
Dengan langkah bingung, Carlos menyusuri lorong Federal, ditemani oleh dua aparat taktis yang berjalan sejajar dengannya. Wajahnya cukup bingung, menyimpan pertanyaan mengenai siapa yang berkunjung untuk menemuinya. Namun dirinya sangat tenang, bahkan menutupi ekspresi bingungnya.
Sampai di area pertemuan, Carlos langsung disambut oleh sosok bernama Garwig yang berdiri di sana, menunggu kedatangannya. Area atau tempat pertemuan itu adalah sebuah ruangan yang luas, dan diisi oleh banyak sekali meja dan kursi, sedangkan setiap sudut ruangan dijaga ketat oleh banyak aparat. Di siang hari ini, ruangan itu terlihat lengang akan pengunjung yang biasanya pihak keluarga dari para narapidana.
"Ada apa? Apakah aku membuat masalah, sehingga mendatangkan seseorang penting sepertimu?" spontan Carlos bertanya, berjalan, dan hingga kini berjarak satu meter dengan Garwig.
Garwig menyunggingkan senyuman, mengangkat kedua bahunya, dan menjawab, "kau tidak membuat masalah, kok! Kedatangan ku ke sini hanya untuk menjemputmu, Carlos."
Menjemput? Tunggu! Carlos seketika termangu mendengar apa yang dikatakan oleh pria berpakaian hitam santai itu. Ia tidak begitu menangkap atau memahami apa maksud dari perkataan Garwig.
"Aku tidak sedang bercanda, Carlos." Garwig menganggukkan sedikit kepalanya, dan kemudian mengajak, "kemarilah, ikut aku!" pintanya, tatapannya serius, menandakan bahwa dirinya memang tidak sedang bercanda atas apa yang dikatakan olehnya.
Garwig telah lebih dahulu melangkah, mendekat pintu keluar, dan berdiri di sana. Sedangkan Carlos, ia tampaknya masih bingung dengan maksud dan tujuan Garwig berkata seperti itu padanya. Laki-laki itu masih berdiam diri di tengah-tengah ruangan itu, sebelum kemudian ia melangkah mengikut Garwig.
Perlahan dan masih dengan langkah kebingungan. Carlos melewati beberapa pintu masuk berlapis dari Federal. Ia berhasil melalui banyak sekali penjagaan yang dilakukan oleh pihak aparat, bersama dengan Garwig tentunya.
"Apa yang sedang kau rencanakan, Garwig? Mengapa kau tiba-tiba seperti bertujuan akan membebaskan diriku?" tanya Carlos, tajam. Lirikannya sungguh menyimpan kecurigaan terhadap tindakan yang dilakukan oleh Garwig. Dirinya berjalan mengikut pria itu di halaman parkir Federal.
Ketika berada di luar Federal, apalagi dirinya telah menghabiskan satu tahun lebih beberapa bulan terkurung di dalam tempat mengerikan itu. Udara segar benar-benar terasa, begitu damai, begitu tenang. Carlos kini bisa merasakan betapa damai dan segarnya udara kebebasan di luar Federal. Tidak dapat dipungkiri lagi, dirinya cukup merindukan udara segar seperti itu.
Langkah Garwig berhenti tepat di samping sebuah mobil SUV hitam miliknya yang terparkir di halaman. Ia menoleh kepada Carlos yang ada di belakangnya, menjawab pertanyaan serta kecurigaan laki-laki dengan lugas, "aku tidak merencanakan apapun, Carlos. Aku hanya menjalankan amanah yang diberikan pada ku," jawabnya, membuka kunci mobil tersebut, dan kemudian membuka pintunya.
"Naiklah, aku akan sedikit jelaskan sesuai sepengetahuan ku!" pinta pria itu kepada Carlos, naik ke atas kursi kemudi. Carlos pun sedikit memutar, membuka pintu samping, dan duduk di kursi penumpang tepat di samping Garwig.
Mesin mobil menyala, roda berputar seirama dengan Garwig menginjak pedal gas. Mobil yang dikendarainya pun keluar dari area Federal, dan menghilang di kelokan jalan menuju ke arah jalan bebas hambatan.
Ketenangan dan keheningan sempat tercipta di antara kedua pria itu, di tengah perjalanan yang entah akan membawa diri Carlos ke mana. Laki-laki itu sempat menoleh ke arah Garwig, dengan ekspresi seolah ingin bertanya "jadi kapan kau akan menjelaskannya?".
