Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Buku Informasi #201


__ADS_3

"Baik, kalian sudah bisa tenang?" tanya Adam, berdiri bersama Carlos dan juga kedua orang kepercayaan Berlin yakni Asep dan Kimmy. Mereka berempat berdiri tepat di depan rekan-rekannya yang sedang nyaman pada posisi mereka masing-masing. Beberapa dari mereka ada yang duduk di sofa, dan beberapa lagi ada yang berdiri di sekitarnya.


Anggota Ashgard saat ini benar-benar berkumpul, mereka semua lengkap di Kediaman Ashgard kecuali Berlin yang memang tidak hadir di pagi ini. Suasana untuk pagi ini memang cerah, namun sepertinya itu tidak berlaku di ruang tengah kediaman tersebut.


"Hening, sunyi. Baiklah," gumam Adam, menghela napas panjang, melangkah sedikit menepi dan bersandar pada dinding putih.


Tidak ada yang berani angkat bicara, hanya Adam yang berbicara. Mereka lebih memilih untuk diam, menyimpan dan menahan masing-masing kosa kata mereka. Adam merasa seperti sedang berbicara sendiri di tengah keramaian. Di ruang tengah ini terdapat total empat belas orang. Tetapi rasanya tidak seramai itu.


Adam kembali beranjak dari posisinya bersandar pada salah satu sisi dinding, kembali mendekat ke arah Kimmy sembari berkata, "aku tidak ingin memihak, dan aku hanya ingin berusaha untuk meluruskan apa yang terjadi saat ini."


"Kim, kirim kabar kepada Berlin soal situasi saat ini ...!" bisik Adam ketika sampai di dekat Kimmy.


Wanita itu hanya mengangguk sebagai jawabannya, dan kemudian mengambil sebuah ponsel dari dalam kantong. Sedangkan Adam, dirinya kembali berbicara kepada rekan-rekannya, "dicurigai, diincar, dicari, dan ditandai. Bukankah itu sudah keseharian kita dahulu?"


"Terutama pada situasi saat ini, dan kurasa ini sudah menjadi risiko dari pekerjaan kita. Aku tidak melarang kalian untuk menduga, menerka, dan berasumsi berbagai hal. Namun selama itu statusnya masih belum bisa dipastikan, maka jangan sampai itu membuat perpecahan di antara kita."


"Sekali lagi, di sini aku bukannya memihak Carlos, dan bukannya aku tidak sependapat dengan berbagai asumsi serta dugaan kalian. Namun untuk sementara, aku tidak bisa menentukan bahwa berbagai asumsi serta dugaan kalian itu benar. Bila pun dugaan kalian benar, kita juga tidak bisa memperbaiki posisi kita yang sudah dicurigai oleh mereka."


Dengan sikap yang begitu tenang, Adam berbicara di depan rekan-rekannya. Sikap yang ditunjukkannya cukup mirip dengan Berlin ketika berbicara untuk menenangkan situasi panas yang terjadi di antara rekan-rekannya.


Adam berhenti berbicara sejenak, menoleh dan menatap Carlos sembari kemudian bertanya, "apa hasilmu semalam? Tunjukkan pada kami!"

__ADS_1


Carlos mengambil sebuah buku kecil yang ia simpan di balik jaket hitamnya. Buku tersebut ia ambil dan ia serahkan kepada Adam sembari berkata, "ada beberapa hal atau informasi mengenai Red Rascals dan Clone Nostra di dalamnya."


Adam menerima buku kecil berwarna cokelat itu, dan kemudian membukanya. Ketika buku tersebut terbuka. Dirinya menemukan beberapa lembaran yang berisikan catatan tulisan, gambar, bahkan ia temukan beberapa lembar yang berisikan profil seseorang yang cukup asing.


"Berlin menyuruhku dan memodaliku untuk mendapatkan beberapa informasi tersebut agar kita bisa memilikinya," ucap Carlos.


