Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Mencurigakan #42


__ADS_3

Pukul tiga sore. Rintik hujan yang sempat mereda, kini kembali deras mengguyur bumi. Suasana kota menjadi semakin dingin. Sebuah mobil hitam melaju cukup kencang melalui jalan bebas hambatan yang cukup padat dengan kendaraan. Mobil itu terus melaju menuju ke arah Shandy Shell melalui jalan tol tersebut.


"Begitu ramai, ya," ucap Sasha kepada Adam yang tengah menyetir.


"Namanya juga akhir pekan," sahut Adam tersenyum ketika melirik ke arah wanita yang duduk di sebelahnya itu.


"Jadi hari ini ... kita mau ke mana?" tanya Sasha menoleh dan memandang ke arah laki-laki yang tengah mengemudi itu.


Adam sedikit menghela napas, menoleh dan menjawab, "nggak tau," jawabnya singkat lalu mengembalikan pandangannya menuju ke jalanan di depan.


Mendengar jawaban yang tidak membuatnya puas. Sasha mendengus kesal, "kok gitu, sih?" kemudian ia memalingkan pandangan ke arah jendela mobil dan berkata, "aku kan juga ingin seperti Berlin dan Nadia."


Adam tertawa kecil mendengar hal tersebut, melirik dan mendapati wanita itu tengah memalingkan wajah darinya. "Seperti Berlin dan Nadia? Seperti gimana, tuh?" tanyanya dengan sikap berpura-pura tidak tahu.


"Ya, um, kita ... menghabiskan waktu seharian, apalagi ini 'kan akhir pekan." Sasha mengatakannya dengan sedikit mengerucutkan bibirnya yang lucu, dan wajah yang masih berpaling dari pandangan Adam.


"Bukankah saat ini kita sedang melakukan apa yang kamu katakan?" sahut Adam bertanya, dan pertanyaan cukup untuk membuat Sasha terdiam sejenak.


Di saat yang bersamaan, radio komunikasi yang ia letakkan di dashboard mobil berbunyi. "Dam, kalian sampai mana?" tanya seseorang melalui radio tersebut.


"Tetapi tidak sepenuhnya, 'kan?" sahut Sasha sesaat setelah mendengar suara yang menanyakan keberadaan lokasi mereka berdua.


"Maafkan aku, jika aku tidak dapat memenuhi ekspektasi mu. Memang aku bukanlah Berlin, bahkan aku juga mengagumi dia. Tetapi aku akan berusaha yang terbaik untukmu, atau lebih tepatnya untuk hubungan kita," ucap Adam dengan intonasi yang cukup rendah nan lembut.


Sasha cukup dibuat tersentuh, dan sedikit merasa bersalah karena mengatakan sesuatu yang membuat Adam akhirnya meminta maaf. Ditambah lagi, baru kali ini ia mendengar Adam berbicara begitu lembut kepada seseorang selain kepada dirinya.


"Hei, kalian berdua baik-baik saja, 'kan? Kenapa tidak menjawab?!" suara Kimmy terdengar begitu mencemaskan keadaan Adam dan Sasha yang tidak menjawab pertanyaan sebelumnya.


Adam pun segera mengambil radio tersebut dan menjawab, "kami baik-baik saja, kok! Sesaat lagi kami sampai ke lokasi," ucapnya dengan semangat.


Sasha hanya diam dan tersenyum. Pandangannya yang sebelumnya berpaling, kini diam-diam memandang dan menatap ke arah Adam di sampingnya. Laki-laki itu tampak fokus menyetir, ditambah lagi kondisi curah hujan yang begitu deras.


Adam menyadari hal tersebut. Satu tangannya tiba-tiba meraih jari-jemari lembut milik Sasha, dan cukup membuat wanita itu terkejut atas apa yang ia lakukan. Namun tampaknya Sasha tidak menolak genggaman hangat dari seorang pria yang bahkan dirinya tidak menyangka akan jatuh hati padanya.

__ADS_1


"Maafkan aku, ya? Dahulu aku pernah begitu mengagumi, dan bahkan juga sampai menyukai Berlin. Tetapi ... semua itu sirna ketika Berlin sudah menemukan pawang hatinya." Sasha berbicara dengan sangat jujur.


Adam terkekeh ketika mendengar kejujuran tersebut. Dirinya bisa memaklumi apa yang pernah Sasha rasakan, karena memang bukan hanya Sasha yang menyimpan perasaan itu terhadap Berlin.


"Iya, aku paham." Adam menghela napas panjang dan kemudian berkata, "entah mengapa dia memiliki daya tarik yang luar biasa, apalagi di mata para wanita."


"Soalnya Berlin itu udah ganteng, terus sikapnya dingin dan cuek pula. Misterius deh pokoknya," sahut Sasha. Seketika sedikit membuat Adam sakit hati ketika mendengar hal tersebut.


Menyadari perkataannya menyakit perasaan laki-lakinya. Sasha langsung bersandar pada bahu milik Adam dan berkata, "tetapi sekarang dia udah menemukan pawangnya, dan sekarang malah kamu yang memenangkan hatiku."


"Oh, jadi setelah memuji pria lain, kamu memuji diriku, nih? Begitukah cara bermainmu?" sahut Adam sedikit tersenyum tipis penuh arti jahil.


