Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Tentang Pulau #14


__ADS_3

Di tengah malam menjelang dini hari, dan di pulau tropis yang indah. Nico bertanya kepada rekannya soal aksi yang katanya akan dilakukan. Ia menemui pria bernama Tokyo itu di sebuah gazebo yang terletak di halaman belakang vila mewahnya.


Di sana terlihat Tokyo tidak sendirian. Terdapat seorang wanita yang menemaninya duduk di gazebo berwarna perak tersebut. Nico melewati taman yang amat luas untuk menuju ke gazebo itu. Taman itu dipenuhi oleh tanaman hijau dan bunga-bunga, serta pagar tumbuhan berwarna hijau di sisi-sisinya.


"Pas sekali kau datang," cetus Tokyo menyadari kehadiran Nico di sana.


Nico sedikit bingung dengan apa yang dimaksud Tokyo. "Maaf mengganggu waktu kalian," ucapnya. Pandangannya tertuju kepada seorang wanita yang bersama rekannya itu. Ia belum pernah bertemu ataupun melihatnya.


Wanita itu berpakaian seperti Tokyo, ia mengenakan pakaian rapi dengan jas serba putih. Wanita itu memiliki wajah yang cantik, namun ia terlihat sangat dingin bahkan seperti ratu es. Lirikannya tajam mengarah ke arah Nico, dan lirikan itu menunjukkan aura pembunuh.


"Aku ingin membahas aksi yang akan dilakukan dengan mu, Nico." Tokyo meminta Nico untuk duduk di meja yang sama dengannya. Nico pun duduk di seberang rekannya yang duduk tepat di samping wanita itu.


"Apa yang harus dilakukan?" tanya Nico.


Tokyo tampak tersenyum tipis dan sedikit tertawa. Ia menjawab, "kita tidak perlu melakukan apapun."


Jawaban tersebut justru membuat Nico terlihat bingung. Tidak melakukan apapun? Apa maksudnya? Lalu bagaimana dengan aksi yang akan dilakukan?


"Tenang saja, aku sudah mengatur semuanya, begitu pula aku sudah mengatur semua yang kau perlukan, Nico." Tokyo berbicara dengan santainya seraya merangkul wanita di sampingnya dengan satu tangannya.


Nico masih terlihat bingung dan ia tampak berpikir. Tokyo dapat melihat ekspresi bingung dari rekannya itu. "Jadi aku bekerja sama dengan satu kelompok kejahatan di kota, dan mereka setuju. Awalnya aku mengajak dua kelompok, tetapi aku memutus kontrak dengan satu kelompok karena suatu hal." Tokyo menjelaskan sedikit dan perlahan.


"Meski begitu, tidak akan menjadi masalah. Dari segi kekuatan ... kita jelas sudah bisa menandingi pihak kepolisian, dan dari segi kekuasaan ... Clone Nostra yang akan berperan untuk itu," lanjutnya.


"Aku akan membagi dua regu, dan aku memerlukan peranmu di dalam regu khusus ku. Dan di sana ... kau dapat bebas melakukan apapun untuk membalaskan dendam mu," ucap Tokyo kembali seraya menatap tajam Nico di hadapannya.


"Baik, aku mengerti," ujar Nico kembali menatap tajam Tokyo di hadapannya. Ketika Tokyo mengatakan tentang dendam, dirinya kembali teringat kejadian pada kekacauan yang dibuat Mafioso beberapa bulan yang lalu.


"Berlin ...!" gumam Nico seraya mengepalkan tangannya. Tatapan dan aura pembunuh sangat meliputi dirinya. Sepertinya hatinya dipenuhi oleh dendam yang begitu membara.


.


~


.


Senin, pukul 10:00 pagi.

__ADS_1


Markas Ashgard.


Setelah menikmati waktu akhir pekan yang sangat santai dan indah baginya. Kini Berlin harus kembali ke meja kerjanya, dan harus kembali di sibukkan dengan pekerjaannya. Di ruang kerjanya, ia memanggil ketiga rekan kepercayaannya untuk menghadap dirinya.


Ketika itu Asep terlihat gugup sendiri di antara dua rekannya. Berlin dapat melihat kegugupan itu, dan dirinya juga sudah tahu apa yang membuat rekannya itu gugup. Karena tepat di malam sebelumnya, Berlin mendapatkan kabar dari Kimmy soal Asep.


"Bagaimana akhir pekan mu, Sep?" tanya Berlin menatap Asep yang berdiri di hadapannya. Berlin yang duduk di kursinya bertanya dengan nada yang terdengar datar, dan justru membuat Asep terlihat bingung untuk menjawab.


Asep hanya terdiam, dirinya tidak boleh dan tidak bisa membuat alasan atau berbuat bohong kepada Berlin. Karena dirinya tahu apa resikonya jika membuat Berlin marah.


"Bos ---" ucapan Adam dipotong oleh Berlin hanya dengan mengangkat satu tangannya yang menandakan untuk diam.


"Bagaimana? Apa yang kau dapatkan?" tanya Berlin kepada Asep. Ia tak menunjukkan ekspresi marah ataupun ingin mengomeli rekannya itu, dan itu cukup membuat Asep sedikit terkejut.


"Kau ... tidak marah?" tanya Asep menatap Berlin bingung dan penasaran. Begitu pula Kimmy yang tampak sedikit bingung. Namun tidak dengan Adam.


