
Di bawah rintik-rintik kecil hujan yang masih deras dan merata. Sebuah rombongan kendaraan yang terdiri dari beberapa motor dan mobil tiba-tiba saja memenuhi jalanan utama pusat kota. Mereka yang mengendarai kendaraan-kendaraan itu adalah orang-orang dengan pakaian ungu dan putih, bergerak menerobos perimeter penjagaan yang dimiliki oleh polantas dalam melakukan pengalihan arus lalu lintas. Yang mereka lakukan hanya melanggar dan menerobos beberapa plang yang ditetapkan oleh pihak polantas guna menutup jalan. Orang-orang yang berjumlah lebih dari tiga puluh orang itu semuanya bersenjata api, namun tidak ada serangan seperti tembakan ataupun kekerasan dalam bentuk apapun terhadap para aparat yang berjaga, hanya melintas begitu saja menuju ke Distrik Komersial.
Tentu kemunculan pihak ketiga dan keempat itu membuat beberapa asumsi dan kebingungan yang timbul secara tiba-tiba. Asep yang melihat semua pergerakan itu melalui laptop miliknya, langsung melaporkan dan mengirimkan rekaman kamera pengawas tersebut kepada Berlin. Ditambah dengan kemunculan pihak putih bersama dengan pihak ungu itu, membuat pergerakan Red Rascals di keempat wilayah seketika berubah.
"Clone Nostra dan Cassano?! Apakah mereka kelompok pendukung Red Rascals?" gumam Berlin setelah melihat beberapa pesan yang dikirim oleh Asep padanya melalui ponsel.
Namun kedua pertanyaan dan asumsi itu disanggah oleh Kent yang secara tiba-tiba menjawab, "sepertinya tidak, mereka bukan kelompok pendukung," jawabnya sembari sedikit mengintip sekelompok orang berjaket merah melalui mulut gang tersebut. Yang sebelumnya pergerakan mereka terus berjalan menuju ke arahnya, kini mereka tiba-tiba saja berubah haluan, berlari dan berputar balik.
"Mereka terlihat mundur, entah apa yang sebenarnya terjadi," lanjut Kent.
"Bos, izin melaporkan, mereka tiba-tiba saja mundur dari Distrik Barat dan sepertinya bergerak menuju ke arah kalian, Distrik Komersial." Tidak berselang lima detik setelah Kent berbicara, tiba-tiba saja Asep memberikan laporan kelanjutannya melalui radio yang ditujukan kepada Berlin.
"Area Apartemen juga sama, mereka mundur," sela Kimmy.
"Pelabuhan juga!" timpal Adam.
__ADS_1
Beberapa saat setelah laporan dari Asep terdengar, secara langsung Berlin menerima dua laporan kembali dari Adam dan Kimmy. Mereka bertiga melaporkan hal yang sama, yakni soal pergerakan Red Rascals yang tiba-tiba saja berubah haluan dan bergerak secara masif menuju ke Distrik Komersial.
"Apa yang terjadi pada mereka?!" gumam Berlin tertunduk dengan satu genggaman tangan menempel di bawah dagunya. Ia terlihat cukup tercengang dan terkejut dengan situasi yang ada, terlebih dengan kemunculan dua kelompok kriminal yang berbeda dan keduanya terlihat bergerak secara bersamaan.
"Apakah sudah dapat dipastikan pergerakan mereka menuju ke Distrik Komersial?" tanya Berlin kemudian dengan menggunakan radio komunikasi miliknya.
Pertanyaan tersebut pun langsung mendapatkan dari Asep, orang yang memiliki akses untuk melakukan pantauan melalui beberapa kamera pengawas yang terpasang di sudut-sudut persimpangan kota, dan jawaban tersebut adalah, "iya, Bos. Mereka semua sedang bergerak ke wilayah mu."
Berlin menghela napas dan berpikir sejenak, setelah rencana penyergapannya gagal, kini muncul masalah baru yakni dengan kemunculan tiba-tiba Clone Nostra dan Cassano. Kemunculan Clone Nostra mungkin sudah ditebak bahwa mereka akan muncul, karena jika disangkutpautkan dengan persidangan yang sedang berlangsung, Tokyo El Claunius adalah seorang petinggi atau ketua dari kelompok tersebut. Namun bagaimana dengan Cassano? Bukankah ketua atau petinggi mereka yakni Kibo Gates Hadi telah tertangkap dan kini sudah mendekam di dalam Federal dengan tenggat waktu lebih dari lima dekade? Tidak seharusnya mereka ada dalam penyerangan ini, karena memang persidangan yang sedang berlangsung tidak ada kaitannya dengan kelompok yang identik dengan warna ungu itu.
Perintah serta keputusan untuk berkumpul itu sempat mendapat sedikit keraguan dari Kent dengan bertanya dua hal yakni, "apakah kau yakin untuk berkumpul, Bos? Bagaimana jika itu semua hanyalah pengalihan?"
Berlin terlihat diam sejenak untuk berpikir. Beberapa rencana yang sebelumnya ia miliki, telah mendapatkan beberapa perubahan dan bahkan gagal dalam rencana penyergapan, karena memang target atau sasaran yang akan disergap secara tiba-tiba berputar balik dan mundur semakin menjauh dari cincin perimeter yang ditetapkan oleh pihak aparat.
"Kent, koodirnasikan dua personel itu untuk bergerak kembali ke gedung parkiran sebelumnya ...!" ucap Berlin memberikan arahannya kepada Kent sembari menoleh dan melihat ke arah dua personel yang ada di atap-atap gedung di seberang, "aku akan menghubungi Prawira sebentar untuk mengantisipasi jika memang ini semua hanyalah pengalihan," lanjutnya kembali menoleh kepada Kent di hadapannya.
__ADS_1
"Baik," jawab Kent, tunduk dan patuh.
Berlin kemudian beranjak, berjalan menggunakan tongkatnya, kembali ke mobilnya yang terparkir di sisi lain gang. Sedangkan Kent, dirinya segera beranjak menuju ke arah dua bangunan yang ditempati oleh dua personel tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Bos?" tanya Sasha, masih berada di kursi kemudinya sesuai dengan perintah yang Berlin berikan sebelumnya. Di pangkuannya terdapat sebuah laptop yang terus menampilkan pergerakan dari GPS milik rekan-rekan Ashgard pada peta digital.
"Kita pergi ke gedung parkir sebelumnya!" ucap Berlin, tidak begitu menghiraukan pertanyaan Sasha.
Sasha pun segera melaksanakan titah tersebut, memanasi mesin mobilnya, dan kemudian beranjak pergi dengan mengendarakan mobil tersebut menuju ke tempat yang sudah ditentukan oleh Berlin.
Dalam perjalanannya, Berlin mengambil ponsel miliknya melalui saku mantel yang dipakainya, dan kemudian segera menghubungi Prawira melalui ponsel genggam tersebut. Tidak ingin berbasa-basi dan terlalu lama mengetik. Berlin memilih untuk langsung menghubungi Prawira melalui panggilan suara, agar dirinya dapat menyampaikan serta berbicara secara langsung.
.
Bersambung.
__ADS_1