Menyadari tatapan itu, sembari mengemudikan mobilnya yang melaju di jalanan bebas hambatan. Lalu lintas cukuplah lenggang, tidak terlalu padat akan mobil yang berlalu-lalang.
"Aku datang untuk menjemput dirimu, Carlos. Aku melakukannya berdasarkan surat perintah yang dibuat serta ditulis langsung oleh seseorang yang mungkin berharga bagimu."
__ADS_1
Garwig mengambil secarik kertas yang ternyata adalah surat yang dimaksud. Ia mengambil surat yang ia simpan di dashboard mobil, dan memberikannya kepada Carlos, membiarkan laki-laki itu membaca isi surat tersebut.
"Sesuai dengan perjanjian yang telah kita bertiga buat dalam wujud kontrak, sebelum semua kekacauan beberapa hari yang lalu. Aku hanya ingin menepati janjinya, dan mewujudkan permintaannya." Garwig berbicara, tanpa melepas fokusnya untuk mengemudi, terus melihat ke arah jalanan di depan.
Carlos berhasil dibuat tertegun dengan isi surat yang ia baca. Surat itu berisi permohonan atas pembebasan bersyarat dirinya, yang ditulis dengan tulisan tangan, lebih tepatnya dengan pensil. Dirinya begitu mengenal gaya tulisan itu milik siapa.
"Berlin? Mengapa dia begitu ambisi untuk membebaskan diriku?" gumam Carlos, menaruh surat itu tepat di atas pangkuannya.
"Tidak, dia tidak begitu ambisi akan hal itu, Carlos. Pahamilah lebih dalam, dia tidak sedang berambisi, melainkan dia tampaknya ingin memberimu kesempatan." Garwig langsung menyanggah pertanyaan Carlos mengenai ambisi yang dimiliki oleh Berlin.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Garwig, membuat Carlos sedikit mengingat apa yang sempat ia ucapkan ketika menjawab sebuah pertanyaan dari Prawira beberapa waktu yang lalu. Kala itu Prawira bertanya padanya, "Carlos, jika kau bisa terbebas dari hukuman penjaramu. Apa yang ingin serta akan kau lakukan?". Dan pada saat itu dirinya memberikan jawaban dengan berkata, "jika ada kesempatan untuk itu, aku ingin memperbaiki kepercayaan dan hubungan yang telah ku rusak sebelumnya.".
"Bagaimana bisa ...?" gumam Carlos, tatapannya terpaku, ekspresi masih menunjukkan bahwa dirinya sedang berpikir, mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Melihat ekspresi itu, Garwig hanya tersenyum secara diam-diam. Dirinya tidak menyangka akan melihat ekspresi wajah tersebut dari sosok Carlos Gates Matrix. Ekspresi menyimpan kebingungan, namun juga seolah menyimpan rasa senang tidak percaya.
"Kau bisa mendapatkan jawaban serta penjelasan detail atas pertanyaan-pertanyaan dalam benakmu itu kepada Berlin, karena hanya dia yang menyimpan alasan kuat mengapa memutuskan untuk membebaskan dirimu, Carlos," cetus Garwig.
Cuaca siang hari ini cukuplah cerah, meskipun agak sedikit berawan. Pada siang hari ini, Berlin mengunjungi sebuah tanah di area salah satu perumahan elite yang memiliki posisi cukup strategis. Lokasi itu berada di atas salah satu perbukitan kota, tidak terlalu jauh dari kota, dan memiliki pemandangan langsung mengarah ke arah gedung-gedung perkotaan. Tak hanya itu, suasana di lokasi yang dipilihnya ini sangatlah sejuk, bahkan ada sumber air yakni sungai tepat di bawah lereng bukit itu.
Berlin bersama dengan rekannya yakni Kimmy, menemui seseorang yang tampaknya adalah pemilik dari tanah yang cukuplah luas di atas bukit itu. Lingkungan di sekitar perumahan itu juga masih sangat asri, dan juga sangat nyaman untuk ditempati. Begitu tenang, dan tidak akan terganggu dengan berisik lalu lintas serta polusi.
Setelah selesai berbincang sedikit dengan seorang pria berjas hitam yang sepertinya adalah perwakilan dari pihak administrasi perumahan. Berlin didampingi terus oleh Kimmy segera beranjak pergi dari area perumahan tertutup itu.
"Bos, bukankah tanah serta rumah yang dijual di perumahan ini lebih mahal dari rumah pertama mu?" tanya Kimmy, ketika mengemudikan mobil sedang milik Berlin, keluar dari area perumahan tersebut.