Berlin terkekeh mendengar pertanyaan itu. "Buat apa aku membuang tenaga untuk memarahi persoalan kecil itu?" sahutnya lalu tersenyum.


"Kemarin sudah ku bilang pada mu, 'kan?" cetus Adam berbisik kepada Kimmy.


"Apa yang kau dapat, Sep?" tanya Berlin kembali.


"Um, belum banyak, hanya beberapa saja dan mungkin ini penting," jawab Asep.


"Sebentar, bos. Aku akan membawakan sesuatu." Asep tiba-tiba beranjak pergi dari ruangan itu, dan turun ke lantai dasar menuju ke ruangannya. Berlin tampak bingung, namun dirinya hanya menunggu saja.


Tak menunggu waktu lama, Asep pun kembali. Ia kembali dengan membawa beberapa lembaran kertas. Ia menunjukkan lembaran-lembaran kertas itu kepada Berlin, termasuk juga kedua rekannya.


"Aku menemukan sesuatu setelah menelusuri sejarah tentang pulau itu." Asep pun menjelaskan apa yang ia bawa.


Pada lembaran-lembaran kerta itu terdapat beberapa foto yang menunjukan peta, dan beberapa foto tentang pulau serta isinya. Tak hanya itu, terdapat satu lembaran yang menunjukkan sistem pertahanan pada pulau tersebut.


"Pulau tropis itu bernama Pulau La Luna, dan pulau tersebut juga dijadikan sebagai sumber wisata. Sesuai namanya, La Luna ... yaitu bulan. Banyak turis datang ke sana untuk menikmati cahaya bulan, apalagi di saat-saat tertentu seperti contohnya pada saat bulan purnama."


"Pulau itu cukup besar dan luas, memiliki bandara di bagian timur pulau, dan memiliki sistem pertahanan yang cukup membuatku kagum. Dan semua itu ... dikelola oleh ... satu pihak ... yang bukan pemerintahan."


Asep memberikan penjelasannya seraya menunjukkan foto-foto tentang pulau itu kepada Berlin dan kedua rekannya. Namun hanya itu saja yang didapatkan oleh Asep selama semalaman penuh kemarin. Tetapi Berlin tampak sudah sedikit puas dengan kinerjanya.

__ADS_1


"Hanya itu, bos. Aku belum mendapatkan informasi baru lagi," ucap Asep menutup semua penjelasannya.


"Kerja bagus, sekarang istirahatlah sejenak! Matamu tidak bisa berbohong kalau kau sedang lelah," ucap Berlin tampak memberikan apresiasinya kepada rekannya itu. Ia juga dapat melihat kantung mata yang sedikit terlihat pada mata rekannya.


Asep tersenyum dan berkata, "baik, terima kasih, bos."


"Lalu, apa yang akan kita lakukan terhadap pulau itu?" tanya Kimmy kemudian duduk di sofa pada ruangan tersebut.


"Aku belum memiliki rencana untuk itu," jawaban singkat Berlin seraya bersandar dengan santainya di kursinya.


Untuk sementara, Berlin sendiri tidak memiliki rencana apapun setelah mendengar informasi tentang pulau dari rekannya itu. Namun ia menyimpan informasi tersebut karena yakin suatu saat pasti akan berguna baginya dan kelompoknya.


.


~


.


Pukul 14:00 siang.


Distrik Barat.


Terlihat sekelompok orang mengenakan jaket serba merah berkeliaran di distrik tersebut. Mereka tampak seperti mengincar sesuatu, namun belum pasti apa yang mereka inginkan. Jumlah mereka sangatlah banyak, dan mereka terus saja berkeliaran menghantui serta membayangi wilayah tersebut. Mereka terus berkeliaran dengan kendaraan-kendaraan mereka, dan sesekali memperlihatkan beberapa senjata api yang mereka bawa. Entah apa maksud dan tujuan mereka, namun itu cukup untuk membuat banyak orang ketakutan.


Distrik Barat adalah salah satu distrik teramai dan padat, karena wilayah tersebut termasuk wilayah komersial. Kehadiran kelompok berjaket merah itu sepertinya telah membuat masyarakat resah dan tidak bisa tenang menjalankan aktivitas mereka. Beberapa anggota polisi pun diterjunkan ke lokasi untuk meninjau karena menerima beberapa laporan masyarakat yang resah.


Suara sirine pun terdengar dan masyarakat yang mendengarnya pun merasa sedikit lebih tenang. Sekelompok bersenjata itu tampak tidak menujukkan rasa takut sama sekali dengan kehadiran pihak kepolisian di sana, padahal sudah cukup banyak sekali polisi yang hadir dan berusaha untuk membubarkan aksi tidak jelas mereka.


"Polisi, huh? Mereka hanyalah pengganggu kecil," gumam seorang pria berjaket merah di atas sebuah motor.


"Bagaimana?" tanya pria lain yang tampaknya adalah rekannya, ia mengendarai motor yang berbeda dan mendekatkan motornya kepada pria pertama.


"Lanjutkan saja, kita tetap fokus pada misi yang diberikan pada kita!" pinta pria pertama kepada rekannya. "Meskipun jika kita harus menggunakan cara terkahir," lanjutnya menatap ke arah beberapa mobil polisi yang tampak melaju ke arahnya dengan rotator serta sirine yang terus mewarnai lokasi itu.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2