Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Mereka Penjajah #76


__ADS_3

"Bos, kami sudah siap, kapan kita akan mulai bergerak?" Adam berjalan menghampiri Berlin yang terlihat tengah duduk di atas dari sebuah batang pohon yang tergeletak di sana. Pandangan Berlin terus-menerus mengarah ke arah bibir pantai dan gelombang-gelombang pasang di sana.


"Santai saja dahulu, kita akan bergerak menjelang tengah malam." Berlin memberikan jawabannya kepada rekannya yang saat ini berdiri tepat di sampingnya.


"Baiklah," sahut Adam menundukkan sedikit kepalanya dan kemudian beranjak pergi dari sana meninggalkan Berlin seorang diri.


Angin malam berhembus begitu kencang diikuti naiknya gelombang pasang dari air laut yang perlahan menabrak terumbu karang. Suasana malam yang sangat tenang dan dingin, beruntung Berlin mengenakan jaket kesayangannya berwarna putih biru.


Dalam genggamannya terdapat sebuah ponsel yang menyala dan menampilkan kontak orang yang ingin ia hubungi. Ya, rencananya malam ini Berlin akan menghubungi istrinya yaitu Nadia melalui telepon. Namun sayangnya, sinyal di pulau tersebut yang menjadi kendala.


"Sial, aku lupa dengan kendala satu ini," gerutu Berlin dengan sendirinya dan kemudian mematikan kembali ponsel miliknya.


Padahal belum ada satu hari sejak ia berpamitan dan meninggalkan Nadia. Namun entah mengapa hatinya merasa rindu dengan wanita itu. Aromanya, suara lembutnya, sikapnya, keceriaannya, semua itu sering terbayang-bayang di dalam kepalanya yang tak bisa lepas memikirkan Nadia.


Seketika berada di pulau ini Berlin merasa terisolasi. Dirinya sulit untuk mendapatkan sinyal untuk dapat menghubungi istrinya yang jauh di sana.


SreeKk ... SreeKk ...!!!


Tiba-tiba saja terdengar suara gesekan dedaunan yang berasal dari semak belukar yang cukup lebat di belakangnya. Berlin merasa ada sepasang mata yang saat ini sedang mengawasinya.


"Siapa? Keluarlah, kau sudah ketahuan!" titah Berlin dengan suara tegas menggelegar tanpa menoleh ke belakang.


Seorang gadis dengan pakaian sederhana berwana biru muda yang sudah tidak asing lagi di mata Berlin keluar dari tempat persembunyiannya berjalan perlahan menghampiri dirinya. Gadis itu adalah gadis yang sempat ia temui pertama kali datang ke pulau ini.


"Maaf, aku tidak sengaja lewat dan melihatmu berdiam diri di sini. Aku hanya penasaran," ucap gadis itu kepada Berlin sembari menundukkan kepalanya ketika berada di samping Berlin.


"Tidak apa," sahut Berlin sebelum kemudian melontarkan satu pertanyaan, "apa keperluan mu? Sampai-sampai kau diam-diam mengawasiku seperti itu."


Perempuan itu terdiam sejenak berdiri di samping Berlin dengan tatapan sedikit bingung padanya. Melihat hal tersebut, Berlin pun mempersilakan wanita itu untuk duduk di batang pohon yang sama dengannya.


"Duduklah! Lalu jawab pertanyaan ku!" ucap Berlin lalu sedikit bergeser ke tepi batang pohon yang ia duduki.


Gadis cantik berambut coklat itupun duduk di sebelahnya dengan adanya jarak tentunya, dan kemudian menjawab, "aku ... hanya ingin tahu, apa yang membuat anda datang ke pulau ini."

__ADS_1


"Dan apakah ... anda datang untuk kami?" lanjut gadis itu bertanya dengan tatapan menyimpan penuh harapan.


Berlin cukup dibuat bingung dengan pertanyaan terakhir yang dilontarkan oleh perempuan itu. Namun dirinya berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.


"Aku datang untuk urusanku dengan orang-orang berbaju putih itu," jawab Berlin.


Gadis itu tiba-tiba saja mengangkat wajahnya untuk menatap Berlin dan kemudian memasang wajah senang bercampur lega setelah mendengar jawaban itu.


"Urusan apa yang membuatmu datang?" celetuk gadis itu bertanya lagi. Namun Berlin diam setelah mendengar pertanyaan ini.


"Oh, maaf! Aku terlalu ingin tahu masalah orang, maafkan aku. Pertanyaan ku barusan tidak perlu dijawab," timpal gadis itu kembali dengan rasa cukup tidak enak hati karena sudah terlalu ingin tahu masalah orang lain.


Berlin sedikit menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "penasaran itu wajar, dan juga harus dikendalikan."


Perempuan itu mengangguk patuh mendengar sedikit nasihat dari Berlin. Sikapnya benar-benar menunjukkan kalau dia adalah orang yang sopan, terlihat dari caranya meminta maaf yang selalu menundukkan kepala.


