
Berlokasi di Pengadilan Negeri Metro Pusat. Siang hari ini pada pukul dua, Prawira terlihat tengah mengkoordinasikan anggota-anggotanya, melakukan persiapan untuk persidangan yang akan dilaksanakan lusa. Sesuai dengan rencana yang sudah ada sejak awal, dalam jarak lima blok di sekeliling gedung pengadilan, terpantau banyak aparat yang tengah berjaga meskipun hari persidangan bukanlah hari ini.
Di sebuah basecamp yang dibangun milik kepolisian yang berada di jarak dua blok dari gedung pengadilan. Dalam sebuah tenda, Prawira terlihat sedang berbincang dengan beberapa perwiranya dengan mengelilingi sebuah meja, dan di atas meja tersebut terdapat sebuah peta yang memperlihatkan cincin penjagaan yang kelak akan diterapkan oleh pihak keamanan sepanjang persidangan. Tak hanya penjagaan, namun rencana pengawalan pun juga akan dipersiapkan guna mengawal terdakwa serta beberapa pihak yang terkait dengan persidangan di hari lusa.
"Seluruh divisi akan turun untuk pengamanan berdasarkan rencana yang sudah ada," ucap Prawira.
Di sekitarnya hadir sosok Prime sebagai atasan dari Divisi Taktis milik kepolisian, James sebagai perwira tertinggi kepolisian, dan Flix sebagai perwira tertinggi dari Divisi Taktis kepolisian. Tak hanya mereka bertiga, namun Netty juga hadir di sana, berdiri tepat di samping Prawira.
"Bagaimana dengan anggota untuk di luar dari lokasi ini?" tanya Prime.
"Aku sudah mengaturnya, dan akan tetap ada banyak anggota yang berjaga serta berpatroli seperti biasa untuk mengantisipasi hal yang tidak-tidak di luar lokasi ini." Prawira menjawab pertanyaan tersebut.
"James, apakah darimu ada masalah?" lanjut Prawira bertanya kepada James yang berdiri bersebrangan dengannya.
James menggeleng dan menjawab, "negatif, Pak. Tidak ada masalah, selain pantauan lalu lintas yang terpantau padat seperti biasa."
"Untuk sementara, sepanjang persiapan kita hari ini tidak ada masalah. Namun tidak tahu besok atau lusa," ucap Flix.
"Pak, apakah anda tidak mendapatkan beberapa informasi mengenai Clone Nostra dari Ashgard?" cetus Prime, menatap serius Prawira dan bertanya padanya.
"Aku sama sekali belum berkabar dengan Berlin, jadi aku tidak mengetahui apapun yang mereka ketahui soal Clone Nostra," jawab Prawira.
"Memangnya apa yang direncakan oleh Garwig? Dia mengutus Ashgard untuk turut terlibat dalam pengamanan di hari persidangan?" cetus Flix, bertanya dengan rasa penasarannya, terlihat dari tatapan matanya kepada Prawira dengan penuh tanya.
"Kurang lebih seperti itu, Garwig benar-benar percaya dan mengandalkan mereka," jawab Prawira, menghela napas kemudian.
"Jika memang Ashgard akan terlibat dengan pengamanan saat persidangan berlangsung. Mengapa kita tidak mengajak salah satu perwakilan dari mereka untuk berdiskusi di sini? Di sini kita memiliki misi serta tugas yang sama, yaitu menjaga serta memastikan kalau sidang di hari lusa dapat berjalan semestinya tanpa adanya gangguan." James tiba-tiba saja angkat bicara serta memberikan saran kepada Prawira untuk mengajak Ashgard ikut bergabung.
__ADS_1
Prawira melipatkan kedua lengannya di atas dada, kembali menghela napas dan kemudian menjawab, "sayangnya tidak bisa, aku tidak bisa semudah itu mengajak serta membawa mereka untuk bergabung di antara kita. Bukannya aku tidak mau, tetapi memang seperti itulah rencana yang dimiliki oleh Garwig."
"Garwig ingin Ashgard tetap berjalan seperti layaknya sebuah kelompok, yang nantinya akan bergerak serta melakukan pemantauan di antara warga sipil tanpa mengenakan seragam. Dia ingin Ashgard tetap berada di luar dari kata 'aparat', terutama dalam misi di hari persidangan lusa," lanjut Prawira, menjelaskan sedikit mengenai keinginan serta rencana yang dimiliki oleh Garwig untuk Ashgard.
James mengangguk paham dan berkata, "baik, aku mengerti."
"Kurang lebih, Garwig ingin menjadikan Ashgard sebagai agen atau intel yang nantinya akan berkeliaran sangat dekat dengan kerumunan warga, begitu?" timpal Prime, mengasumsikan serta berpendapat mengenai keinginan dan tujuan dari Garwig untuk Ashgard.
Prawira hanya berdeham sekali, dan mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Prime padanya. Ia tidak berkata-kata lebih mengenai hal tersebut, dan lebih memilih untuk menutup mulut.
***
Pukul 15.00 sore, Kediaman Ashgard.
Beberapa masalah yang sempat terjadi, kini telah diketahui oleh Berlin secara langsung dari penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh ketiga orang kepercayaannya, dan juga Carlos sendiri yang juga berbicara kepadanya.