Seketika Sasha dibuat kikuk. Ia cukup sulit untuk harus berbicara apa agar Adam tidak salah paham dengan perasaannya. "Eng-enggak! Bukan seperti itu!" bantahnya.


"Kamu marah kepadaku, ya?" lanjutnya bertanya dengan tatapan berkaca-kaca kepada Adam.


Adam justru terbahak-bahak melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Sasha padanya. Ekspresi takut jika marah bercampur merasa bersalah sangat terlihat jelas.


"Aku nggak marah, sayang." Adam mengusap lembut kepala milik wanitanya dengan satu tangannya, dan tersenyum. "Yah, walaupun hatiku cukup sakit ketika mendengar kamu memuji pria lain, meskipun pria itu adalah Berlin."


"Beneran, 'kan? Jangan cuekin aku, ya!" sahut Sasha seraya menggenggam erat jemari milik laki-lakinya.


Adam mengangguk dan kembali terkekeh, lalu tersenyum ketika mendengar hal tersebut, "dah, ah! Aku lagi nyetir, lepasin dahulu, ya," ucapnya melepas genggamannya dan kemudian kembali fokus mengemudi.


***


"Kenapa semakin deras, ya?" gumam Nadia memandang ke arah jendela besar dan pemandangan perbukitan hijau yang tengah diguyur hujan. Ia terlebih dahulu selesai dengan makanannya, sedangkan Berlin di hadapannya masih menikmati sepotong daging terakhir pada piringnya.


"Sepertinya hujan hari ini akan awet hingga malam nanti," jawab Berlin, lalu melahap potongan terakhirnya.


Pandangan Nadia yang tadinya memandang terus menuju ke arah luar jendela, kini beralih menatap ke arah Berlin. "Kamu sepertinya suka banget sama menu steak di sini, ya?" cetusnya bertanya.


Mendengar pertanyaan itu, Berlin lantas tersenyum. Memang menu makanan yang ia pesan sangat enak, karena menu itu adalah salah satu menu berkelas dan mahal. Tetapi ia menjawab pertanyaan istrinya dengan berkata, "tetapi aku lebih suka masakan kamu, deh! Karena hanya dibuat khusus untukku, tidak seperti steak yang ku pesan ini."

__ADS_1


Nadia tersenyum senang mendengarnya, "kebiasaan, kamu suka banget godain aku, ya?!" sahutnya.


"Hehehe!" Berlin hanya terkekeh.


Di tengah canda dan pembicaraan itu. Mata Berlin tiba-tiba saja tertuju kepada dua orang pria, satu pria mengenakan hoodie berwarna hitam, dan satu lagi mengenakan hoodie berwarna putih. Dua pria itu duduk sedikit lebih jauh di belakang Nadia yang duduk di hadapannya. Berlin menatap dua orang itu dengan penuh curiga, dan merasa ada yang berbeda pada dua pria itu dibandingkan pengunjung yang lain.


"Ada apa?" cetus Nadia dengan melambaikan satu tangannya tepat di hadapan Berlin.


"Oh, ti-tidak, tidak ada apa-apa, hanya ... dingin aja ternyata di sini," sahut Berlin langsung tersadar dari lamunan dan fokusnya terhadap dua pria mencurigakan itu.


Nadia menatap aneh dan berkata, "kamu tadi melamun, kok tiba-tiba bilang dingin, sih. Tetapi emang hujan-hujan gini dingin, sih," sahutnya.


Berlin hanya diam bingung ketika Nadia menatapnya dengan curiga. Ia pun mencoba untuk mengalihkan suasana dengan bertanya, "kamu sudah selesai, 'kan?"


Nadia hanya mengangguk. Kemudian disusul langsung dengan Berlin berkata, "kalau begitu, yuk!" cetusnya dengan bersemangat dan berdiri dari kursinya.


"Mau pulang sekarang? Padahal aku masih ingin sedikit lebih lama melihat pemandangan seperti ini." Nadia mendongak dan menatap Berlin dengan tatapan berkaca-kaca, serta ekspresi layaknya anak kecil yang tidak mau diajak pulang ketika sedang asyik-asyiknya bermain.


Berlin tersenyum dan kemudian berkata, "siapa bilang kita langsung pulang? Justru kita masih bisa jalan-jalan, entah ke manapun kamu mau."


Tatapan Nadia yang sebelumnya sedih, tiba-tiba saja berubah menjadi berbinar seolah menemukan secercah harapan. "Benarkah?" sahutnya.


Berlin mengangguk dengan senyuman yang sangat sulit sirna dari wajah tampannya ketika melihat istrinya senang seperti ini. "Yuk!" ajaknya kemudian menggenggam salah satu tangan milik wanita tersebut.


***


Setelah melakukan pembayaran di kasir. Dengan menggunakan payung, Berlin langsung mengajak istrinya menuju ke mobil, dan segera pergi dari tempat itu secepat mungkin.


Menyaksikan hal itu, dan perginya Berlin dari sana. Pria dengan hoodie putih itu tampak ingin segera pergi juga, namun rekannya menghentikan langkahnya dengan mengatakan, "tidak perlu repot-repot mengejar mereka! Kau tenang saja, kita akan selalu tahu di mana mereka berada," ucapnya dengan intonasi datar nan dingin.


"Untuk sementara kita harus sedikit menjauh, karena aku sangat tahu Berlin sudah mencurigai kita," lanjutnya dengan tatapan mata tajam.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2