Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Merindukan Sesuatu? Namun Apa? #148


__ADS_3

Suasana damai kembali terwujud setelah seluruh wilayah berhasil dibuat kacau oleh kelompok bernama Clone Nostra beserta aliansinya. Meskipun baru beberapa jam setelah seluruh konflik mereda. Garwig yang telah mengambil serta memiliki sebuah tanggung jawab besar, langsung melakukan pemulihan atas segala kerugian serta kerusakan kota.


Beruntung Garwig tidak sendirian, Prawira mengirim dua orang kepercayaannya untuk membantu peran Garwig yang kini telah naik menjadi walikota. Sosok sekertaris bernama Netty, dan polisi wanita bernama Siska. Mereka berdua diutus oleh Prawira untuk menemui Garwig, dan membantu perannya.


Netty bersama dengan rekannya yakni Siska menghampiri Garwig yang tampak tengah meninjau segala kerusakan serta kerugian yang ada di Gedung Balaikota. Garwig tampak tengah berjalan di sekitar halaman Balaikota.


"Izin, pak." Netty memberikan hormatnya di hadapan Garwig, bersama dengan Siska.


Dalam genggaman tangan Netty, ia tampak membawa sebuah lampiran catatan hasil laporan dari semua kerugian pada fasilitas publik.


"Banyak fasilitas publik yang mengalami kerusakan baik dari yang ringan sampai berat," ucap Netty.


Garwig menerima lampiran catatan tersebut, dan kemudian membaca laporan yang ditulis di sana. Dirinya dapat melihat rata-rata yang mengalami banyak kerusakan adalah tempat-tempat wisata dan pusat perbelanjaan.


"Bagaimana dengan fasilitas pendidikan?" cetus Garwig bertanya.


Siska langsung menjawab pertanyaan itu, "ada beberapa sekolah yang juga menerima dampak dari kekacauan kemarin, dan juga beberapa perpustakaan umum."


Setelah mendengar jawaban tersebut. Garwig mengembalikan lampiran laporan tersebut kepada Netty sembari memberikan perintahnya dengan berkata, "prioritas perbaikan kita untuk fasilitas pendidikan! Untuk fasilitas lain bisa menyusul."


"Baik!" sahut Netty.


Mendengar jawaban Netty, Garwig pun kembali melanjutkan langkahnya untuk berkeliling Area Balaikota.


"Pak Garwig memang berbeda, ya? Kurasa memang sudah sepantasnya dia memimpin, daripada si penghianat itu," celetuk Siska, mendekatkan mulutnya ke telinga kiri Netty, dan berbisik padanya.


"Hus!" Netty menyikut Siska dan berkata, "sudah, jangan bahas itu!" titahnya berbisik. Mereka berdua pun segera beranjak pergi dari sana untuk melaksanakan tugas yang diberikan.

__ADS_1


***


Setelah berbincang dengan cukup lama dengan Garwig, dan menyempatkan diri untuk kembali ke kamar inap milik Nadia. Pada siang hari tepatnya pada pukul dua belas siang. Berlin bersama kedua rekan kepercayaannya berniat untuk mengunjungi rekan-rekannya yang terluka dan sedang mendapatkan perawatan dari pihak rumah sakit.


Meskipun dirinya berada di atas kursi roda. Namun keinginan Berlin untuk menjenguk rekan-rekannya sangatlah tinggi. Ia pun menyambangi ruangan di mana rekan-rekannya yang terluka mendapatkan perawatan.


Berlin merasa senang dan lega setelah mengetahui kondisi dari setiap rekannya yang tengah mendapatkan perawatan. Ada tujuh rekannya yang sedang mendapatkan perawatan di kamar inap mereka, dan kabar baiknya kondisi mereka perlahan memulih.


Setelah menjenguk satu-persatu rekan-rekannya. Berlin memiliki niat untuk membicarakan masalah lowongan pekerjaan yang ditawarkan oleh Garwig. Dirinya memilih suatu tempat yakni taman kecil di halaman samping rumah sakit tersebut. Kebetulan situasi di sana tidaklah ramai, karena satu-persatu orang-orang yang mengungsi ke rumah sakit telah kembali ke rumah mereka masing-masing.


"Apakah ada yang ingin kau bicarakan dengan kami?" Adam bertanya ketika sampai ke taman tersebut sesuai dengan permintaan Berlin.


