasti ia telah mengetahui sesuatu yang membuatnya tertarik.
"Seperti apa itu?" tanya Tokyo dengan santainya dan menatap wanita itu.
"Red Rascals, Felix Alarico. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu di belakang kita," jawab Karina dengan senyuman sinisnya.
Tokyo menghela napas sembari memalingkan kembali wajah serta pandangannya ke arah laut. Dirinya sempat tertawa kecil setelah mendengar jawaban itu.
"Aku tidak terkejut, aku juga tidak heran. Sudah sewajarnya penjahat merencanakan kejahatan ketika bekerja sama dengan penjahat lain."
Melihat Tokyo dengan santainya menanggapi serta berbicara demikian. Karina justru semakin dibuat khawatir akan suatu hal. "Namun, bagaimana jika terjadi penghianatan di kala kita sedang melakukan aksi?!" tanyanya dengan tegas.
Namun justru Tokyo malah melemparkan senyuman tipisnya seakan ia tidak takut jika hal itu terjadi.
"Sudah 15 tahun aku berkelana di dunia yang kejam ini, dan berbagai macam pengalaman telah aku dapatkan. Perbudakan, pembunuhan, permainan orang dalam, monopoli perdagangan, sampai penghianatan. Aku sudah melalui semua itu, Karina."
"Bahkan beberapa dari yang ku sebutkan masih ku jalani hingga saat ini, seperti bisnis yang dikerjakan oleh Clone Nostra."
Karina hanya terdiam ketika Tokyo berbicara seperti itu. Dirinya tidak lagi berkata-kata, karena memang tidak dapat berbicara apa-apa lagi ketika mendengar Tokyo berbicara.
Tokyo menoleh dan menatap tajam Karina di sampingnya, sebelum kemudian berkata, "kau pikir aku tidak memprediksi terjadinya penghianatan dalam persekutuan ini?"
"Aku sudah memikirkannya sejak kita berhasil menguasai pulau ini," lanjutnya sebelum kemudian beranjak pergi dari bibir pantai menuju dermaga yang tak jauh dari sana.
Namun di tengah pria itu berjalan, tiba-tiba ia mengentikan langkahnya sejenak untuk mengatakan, "Karina, lebih baik kau segera kembali ke vila! Waktu untukmu bergerak sebentar lagi," ucapnya dengan lantang tanpa membalikkan badannya untuk memandang ke arah wanita itu, sebelum kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
.
__ADS_1
Bersambung.