
"Kita tidak dapat terus begini, jumlah mereka semakin bertambah!" teriak Rony.
Posisi dari Adam dan ketiga rekannya benar-benar tidak menguntungkan. Mereka hanya bisa bersembunyi, sedang orang-orang Clone Nostra terus menembaki tanpa henti.
DESING ...!!!
"Ackk ..!!"
Sebuah peluru melesat begitu cepat mengenai kotak AC yang digunakan oleh Adam. Timah panas tersebut tampaknya berhasil menembus benda yang digunakan oleh Adam untuk berlindung.
"ADAM?!" teriak Kent melihat Adam tampak sangat kesakitan dengan terus memegangi bahu kirinya.
"Tetaplah ditempat! Jika kau keluar dari sana, kau bisa mati," cetus Adam.
"Ini benar-benar kacau, seandainya saja kita memiliki bahan peledak untuk meledakkan mereka," ucap Galang.
Belum ada satu menit setelag Galang berbicara soal bahan peledak. Sebuah granat tangan tiba-tiba saja terlempar mengarah ke kumpulan orang bersenjata itu, sebelum kemudian meledak dan membuat mereka kocar-kacir.
"Apa yang terjadi?"
"Siapa?!"
Adam dan rekan-rekannya sangat terkejut dengan granat tangan yang barusan melayang, dan sepertinya bersumber dari belakang mereka.
Ketika Adam menoleh ke belakang, dirinya dapat melihat satu persatu aparat militer yang memanjat gedung dan naik ke tempatnya. Mereka bersenjata lengkap, dan memberikan perlawanan telak terhadap orang-orang Clone Nostra yang sebelumnya menyudutkan Adam dan kawan-kawannya.
"Regu satu kanan! Regu tiga kiri! Lumpuhkan mereka, dan amankan tempat ini!" ucap tegas salah satu dari sekian banyak aparat yang tiba-tiba saja muncul itu.
Pria itu berlari dan mendekati Adam yang bersembunyi di balik kotak AC. Ia melihat pria berjaket hitam itu terus memegangi bahu kirinya yang berdarah, dan kemudian berkata, "biarkan ku lihat lukamu ...!" ucapnya kepada Adam.
Sesaat setelah pria berseragam militer itu melihat seperti apa luka yang dialami oleh Adam. Ia pun berkata, "tenanglah, kalian akan baik-baik saja."
Baku tembak terjadi di atap bangunan tersebut, dan semakin intens. Dengan kehadiran personel militer di atas sana, itu sangat menolong Adam dan ketiga rekannya. Bahkan keadaan seketika berbalik, yang sebelumnya Adam dan rekan-rekannya yang tersudut, kini berbalik menjadi pihak dari Clone Nostra yang dibuat sangat kewalahan oleh para aparat militer yang terus menghajar mereka.
"Mereka hendak mundur, hajar terus! Tekan dan jangan berikan ampun!" teriak Kent, ia ikut menembaki orang-orang berpakaian putih itu menggunakan pistolnya. Beberapa dari mereka terlihat hendak kembali mundur dengan menuruni anak tangga.
"Apa?! Dari bawah?!"
"Dari belakang ada serangan!"
"Kita terkepung!"
__ADS_1
Ketika hendak mundur dengan menuruni beberapa anak tangga, pergerakan orang-orang dari pihak Clone Nostra tiba-tiba saja terhenti, dan mereka terlihat sangat bingung dan panik. Terdengar beberapa kali suara tembakan yang tampaknya berasal dari bawah atau dalam gedung itu. Kent, Rony, Galang, Adam, beserta para personel militer dapat menyaksikan keributan yang terjadi.
"Mereka diserang dari dalam gedung? Tetapi siapa yang melakukannya? Apakah Flix?" gumam aparat militer yang sebelumnya memeriksa kondisi luka milik Adam.
"Kimmy? Berlin?" gumam Adam berasumsi.
"Apapun itu, saat ini kita diuntungkan! Jangan sia-siakan kesempatan ini, habisi mereka!" celetuk Rony, dan kemudian melesatkan beberapa tembakan ke arah kumpulan orang-orang berbaju putih itu.
***
"Kim, mereka terpojok!" teriak Kina.
Kimmy, Kina, Sasha, dan Aryo telah sampai di lorong tempat di mana tangga untuk ke atap berada. Di lorong tersebut terlihat lebih dari sepuluh orang dari pihak Clone Nostra yang tampaknya sangat panik dan cukup kebingungan. Ruang gerak mereka sangat minim, bahkan akan sulit untuk melakukan perlawanan.
Melihat keuntungan serta kesempatan tersebut, Kimmy tidak ingin membuang dan menyia-nyiakannya. Dirinya dan ketiga rekannya langsung membidik menggunakan senapan hasil rampasannya, dan kemudian menembaki orang-orang mereka.
"ACCKK ...!!!"
"DARI BELAKANG!"
Teriakan-teriakan dari orang-orang Clone Nostra yang terjebak di sana terdengar, namun tampaknya teriakan-teriakan kesengsaraan itu justru malah membuat Kimmy dan pihaknya semakin berambisi untuk menghabisi mereka.