"Apakah soal pembicaraan mu dengan Garwig, bos?" timpal Kimmy menghentikan kursi roda yang diduduki oleh Berlin tepat di samping sebuah bangku taman, tak lupa ia mengunci rodanya sebelum kemudian dirinya duduk pada bangku tersebut.


"Ya, betul." Berlin menjawab singkat pertanyaan rekan-rekannya.


"Teman-teman!" sapa Asep, berhenti dengan napas terengah-engah.


"Kau dari mana saja baru kembali?" cetus Kimmy bertanya.


"Maaf, setelah menggunakan drone itu untuk bertempur, aku langsung disidang di tempat oleh salah satu petinggi mereka. Hehehe ...!" Asep menjawab, memasang wajah tak bersalah dan tertawa kecil.


Mendengar jawaban tersebut, ketiga rekannya dibuat terkekeh apalagi melihat ekspresi tak bersalah yang diperlihatkan oleh Asep.


"Kalian lagi ngomongin apa? Ikutan, dong! Boleh, 'kan?" pinta Asep, menatap ke arah Berlin dengan kedua mata yang tiba-tiba saja terbelalak seolah terkejut, "loh, Bos, kau kenapa? Kakimu cedera?!" cetusnya baru menyadari sosok Berlin yang duduk di atas kursi roda.


"Menurutmu?" sahut Berlin dengan intonasi datar, "sudahlah, mumpung kau ada di sini, bergabunglah dengan kami! Ada yang ingin ku bicarakan dengan kalian," lanjutnya.

__ADS_1


"Oh, oke. Baik!" sahut Asep, kemudian duduk tepat di samping Kimmy yang duduk di bangku taman itu.


***


Prawira menghabiskan waktunya dari pagi hingga siang untuk berjalan, berkeliling Federal, dan berbincang banyak hal dengan Carlos. Namun waktunya menunjukkan telah habis untuk itu, dan dirinya harus segera mengurus banyak hal.


"Sepertinya aku harus kembali bertugas, ada banyak pelaku yang masih harus diproses dan diurus." Prawira memutuskan untuk berpisah dengan Carlos di halaman tengah Federal.


Carlos memasang ekspresi datarnya, mengangguk, dan menjawab, "ya, aku tahu."


"Ya sudah kalau begitu, aku pergi dahulu." Prawira menepuk salah satu pundak milik Carlos, sebelum kemudian berbalik badan dan melangkah pergi dari sana.


Namun langkah Prawira terhenti ketika berjalan sudah cukup jauh dari sosok Carlos yang hanya berdiri di sana. Carlos tiba-tiba saja memanggil dirinya, dan kemudian mengatakan, "terima kasih! Terima kasih telah membantu ku untuk menghabiskan waktuku."


Prawira sempat menoleh ke belakang dengan senyuman yang terpajang, "mau bagaimanapun juga kita masih tetap satu keluarga. Jadi ... jangan sungkan jika kau ingin berbicara denganku!" ucapnya sebelum kemudian beranjak pergi.


Dari pagi hingga siang ini, Carlos menghabiskan waktunya untuk berjalan dan berbincang dengan Prawira. Sudah sangat lama sekali dirinya tidak berbincang dengan seseorang dalam kurun waktu yang lama. Selama ia menghabiskan waktu bersama dengan sosok Prawira, dirinya dapat merasakan kembali adanya rasa kekeluargaan yang sungguh hangat. Ditambah Prawira berbincang dengan dirinya tanpa menggunakan sikap formal.


Carlos menghela napas, pandangannya masih melihat ke arah Prawira yang semakin menjauh, dan kemudian menghilang setelah masuk ke dalam sebuah gedung di sana.


Pandangan Carlos tiba-tiba saja tertunduk, dengan hati yang secara tiba-tiba merasa gundah gulana. Dirinya tidak paham apa yang ia rasakan saat ini, tetapi yang jelas seolah dirinya sedang merindukan sesuatu.


"Apa yang terjadi pada diriku?" hela napas panjang Carlos berhembus, "entahlah, lebih baik aku kembali saja," gumamnya kembali, dan kemudian berbalik badan, beranjak pergi dari tengah tanah lapang itu.


Pandangannya tajam, dan ekspresi yang dingin terkesan seolah ingin menyingkirkan jauh-jauh tentang perasaannya yang gundah gulana itu. "Kau tidak pernah dan tidak mungkin merasakan perasaan ini, Carlos. Tidak mungkin hatimu selemah ini!" gumamnya dengan sendiri, ketika dirinya berjalan kembali menuju gedung di mana sel penjaranya berada.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2