Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Kabar Bahagia. Bukan Rekayasa, 'kan? #37


__ADS_3

Masih di malam yang sama, tepatnya di tengah malam ini. Nicolaus tampak kecewa dipenuhi rasa kesal dan amarah. Lantaran perintah dan permintaannya tidak dapat terpenuhi. Padahal dirinya sudah membangun rencana ini sedari awal, bahkan sejak hancurnya Mafioso.


Kibo satu-satunya tangan kanannya sejak Mafioso berdiri, telah ia tugaskan untuk membawa beberapa yang tersisa dari Mafioso untuk mendirikan kelompok baru. Kelompok itu kini bernama Cassano.


Beberapa waktu yang lalu, Nicolaus memberikan perintahnya kepada Kibo. Ia meminta untuk membawa Berlin menuju ke Pulau La Luna. Namun setelah mendengar kabar bahwa rencana dan keinginannya digagalkan di pintu masuk pelabuhan. Kini ia geram dan kesal sendiri, karena sudah dibuat menunggu cukup lama di pulau itu.


"Bagaimana? Apakah rencana dan keinginan mu digagalkan?"


Tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang ia kenal. Pria itu adalah Tokyo. Ia berjalan menghampiri Nicolaus yang tengah berdiam diri di tepi pantai. Tak jauh dari bibir pantai itu terdapat sebuah dermaga di sana.


"Ashgard telah menggunakan aparat sebagai rekannya," sahut Nicolaus. Terdengar suara dan nada bicara yang cukup kesal di sana.


Tokyo terkekeh kecil mendengar hal tersebut lalu menimpalinya dengan berkata, "tenang saja, kita memiliki Cassano dan Red Rascals, bukan?"


"Tetapi baru saja Cassano gagal menjalankan perintahku," sahut Nicolaus.


"Itu karena posisi Cassano yang sangat tidak diuntungkan, mereka terpojok dengan adanya dua pihak yang memojokkan mereka, yaitu Ashgard dan para aparat keparat itu."


Mendengar apa yang dikatakan Tokyo, Nicolaus jadi berpikir kalau itu memang ada benarnya juga. Posisi Cassano sangat dipojokkan di pintu masuk pelabuhan sana.


"Kau tidak bisa menggunakan cara yang menurutku terang-terangan seperti itu, Nico," ucap Tokyo berjalan mendekati air pada bibir pantai itu. Pandangannya mengarah ke sebuah cahaya yang ternyata adalah pantulan bulan pada permukaan air laut. Tubuhnya satu langkah lebih maju daripada Nicolaus, ia membelakangi rekannya itu.


"Maka dari itu, biarkan aku mengajarimu cara membuat dan memainkan permainan di dunia yang penuh dengan kekejaman ini." Tokyo berbalik badan dan menatap tajam Nicolaus yang kini ada di hadapannya. Terlihat penuh dengan kelicikan dan aura kejahatan pada mata dan senyuman tipis yang terpampang ketika ia berbicara demikian.


***


Suara langkah kaki terdengar di kamar. Wanita itu berjalan mendekati jendela kamar, dan membuka tirai pada jendela. Sinar mentari pagi pun merangsek masuk melalui jendela, dan langsung mengenai wajah milik Berlin yang masih tertidur pulas. Tak lupa juga ia membuka jendela kamar agar sirkulasi udara di dalam kamar dapat berganti. Kicauan burung pun terdengar ketika jendela itu terbuka.


"Berlin, bangun ...! Ini sudah pagi." Nadia duduk di tepi ranjang, dan mencoba untuk membangunkan suaminya yang masih tertidur.


Nadia sendiri sudah terbangun sejak satu jam yang lalu. Bahkan dirinya juga sudah mandi dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk sarapan.


"Hmm? Rasanya cepat banget udah pagi aja," gumam Berlin. Matanya menyipit terbuka, namun rasa kantuknya masih terasa amat berat.


Semalam Berlin memang pulang terlambat. Dan ketika sesampainya ia di rumah, dirinya tidak langsung tidur karena memang masih belum bisa tidur. Alhasil, ia baru bisa tidur saat waktu menunjukkan pukul dini hari.


"Aku boleh tidur lagi, nggak? Sebentar aja," ucap Berlin. Matanya masih sangat lengket, dan sangat susah untuk terbuka. Kedua tangannya kembali menarik selimut dan kembali tertidur.


