
"Bos, Kent ...."
"Dia ...."
"Dia sedang dioperasi, Bos."
Suasana sendu tercipta dan sangat terasa, ditambah lagi adanya kehadiran Berlin di sana. Berlin sendiri masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, kepalanya seketika terasa pusing dan tak mampu untuk berpikir.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Kim?" Berlin pun bertanya soal situasi apa yang sebenarnya terjadi. Pandangannya tak bisa lepas dari pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat dan Kent berada di dalam sana.
"Sedikit panjang ceritanya, bos." Kimmy tertunduk dan menjawab pertanyaan itu.
"Maka ceritakan padaku sekarang!" pinta Berlin menatap tajam Kimmy dan dengan sikap yang sangat dingin.
Namun Kimmy malah terdiam dan terlihat cukup ketakutan dengan ekspresi dan tatapan tajam itu. Ia hanya tertunduk dan bingung harus dari mana dirinya bercerita serta menjelaskan.
Mengetahui permintaannya tidak dijawab oleh salah satu orang kepercayaannya. Hal itu cukup memancing amarah Berlin. Apalagi persoalan ini bersangkutan dengan nyawa dan keselamatan Kent.
"Apa yang lain tidak bisa memberitahuku? Menceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Atau malah kalian tidak ada yang tahu?" Pertanyaan-pertanyaan itu terucap oleh Berlin begitu saja dengan tatapan dan sikap yang sangat dingin. Meskipun emosinya sedikit terpancing, namun dirinya masih bisa mengendalikan hal itu mengingat tempatnya saat ini berada di dalam umah sakit.
Namun sikap yang ditunjukkan Berlin ketika bertanya justru membuat rekan-rekannya semakin enggan untuk menjawab semua pertanyaannya.
"Berlin, aku akan beritahu kepadamu tentang apa yang terjadi kepada Kent. Namun tolong kendalikan dirimu!" Dengan tenangnya Adam berbicara kepada Berlin, tidak ada yang berani berbicara selain dirinya.
Berlin sendiri paham dengan apa yang dikatakan oleh salah satu orang kepercayaannya itu. Dirinya pun menenangkan diri dan berkata, "katakan padaku!" kepada Adam.
Adam bersandar di sebuah dinding tepat di samping pintu ruang operasi, dan menjelaskan semuanya kepada Berlin. Semua yang terjadi, semua masalah yang menimpa Kent, dan apa hubungannya dengan Red Rascals.
"Pagi hari tadi Kent sedang dalam perjalanan menuju markas, namun ketika di tengah perjalanan ... dia tiba-tiba meminta pertolongan kepada kami melalui radio. Kata-kata pertolongannya adalah bahwa dia dihadang oleh orang-orang berjaket merah di pinggiran kota."
"Mendengar hal itu, kami langsung bergegas ke sana. Tetapi ... ketika kami sampai ... orang-orang yang menghadang itu sudah tidak ada, dan hanya ... meninggalkan Kent tergeletak di pinggir jalan."
Ketika Adam sedang menjelaskan, salah satu rekannya yaitu Aryo pun ikut menambahkan, "aku yakin sekali itu perbuatan para B*jing*n Merah itu, bos!" timpalnya dengan nada sedikit emosi.
Tap ... Tap ... Tap ...!!!
Di tengah pembicaraan itu, tiba-tiba terdapat tiga orang anggota polisi yang menghampiri mereka. Salah satu dari ketiga polisi itu adalah James, polisi kenalan Berlin dan rekan-rekannya.
"Tenang saja, kepolisian sudah menerima laporan soal para B*jing*n Merah itu, dan kami akan menyelidikinya," ucap James berjalan mendekati Berlin dan teman-temannya.
__ADS_1
"Terima kasih, meskipun aku tidak begitu percaya dengan penyelidikan kalian," sahut Berlin terlihat sangat cuek dan dingin meskipun di dekatnya adalah seorang polisi. Dirinya tampak tidak begitu percaya dengan polisi.
