
Garwig selesai berbicara langsung ke markas pusatnya, dan kemudian memperkuat perimeter pertahanan di gedung tersebut. Rencana dan strategi telah diubah, dan semuanya telah ia koordinasikan dengan pihak kepolisian milik Prawira.
Red Rascals dan Cassano benar-benar tak gentar meskipun mereka tahu yang mereka lawan tak hanya pihak kepolisian, namun juga dari pihak militer. Bombardir dilakukan ke gedung tersebut, dan berhasil merusak beberapa bagian pada gedung putih itu.
"Mereka sangat sulit ditahan, dan beberapa dari kita telah jatuh sebagai korban, pak. Kita tidak dapat menahannya lebih lama lagi," ucap seorang aparat berseragam loreng yang berlari menghampiri Garwig.
"Ya, aku tahu! Namun kita harus menahan mereka beberapa detik lagi!" sahut Garwig, sebelum kemudian dirinya beranjak pergi menuju ke barisan terdepan gedung tersebut dengan membawa senapan miliknya.
***
BOOMM ...!!!
DESING ...!!!
Carlos menembaki banyak orang berjaket ungu dan merah ketika berlari menuruni lereng bukit sebelah timur, dan hendak menuju ke sisi timur gedung.
"Sial!" dengus Carlos ketika sebuah peluru berhasil melesat dan melubangi ujung dari mantel hitam yang ia kenakan. Beruntung timah panas itu tidak mengenai tubuhnya, dan sempat bersembunyi di balik bebatuan sesaat setelah menyebrangi sebuah jalan setapak.
Ketika mendapatkan momen atau saat yang tepat, Carlos kembali berlari keluar dari persembunyiannya dan langsung menuju ke gedung tersebut.
***
__ADS_1
Berlin berdiri dengan satu kaki berjinjit, dan hendak beranjak pergi dari tempatnya berada sedari tadi. Namun langkahnya bersama dengan rekan-rekannya dihentikan oleh Prime dan Flix, "kau mau melakukan apa?" tanya Prime tegas.
"Maaf, tetapi kami tidak ingin hanya duduk manis dan menyaksikan semuanya. Kami bukanlah penonton, dan sedari awal kami juga terlibat dengan Clone Nostra," sahut Adam berdiri tepat di sisi Berlin.
Tatapan Berlin begitu tajam dan sangat serius, bahkan sangat terasa hasrat ingin membunuh yang dapat dilihat jelas dari kedua matanya. Dengan tatapan seperti itu, dirinya langsung melakukan kontak mata dengan Prime sebelum akhirnya berkata, "aku tidak ingin dihalangi oleh aparat seperti kalian ...! Jika kalian tetap melakukannya, maka aku tidak akan segan dengan kalian, meskipun aku tahu kalian termasuk dengan marga keluargaku."
Prime tampak mengangkat sedikit senapan yang ia kalungkan pada lehernya, dan di saat itu juga rekan-rekan Berlin langsung pasang badan tepat di depan Berlin. Ashgard tampak tidak gentar meskipun yang dihadapinya adalah seorang perwira tinggi dari kepolisian.
Melihat dan menyadari situasi yang sepertinya tidak kondusif ini. Flix memutuskan untuk menengahi keduanya, dan mengatakan, "jumlah kalian hanya berenam, 'kan? Bagaimana kalau kami berdua ikut dengan apapun rencana kalian?"
"Flix, apa yang kau katakan ...?! Itu sudah keluar dari tugas yang diberikan pada kita!" cetus Prime berbisik kepada Flix yang kini berdiri tepat di depannya.
"Baiklah, kalian berdua ikut dengan kami, namun dengan satu syarat. Kalian berada di bawah perintah ku, dan jika melanggar maka aku akan memberikan sanksi keluarga kepada kalian."
Berlin tiba-tiba saja setuju dengan apa yang dikatakan oleh Flix sebelumnya, dan sempat membuat rekan-rekannya terkejut dengan keputusan itu. Sedangkan Prime dan Flix, mereka mau tidak mau harus mematuhi apa yang baru saja dikatakan oleh Berlin. Apalagi Berlin sendiri masih memiliki wewenang yang tinggi dalam marga Gates, dan dapat menggunakan wewenangnya sesuka dirinya atas kedua aparat itu.
"Baik, apa yang kau rencanakan, Berlin?" tanya Prime tampak lebih patuh daripada sebelumnya.
"Tidak usah banyak tanya, kalian ikut saja!" pinta Berlin, kemudian dirinya berjalan dipapah oleh Kimmy bersama dengan rekan-rekannya menjauh dari aula tersebut. Prime dan Flix hanya ikut saja, sesuai dengan syarat yang diberikan oleh Berlin, daripada hidup dan masa depan mereka yang dipertaruhkan.
Kedelapan orang itu kini berjalan menuju ke sebuah lorong yang ada pada gedung tersebut. Sepanjang langkahnya, Berlin tampak sedang sibuk berbicara dengan seseorang melalui radio komunikasi miliknya.
__ADS_1
"Tenang saja, jangan remehkan kemampuanku!" ucap seorang laki-laki di balik dari suara yang berbicara pada radio komunikasi tersebut. Laki-laki itu tampaknya adalah Asep, yang diberikan kepercayaan oleh Berlin untuk melacak sesuatu.
"Ruangan itu ada di bawah tanah, dan hanya diketahui oleh walikota beserta beberapa ajudan kepercayaannya saja. Namun jangan kira aku tidak bisa mencari dan melacak keberadaannya!" ucap Asep.
"Baik, butuh berapa lama?" sahut Berlin sembari terus melangkah dibantu oleh Kimmy yang setia di sampingnya.
"Tidak lama, saat inipun aku telah menemukan koordinat lokasinya," sahut Asep dengan intonasi yang terdengar begitu enteng, "sistem pada gedung itu benar-benar tidak terlalu rumit bagiku, sepertinya setelah semua yang terjadi hari ini pemerintah harus segera memperkuatnya," lanjutnya menyindir lemahnya sistem yang digunakan pada Gedung Balaikota.
"Aku sudah menandainya dengan warna merah pada tablet yang kuberikan kepada Kimmy sebelumnya," ucap Asep kembali melalui radio komunikasi tersebut.
"Bagus!" cetus Kimmy mengambil tablet dari balik jaketnya dan dapat melihat tanda merah pada salah satu lokasi di dalam denah gedung ini. Tak hanya dirinya, Berlin juga dapat melihat di mana lokasi itu berada.
"Baik, kita akan ke sana, selesaikan Tokyo dan Farres, maka semuanya juga ikut selesai!" ucap Berlin.
.
Bersambung.
***
Maaf bila cukup singkat, karena episode ini dibuat saat Author tidak dalam kondisi prima🤧 Atas perhatiannya, terima kasih banyak! 🙏☺️
__ADS_1