"Bolehkah aku tanya sesuatu?" cetus Berlin menoleh dan menatap wajah polos perempuan di sebelahnya itu.


Dengan sedikit memiringkan kepala dan tatapan penasaran, perempuan itu menjawab, "mau tanya apa?"


Gadis itu seketika tertunduk dengan memasang ekspresi sendu ketika mendengar pernyataan itu. Melihat wajah sedih itu membuat Berlin merasa sedikit bersalah karena telah menanyakan hal tersebut padanya.


"Kejadiannya 20 tahun yang lalu pada saat aku masih bayi. Orang-orang berpakaian putih itu sebelumnya sudah datang ke pulau ini tiga tahun sebelumnya, dan dengan iming-iming akan memajukan ekonomi pulau. Mereka membangun tempat wisata di sana-sini, dan membangun pusat perdagangan di pulau. Pada saat itu ... kami penduduk pulau benar-benar terbantu, karena dengan semua itu kami dapat meningkatkan ekonomi dan pangan kami."


"Namun memasuki tahun kelima, secara perlahan orang-orang berbaju putih itu memonopoli pasar, dan mempekerjakan paksa orang-orang kami."


"Lambat laun mereka merebut wilayah-wilayah di pulau ini, bahkan mereka tega mengangkat senjata untuk menguasai setiap wilayah yang penduduk pulau ini miliki."


Air mata milik perempuan itu tiba-tiba saja menetes ketika bercerita guna memberikan jawaban atas pertanyaan Berlin.


"Kini hanya wilayah Utara ini yang tersisa untuk kami, dan mereka ...," ucapannya terhenti karena sedikit isak tangis ketika berbicara. Namun kemudian, gadis itu melanjutkan kembali kalimatnya.


"Mereka memperbudak orang-orang kami yang terlambat mencapai wilayah Utara ini. Tak hanya itu, mereka juga ... tega ... menjual kami sebagai budak tanpa memandang tua atau muda dan anak-anak atau dewasa."

__ADS_1


Gadis itu langsung terdiam dengan kedua tangan menyeka air mata yang tanpa ia sadari telah membasahi pipinya. Sedangkan Berlin, ia dibuat terdiam setelah mendengar cerita itu. Benar-benar sulit dipercaya.


"Mereka penjajah, dan ku harap ... tempat asal anda tidak kedatangan orang-orang seperti mereka," lanjut gadis itu sembari menoleh dan menatap Berlin dengan sedikit senyuman tipisnya.


Berlin sedikit tertunduk dan berkata, "maaf, aku menanyakan hal itu."


Gadis itu tersenyum dan seolah ia tidak lagi merasakan kesedihan yang sebelumnya ia rasakan ketika bercerita. "Tidak perlu meminta maaf. Saya bercerita semuanya karena saya percaya dengan kalian, maka dari itu saya berusaha menjawab pertanyaan anda sebelumnya," ucapnya.


"Oh iya, aku sudah berbicara banyak tetapi aku belum memperkenalkan diri." Perempuan itu benar-benar canggung ketika ia berbicara dengan Berlin.


"Namaku Luna, dan aku adalah adik perempuan dari kepala desa ini yaitu Mavi." Dengan intonasi dan sikap berbicara yang begitu sopan. Perempuan bernama Luna itu sedikit menundukkan kepalanya ketika memperkenalkan siapa dirinya sebelum kemudian mengangkat kembali wajahnya.


"Aku hanya hidup berdua dengan kakakku," tiba-tiba saja pandangan Luna kembali sedikit tertunduk sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, "sedangkan orang tua kami, mereka berdua telah ... tewas akibat penyerangan yang dilakukan oleh orang-orang berbaju putih itu."


Berlin cuma bisa terdiam ketika Luna bercerita mengenai masa lalunya. Benar-benar masa lalu yang tragis, dan itu disebabkan oleh Clone Nostra sebagai biang masalahnya.


"Salam kenal, kau bisa memanggilku Berlin." Berlin menyambut baik gadis itu.


"Berlin? Bukankah itu nama dari sebuah kota di luar negeri sana?!" sahut Luna sedikit terkejut dengan nama milik Berlin.


Berlin tertawa kecil dan berkata, "ya ... kau benar."


"Hei, apakah kamu pernah pergi ke sana? Ke kota Berlin sungguhan?!" timpal Luna dengan tatapan berbinar.


"Belum, namun mungkin orang tuaku pernah, mereka terinspirasi dari nama kota itu dan menjadikannya nama untuk diriku," jawab Berlin.


Tanpa disadari, malam terus larut dan waktu yang ditunggu oleh Berlin telah tiba. Ashgard bersama dengan regu pengintai yang dipimpin oleh Prime telah siap untuk bergerak. Namun sebelum itu, ada beberapa hal yang perlu Berlin siapkan.


"Sepertinya aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu, terima kasih telah menjawab rasa penasaranku soal pulau ini," ucap Berlin kepada Luna sebelum dirinya beranjak pergi.


"Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih, terima kasih atas waktunya," ucap Luna dengan senyuman yang seolah sulit untuk pudar.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2