Nadia tersenyum manis seraya membelai lembut pipi milik lelakinya yang kembali tertidur itu. "Ya sudah, jangan lama-lama, ya?" ucapnya lalu mengecup pipi milik laki-laki itu. Sedangkan Berlin hanya mengangguk dengan mata terpejam dan tersenyum senang mendapat kecupan itu.

__ADS_1


***


Beberapa menit pun berlalu. Tepatnya pada pukul delapan pagi, Berlin akhirnya terbangun dari tidurnya. Setelah selesai membersihkan diri. Berlin pun keluar dari kamarnya, dan turun ke lantai bawah untuk menghampiri istrinya yang sudah menyiapkan sarapan di ruang makan.


Telah tersaji menu-menu sarapan yang teramat menggiurkan di atas meja makan. Aromanya seakan menggoda untuk disantap. Berlin yang tak sabar pun segera menyantap menu sarapan itu. Ditambah lagi sejak tadi perutnya sudah meminta untuk diisi.


"Pelan-pelan, sayang. Sup sama ayam gorengnya masih panas, loh," ucap Nadia tersenyum ketika melihat suaminya begitu lahap seperti biasa ketika memakan masakannya.


"Fuuhh ...!! Fuuhh ...!!!" Lidah Berlin merasa sedikit terbakar, karena memang apa yang dikatakan Nadia benar. Sembari menyantap makanannya, Nadia terkekeh kecil melihat kelakukan itu.


Nadia sudah terlebih dahulu selesai dengan makanannya yang sudah habis. Dengan satu tangan menopang dagu, ia terus memandangi Berlin yang tampak masih menikmati ayam gorengnya hingga ke tulang-tulang.


Wanita muda itu tersenyum manis sembari terus memandangi suaminya. Dalam pikiran dan benaknya tengah berpikir. Ia sangat ingin menunjukan hasil pemeriksaannya kemarin, yang menyatakan dua garis.


"Kamu kenapa senyum-senyum gitu? Kayak ada yang disembunyikan, deh."


Tampaknya ekspresi wajah bahagia itu diketahui oleh Berlin. Seketika pipinya merona, dan sedikit salah tingkah ketika lelaki itu mengetahui ekspresinya.


"Oh iya, bagaimana hasil pemeriksaanmu kemarin? Hasilnya baik-baik saja, 'kan?" cetus Berlin bertanya. Ia terlihat begitu mencemaskan hal tersebut, bahkan hal inilah yang menjadi salah satu faktor dirinya susah tidur kemarin malam.


Mendengar pertanyaan itu. Nadia tertunduk. Wajahnya tersipu begitu merah. Melihat hal itu, Berlin kemudian bertanya lagi, "kamu nggak menyembunyikan sesuatu dari aku, 'kan?" tatapannya terus tertuju kepada wanita yang duduk di hadapannya itu.


"Ada apa, sih?" Berlin mengerutkan keningnya dan bingung dengan tingkah istrinya. Dirinya dapat menyaksikan ekspresi malu dan tersipu itu. Tetapi dirinya bingung apa yang sebenarnya disembunyikan.


Tak menunggu waktu lama. Nadia datang dengan langkah-langkah kecilnya. Ekspresi bahagia itu tak bisa ia sembunyikan lagi. Terlebih dirinya sangat ingin mengetahui reaksi lelakinya ketika mendapat kabar bahagia ini.


"Apa ini?" tanya Berlin masih dalam posisi duduk manis di kursinya. Ia menerima sebuah kertas yang kondisinya digulung dari wanitanya yang kini berdiri di sampingnya.


"Buka aja," jawab Nadia seraya mengulas senyumannya yang manis.


Berlin pun membuka perlahan gulungan kertas itu. Ketika terbuka, ia dibuat terkejut. Kedua matanya membulat. Yang ia dapati adalah dua buah testpack dengan hasilnya, yaitu dua garis merah. Pada kertas itu juga tertuliskan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Nadia kemarin. Dan hasilnya sangat membahagiakan.


DEG.


"Ini ...." Berlin langsung beranjak dari kursinya, dan berdiri berhadapan dengan Nadia. "Ini bukan ... rekayasa, 'kan?" lanjutnya berbicara. Terpampang jelas perasaan bahagia yang tiba-tiba menyelimuti dirinya pada kedua matanya.