"Memodali? Apa saja yang Berlin berikan padamu?" sahut Faris, tertarik dan penasaran.


Namun rasa penasaran Faris tidak mendapatkan jawaban dari Carlos. Laki-laki itu hanya menjawab, "aku tidak bisa menyebutkannya, karena aku disuruh oleh Berlin untuk tidak memberitahukannya kepada siapapun."


"Kau dapat dari mana semua ini?" tanya Adam, terlihat sangat tertarik dengan apa yang ia lihat setelah membuka buku kecil tersebut.


"Informan Mafioso," jawab singkat Carlos.


"Apa isinya?" cetus Asep, mendekat penasaran, karena sedari tadi ia melihat Adam serius sekali melihat isi dari buku tersebut.


"Ini ... sangat berharga," gumam Adam, kemudian menutup buku itu, bahkan belum sempat Asep melihat habis satu halaman.


Adam kemudian menoleh, menatap tajam dan serius Carlos sembari bertanya, "siapa informan Mafioso mu itu?"


Namun pertanyaan tersebut mendapat jawaban yang berupa pernyataan, "sebelum Berlin, aku tidak akan memberitahukannya kepada kalian terlebih dahulu," ucapnya lugas dan tajam.

__ADS_1


Sontak pernyataan tersebut cukup memancing emosi dari beberapa rekannya, namun tidak dengan Adam. Pria itu memilih untuk menghela napas dan kemudian berkata menanggapi, "baiklah, aku tidak memaksamu."


"Aku hanya terkejut mengapa kau bisa mendapatkan informasi mengenai rencana mereka. Kemarin aku dan tiga orang dari Ashgard yang terus mengikuti pergerakan mereka dari pelabuhan saja tidak mendapatkan petunjuk mengenai rencana mereka," lanjut Adam.


"Rencana?" cetus Kimmy, penarasan, karena memang dirinya tidak tahu soal isi dari buku tersebut, keburu ditutup oleh Adam.


"Ya, di dalam buku ini ada beberapa informasi bertentuk potret gambar, biodata seseorang, dan indikasi tujuan mereka. Meski aku tidak begitu percaya secara mentah-mentah dengan informasi yang ada di sini. Tetapi entah mengapa, aku merasa semua informasi yang ada di dalam sini ada hubungannya dengan mereka. Terlebih ketika kami berempat kemarin diutus oleh Berlin untuk mengikuti pergerakan mereka dari pelabuhan, mereka menunjukkan gerak-gerik kalau ada kaitannya dengan apa yang ada di dalam buku ini."


Mendengar penjelasan dari Adam, berhasil membuat rekan-rekannya bingung sekaligus berpikir-pikir. Mereka secara langsung mengesampingkan emosi mereka atas Carlos, dan lebih tertarik dengan penjelasan yang baru saja Adam berikan.


"Dam, adakah kegiatan untuk hari ini?" tanya Kimmy, sedikit mengalihkan topik pembicaraan sekaligus menyela keheningan.


"Belum ada, untuk sementara kita pasif terlebih dahulu sampai arahan selanjutnya dari Berlin. Kita tunggu saja dia," jawab Adam, beranjak menuju ke sebuah sofa single seat yang kosong, dan kemudian duduk di sana.


***


"Kita sudah sampai?" tanya Akira, membuka kedua matanya dan mendapati bahwa mobil yang ditumpanginya telah berhenti di sebuah lahan parkir yang cukup luas.


"Sudah, sayang. Yuk!" jawab Nadia, kemudian turun dari mobilnya, sekaligus mengajak Akira untuk turun.


Setelah perjalanan yang cukup lama karena kemacetan di jalanan pusat kota. Berlin akhirnya sampai juga di rumah sakit kota untuk menemani istrinya melakukan pemeriksaan terhadap kandungannya. Tentu bagi dirinya tidak sabar dan sangat antusias untuk melihat seperti apa pemeriksaan tersebut, terlebih ada rasa penasaran yang tersimpan dalam dirinya.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2