James hanya tersenyum mendengar hal tersebut dan melihat sikap Berlin. Sudah lama dirinya mengenal Berlin, dan dirinya sudah terbiasa dengan sikap itu. Sedangkan dua rekan polisinya terlihat sedikit kesal dengan apa yang diucapkan oleh Berlin. Namun mereka hanya diam.
"Selain memberitahu hal itu, ada hal lain yang membuat aku ditugaskan untuk datang kemari. Berlin, aku ingin menyampaikan pesan resmi dari Garwig yang ditujukan untukmu." James memberikan sebuah surat yang memiliki logo pemerintahan. Sepertinya surat itu benar-benar surat yang resmi dan sangat penting.
"Aku tidak tahu apa isi suratnya karena aku berani untuk membukanya, dan juga memang tidak ada hak untuk diriku pada surat ini," ucap James ketika Berlin menerima surat tersebut.
Berlin sedikit terkejut dengan adanya surat resmi pemerintah yang ditujukan untuk dirinya, yang berarti isi dari surat ini sangatlah penting.
KreeKk ...!
Di saat yang bersamaan, seorang dokter keluar dari ruang operasi dan memberikan kabar soal Kent kepada Berlin. "Syukurlah, peluru yang tertanam tidak terlalu dalam, dan operasi berjalan dengan lancar. Namun pasien Kent akan membutuhkan waktu untuk sadar diri." Begitulah ucap dokter itu membawa kabar baik.
"Syukurlah ...."
Mendengar kabar baik itu membuat Berlin dan semua rekannya sangat lega. Termasuk dengan James yang juga memiliki keterikatan dengan mereka.
"Untuk peluru yang berhasil diambil, apakah pihak kepolisian boleh mengambilnya untuk barang bukti sebagai penyelidikan?" tanya James kepada dokter itu.
"Tentu, pak. Silakan ikuti saya ke laboratorium!" sahut dokter itu.
"Baik, silakan ke ruangan sebelah saja, pak!" dokter itu berjalan sedikit pada lorong itu dan menujukkan ruangan yang ia maksud kepada Berlin. Lalu setelah itu ia pergi bersama dengan James dan dua anggota polisi menuju ke laboratorium.
Pada ruangan itu, Berlin dan beberapa rekannya dapat menyaksikan Kent yang masih mendapatkan perawatan intensif di dalam ruang operasi. Banyak sekali alat-alat medis yang terpasang pada tubuh seorang pemuda laki-laki itu. Berlin bahkan sampai tidak sanggup untuk melihatnya lama-lama.
Ia langsung keluar dari sana dan keluar dari rumah sakit itu menuju halaman depan rumah sakit. Ketika Berlin berjalan keluar, dirinya diikuti oleh Kimmy yang seolah tak bisa jauh darinya.
"Aku ingin sendiri!" pintanya ketika berjalan keluar dari lobi rumah sakit dan menuju ke sebuah taman kecil di halaman depan rumah sakit itu.
"Aku hanya tidak ingin kau berbuat yang tidak-tidak setelah mendengar dan mengetahui situasi Kent saat ini," sahut Kimmy dengan tegas. Ia terus berjalan tepat di belakang lelaki itu.
Berlin sempat tertawa kecil mendengar alasan wanita itu berjalan terus mengikutinya dari belakang. "Aku tak sebodoh diriku yang dahulu, Kim. Kau tenang saja, aku masih bisa berpikir jernih," ucapnya berjalan menghampiri sebuah bangku taman dan duduk di sana.
"Duduklah!" pinta Berlin ramah kepada Kimmy yang terlihat hanya berdiri di sampingnya ketika ia sedang duduk di sana. Mendengar titah tersebut, Kimmy pun duduk tepat di samping Berlin, namun dirinya memberikan jarak agar tidak terlalu dekat dan menciptakan sebuah kesalahpahaman.
"Kimmy, apa yang kau pikirkan tentang Red Rascals itu?" tanya Berlin. Kebetulan situasi di taman itu cukuplah sepi, maka dari itu Berlin berani membuka pembicaraan soal itu meskipun dirinya sedang berada di tempat umum dan terbuka.