Nadia terkekeh kecil dan menjawab, "tentu aku tidak mau bercanda dalam hal ini," jawabnya dengan pandangan tak bisa menatap pria yang kini menatapnya. Salah satu kakinya berjinjit dan tidak bisa diam, dan ia menyimpan kedua tangannya ke belakang.


Seketika Berlin mematung sejenak ketika mendengar jawaban tersebut. Bibirnya tak bisa berkata-kata lagi. Ketika mendapat kabar bahagia ini. Dirinya benar-benar tidak bisa mendeskripsikan perasaannya yang kini sudah jelas sangat bahagia.

__ADS_1


"Berlin?" Nadia memiringkan kepalanya dan menatap dengan penuh tanya ketika lelaki itu terdiam dan tersenyum dengan sendirinya. Di tangan Berlin masih ada hasil pemeriksaan yang ia berikan.


Berlin langsung menatap Nadia ketika mendengar namanya disebutkan. Tatapannya benar-benar dalam dan menunjukkan bahwa dirinya teramat sayang dengan sosok yang kini berada di hadapannya.


Seketika ....


DRAP!


Berlin langsung memeluk istrinya tanpa berkata apapun terlebih dahulu. Hal ini tentu membuat Nadia sedikit terkejut. Namun, pelukan hangat yang selalu menjadi kesukaannya yang tentu tidak ia tolak.


"Aku tidak sedang bermimpi, 'kan?" bisik Berlin ketika memeluk tubuh wanitanya yang lebih kecil dibanding dirinya.


Nadia tiba-tiba langsung menyentil dengan sedikit keras salah satu telinga milik Berlin. "Aduh!" Berlin langsung melepaskan pelukannya, dan harus merasakan sakitnya sentilan yang ia terima.


"Bagaimana?" tanya Nadia tersenyum setelah berhasil membuat suaminya sadar.


"Iya, ini bukan mimpi, kok. Hehe," Berlin tertawa kecil dan lalu tersenyum dengan sendirinya. Tatapannya masih belum lepas dari sosok wanita yang kini berada sangat dekat di hadapannya. Bahkan jarak di antara mereka berdua hampir terkikis habis.


Nadia ikut tertawa dan lalu berkata, "maaf, ya."


"Tidak apa." Berlin menggelengkan kepalanya, dan kemudian langsung mengecup kening milik sang istri dengan penuh kasih sayang. Kecupannya berlangsung cukup lama. Sampai kemudian ia bergumam, "aku akan segera menjadi seorang ayah, ya?" seraya melepas perlahan kecupan tersebut, lalu menatap tulus kedua mata milik Nadia.


Nadia tersenyum dan langsung memegang bahu milik lelakinya, lalu kemudian melingkarkan kedua tangannya pada leher milik Berlin. Tatapan mereka berdua sangatlah lekat, bahkan jarak di antara mereka perlahan terkikis hingga kedua kening mereka bertemu.


Dengan tutur lembutnya Nadia berkata, "iya, sayang. Dan aku akan segera menjadi seorang ibu," ucapnya lalu tersenyum bahagia.


Setelah itu Berlin tiba-tiba berlutut tepat di hadapan istrinya hingga dirinya dapat berhadapan langsung dengan perut datar milik sang istri. "Jadi ... kamu ada di dalam sini, ya?" gumamnya dengan intonasi yang sungguh pelan seakan berbisik. Kemudian ia menempelkan pipi dan telinganya pada perut milik Nadia yang masih datar itu.


"Iya, Ayah!" Nadia yang justru menjawab pertanyaan itu dengan suara yang sengaja ia buat seperti anak kecil.


Berlin melirik ke atas untuk melihat wajah istrinya, lalu terkekeh mendengar dan mendapat respons tersebut. Kemudian ia kembali untuk memandangi perut itu, dan berkata, "panggilnya 'Papa' aja, ya?" bisiknya kembali dan sempat mengecup perut milik istrinya, lalu memeluknya.


"Siap, Papa!" Kembali Nadia yang menjawab dengan suara yang sengaja ia buat-buat seperti anak kecil. Ia perlahan mengelus kepala milik suaminya dari atas sembari tertawa kecil. Senyuman bahagia masih terpampang jelas di wajahnya, begitu pula dengan Berlin yang tak menyangka akan mendapat kabar bahagia ini secepat ini dan di pagi ini.


Pagi ini menjadi awal hari yang sangat indah untuk Berlin memulai harinya. Meskipun, dirinya sempat molor dan sedikit terlambat untuk bangun tidur.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2