
Waktu menunjukkan pukul sebelas, satu jam sebelum tengah hari di siang hari yang sangat cerah ini. Berlin bersama dengan istrinya sekaligus calon putrinya, saat ini sampai di Panti Asuhan terlebih dahulu, dan menemui sosok Helena di sana.
Sesampainya di pintu masuk Panti Asuhan, Akira terlihat sangat antusias sekali dengan kedua mata yang berbinar-binar. Anak itu langsung berlari masuk, menghampiri dan memeluk kedua kaki milik Helena yang berdiri di depan pintu, tersenyum kepada wanita paruh baya itu serta kepada sosok Alana yang berdiri di sampingnya, dan kemudian langsung bergabung dengan anak-anak lain yang juga turut menyambut kedatangannya.
Berada di ruang tamu, Berlin menyerahkan beberapa berkas yang sudah ia kumpulkan kepada Helena. Sedangkan Nadia, wanita itu terlihat tengah bersama dengan Akira, dan sedikit berbincang dengan anak itu.
"Masih kurang beberapa, namun tenang saja, kebanyakan yang kurang itu adalah dokumen pernyataan." Helena menerima berkas-berkas tersebut dengan sangat ramah, sembari mengingatkan apa saja yang kurang.
"Ngomong-ngomong, SKCK milikmu belum di sini, ya?" lanjut Helena, memeriksa satu-persatu berkas yang kini ada di tangannya, dan menatap Berlin yang berdiri di hadapannya.
Berlin tertawa kecil, sedikit tertunduk sembari menggaruk kepalanya dengan salah satu tangannya, dan tersenyum tak berdosa, "kalau itu ... akan ... segera ku buat ... hari ini." Sikap pria itu tiba-tiba saja berubah, seolah seperti seorang anak yang ketahuan lupa mengerjakan PR.
Helena menghela napas, menatap sayu namun tajam kepada pria yang kini ada di hadapannya. "Baiklah," ucap wanita paruh baya itu, menghela napas.
"Berlin belum memilikinya, karena ... ya ... harusnya bunda tahu sendiri, lah ...!" cetus Nadia, kembali, melangkah dan kini berdiri tepat di samping Berlin.
"Iya, aku paham, kok." Helena tersenyum paham dengan maksud dari apa yang dikatakan oleh Nadia padanya.
"Ya sudah, Bun. Kami mau urus surat itu dahulu ke kantor polisi, mengingat prosesnya yang sudah dipastikan akan cukup lama, jadi kami titip Akira di sini sebentar, ya? Maafkan jika dia merepotkan," ucap Nadia, sedikit menunduk, sopan.
Helena mengangguk, tersenyum, dan dengan senang hati berkata, "tenang saja, Akira juga salah satu keluarga kami, dan dia sudah ada di sini sejak bayi." Wanita itu sempat menoleh, melihat ke arah ruang tengah, dan kumpulan anak-anak yang asyik bermain serta berbincang dengan sosok Akira di sana, "dia itu anak yang pintar, jadi tidak akan merepotkan," lanjutnya, sebelum kemudian mengalihkan kembali pandanganya kepada pasutri yang berdiri di hadapannya sembari mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
***
Pada pukul dua belas siang, perjalanan Berlin dan Nadia menggunakan mobil SUV hitam, harus cukup terhambat dengan kepadatan lalulintas di siang hari. Kemacetan yang terjadi di jalanan pusat kota sudah menjadi hal yang lumrah, apalagi di jam-jam kerja seperti ini. Terlihat jalanan dipadati oleh antrean panjang mobil-mobil sipil, dan beberapa motor yang juga turut serta antre di pinggiran jalan. Jalur sepeda dipenuhi oleh siswa-siswi anak sekolahan yang bersepeda menuju ke rumah mereka masing-masing.
Kemacetan dan kepadatan seperti ini sudah menjadi hal yang rumah di kota besar seperti ini. Emosional banyak pengemudi yang tak terbiasa akan sangat diuji di antara antrean panjang kendaraan.
"Kamu capek, nggak? Siapa tahu capek, aku bisa ambil alih kemudi ...!" ucap Berlin, menoleh, meraih pipi milik sang istri yang terasa sungguh halus dan lembut.
"Kamu nggak boleh nyetir dahulu, 'kan? Kakimu aja masih terbalut gips gitu, gimana mau menyetir?" ucap Nadia, tegas, melirik dan menatap cemas dengan bibir yang sedikit mengerucut ketika berbicara.
"Tetapi udah bisa digerakin, kok--"
Belum benar-benar selesai Berlin berbicara, ucapannya langsung dipotong oleh sang istri yang terlihat sangat tegas padanya. Namun ekspresi yang ditunjukkan oleh Nadia justru terlihat cukup imut di mata Berlin, dan membuat pria itu terkekeh kecil.
"Iya, sayang. Aku nurut sama kamu," ucap Berlin, tersenyum, meraih dan mengelus lembut puncak kepala milik bumil itu bagaikan anak kecil.
Nadia mendengus kesal mendapat perlakuan bagian anak kecil tersebut dari sang suami, namun dari dalam benaknya, dirinya tak menolak perlakuan itu.
"Ngomong-ngomong, kamu nggak maju?" Berlin menghentikan belaiannya, menatap ke depan, melihat sebuah ruang yang cukup lebar karena mobil di depan sudah berjalan maju.
"Oh, iya!" Nadia cukup tersentak, kembali fokus untuk mengemudi, dan perlahan menginjak pedal gasnya.
__ADS_1
"Berlin, kamu memangnya sudah menghubungi Prawira terlebih dahulu?" tanya Nadia, sembari mengemudikan mobil yang mulai melaju di jalanan yang ramai.
"Memangnya kenapa? Kita langsung aja ke sana temui dia," jawab Berlin.
"Iya kalau dia ada saat kita sampai di sana? Kalau nggak?" sahut Nadia. "Dia orang yang penting di kepolisian, dan kita nggak tahu saat ini dia sedang sibuk atau tidak," lanjut bumil itu, sembari menyetir mobil.
Berlin baru teringat, setelah istrinya berbicara seperti itu. Ia langsung mengambil ponsel yang disimpan dalam kantong celananya, dan berencana untuk menghubungi Prawira melalui telepon.
Lima, enam, tujuh detik berlalu, panggilan suara itu tidak diterima oleh Prawira. Sepulu, sebelas, hingga lima belas detik kemudian, panggilan tersebut masih belum mendapatkan jawaban. Berlin menunggu hingga ponselnya sendiri yang berbicara, "nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif."
"Coba hubungi sekertarisnya ...!" ucap Nadia.
"Netty? Aku nggak punya nomornya, gimana mau menghubungi dia?" sahut Berlin, mematikan panggilan suara yang tak kunjung menerima jawaban.
"Pakai ponselku, nih!" Nadia meraih ponsel miliknya yang ia simpan letakkan di dashboard mobil, dan memberikannya kepada lelakinya.
Berlin pun menerima ponsel tersebut, dan segera menghubungi kontak milik Netty. Tidak membutuhkan waktu lama, panggilan suara yang ia ajukan langsung mendapat jawaban. Tanpa basa-basi, Berlin langsung menyampaikan tujuannya menelepon, yakni untuk membuat pertemuan dengan Prawira terkait pembuatan surat yang diperlukan olehnya.
.
Bersambung.
__ADS_1