Berlin menarik serta memisahkan Carlos dari jangkauan rekan-rekannya, dan kemudian menetralkan suasana dalam kurun waktu kurang dari satu jam sejak dirinya datang.
Sekarang kurang lebih sudah tiga jam sejak dirinya datang ke kediaman, dan suasana sudah kembali normal seperti biasanya. Namun tidak dengan posisi Ashgard yang masih dalam status dicurigai, serta dapat berubah lebih berbahaya sewaktu-waktu.
"Siapa informan Mafioso yang kau maksudkan itu, Carlos?" Berlin bertanya kepada saudaranya, dan disaksikan juga oleh ketiga rekan kepercayaannya di belakang.
Tempat dan lokasi yang dipilih Berlin bukanlah ruang kerjanya yang terasa dingin dan formal, namun sebuah taman di pekarangan belakang yang lebih terasa hangat dan santai. Berlin memilih tempat tersebut untuk berbicara.
"Aku tidak mengetahui pasti namanya, karena dia lebih dikenali dengan nama sebutan atau inisial yang dimilikinya. Nama sebutan pria itu adalah Kai." Carlos menjawab pertanyaan itu dengan intonasi yang tenang, dan tanpa adanya kebohongan. Berlin sempat melirik kepada ekspresi wajah serta kedua iris mata Carlos ketika berbicara, dan memang tidak ada tanda-tanda kebohongan di sana.
Berlin sempat menoleh ke belakang, melirik ketiga rekannya yang berdiri di sana, dan melihat wajah bingung serta tidak tahu setelah Carlos menyebutkan nama tersebut. Ia kembali memalingkan wajahnya dan berbicara, "dari mana dia mendapatkan informasi ini?" tanyanya kepada Carlos.
__ADS_1
Di salah satu tangan Berlin sudah terdapat buku berwarna cokelat berukuran kecil yang diberikan oleh Adam, dan buku tersebut berawal dari Carlos. Ia sudah membuka serta memeriksa isi dari buku tersebut, dan memang isinya sungguh berharga.
"Kai bekerja di pelabuhan, lebih tepatnya di pasar gelap pelabuhan. Beberapa waktu lalu, dia sempat menjumpai salah seorang dari Red Rascals yang mengorder barang yang ia jual. Barang tersebut adalah sebuah senapan serbu tipe M4A1, yang tentunya itu adalah barang milik kepolisian serta militer."
"Itu barang yang sangat mustahil dia dapatkan, maka dari itu dirinya sempat bertanya beberapa hal. Kai berbincang banyak dengan pria berjaket merah itu, dan ketika pria itu hendak pergi, entah sengaja atau tidak sengaja pria itu menjatuhkan buku catatan yang kini kau pegang, Berlin."
Carlos menjawab pertanyaan Berlin, sekaligus menjelaskannya sesuai dengan apa yang sempat ia dengar dari sosok Kai atau sosok informan milik Mafioso itu secara langsung.
"Terlalu mudah," gumam Berlin, pandangannya menunduk ke bawah, melihat tajam buku yang saat ini ia pegang.
"Apakah bisa saja pria itu sengaja menjatuhkan buku ini untuk mengecoh kita? Kurasa itu adalah hal yang mustahil," ucap Carlos, menoleh dan menatap penasaran Berlin di sampingnya.
Berlin sedikit melangkahkan kaki dan tongkatnya, dan kemudian bersandar di sebuah pagar pembatas taman yang berwarna putih.
"Jika mendengar penjelasanmu barusan yang menyebutkan soal senjata atau senapan itu, dan kemudian mencocokkannya dengan apa yang kita lihat serta ketahui isi dari buku ini. Aku merasa itu semua saling berkaitan," ucap Berlin.
Berlin membuka serta memeriksa kembali isi dari buku yang sedari tadi ia pegang. Di dalam dari buku catatan kecil itu, terdapat beberapa potret gambar yang menampilkan adanya orang-orang berjaket merah sedang memeriksa beberapa kotak yang diduga kotak senjata. Tak hanya itu, Berlin juga menjumpai adanya sebuah kertas yang berisikan profil dari seseorang yang sepertinya sangat berpengaruh dalam kelompok bernama Red Rascals itu.
Tak hanya kedua hal tersebut, namun buku catatan itu juga mencatatkan beberapa hal yang menjurus pada sebuah tindakan kriminal berskala besar. Beberapa rencana tertulis di sana, dan rata-rata dari rencana tersebut adalah rencana penyerangan terhadap persidangan yang kelak akan dilaksanakan.
Beberapa persenjataan juga tercatat dalam buku yang saat ini berada di tangan Berlin, dan rata-rata senjata api yang tertulis di sana termasuk dalam senjata berat.
"Kimmy, hubungi Garwig untuk melakukan pertemuan! Bilang saja padanya kalau aku yang meminta untuk bertemu karena ada hal penting yang ingin ku sampaikan," ucap Berlin, menoleh ke belakang dan menatap kepada Kimmy.
"Baik, Bos!" sahut Kimmy, kemudian beranjak pergi dari posisinya berdiri.
.
__ADS_1
Bersambung.