"Ya, memang itu ada benarnya. Namun biaya renovasi rumah pertama jika ditotal sudah bisa membeli tanah di sini, serta membangun rumah dari nol. Jadi aku memutuskan untuk pindah, daripada memperbaikinya," jawab Berlin, lugas.
"Memangnya separah apa, sih? Aku jadi penasaran, maaf atas rasa penasaran ku ini, bos!" cetus Kimmy, sembari fokus menyetir, menyusuri liku-liku jalanan perbukitan kota.
"Aku juga bingung, entah siapa yang mengirimkan roket ke ruang tamu rumah ku ketika konflik itu," sahut Berlin, menghela napas, menggeleng kepala tanda tidak menyangka.
__ADS_1
"Serius?! Sampai begitunya?!" sahut Kimmy, sempat menoleh dengan kedua mata terbelalak terkejut.
"Kalau tidak percaya, mampir saja dan lihat!" jawab Berlin.
Dengan cepat, Kimmy mengubah haluannya ketika sampai di perempatan menuju ke tengah kota. Karena rasa penasarannya, dirinya mengemudikan mobilnya menuju ke rumah lama milik Berlin.
Sesampainya di rumah tersebut, ternyata apa yang dikatakan oleh Berlin memang benar faktanya. Bagian depan rumah itu benar-benar hancur seperti habis dibombardir dan diserang habis-habisan. Tak hanya bongkahan reruntuhan bangunan saja, namun beberapa timah bekas peluru yang melesat juga masih dapat ditemukan di sekitar halamannya.
"Ternyata separah ini, ya ...?" gumam Kimmy, memberhentikan mobilnya, turun dan melihat dengan tatapan tidak menyangka. Ditemani oleh Berlin, dirinya melangkah melalui gerbang yang sudah hancur itu, berjalan di tengah halaman yang benar-benar kacau.
"Karena lokasinya sangat dekat dengan Gedung Balaikota," ucap Berlin sembari menunjuk ke arah perbukitan kota paling atas, dan dapat dilihat gedung putih itu dari tempatnya berdiri. "Jadi dampaknya sampai ke sini, dan awalnya aku tidak menyangka akan separah ini." Berlin melanjutkan bicaranya.
"Untung kamu dan Nadia tidak apa-apa," cetus Kimmy prihatin.
Berlin tersenyum mendengar keprihatinan Kimmy yang ditujukan pada dirinya, "syukurlah," ucapnya menanggapi apa yang dikatakan oleh Kimmy.
Kondisi benar-benar hancur dan kacau, mungkin lebih hancur dan kacau dibandingkan kondisi Gedung Balaikota pasca penyerangan. Karena hampir delapan puluh persen dari keseluruhan rumah, dapat dipastikan hanya menyisakan puing-puing, serta beberapa partikel seperti timah peluru dan teman-temannya pasca penyerangan Clone Nostra di Area Balaikota yang sangat dekat itu.
"Tetapi, Berlin. Apakah biaya yang kamu miliki cukup untuk semuanya? Maksudku ... kamu cukup berantakan setelah konflik dengan Clone Nostra, dan mungkin ada yang bisa aku dan teman-teman bantu?" ucap Kimmy, sembari berjalan kembali menuju mobil.
Berlin tersenyum mendengar kepedulian rekannya itu, "tidak apa, jangan khawatir ...! Aku sudah memperhitungkan semuanya, dan dengan menjual banyak aset kendaraan yang ku miliki, sekira akan cukup untuk menutupi tujuh puluh persennya," jawabnya, dengan menunjukan sikap yang begitu tenang.
"Sudahlah, jangan khawatir! Aku saja santai, jadi kau juga harusnya bisa lebih santai!" lanjut Berlin, memasukan tongkat bantu jalannya, sembari masuk kembali ke dalam mobil bersama dengan Kimmy yang siap menyetir. Pria berkaos putih itu terlihat tenang dan santai, dan tidak tertekan oleh keadaan.
Melihat ekspresi wajah Berlin yang sepertinya tidak apa-apa, Kimmy sedikit menghela napas lega sebelum kemudian berkata, "jika kamu memerlukan aku dan teman-teman, maka katakan saja! Kami akan siap melakukan apapun untuk membantu!"
Berlin dibuat tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh Kimmy, "terima kasih," ucapnya.
.
Bersambung.
__ADS_1