
Dua hari kemudian. Di siang hari yang begitu cerah. Di kala Nadia sedang sendirian di rumah. Tiba-tiba saja dirinya kedatangan tamu yang tidak diduga-duga.
Tok ... Tok ... Tok ...!!
Pada saat Nadia membuka pintu tersebut. Seorang gadis kecil tiba-tiba saja memeluk erat kakinya dan mengatakan, "Akira kangen!" ucapnya begitu bahagia ketika bertemu dengan Nadia. Tak hanya Akira, Alana dan Nyonya Helena juga ikut berkunjung.
"Maaf, kami tidak mengabarimu dahulu sebelum berkunjung," ucap Helena dengan begitu lembut kepada Nadia.
"Akira, jangan bergelantungan gitu," ucap Alana kepada Akira kecil yang kelihatannya tidak mau lepas dari Nadia.
"Nggak! Akira masih mau begini sama Mama!" sahut Akira dengan lugas.
"Mama?!" Nadia langsung dibuat sangat bingung dan terkejut dengan apa yang ia dengar dari mulut gadis kecil yang kini sangat lengket dengannya.
"Ceritanya panjang, maaf bila panggilan itu membuatmu risih, Nadia." Nyonya Helena dengan sangat sopan meminta maaf.
Nadia tertawa kecil dan tersenyum, tak lupa ia mempersilakan tamu-tamunya untuk masuk dan duduk di ruang tamu. "Ya sudah, mari masuk dahulu! Nggak enak juga jika kita ngobrol di depan pintu begini," ucapnya.
"Oh iya, Papa Berlin di mana? Kok Akira nggak lihat? Apakah lagi bersembunyi?" Akira celingukan ke sana ke mari ketika berjalan memasuki ruang tamu. Namun tak dapat menemukan sosok yang ia cari. Tangan kecilnya tetap saja tidak lepas dari genggaman tangan Nadia.
Nadia sempat dibuat tertawa ketika mendengar panggilan "Papa Berlin" yang diucap oleh Akira. Baik panggilan "Papa Berlin" dan panggilan "Mama" untuknya dari Akira terasa aneh dan sedikit menggelitik baginya. Apalagi itu terjadi secara tiba-tiba, dan dirinya masih tidak tahu mengapa Akira menggunakan panggilan-panggilan itu.
"Papa Berlin lagi nggak di rumah, dia sedang sibuk," jawab Nadia menoleh dan harus sedikit menunduk untuk melihat gadis mungil itu.
"Oh ...." Akira sedikit terlihat sedih dan kecewa mendengar jawaban tersebut, terlihat dari dua bola matanya yang indah untuk dipandang.
"Akira, duduk sini!" panggil Alana ketika duduk di sofa empuk dan panjang itu bersama Helena.
Akira begitu nurut. Dengan langkah-langkah kecilnya, ia sedikit berlari mendekati Alana dan naik di atas sofa. "Empuk!" seru Akira dengan sedikit meloncat-loncat ketika duduk di sofa tersebut.
"Hei, jangan dimainin! Nanti rusak, loh." Alana langsung memperingatinya dan menghentikan tubuh kecil Akira yang sedari tadi meloncat-loncat di atas sofa itu.
"Oh, baik," jawab Akira. Gadis kecil itu benar-benar sangat nurut. Ia langsung duduk dengan kaki bergelantungan di atas sofa empuk itu.
Nadia tersenyum melihat kelakukan gadis kecil itu sembari berjalan menuju dapur guna menyiapkan beberapa minuman untuk tamu-tamunya.
Tak lama kemudian, Nadia kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisikan gelas-gelas minuman yang telah ia buat. Dirinya meletakkan nampan itu di atas meja ruang tamu, lalu kembali ke dapur untuk mengembalikan nampan tersebut.
Namun ketika berjalan ke dapur, Akira mengikutinya. "Mama mau ke mana lagi?" tanya Akira dengan sikap polosnya ketika mengekori Nadia.
__ADS_1
"Cuma mengembalikan nampan ini, sayang. Kamu tunggu di sana saja, ya," jawabnya begitu lembut.