"Aku tidak tahu, tetapi tadi ketika kami melarikan Kent ke rumah sakit, dia sempat berkata kalau Red Rascals akan mencari dan menghantui kita, Ashgard." Kimmy menjawab sesuai dengan apa yang ia ketahui saat ini.
__ADS_1
"Selebihnya mungkin nanti bisa kau tanyakan kepada Kent, mungkin mereka sempat berbicara sesuatu sebelum menembak Kent di sana," lanjutnya.
Berlin hanya diam dan berpikir. Rekannya Kent telah menjadi korban, dan dengan sengaja Red Rascals tidak membunuh rekannya itu. Dirinya sangat yakin pasti mereka meninggalkan beberapa pesan kepada Kent.
"Baiklah, semoga kondisinya cepat membaik," ucapnya sedikit tertunduk. Dirinya terlihat murung dan merasa bersalah atas terlukanya salah satu rekan berharganya. Kimmy dapat merasakan perasaan rasa bersalah yang cukup mendalam itu.
Kimmy menatap lelaki itu dengan tatapan mendalam. Rasa ingin berbicara dengannya sangatlah tinggi, namun bibirnya bergetar dan jantungnya berdebar ketika ingin mengucapkan kata-kata.
"Kita masih berurusan dengan Clone Nostra, tetapi sekarang Red Rascals pun ikut dalam masalah kita. Mereka berdua adalah kelompok yang besar, bahkan personel mereka jauh lebih banyak melebihi kita, dan mereka bukanlah kelompok yang abal-abal."
"Kim, bagaimana menurutmu? Karena entah mengapa ... aku merasa ... kalau mereka memiliki hubungan satu sama lain dalam bermasalah dengan kita."
Di kala bibir milik Kimmy berat untuk mengucap sepatah dua patah kata agar membuka pembicaraan dengan Berlin. Tetapi Berlin sudah lebih dahulu berbicara, dan menanyakan pendapatnya soal permasalahan yang sedang terjadi.
"Ah, um ... a-aku tidak tahu, tetapi ... jika kau berpikir begitu, mungkin saja apa yang kau katakan ada benarnya." Kimmy cukup tergugup ketika menjawabnya.
Berlin menoleh dan menatap rekan wanitanya dengan tatapan bingung, ditambah lagi wajah Kimmy yang tiba-tiba merona ketika ditatap olehnya. "Kau tidak sedang sakit, 'kan? Wajahmu merah, tuh!" ucapnya sembari mengangkat satu alis dan menatap bingung rekannya.
"Ah! Ti-tidak, kok! Aku baik-baik saja, sungguh! Hehe," sahut Kimmy lalu tertawa dan tersenyum canggung.
"Oh, soal surat tadi, itu surat apa?" lanjut Kimmy mencoba untuk mengalihkan topik.
Berlin kembali teringat soal surat yang diberikan oleh James. Ia pun mengambil surat itu dari sakunya, dan membuka serta membaca isi suratnya.
Betapa terkejutnya dirinya setelah membaca isi surat resmi yang diterimanya. Garwig mengundangnya untuk datang menghadiri acara minum teh di kediamannya. Dan pada acara itu juga akan dihadiri oleh walikota.
"Ada apa, Berlin?" tanya Kimmy menatap bingung laki-laki yang tampak seperti terpaku tak bergerak dan berkata-kata.
Berlin tersadar dan berkata, "acara minum teh? Dihadiri walikota? Dan aku diundang ke sana?!" serunya.
"Wah, kau memang orang yang penting, ya?" ucap Kimmy tersenyum senang mendengar berita itu.
Pada penghujung surat, tertulis tulisan bahwa dirinya dapat mengajak satu orang untuk menemani atau mendampinginya dalam menghadiri acara minum teh itu. Pada pikirannya ia sudah memikirkan seseorang yang akan ia ajak untuk menemaninya nanti.
Setelah selesai dengan surat itu, Berlin kembali menyimpan surat tersebut dan beranjak kembali untuk melihat kondisi rekannya. "Sudahlah, aku ingin kembali dan melihat Kent," cetusnya beranjak pergi, dan diikuti oleh Kimmy tentunya.
.
Bersambung.
__ADS_1