"Mereka telah berani menahan Berlin, maka dari itu kita akan buat mereka membayarnya!" cetus Sasha.
Meskipun berada di posisi yang sangat diuntungkan, namun tampaknya Kimmy tidak ingin lengah. Dirinya beserta rekan-rekannya tetap berhati-hati dan waspada ketika melakukan tembakan terhadap orang-orang itu.
"Apa yang kalian lakukan?! CEPAT!! HABISI MEREKA!!!"
Kimmy melihat sosok yang tidak asing di matanya, sosok tersebut tampak memerintah beberapa orang di sekitarnya untuk melakukan perlawanan meskipun dalam posisi terdesak.
"Dia ...? Bukankah dia ...?!" gumam Kimmy kemudian berbicara kepada Aryo di sampingnya dengan bertanya, "Aryo, bukankah pria itu ...?!"
Aryo melihat ke arah pria yang sama, dan dirinya dibuat cukup terkejut. Pria tuksedo putih dan berada di tengah-tengah anak tangga itu tampak sangat memaksa rekan-rekannya untuk menyerang.
"Dia ... Doma El Claunius?! Itu dia orangnya!!" cetus Aryo, dan didengar oleh Kina dan Sasha.
"Apa?! Yang mana?!" cetus Kina.
"Pria bertuksedo putih, dan memegang senapan serbu jenis Scar itu. Itu dia orangnya," jawab Aryo.
"Baiklah, target dikunci!" gumam Kimmy dengan tatapan tajam ke arah pria tersebut.
__ADS_1
Kini bidikan Kimmy dan rekan-rekannya mengarah ke arah sosok yang diduga sebagai Doma El Claunius. Bidikan mereka secara bersamaan tertuju kepada pria tersebut, dan di saat yang bersamaan mereka menembakkan timah panas yang kemudian melesat ke arah pria itu.
Namun sayangnya peluru-peluru yang mereka tembakkan terhalangi oleh banyaknya anak buah dari Clone Nostra yang mengelilingi target. Dan berkat tembakkan tersebut, sepertinya Doma menyadari bahwa dirinya tengah diincar.
"Lagi! Habisi dia!" titah Kimmy berteriak, mengangkat senapan serbunya dan membidik pria bernama Doma tersebut.
DORR ...!!! DORRR ...!!!
Beberapa tembakan kembali dilancarkan, namun dengan teganya dan seolah tanpa memiliki belas kasih. Doma dengan spontan menarik tubuh salah satu rekannya dan menggunakannya sebagai perlindungan dari peluru-peluru yang melesat itu.
"Apa yang anda laku---"
"ACCKK ..!!"
"Sial, begitu kejamnya dia menggunakan rekannya sebagai perlindungan?!" gusar Sasha.
"Dia benar-benar orang yang kejam," timpal Kina.
"Mau bagaimanapun juga mereka adalah musuh, tetap fokus dan manfaatkan keuntungan yang saat ini berada di pihak kita!" pinta Kimmy kepada rekan-rekannya untuk tetap fokus.
"Ya, Clone Nostra adalah sindikat yang licik, jadi kita harus tetap fokus!" tambah Aryo sembari terus membidik orang-orang biadab itu menggunakan senapan serbu yang ia bawa.
***
"Tokyo, tampaknya kita kebobolan dari belakang bangunan," ucap Karina menghadap kepada Tokyo yang tampak sedang bersama Boni di ruang kerja milik Walikota.
Tokyo tampak begitu marah dan kesal dengan kabar tersebut. Dirinya benar-benar dibuat kesal dengan tindakan yang dilakukan oleh Ashgard. Di sisi lain dirinya juga menyimpan rasa menyesal karena tidak mengeksekusi Berlin lebih cepat.
"Karina, pilih dan bawa regumu untuk membantu Doma! Aku tak mau tau, jangan kembali sebelum Ashgard dan Berlin berhasil dibunuh!" titah Tokyo dengan tatapan tajamnya kepada Karina. Tampaknya ia cukup menyimpan sedikit ketakutan terhadap sosok bernama Berlin di dalam kedua matanya ketika memerintahkan hal tersebut.
"Ba-baiklah," jawab Karina beranjak keluar dari ruangan.
Sesaat kemudian Boni tiba-tiba berkata, "kau terlihat begitu takut terhadap Berlin, ya?"
"APA YANG KAU KATAKAN?!"
"Matamu tidak dapat berbohong, Tokyo. Apa yang ku katakan tadi ada benarnya, 'kan? Seandainya kau eksekusi Berlin beberapa waktu sebelumnya, kemungkinan besar tidak akan terjadi seperti ini."
Tokyo terdiam dan tampak sedang berpikir. Secara tiba-tiba ia merapikan tuksedo berwarna putihnya, dan kemudian beranjak pergi dari ruangan itu entah ke mana. Sedangkan Boni hanya diam di ruangan tersebut dengan tatapan tajam dan senyuman liciknya, seolah dirinya memiliki suatu rencana.
.
__ADS_1
Bersambung.