"Oh, gitu, ya? Baiklah!" Akira kembali ke sofa dan duduk manis di sana berdampingan dengan Alana. Sedangkan Alana dan Helena hanya diam memperhatikan setiap sikap yang ditunjukkan oleh anak itu.
Ketika Nadia kembali lagi, dan duduk di sebuah single sofa. Akira beranjak dari posisinya, dan tiba-tiba meminta untuk dipangku oleh Nadia. Nadia sendiri merasa tidak keberatan dengan hal tersebut, dan kemudian memangku gadis kecil itu.
"Ngomong-ngomong, jika kalian di sini, bagaimana dengan panti asuhan?" tanya Nadia dengan ramah kepada Helena dan Alana.
"Syukurlah, kami sudah mendapatkan dua pekerja yang dapat mengurusnya selagi kami berdua tidak ada." Alana yang menjawab pertanyaan tersebut.
Sedangkan Helena, ia mulai membicarakan soal panggilan yang diberikan Akira untuk Nadia dan Berlin. Tentu, dirinya sangat mengerti dan tahu betapa terkejut dan bingungnya Nadia ketika tadi tiba-tiba saja Akira memanggilnya dengan panggilan "Mama".
"Nadia, soal ... panggilan dari Akira kepadamu tadi ...." Helena berbicara, pandangannya tak bisa lepas dari Akira yang tampak sedang asyik sendiri ketika berada di pangkuan Nadia.
"Sejak lima hari yang lalu, anak itu hampir selalu membicarakan soal ... kalian di setiap malam. Dan mulai dua hari kemarin, Akira hampir selalu merengek ingin bertemu kalian."
"Kalau soal panggilan yang dia gunakan tadi, jujur saja ... aku juga ikut terkejut dan tidak menyangkanya," lanjut Helena.
Nadia hanya diam ketika Helena berbicara panjang lebar mengenai Akira. Kedua tangannya masih tetap memeluk tubuh kecil milik Akira yang sedari tadi duduk manis di pangkuannya. Sesekali pun pandangannya melihat ke arah gadis kecil itu yang beberapa kali juga menoleh dan mendongak untuk melihat kepadanya.
15 menit kemudian.
Selama sepuluh hingga lima belas menit. Nadia dan kedua tamu spesialnya itu membahas persoalan Akira. Pembicaraan itu akhirnya sampai di pertanyaan Helena yang cukup membuat hati Nadia bimbang.
"Aku tidak bermaksud mendesak, karena aku juga tahu dengan situasimu yang akan akan merawat bayi nantinya. Jadi untuk sementara ini santai saja, dan jangan sampai membuatmu pusing kepikiran," lanjut Helena kemudian tersenyum lembut kepada Nadia.
Nadia terdiam sejenak. Kedua tangannya seolah sulit lepas dari rangkulannya kepada Akira yang sedari tadi kelihatanya nyaman berada di pangkuannya. Kedua matanya juga melihat kepada Akira yang juga tiba-tiba menoleh kepadanya.
"Ada apa?" tanya Akira dengan polosnya ketika menoleh dan sedikit mendongak untuk menatap Nadia.
Sontak ekspresi imut gadis itu membuat Nadia tersenyum, dan laku menjawab, "tidak ada apa-apa, sayang," jawabnya sembari mengusap kepala milik gadis kecil itu.
Akira tertawa dan keasyikan ketika mendapat sentuhan hangat tersebut. Beberapa detik kemudian ia langsung menyandarkan kepalanya pada dada milik Nadia, dan sedikit memeluk sembari memejamkan mata di sana.
Nadia tidak menolak akan hal itu, bahkan hatinya terasa hangat ketika anak itu bersandar padanya dan terlihat sangat nyaman bersamanya.
Sembari membelai lembut rambut hitam Akira yang cukup panjang dan lembut itu. Nadia menoleh dan menatap ke arah Helena, lalu memberikan jawabannya.
"Aku tidak bisa memberi jawaban pasti akan hal itu, karena tentu aku harus bicarakannya terlebih dahulu kepada Berlin," ucapnya dengan ramah.
__ADS_1
"Jujur saja, aku tidak keberatan jika memang kemungkinan itu memang benar adanya," lanjutnya dengan sedikit tertunduk untuk melihat wajah cantik nan imut milik Akira, dan kemudian mengecup kening milik anak itu.
Helena dan Alana yang melihat pun dibuat tersenyum sekaligus senang. Akira sama sekali tak melakukan penolakan atau risih ketika Nadia mengecup keningnya, bahkan sedikit memeluknya. Interaksi yang baru saja terjadi di depan mata mereka sudah seperti interaksi antara ibu dan anak.
***
Pada pukul sepuluh malam, Berlin baru saja sampai di kediamannya dan langsung disambut baik oleh sang istri. Nadia menyambut hangat kedatanga suaminya yang kelihatanya cukup lelah itu.
"Kamu belum tidur?" tanya Berlin ketika melepas serta melipat jaket miliknya.
Nadia menggeleng lalu tersenyum sembari menjawab, "belum, aku cukup kesulitan tidur kalau nggak ada kamu," jawabnya dengan intonasi yang begitu lembut.
Berlin tertawa kecil mendengar jawaban beserta alasan tersebut. Dirinya melangkah lebih dekat, hingga jarak antaranya dengan Nadia perlahan terkikis. Kini jarak mereka benar-benar hampir habis. Nadia harus sedikit mendongak untuk bisa menatap kedua mata milik lelakinya, karena memang dirinya lebih pendek daripada Berlin.
"Entahlah, aku tidak pernah merasa bosan jika harus menatap keindahan ini," celetuk Berlin dengan intonasi yang begitu rendah. Kedua matanya menatap paras cantik milik istrinya yang tetap cantik meskipun tidak menggunakan make up sama sekali. Sedangkan kedua tangannya melingkar pada pinggang milik Nadia.
Nadia tersenyum-senyum sendiri ketika mendengar apa yang diucap oleh sang suami. Berlin memang suka sekali menggodanya hingga membuatnya tersipu.
"Sudahlah, aku mau ganti baju dahulu." Berlin menyudahi pelukan hangat itu, dan lalu berjalan menaiki tangga bersama dengan Nadia menuju ke kamar.
Lima menit kemudian, Berlin selesai berganti dengan pakaian santai yang biasa ia gunakan untuk tidur. Sebelum tidur, seperti biasa dan hampir selalu ia lakukan. Selalu ada waktu untuknya berbincang dengan istrinya sebelum tidur.
"Bagaimana dengan harimu hari ini? Capek?" tanya Nadia ketika Berlin perlahan berbaring di sebelahnya.
Berlin tiba-tiba saja menunjukkan sikapnya yang begitu manja. Ia memeluk perlahan wanita itu, dan kemudian mendaratkan kepalanya pada dada milik Nadia.
"Lumayan," gumam Berlin.
Nadia hanya tertawa kecil dan memberikan dekapan hangat untuk laki-laki itu. Tak lupa dirinya mengelus lembut kepala milik Berlin layaknya bocah laki-laki yang sedang menginginkan belaian dari seorang ibu.
"Kamu sendiri gimana? Apakah kondisi perutmu baik-baik aja sepanjang hari ini?" Kini giliran Berlin yang bertanya. Ia menatap kedua mata milik istrinya dengan cukup dekat, sedangkan satu tangannya bergerak ke dalam selimut lalu berhenti pada perut datar milik perempuan itu.
Nadia tersenyum dan dapat merasakan kehangatan pada perutnya. "Hari ini dia nggak begitu rewel, kok!" jawab Nadia sembari perlahan menggenggam satu tangan milik Berlin yang kelihatannya sedang asyik mengelus-elus perutnya.
"Berlin, aku ingin membicarakan sesuatu padamu, boleh?" tanya Nadia kemudian menyela keasyikan laki-laki itu.
"Boleh, dong! Mau bicara soal apa?" sahut Berlin tersenyum dengan menatap wajah istrinya.
"Soal ... Akira."
__ADS_1
.
Bersambung.